5February2010

Ekstase Efek Rumah Kaca

Ditulis oleh dhodie dalam: Interest; Musik.

Jujur, saya sedang mengagumi karya band indie pop lokal yang satu ini. Selain karena musik alternatifnya cocok di telinga saya, lirik lagu yang mereka tulis terasa sangat kuat melawan mainstream musik Indonesia yang mendayu-dayu. Perhatikan bagaimana interpretasi mereka terhadap surat Al Ashr di Debu-debu Beterbangan, sindiran mereka terhadap budaya konsumtif masyarakat kita di Belanja Terus Sampai Mati, atau keprihatinan mereka terhadap perilaku free sex di Kenakalan Remaja di Era Informatika.

Jujur, sudah cukup lama saya tidak mengikuti perkembangan musik Indonesia. Muak! itu saja. Buat saya, Cholil, Adrian, dan Akbar hadir untuk menyelamatkan telinga kita.

Jujur, setelah era Padi memudar, baru kali ini saya merasakan ekstase yang sama dalam menikmati karya band lokal.

Terus berkarya Efek Rumah Kaca!

68 

27January2010

Menuntaskan Petualangan Yang Tertunda

Ditulis oleh dhodie dalam: Curhat; Petualangan.

DhodieDua puluh tahun yang lalu, saya bersama teman-teman sekampung pernah memiliki tempat-tempat bermain yang begitu mengesankan di bilangan perkampungan Bekasi. Sawah-sawah yang mengelilingi kampung kami biasa dijadikan tempat memancing ikan, nguseup, atau membuat rumah-rumahan berbahan jerami ketika musim panen tiba. Sedangkan kali yang menyisir sisi kampung kami jadikan tempat mandi setelah lelah bermain di sore hari. Di kali ini pula, pertama kalinya saya belajar berenang. Sebagai perenang pemula, teman-teman memaksa saya memakan udang hidup-hidup agar bisa langsung berenang. Alasannya jelas bahwa udang malang itu akan menggerakkan otot-otot saya dari dalam tubuh (doh) . Terlepas dari alasan absurd itu, pada kenyataannya saya tidak langsung tenggelam ketika pertama kali mencebur ke kali. Saya hanya menggerak-gerakkan tubuh saya mengikuti gaya berenang yang sering saya lihat di TV, dan ternyata berhasil. Coincidence? You bet! (LOL)


Di antara banyak rekam perjalanan di masa kecil saya, ada satu keinginan yang terbersit sewaktu masih duduk di bangku SD, yaitu petualangan keluar dari wilayah kampung. Saya dan teman-teman memang biasa mencari ikan di kalenan, mencuri pisang di kebon orang, atau memancing belut di pematang, akan tetapi tempatnya selalu berada di desa kami. Kami ingin lebih!


Sebagaimana layaknya jagoan masa lampau, kami pun berembug untuk menentukan petualangan terakbar versi kami: Mencapai Laut Bekasi. Dengan menggunakan peta Bekasi yang tergantung di kelas, kami pun memeragakan layaknya Harun menunjuk Lenggang di film Laskar Pelangi. Tentu saja kami begitu bersemangat melihat kampung kami berjarak tak lebih dari beberapa jengkal ke Muara Gembong (laut Bekasi). Berbekal keyakinan ini, kami berenam merencanakan untuk menggunakan 4 sepeda ke sana. Alasannya kalau ada yang capek, bisa bergantian membonceng.


Petualangan 1990
Pada hari yang ditentukan, kami memulai perjalanan pada pukul 9 pagi menggunakan dua patokan jalan: mengikuti jalur angkot 9B sampai di pangkalan dan mengikuti aliran sungai setelahnya. Petuah legendaris yang kami pakai jelas lagu keroncong yang sangat melegenda itu:

air mengalir sampai jauh, akhirnya ke laut…

Dengan mengikuti aliran sungai, lama-lama akan sampai ke laut juga kan (?)


Sebagaimana cerita di setiap awal perjalanan yang selalu menyenangkan, kami pun sering becanda di samping jalan sambil ber-haha hihi mengejek teman kami yang tertinggal jauh di belakang. Kami memasuki perkampungan, melintasi pekuburan cina, sampai mengikuti aliran sungai yang semakin lama semakin membesar dengan penuh suka cita. Sampai akhirnya kami menyadari bahwa jalan yang kami tempuh tidak ada habisnya padahal kaki-kaki kami mulai lelah mengayuh. Di beberapa titik pemberhentian, beberapa teman mulai mengeluh kecapean dan merengek pulang, tetapi pada akhirnya kami tetap melanjutkan perjalanan. Ketika akhirnya kami sampai di pangkalan 9B, kami sangat berharap bisa mencium bau pantai di sana. Meski kenyataannya kami tetap mencium bau khas lumpur-lumpur sawah sementara kaki sudah mulai kram. Sampai matahari terbenam, kami semakin tidak percaya diri untuk dapat sampai di pantai sebelum malam. Di sebuah pematang sawah, kami menghibur diri menghalusinasikan pandangan bahwa di kejauhan sudah terlihat deretan kapal laut. Tepat setelah senyum kami memudar, kami balik kanan.


Jika perjalanan pulang selalu terasa lebih dekat dibanding perginya, kami pun merasakan hal yang sama. Meski kaki-kaki kami sedemikian lelahnya, kami memaksakan mengayuh pedal lebih cepat lagi karena kecemasan kami pulang terlambat. Ancamannya jelas bahwa kami akan dihukum berat. Ketika akhirnya rombongan sampai di depan kampung, kami sangat terkejut mengetahui ibu-ibu kami berdiri dengan gagahnya di bawah gapura kampung. Seakan-akan mereka ingin menerkam anaknya sendiri. Dan sememangnya, petualangan hari itu pun diakhiri dengan omelan ibu-ibu kami sepanjang malam. Selentingan yang beredar sampai seminggu kemudian adalah:

“Awas kamu ya main lagi sama Dodi!” ucap Ibu #1
“Dodi itu si biang kerok” fitnah Ibu #2
dst..

