Ketika langit tak memberi mentari terbit yang megah,
Bumi menggantinya dengan air terjun yang indah.
Ketika pantai tak memberi siluet matahari tenggelam,
Pasir menggantinya dengan tukik dan penyu yang rupawan.
Dan ketika ombak tak memberi debur air yang menggelegar,
Laut menggantinya dengan perahu yang membelah gelombang.
(Ujung Genteng, 2010)
Tepat sebulan setelah berpetualang menyaksikan indahnya pantai-pantai di Garut Selatan, saia berhasil mengeksplorasi titik lain pantai selatan Jawa Barat, Ujung Genteng pada tanggal 1-3 Januari. Bersama delapan petualang lain, kami memilih untuk menikmati perjalanan ala backpacker. Tidak ada satupun di antara kami yang mengenal seluruh teman-teman lain sebelumnya—di sini letak seni sekaligus tantangan sebuah rombongan backpacker.
Memilih Jumat pagi sebagai hari keberangkatan, para petualang datang tepat waktu di titik pertemuan yang telah disepakati, Jalan Baru-Rambutan. Tepat jam 9.05 semua terkumpul: Dodi, Aga, Novi (Depok), Amri, Icha, Kiki (Jakarta), Ratu (Bekasi), Lalas (Bogor), dan Hidayat (Cikarang). Jalan Baru disepakati sebagai titik pertemuan mempertimbangkan kami bisa naik bis yang sudah terisi penumpang. Akan tetapi setelah 30 menit menunggu, dua bis yang lewat selalu overload. Akhirnya kami memutuskan untuk naik bis dari Terminal Kp.Rambutan. Tak perlu menunggu lama, bis jurusan Sukabumi melaju mulus di jalan tol Jagorawi—sempat tersendat sekeluar tol Ciawi. Setiba di Terminal Sukabumi, kami memutuskan untuk mengisi perut yang keroncongan di warung dekat terminal. Tak bisa berlama-lama makan, setelah selesai kami langsung memutuskan untuk men-charter sebuah angkot jurusan Terminal Lembur Situ karena bis/elf menuju Surade ngetem di sana.
Rute Lembur Situ-Surade sebenarnya mirip dengan Garut-Santolo dengan perbedaan rute pertama melewati bukit-bukit kecil ketimbang naik-turun gunung. Jalanan yang tidak mulus mengakibatkan beberapa rekan yang berada di samping jendela (Aga dan Icha) sering terantuk besi dan kaca jendela. Membutuhkan waktu lebih dari empat jam untuk mencapai Terminal Surade, dan beruntungnya Elf yang kami tumpangi bersedia mengantar sampai ke Amanda Ratu. Waktu saat itu sudah menunjukkan lewat maghrib. Setelah check in dan menaruh tas, para lelaki memutuskan untuk menjajal kolam renang yang disediakan. Berenang beberapa kali balikan, lumayan membuat saia terengah-engah karena saia lupa kapan terakhir kali berenang. Tidak lama setelahnya, kami pun balik ke penginapan, mendapatkan kamar mandi yang masih dikuasai para perempuan
. Akhirnya setelah semua mendapat giliran mandi, kami memutuskan untuk langsung beristirahat mengingat padatnya itinerary esok hari.
Sunrise di Tanah Lot, Amanda Ratu
Selepas bangun tidur, kami memutuskan untuk langsung menuju Tanah Lot-nya Ujung Genteng yang masih berlokasi di dalam kawasan penginapan. Tujuan kami ke Tanah Lot tak lain untuk mendapatkan prosesi terbitnya matahari yang terletak di seberang sungai. Entah memang sunrise-nya memang begitu saja atau langit yang sedang enggan mendukung, hasil foto landscape yang didapatkan terasa tidak optimal. Beruntung Amri yang punya banyak pengalaman jalan-jalan berhasil mengabadikan siluet-siluet kami di bawah langit yang sangat megah.