Sudahlah laut tak dicapai, tubuh kami capai, omelan ibu-ibu itu terasa sangat lebay.


Petualangan 2010
Kegagalan mencapai laut Bekasi memang tidak menjadi mimpi buruk, meski mencoreng daftar kesuksesan petualangan masa kecil saya. Atas alasan ini pula lah saya memutuskan untuk menuntaskan petualangan yang tertunda itu minggu kemarin. Bersama teman saya, kami berangkat dari Bekasi Cyber Park jam 14.00 menggunakan motor. Waktu tersebut kami pilih untuk mendapatkan timing sunset yang pas di pantainya. Awalnya, saya berinisiatif untuk membeli peta Bekasi tetapi tidak tersedia di toko buku terdekat, sehingga kami pun menggunakan patokan perjalanan yang sama di masa lalu: mengekor 9B dan mendempet aliran sungai.


Dikarenakan mengendarai motor 160cc, perjalanan ke pangkalan 9B tidak sulit untuk dicapai. Tantangan dimulai selepasnya karena banyaknya jalan bercabang sehingga kami pun mesti sering bertanya-tanya kepada penduduk sekitar. Pertanyaannya selalu sama: “Kalo mau ke laut, lewat mana ya?” Dan layaknya orang desa, mereka akan dengan senang hati membantu kami. Jalanan mulai mengalami kerusakan di sana-sini ketika kami memasuki kecamatan terakhir sebelum Muara Gembong. Di sini kami pun semakin bersemangat karena lebar sungai yang semakin membesar menunjukkan laut sudah tidak jauh lagi.


Muara Gembong

Ketika akhirnya kami sampai di tugu perbatasan Muara Gembong, dengan semangat 45 kami melajukan motor tanpa bertanya-tanya ke arah pantai mana yang hendak dituju? Kenyataannya satu jam sesudahnya, kami mendapati jalanan dan sungai di samping kami semakin menyempit (doh) . Bukankah sungai seharusnya semakin membesar ketika hendak mencapai laut? Menyadari bahwa kami sudah tersesat, kami bertanya ke penduduk tentang pantai di depan kami. Dan penduduk pun memberitahu bahwa pantai tersebut tidak ada bagus-bagusnya, hanya dibuat dam saja. Balik kanan karena matahari pun semakin terancam tenggelam, kami langsung melesat menuju Pantai Pakis yang diketahui satu-satunya wisata terdekat di situ. Dengan menyeberangi sungai dan melintasi beberapa sawah dan tambak, akhirnya kami sampai juga di bibir pantainya tepat ketika azan maghrib berkumandang.


Meski sebenarnya pemandangan pantai ini biasa-biasa saja, tetap saja nilai historis perjalanannya jauh lebih mengesankan saya. Sebuah perasaan luar biasa karena petualangan masa kecil yang tertunda dua puluh tahun itu akhirnya bisa ditaklukkan. I reach that shore!
Pakis









































117 

22January2010

Forum Diskusi Pengembangan Konten Lokal

Ditulis oleh dhodie dalam: Blogging; Komunitas.

Selasa lalu, saya mendapat email dari staf Direktorat Aplikasi Telematika, Departemen Komunikasi dan Informatika, untuk mengikuti Forum Diskusi Peningkatan Kuantitas dan Kualitas Konten Lokal pada tanggal 21 Januari 2010. Di sini, saya diundang sebagai wakil komunitas blogger Depok bersama praktisi konten lokal seperti perwakilan media online (Kompas, Detik, Vivanews, Okezone, Kapanlagi), praktisi/asosiasi (IMOCA, Indonesia Mobile and Online Content Association; MIKTI, Masyarakat Industri Kreatif TIK Indonesia dan asosiasi lain), onliner konten lokal (Politikana, Ngerumpi, Bicara Film, FreSh), dan tentu saja perwakilan blogger (Blogfam, Anging Mammiri, Cahandong, deBlogger, Be-Blog, Kopdar Jakarta, anakUI).


Konten Lokal
Konten lokal itu sendiri merupakan aplikasi atau fitur yang dikreasikan anak bangsa agar konsumsi pengguna telematika di Indonesia tidak melulu berbasis luar negeri. Jika kita mengenal berbagai social media seperti Facebook, Twitter (mikroblog), atau Wordpress dan Blogspot (blog) sebagai konten asing yang sering digunakan; konten lokal yang saat ini dikembangkan seperti film animasi lokal, fitur berita di handphone, citizen journalism yang digalakkan oleh komunitas blogger, atau komunitas berbasis interest seperti ngerumpi, bicara film, atau politikana.


Gelaran Diskusi
Freddy TulungDiskusi yang diadakan di Ruang Operasional Depkominfo di bilangan Medan Merdeka Barat ini menampilkan Kepala Badan Informasi Publik, Freddy Tulung sebagai perwakilan pemerintah. Diskusi dibuka dengan penjelasan tentang maksud dan tujuan diadakannya diskusi ini, yaitu kick off kerjasama pemerintah dengan stake holder ICT Indonesia. Pak Freddy kemudian menjelaskan program Desa Berdering—salah satu program 100 hari Menkominfo, Tifatul Sembiring. Keinginannya adalah ketika desa-desa tersebut sudah punya internet (desa pinter), konten sebagai ujung tombak informasi yang diakses masyarakat mampu dimanfaatkan oleh praktisi konten Indonesia semaksimal mungkin.


Setelah uraian panjang lebar yang disampaikan mantan Dirjen Sarana Komunikasi dan Diseminasi Informasi (SKDI) ini, diskusi bergerak ke floor. Pemerintah mendengarkan gambaran usaha yang telah dilakukan oleh praktisi konten lokal, berikut hambatan yang dialami. Ivan Lanin (Wikimedia Indonesia) menggambarkan masih banyaknya orang Indonesia yang tidak pintar menulis, Donny BU (detik) mengungkapkan bahwa minat masyarakat kita pun akan turut berperan dalam pengembangan konten lokal, kemudian usulan virtual governance untuk memvalidasi akun-akun yang bertebaran di dunia online sempat disampaikan peserta diskusi.


Sementara itu, perwakilan komunitas blogger kampus, Ilman Akbar (anakUI) mengemukakan diperlukannya peningkatan penghargaan atas kreasi pengguna internet seperti Internet Sehat Awards untuk blogger. Suara komunitas berbasis daerah kali ini diwakili oleh Aris Heru Utomo yang menggambarkan perjuangan blogger dalam mengenalkan blog sebagai media komunikasi grass root dengan pemerintah daerah di Bekasi.


Meski jawaban-jawaban yang diberikan oleh perwakilan Depkominfo belum menyentuh substansi permasalahan, kita perlu mengapresiasi kick off ini. Setidaknya pemerintah mendapat gambaran secara menyeluruh permasalahan yang dialami oleh seluruh peserta diskusi. Hal terpenting dari poin diskusi kemarin ada di poin terakhir, di mana apakah feedback yang sudah/akan dilaporkan ini ada tindak lanjutnya oleh Depkominfo atau tidak. Mari kita buktikan bersama-sama.


Mingle
Secuplik mingle yang dilakukan oleh perwakilan blogger setelah diskusi berlangsung:
Mingle
[ki-ka]: Dhodie (deBlogger), Ratu (be-Blog), Ilman Akbar (anakUI), Mas Amril (Anging Mammiri), Tikabanget (Dagdigdug), Simbok Venus (Ngerumpi), Chic (Kopdar Jakarta). Gambar diambil oleh Pak Eko (Blogger Cikarang).

91 

19January2010

Eksplorasi G11 dalam Project 365 Shots

Ditulis oleh dhodie dalam: Photoblog; Project.

Ketika mendapat bonus kerja tahunan terakhir, saya sempat berbincang dengan seorang photoblogger tentang kamera serius pertama yang ingin saya beli. Diskusi pun sempat saya lakukan dengan teman-teman untuk mengetahui pendapat mereka tentang agama kamera yang mereka anut. Sampai akhirnya pilihan jatuh pada Canon Powershot G11.


Alasan saya memilihnya didasarkan keinginan untuk merasai setiap jenis kamera, dari yang terendah sampai tertinggi. Setelah pernah mencoba kamera handphone dan saku, tentu pilihan selanjutnya adalah kamera prosumer. Belum tau apa-apa tentang fotografi, koq sudah ingin loncat kelas ke DSLR, begitu bisik suara alam bawah sadar saya (LOL) . Akhirnya, pada tanggal 27 Oktober 2009, resmilah G11 menjadi pendamping sementara hidup saya. Tanggal tersebut adalah tanggal peluncuran produk kamera ini di Indonesia.


Sekilas G11
G11Kamera prosumer high-end ini merupakan penyempurnaan seri sebelumnya, G10, dalam hal upaya mengurangi noise yang terjadi pada hasil foto. Dengan menurunkan resolusi kamera dari 14.7MP ke 10MP, kamera ini diharapkan memiliki kinerja yang lebih baik karena sensor yang digunakan tetap CCD.


Banyak fitur kamera DSLR yang ditanamkan pada kamera ini. Bahkan beberapa fitur dijadikan tombol-tombol kamera, seperti ISO dan exposure compensation sehingga terasa lebih user-friendly dibanding kamera DSLR. Sementara itu, pilihan live view dengan LCD yang dapat diputar hingga 270 derajat memudahkan pengguna ketika mengambil spot-spot yang sulit dijangkau. Sayangnya, viewfinder yang dimiliki kamera ini hanya menggambarkan 77% kondisi aktual sebuah objek.


Nilai lebih yang saya dapatkan dari kamera ini adalah keringkasan dan kekompakannya dibanding kamera-kamera bermoncong panjang itu (baca: DSLR). Jelas akan memudahkan saya menentengnya ke mana pun. Sementara itu nilai kurangnya adalah ketika kamera ini disandingkan dengan DSLR untuk memotret orang, hampir semua pandangan mereka tertuju ke DSLR. Apakah karena kameranya lebih besar dan terlihat lebih rumit? (annoyed)


Project Satu Hari Satu Foto Selama 365 Hari
365shotsJujur saja, saya masih jarang mengulik kemampuan kamera ini karena beberapa alasan. Terutama karena belum memiliki target pribadi seberapa banyak gambar yang harus saya foto atau seberapa banyak fitur yang mesti saya pelajari setiap harinya. Jadi, sampai sekarang masih belum terasah feel-nya. Padahal, a friend of mine said photography is exploration.


Lalu datanglah informasi ini: Project Satu Hari Satu Foto Selama 365 Hari yang digaungkan oleh Pitra Media Ide. Memang bukan ide orisinil darinya, tetapi saya suka spiritnya. Dengan kewajiban mengunggah satu foto setiap harinya selama setahun, kita ditantang untuk mengatasi segala hambatan ketika menyelami fotografi, seperti rasa malas, moody, atau alasan tidak punya waktu. Jadilah, saya ikut project ini bersama blogger-blogger lainnya yang menyukai fotografi. Sebutlah pinkparis dan belgaman. Bidang-bidang fotografi seperti landscape, candid, model, makro, indoor, night shot, dan arsitektur akan saya coba selami untuk mendapatkan feel itu. Sampai sekarang sih, saya paling suka dengan candid. Senang saja mencuri ekspresi orisinil mereka :-P .