Tiga Air Terjun Cikaso
Kue-kue yang dijajakan pedagang di depan penginapan langsung kami beli mengingat ketidakpuasan kami terhadap layanan makanan yang disediakan penginapan. Selepas foto-foto di depan villa, kami langsung check out dari Amanda Ratu. Berjalan cukup jauh ke depan pintu gerbang penginapan, kami mencegat angkot yang kebetulan lewat. Setelah melalui proses negosiasi yang alot akhirnya diputuskan untuk men-charter angkot tersebut sebagai angkutan kami sepanjang hari itu.
Tidak berapa lama, kami sampai di pinggiran sungai berjarak 300 meter-an sebelum Curug Cikaso. Sesampainya di sana, kami sibuk terpesona dengan tiga air terjun bervolume sangat besar karena hujan semalam. Kombinasi warna natural dari hijaunya pepohonan, putihnya air terjun, dan birunya langit menghasilkan gambar yang sangat bagus. Akan tetapi kami tidak bisa bebas memotret karena uap air yang dicipratkan dikhawatirkan mengganggu lensa kamera. Secara keseluruhan, air terjun ini sangat indah untuk dieksplorasi jika berkunjung ke Ujung Genteng.

Air Terjun Cigangsa
Melanjutkan perjalanan ke Curug Cigangsa yang masih berada di wilayah Surade, kami harus melewati pematang sawah dan menyebrangi sungai yang saat itu berarus cukup deras. Derasnya arus air mengakibatkan beberapa rekan terpeleset dan Novi mesti merelakan sandal gunungnya hanyut terbawa arus sungai. Berbeda dengan air terjun yang umumnya dinikmati dari bawah, Curug Cigangsa dapat dinikmati dari dua arah—atas dan bawah. kami bisa sepuasnya menikmati pemandangan dari bibir atas air terjun setelah berjuang melewati beberapa titik arus sungai. Rasanya sensasional!

Merambah Lorong Gua Gunung Sungging
Setelah puas dengan dua curug yang ditawarkan, kami bergegas menuju Gunung Sungging untuk mencoba keberanian kami memasuki gua alami di bawahnya. Bentuk gunung yang terlihat miring dari atas lah yang menyebabkan gunung ini dinamakan demikian. Setelah masuk ke dalam dengan bantuan petromaks dari pemandunya, kami dikejutkan dengan reaksi Kiki yang sangat ketakutan—entah karena apa. Menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, kami memutuskan untuk mengakhiri prosesi merambah gua tersebut setelah sebelumnya berpose bersama di setiap ruang yang kami lalui. Sepanjang perjalanan, saia sering tergoda untuk melihat ke kiri kanan cabang gua yang sebenarnya dilarang oleh pemandu. Sekeluarnya dari gua, kami beristirahat sejenak di saung sang pemandu sembari mendengarkan cerita beliau yang merupakan generasi ketiga penjaga gua.
Pelepasan Tukik di Pangumbahan
Setelah makan siang di warung bakso (kenapa bakso untuk perjalanan seperti ini?), kami langsung meluncur menuju Ujung Genteng. Tujuan kami adalah Pondok Adi, penginapan yang terletak persis di depan pantai Ujung Genteng. Setelah mendrop barang dan beristirahat sejenak, kami langsung mengejar waktu untuk menjadi saksi hidup pelepasan bayi penyu (tukik) bersama puluhan pengunjung lain. Menggunakan ojek, kami menyusur pantai dan semak-semak untuk sampai di Posko Penangkaran Penyu, Pangumbahan. Dikarenakan saat itu waktu terakhir pelepasan, kami yang baru datang langsung diijinkan masuk untuk mengejar para pelepas tukik. Pengalaman tak terlupakan menyaksikan bayi-bayi penyu itu pertama kalinya dilepas, bersentuhan dengan air laut. One of the best part of this journey.

Prosesi Penyu Bertelur
Penyu-penyu di kawasan Samudra Hindia menjadikan Pantai Pangumbahan sebagai salah satu destinasi mereka untuk bertelur. Biasanya mereka akan naik ke pantai dan mencari tempat bertelur di atas jam 8-9 malam. Kami yang mendapat giliran SIP 1 (@50 orang per shift) mesti menunggu sampai jam 10 malam. Sembari menunggu, kami pun mengeksplorasi kemampuan kamera di lingkungan yang kurang cahaya, tentu kami jadi tontonan di sini
.
Setelah petugas mengizinkan rombongan shift 1 menuju pantai, pemandu memberitahukan bahwa kami mendapat kesempatan melihat dua penyu, satu di tengah pantai dan yang lain di semak-semak. Untuk menghindari penyu berbalik ke laut karena terganggu cahaya, pengunjung dilarang menyalakan blitz untuk mengabadikan penyu pertama, dan diperbolehkan untuk penyu kedua. Tepat ketika saia berhasil mengabadikan foto penyu yang sedang bertelur di bawah semak-semak, hujan turun dengan hembusan angin yang cukup kuat. Kami langsung berjalan cepat menuju posko menyudahi petualangan hari itu.