Here’s my account to begin the project: Dhodie in Tumblr (starts on January 25, 2010).

105 

11January2010

Indonesia Matters, Top 100 Blog Indonesia

Ditulis oleh dhodie dalam: Blogging.

Pemeringkatan blog-blog yang diestimasi berjumlah 1,2 juta di Indonesia saat ini sedang dimutakhirkan oleh Patung, pengelola Indonesia Matters. Berbeda dengan pemeringkatan sebelumnya yang diprakarsai Mas Priyadi (2005) (semoga beliau nda bersin kala saya menyebut namanya (LOL) ) dan Hericz (2006) yang menggunakan acuan peringkat Technorati, Patung menggunakan tujuh buah acuan sebagai dasar pemeringkatan sehingga dirasa lebih eligible menggambarkan perpetaan blogger di tanah air.

Top 100 Blog Indonesia tahun 2007:
2007














Top 100 Blog Indonesia tahun 2008:
2008




















Tujuh Acuan Peringkat di Indonesia Matters

  1. Page Rank, pemeringkatan Google tentang seberapa penting page sebuah blog di internet. Hal ini dilakukan dengan menghitung kualitas dan jumlah tautan page tersebut di page lain.
  2. RSS Subscribers, jumlah pembaca blog yang berlangganan update postingan blog melalui feedburner.
  3. Yahoo! Backlinks, jumlah total tautan sebuah blog di site lain di dunia internet.
  4. Backtweet, jumlah bookmark sebuah blog yang di-tweet di Twitter.
  5. Social Bookmarks, jumlah bookmark sebuah blog di Del.icio.us.
  6. Engagement Score, tingkatan rata-rata interaksi penulis dan pembaca di postingan blog. Terutama menghitung banyak komentar di setiap postingan. Akan tetapi, juga memperhitungkan seberapa banyak postingan tersebut di-mention di social media.
  7. Traffic Rank, pemeringkatan Alexa terhadap jumlah pengunjung yang datang ke sebuah blog dalam tiga bulan terakhir.

Batasan di Indonesia Matters
Indonesia Matters sendiri membatasi blog-blog yang dapat mengikuti layanannya. Di antara yang tidak diterima yaitu blog yang berisi unsur pornografi, informasi IT/komputer/gadget, tips blogging, SEO, beasiswa, lowongan kerja, agregator, atau blog yang belum berusia lebih dari 6 bulan. Sementara itu penonaktifan peringkat dilakukan jika sebuah blog tidak diupdate dalam jangka waktu yang lama.

Update Mutakhir, 9 Januari 2010
Untuk perkembangan blog terakhir sendiri, beberapa blogger baru berhasil menembus peringkat atas—selain tentu saja seleb blog yang sudah kita kenal selama ini. Dee yang semakin sadar pengaruh sebuah blog sebagai media komunikasi selain buku, Diana Rikasari yang begitu ngetop sebagai blog fashion, atau Pak Sawali yang sangat berdedikasi di dunia blogging. Mereka bertiga menduduki tiga peringkat teratas hasil update terakhir, 9 Januari.
2010
Memang masih banyak blogger-blogger handal yang belum tercantum di sana, misal Mas Kuncoro, Harry Sufehmi, atau Mas Priyadi sendiri. Pengelola situs ini mesti mampu menjawab pertanyaan “mengapa blog mereka tidak ada di Top 100?”.

Tentang Blog Ini
BlogDhodie.com sendiri mengikuti pemeringkatan Indonesia Matter setelah mendapat informasi dari Om Galih Satria. Dan secara tidak sopan, untuk update termutakhir, duduk di peringkat ke-10 [21 (5 Jan), 87 (Des ’09)]. Tidak sopan karena usia blog saya baru 6 bulan. Tidak sopan karena saya baru membuat 30 postingan. Dan tidak sopan karena masih banyak blogger idola saya yang berhak menduduki posisi ini (worship) .

Ada sedikit cerita menarik terhadap salah satu acuan perhitungan yang digunakan, Backtweet. Awalnya saya berkeyakinan untuk acuan satu ini, blog saya berada di posisi juru kunci (lah wong jumlah tweet saya saja baru 18 buah). Akan tetapi, ada juga tweeps yang me-mention blog saya (total 10 buah) di tweetnya, dan setelah ditelaah ada dua tweet yang membuat saya tersenyum. Tweet pertama dari Ilman Akbar menjawab pertanyaan Pitra tentang blog lokal yang sedang dibaca saat ini dan bukan blog populer. Sedangkan tweet kedua dari Lia yang berkomentar tentang postingan Setahun Bersama Plurk saya. Means a lot to me (cozy)

So, sudahkah teman bergabung di Indonesia Matters? Tinggal klik di sini.

Sumber gambar di (1), (2)

76 

7January2010

Pesona Ujung Genteng

Ditulis oleh dhodie dalam: Petualangan.

Ketika langit tak memberi mentari terbit yang megah,
Bumi menggantinya dengan air terjun yang indah.

Ketika pantai tak memberi siluet matahari tenggelam,
Pasir menggantinya dengan tukik dan penyu yang rupawan.

Dan ketika ombak tak memberi debur air yang menggelegar,
Laut menggantinya dengan perahu yang membelah gelombang.

(Ujung Genteng, 2010)

Tepat sebulan setelah berpetualang menyaksikan indahnya pantai-pantai di Garut Selatan, saia berhasil mengeksplorasi titik lain pantai selatan Jawa Barat, Ujung Genteng pada tanggal 1-3 Januari. Bersama delapan petualang lain, kami memilih untuk menikmati perjalanan ala backpacker. Tidak ada satupun di antara kami yang mengenal seluruh teman-teman lain sebelumnya—di sini letak seni sekaligus tantangan sebuah rombongan backpacker.