Menyisir Pantai, Membelah Ombak Tujuh
Jika Ujung Genteng terkenal dengan pantai berlangit indah, Cipanarikan cocok untuk menikmati matahari terbenam, dan Pangumbahan menawarkan tukik dan penyunya; Ombak Tujuh adalah the final battle for the trip. Mendengarkan cerita-cerita yang berkembang bahwa ini adalah pantai terbaik di sana, kami dihadapkan pada pilihan untuk menggunakan perahu atau berkonvoi motor. Setelah memikirkan keselamatan teman-teman karena beberapa rekan tidak mahir berenang, kami memutuskan untuk menggunakan motor. Setelah mengemas perlengkapan yang dibutuhkan, kami berkonvoi melintasi jalan-jalan licin hasil dari hujan semalam.
Rombongan memasuki perkebunan kelapa setelahnya, sampai akhirnya benar-benar masuk ke dalam hutan! Di sana, motor-motor kami mesti melewati medan yang cukup berat diiringi rintik hujan yang menemani. Dibutuhkan keterampilan mengendarai motor yang baik dari tukang ojek agar motor tidak terpeleset atau terjebak di lumpur-lumpur. Dua sungai di dalam hutan mesti dilewati oleh rombongan sebelum akhirnya kami mencapai bibir pantai. Empat jam mesti kami habiskan mengingat beratnya jalur yang kami lalui. Akan tetapi itu semua terbayar oleh pemandangan Pantai Ombak Tujuh yang masih sangat perawan. Dengan ombak yang menderu-deru, pantas saja jika banyak peselancar asing yang memilih pantai ini sebagai salah satu tempat favorit mereka.

Selepas jam 13.00 kami dihadapkan pada pilihan untuk menggunakan ojek kembali atau menyewa perahu guna mengejar waktu pulang. Setidaknya butuh waktu 4 jam menggunakan ojek atau 1 ½ jam menggunakan perahu. Dengan menguat-nguatkan hati masing-masing, kami bersepakat untuk menyanggupi tantangan membelah gelombang Ombak Tujuh sebagai jalan pulang. Proses peluncuran perahu melewati gelombang air yang saat itu mencapai tiga meter menciptakan kengerian sendiri. Tambahan lagi waktu itu laut seperti sedang menari di depan kami. Setelah 1 ½ jam berada di atas laut, kami bisa bernafas lega ketika perahu akhirnya merapat ke bibir pantai. What a fantastic experience!
Akhirnya saia ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas petualangan tak terlupakan ke Ujung Genteng. Amri yang telah membuat itinerary sekaligus pengatur gaya foto, Novi (S5 IS) dan Aga (Sony H50) dengan bidikan-bidikan foto yang oke, Icha yang selalu menjadi cewek terdepan di rombongan, Ratu yang bersusah payah mencatat keuangan bersama Lalas, Hidayat yang mampu cair bersama rombongan, dan tak lupa Kiki, yang menciptakan trademark menggemaskan pukul-pukul bedug sebagai pencair suasana. Sebuah petualangan menakjubkan, guys!

Trivia:
- Lebih baik menggunakan jalur Jakarta-Bogor-Surade karena menggunakan bis yang lebih nyaman digunakan ketimbang elf, tetapi harus memperhatikan waktu keberangkatan.
- Saia sempat tertinggal dari rombongan di perjalanan pulang acara pelepasan tukik karena motornya mogok, alhasil lumayan bikin bentol-bentol karena digigit nyamuk hutan penangkaran.
- Disarankan untuk berkunjung ke sana saat musim kemarau, karena track jalan dan ombak pun lebih bersahabat.