Memilih Jumat pagi sebagai hari keberangkatan, para petualang datang tepat waktu di titik pertemuan yang telah disepakati, Jalan Baru-Rambutan. Tepat jam 9.05 semua terkumpul: Dodi, Aga, Novi (Depok), Amri, Icha, Kiki (Jakarta), Ratu (Bekasi), Lalas (Bogor), dan Hidayat (Cikarang). Jalan Baru disepakati sebagai titik pertemuan mempertimbangkan kami bisa naik bis yang sudah terisi penumpang. Akan tetapi setelah 30 menit menunggu, dua bis yang lewat selalu overload. Akhirnya kami memutuskan untuk naik bis dari Terminal Kp.Rambutan. Tak perlu menunggu lama, bis jurusan Sukabumi melaju mulus di jalan tol Jagorawi—sempat tersendat sekeluar tol Ciawi. Setiba di Terminal Sukabumi, kami memutuskan untuk mengisi perut yang keroncongan di warung dekat terminal. Tak bisa berlama-lama makan, setelah selesai kami langsung memutuskan untuk men-charter sebuah angkot jurusan Terminal Lembur Situ karena bis/elf menuju Surade ngetem di sana.

Rute Lembur Situ-Surade sebenarnya mirip dengan Garut-Santolo dengan perbedaan rute pertama melewati bukit-bukit kecil ketimbang naik-turun gunung. Jalanan yang tidak mulus mengakibatkan beberapa rekan yang berada di samping jendela (Aga dan Icha) sering terantuk besi dan kaca jendela. Membutuhkan waktu lebih dari empat jam untuk mencapai Terminal Surade, dan beruntungnya Elf yang kami tumpangi bersedia mengantar sampai ke Amanda Ratu. Waktu saat itu sudah menunjukkan lewat maghrib. Setelah check in dan menaruh tas, para lelaki memutuskan untuk menjajal kolam renang yang disediakan. Berenang beberapa kali balikan, lumayan membuat saia terengah-engah karena saia lupa kapan terakhir kali berenang. Tidak lama setelahnya, kami pun balik ke penginapan, mendapatkan kamar mandi yang masih dikuasai para perempuan :-D . Akhirnya setelah semua mendapat giliran mandi, kami memutuskan untuk langsung beristirahat mengingat padatnya itinerary esok hari.

Sunrise di Tanah Lot, Amanda Ratu
Selepas bangun tidur, kami memutuskan untuk langsung menuju Tanah Lot-nya Ujung Genteng yang masih berlokasi di dalam kawasan penginapan. Tujuan kami ke Tanah Lot tak lain untuk mendapatkan prosesi terbitnya matahari yang terletak di seberang sungai. Entah memang sunrise-nya memang begitu saja atau langit yang sedang enggan mendukung, hasil foto landscape yang didapatkan terasa tidak optimal. Beruntung Amri yang punya banyak pengalaman jalan-jalan berhasil mengabadikan siluet-siluet kami di bawah langit yang sangat megah.
Tanah Lot


Tiga Air Terjun Cikaso
Kue-kue yang dijajakan pedagang di depan penginapan langsung kami beli mengingat ketidakpuasan kami terhadap layanan makanan yang disediakan penginapan. Selepas foto-foto di depan villa, kami langsung check out dari Amanda Ratu. Berjalan cukup jauh ke depan pintu gerbang penginapan, kami mencegat angkot yang kebetulan lewat. Setelah melalui proses negosiasi yang alot akhirnya diputuskan untuk men-charter angkot tersebut sebagai angkutan kami sepanjang hari itu.

Tidak berapa lama, kami sampai di pinggiran sungai berjarak 300 meter-an sebelum Curug Cikaso. Sesampainya di sana, kami sibuk terpesona dengan tiga air terjun bervolume sangat besar karena hujan semalam. Kombinasi warna natural dari hijaunya pepohonan, putihnya air terjun, dan birunya langit menghasilkan gambar yang sangat bagus. Akan tetapi kami tidak bisa bebas memotret karena uap air yang dicipratkan dikhawatirkan mengganggu lensa kamera. Secara keseluruhan, air terjun ini sangat indah untuk dieksplorasi jika berkunjung ke Ujung Genteng.
Cikaso

Air Terjun Cigangsa
Melanjutkan perjalanan ke Curug Cigangsa yang masih berada di wilayah Surade, kami harus melewati pematang sawah dan menyebrangi sungai yang saat itu berarus cukup deras. Derasnya arus air mengakibatkan beberapa rekan terpeleset dan Novi mesti merelakan sandal gunungnya hanyut terbawa arus sungai. Berbeda dengan air terjun yang umumnya dinikmati dari bawah, Curug Cigangsa dapat dinikmati dari dua arah—atas dan bawah. kami bisa sepuasnya menikmati pemandangan dari bibir atas air terjun setelah berjuang melewati beberapa titik arus sungai. Rasanya sensasional!
Cigangsa

Merambah Lorong Gua Gunung Sungging
Setelah puas dengan dua curug yang ditawarkan, kami bergegas menuju Gunung Sungging untuk mencoba keberanian kami memasuki gua alami di bawahnya. Bentuk gunung yang terlihat miring dari atas lah yang menyebabkan gunung ini dinamakan demikian. Setelah masuk ke dalam dengan bantuan petromaks dari pemandunya, kami dikejutkan dengan reaksi Kiki yang sangat ketakutan—entah karena apa. Menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, kami memutuskan untuk mengakhiri prosesi merambah gua tersebut setelah sebelumnya berpose bersama di setiap ruang yang kami lalui. Sepanjang perjalanan, saia sering tergoda untuk melihat ke kiri kanan cabang gua yang sebenarnya dilarang oleh pemandu. Sekeluarnya dari gua, kami beristirahat sejenak di saung sang pemandu sembari mendengarkan cerita beliau yang merupakan generasi ketiga penjaga gua.

Pelepasan Tukik di Pangumbahan
Setelah makan siang di warung bakso (kenapa bakso untuk perjalanan seperti ini?), kami langsung meluncur menuju Ujung Genteng. Tujuan kami adalah Pondok Adi, penginapan yang terletak persis di depan pantai Ujung Genteng. Setelah mendrop barang dan beristirahat sejenak, kami langsung mengejar waktu untuk menjadi saksi hidup pelepasan bayi penyu (tukik) bersama puluhan pengunjung lain. Menggunakan ojek, kami menyusur pantai dan semak-semak untuk sampai di Posko Penangkaran Penyu, Pangumbahan. Dikarenakan saat itu waktu terakhir pelepasan, kami yang baru datang langsung diijinkan masuk untuk mengejar para pelepas tukik. Pengalaman tak terlupakan menyaksikan bayi-bayi penyu itu pertama kalinya dilepas, bersentuhan dengan air laut. One of the best part of this journey.
Tukik

Prosesi Penyu Bertelur
Penyu-penyu di kawasan Samudra Hindia menjadikan Pantai Pangumbahan sebagai salah satu destinasi mereka untuk bertelur. Biasanya mereka akan naik ke pantai dan mencari tempat bertelur di atas jam 8-9 malam. Kami yang mendapat giliran SIP 1 (@50 orang per shift) mesti menunggu sampai jam 10 malam. Sembari menunggu, kami pun mengeksplorasi kemampuan kamera di lingkungan yang kurang cahaya, tentu kami jadi tontonan di sini (LOL) .

Setelah petugas mengizinkan rombongan shift 1 menuju pantai, pemandu memberitahukan bahwa kami mendapat kesempatan melihat dua penyu, satu di tengah pantai dan yang lain di semak-semak. Untuk menghindari penyu berbalik ke laut karena terganggu cahaya, pengunjung dilarang menyalakan blitz untuk mengabadikan penyu pertama, dan diperbolehkan untuk penyu kedua. Tepat ketika saia berhasil mengabadikan foto penyu yang sedang bertelur di bawah semak-semak, hujan turun dengan hembusan angin yang cukup kuat. Kami langsung berjalan cepat menuju posko menyudahi petualangan hari itu.
Penyu

Menyisir Pantai, Membelah Ombak Tujuh
Jika Ujung Genteng terkenal dengan pantai berlangit indah, Cipanarikan cocok untuk menikmati matahari terbenam, dan Pangumbahan menawarkan tukik dan penyunya; Ombak Tujuh adalah the final battle for the trip. Mendengarkan cerita-cerita yang berkembang bahwa ini adalah pantai terbaik di sana, kami dihadapkan pada pilihan untuk menggunakan perahu atau berkonvoi motor. Setelah memikirkan keselamatan teman-teman karena beberapa rekan tidak mahir berenang, kami memutuskan untuk menggunakan motor. Setelah mengemas perlengkapan yang dibutuhkan, kami berkonvoi melintasi jalan-jalan licin hasil dari hujan semalam.

Rombongan memasuki perkebunan kelapa setelahnya, sampai akhirnya benar-benar masuk ke dalam hutan! Di sana, motor-motor kami mesti melewati medan yang cukup berat diiringi rintik hujan yang menemani. Dibutuhkan keterampilan mengendarai motor yang baik dari tukang ojek agar motor tidak terpeleset atau terjebak di lumpur-lumpur. Dua sungai di dalam hutan mesti dilewati oleh rombongan sebelum akhirnya kami mencapai bibir pantai. Empat jam mesti kami habiskan mengingat beratnya jalur yang kami lalui. Akan tetapi itu semua terbayar oleh pemandangan Pantai Ombak Tujuh yang masih sangat perawan. Dengan ombak yang menderu-deru, pantas saja jika banyak peselancar asing yang memilih pantai ini sebagai salah satu tempat favorit mereka.
Ombak Tujuh
Selepas jam 13.00 kami dihadapkan pada pilihan untuk menggunakan ojek kembali atau menyewa perahu guna mengejar waktu pulang. Setidaknya butuh waktu 4 jam menggunakan ojek atau 1 ½ jam menggunakan perahu. Dengan menguat-nguatkan hati masing-masing, kami bersepakat untuk menyanggupi tantangan membelah gelombang Ombak Tujuh sebagai jalan pulang. Proses peluncuran perahu melewati gelombang air yang saat itu mencapai tiga meter menciptakan kengerian sendiri. Tambahan lagi waktu itu laut seperti sedang menari di depan kami. Setelah 1 ½ jam berada di atas laut, kami bisa bernafas lega ketika perahu akhirnya merapat ke bibir pantai. What a fantastic experience!

Akhirnya saia ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas petualangan tak terlupakan ke Ujung Genteng. Amri yang telah membuat itinerary sekaligus pengatur gaya foto, Novi (S5 IS) dan Aga (Sony H50) dengan bidikan-bidikan foto yang oke, Icha yang selalu menjadi cewek terdepan di rombongan, Ratu yang bersusah payah mencatat keuangan bersama Lalas, Hidayat yang mampu cair bersama rombongan, dan tak lupa Kiki, yang menciptakan trademark menggemaskan pukul-pukul bedug sebagai pencair suasana. Sebuah petualangan menakjubkan, guys!
Ombak Tujuh

Trivia:

  1. Lebih baik menggunakan jalur Jakarta-Bogor-Surade karena menggunakan bis yang lebih nyaman digunakan ketimbang elf, tetapi harus memperhatikan waktu keberangkatan.
  2. Saia sempat tertinggal dari rombongan di perjalanan pulang acara pelepasan tukik karena motornya mogok, alhasil lumayan bikin bentol-bentol karena digigit nyamuk hutan penangkaran.
  3. Disarankan untuk berkunjung ke sana saat musim kemarau, karena track jalan dan ombak pun lebih bersahabat.

115 

30December2009

10 Things I Thank for in 2009

Ditulis oleh dhodie dalam: Renungan.

Plurk. Untuk teman-teman yang setiap hari bertegur sapa di salah satu mikroblog populer ini tidak usah ditanya bagaimana sayangnya saia sama mahluk satu ini. Meski Facebook ikut-ikutan membuat stream realtime, Twitter tiba-tiba menjadi tren mikroblog baru, Plurk masih menjadi pilihan utama social media saia. Singkat cerita, kalau mau cari saia tinggal tengok akun plurk saia. It’s open, single, and available :-P

deBlogger. Banyak cerita tentang komunitas satu ini. Sedih, tawa, kesal, gembira pernah saia rasakan di dalamnya. Masih banyak mimpi yang diawangkan, harapan yang digadangkan, dan doa yang dipanjatkan, semoga waktu yang tersisa bisa dimaksimalkan untuk berkontribusi di komunitas tercinta ini.

dhodie.com. Bertanggal lahir sama dengan ulang tahun saia, domain pribadi ini menjadi internet log saia bercerita tentang blog dan komunitas, buku dan film, atau hidup dan perjalanan. Biasanya tulisan di blog dibuat dengan passion yang lebih besar karena saia ingin apa yang anda lihat di blog, menggambarkan siapa saia seutuhnya memandang dunia.

Status Tetap. Akhirnya bisa menjadi karyawan tetap setelah dua tahun berstatus kontrak, alhamdulillah. Agak complicated sebenarnya karena bersamaan dengan itu harus kehilangan beberapa teman kerja yang diputus kontraknya atas nama efisiensi perusahaan. But that’s a life. All you have to do is just giving your best performance at work, all paid forward!

Keluarga. Setelah beberapa tahun belakangan orang tua tinggal dengan adik pertama saia, tahun ini ayah mendapat tawaran dari mahasiswa setempat untuk menjalankan usaha warung makan di dekat kampus Unpad, Jatinangor. It’s a bless to see smile in their faces again, luv you!.

Perjalanan. Salah satu efek positif Plurk yaitu mendapatkan teman perjalanan yang mengasyikkan untuk mengenal daerah-daerah indah Indonesia. Tahun ini saia berhasil merasakan dinginnya Dataran Tinggi Dieng, indahnya Pantai Santolo, dan serunya Curug Cilember. Bagaimana tahun depan? Gonna be farther, wilder, and more memorable trips.

Be-Blog. Komunitas blogger kedua setelah deBlogger yang saia geluti atas pertimbangan kota inilah yang membentuk karakter remaja saia. Banyak pelajaran yang saia ambil di dalamnya, tentang kehidupan, persahabatan, atau pengembangan kegiatan ngeblog itu sendiri. The reason I join them is to contribute back to my old city as a sincere thank you.

Canon G11. Salah satu gadget yang sangat saia sayang akhir-akhir ini. Sebenarnya sejak dulu ingin memiliki kamera tetapi baru tergerak untuk tos-tosan membelinya tiga bulan yang lalu. Dan ketika akhirnya bisa memotret beberapa foto perjalanan yang lumayan bagus, saia tau alasan kenapa saia mencintai fotografi. Karena cinta tidak perlu berkata-kata bukan? (LOL)

Persahabatan. This one is the best part. I’ve met, socialized, and made some friendships with bunch of awesome people. Let me tell you their backgrounds: engineer, IT professional, web programmer, secretary, journalist, activist, UN employee, entrepreneur, social worker, teacher, public servant, designer, writer, full time blogger, and unemployment yet inspirer. I’m so lucky to know you, friends!

So 2009 is The Best Year in My Life. Hugely Blessed! (worship)

Picture Me Against The World taken by Aci.

92 

25December2009

Avatar, Simply the Best

Ditulis oleh dhodie dalam: Review.

Tidak banyak film tahun ini yang meninggalkan kesan baik di mata penonton awam seperti saia. Baik di sini dapat diartikan terkesan dengan segenap aspek filmnya—tema cerita, akting, setting, dan tentu pesan filmnya. Up, Knowing, dan 2012 saia masukkan ke dalam barisan film memuaskan, sedangkan Get Married 2, Sang Pemimpi, dan last but the worst Twilight Saga: New Moon ke barisan sebaliknya.


AvatarAwalnya, saia masih menempatkan Up dan Knowing sebagai film paling berkesan tahun ini sampai Avatar dirilis seminggu yang lalu. Film besutan James Cameron ini melanjutkan kemunculan film terlaris sepanjang masanya, Titanic, dua belas tahun lalu. Berbudget sekitar USD 240 juta, film ini sengaja diendapkan Cameron sampai ia yakin teknologi CGI mampu menerjemahkan fantasi liarnya tentang sebuah planet di rasi bintang Alpha Centauri, Pandora, dengan segenap keindahan di dalamnya.


Film sci-fi yang mengambil setting di Hawaii ini menceritakan konflik antara perusahaan tambang yang dikelola manusia dengan penduduk asli Pandora, Na’vi, untuk mendapatkan Unobtanium, material bernilai 20 juta dolar per kilo. Avatar sendiri merupakan program hibridisasi manusia-Na’vi agar manusia dapat mempelajari kehidupan Pandora tanpa harus mati karena tidak dapat bernafas di atmosfirnya. Peran sentral film ini adalah Jake Sully, eks marinir cacat yang datang ke Pandora menggantikan saudara kembarnya yang mati terbunuh. Dengan antusiasme tinggi karena ia dapat bergerak bebas di Pandora, Jake dipercaya oleh perusahaan tersebut untuk membujuk Na’vi pindah dari pohon keramat. Alih-alih dapat membujuk, Ia malah jatuh cinta dengan Neytiri dan kehidupan Pandora sehingga dilema terjadi ketika waktu yang ditentukan habis. Dengan menggunakan militer berteknologi mutakhir, perusahaan tersebut membombardir Pandora yang dilawan oleh segenap penduduk aslinya sampai titik darah penghabisan.

They killed their Mother Earth.. now they’re here to kill yours.

Secara cerita, film ini bukanlah film pertama yang mengangkat konflik antara ilmuwan dengan pihak kapitalis; Akan tetapi secara sinematografi film ini yang terbaik yang pernah saia tonton. Absolutely superb! Cameron sangat memperhatikan detail film sehingga penggambaran film ini terasa sangat nyata dan kita seperti diajak menikmati keindahan Pandora secara langsung. Terlebih ketika film memasuki final battle, emosi dan adrenalin penonton diaduk-aduk ke dalam cerita sehingga durasi film selama 162 menit tidak terasa sama sekali. Simply the best!


Buat yang belum menonton film ini, kamu rugi kawan. This is one of the best movies of all time. Dan untuk yang sudah menonton filmnya dalam format non 3D, much better to see it in 3D. I’ll do it next week.

Trivia:

  1. Unobtanium adalah sebutan untuk materi yang mustahil eksis secara fisik, semisal yang digunakan ilmuwan untuk dapat mengebor inti bumi di film The Core.
  2. Meski tahun film tidak pernah disebutkan dalam film, catatan video Jake Sully menyebutkan tahun 2154 sebagai setting film.
  3. Cameron yakin imajinasinya terhadap Pandora dapat difilmkan setelah ia melihat peran Gollum di film Lord of The Ring.

131 

21December2009

Mumpung Masih Muda

Ditulis oleh dhodie dalam: Petualangan; puisi.

Curug Cilember
























Mumpung masih muda
Tak perlu susun seribu rencana
Lakukan apa yang melintas di kepala
Ingatlah waktu hanya sekilas fana

Mumpung masih muda
Tak harus pias dengan perihnya cobaan
Taklukkan semua dalam kobar pendewasaan
Pikirlah hidup layaknya sebuah pertarungan

Mumpung masih muda
Tak usah gentar dengan sejuta tantangan
Persiapkan semangat pantang mundur petualang
Yakinlah perjalanan adalah permenungan

(Curug Cilember, 2009)

Terima kasih kepada Amri, Novi, Aris, Kristian, Aci, Adit, Ratu, Cipu, dan Esti yang telah menjadi teman perjalanan saia sepanjang tahun ini. Happy to say those was the best journeys in my life so far.

121 

16December2009

Award Persahabatan Blogger 2009

Ditulis oleh dhodie dalam: Award; Blogging.

Blogger Mate AwardTidak pernah menyangka bahwa aktivitas ngeblog saia bisa sedemikian berwarna setahun ini. Dimulai dengan bergabung di komunitas blogger Depok dan Bekasi, sampai berpetualang ke Dieng, Santolo, dan Curug Cilember. Kalian tau apa poin terbaik yang saia dapatkan dari ngeblog? sahabat-sahabat baru. Mereka yang menjadi teman berdiskusi di dunia online dan teman sebenarnya di dunia offline. Untuk inilah di penutup tahun ini saia persembahkan penghargaan kepada mereka, sahabat-sahabat saia yang menjadi Top 10 Commentator di blog ini (tak perlu diartikan macam-macam, ini murni bentuk terima kasih saia kepada mereka).


Menghitung jumlah komentar yang masuk dan dihitung secara otomat oleh WP, saia tinggal melihat widget Top Commentator di sidebar. Akan tetapi, widget ini menghitung berdasarkan usernamenya—bukan alamat blognya. Jadi beberapa blogger yang sering ganti-ganti nama, akan dihitung sebagai user yang berbeda. Contoh kasus untuk Achie, Illa, dan Bandit Sang Perantau. Mereka memiliki sedikitnya dua name berbeda di blog saia.


Dan setelah dihitung dari 25 postingan saia setengah tahun ini, rekapitulasi komentator teraktif tahun ini adalah:
1. Quinie (34 komentar, Bekasi)
QuinieBlogger yang pantas menyandang gelar Ratu Ngeblog karena dedikasinya di dunia blogging. Menilik salah satu percakapan kami tentang target postingan tahun ini, dia dengan santai menargetkan 365 postingan, sementara saia hampir setengah tahun saja baru dapat 25 postingan (doh) . Isi blognya total curhatan dia tentang aktivitas sehari-hari. Jadi kalau ingin tau gimana dia hari ini, cukup bookmark blognya dia atau masukkan di Google Reader anda. I know her as a good friend in discussing lots of things.


2. Ajeng (27 komentar, Bekasi)
AjengBlogger berjuluk Ratu Kopdar karena kesukaannya bertatap muka secara offline. Pertemuan awal di sebuah pameran di Depok, kemudian berbincang panjang lebar di blog, mikroblog, dan instant messenger. Perempuan ini menolak untuk dikenal sebagai seleblog. Ia hanya ingin ingin dikenal sebagai blogger rendah hati. Isi blognya mencerminkan definisi blog sebagai diari online–bisa curhat, puisi, dan sekarang intens sekali bersama bloggerbekasi mengembangkan komunitas tersebut di tempat tinggalnya. I know her as a sensible blogger.


3. Pradna (25 komentar, Purwokerto)
pradnaBlogger yang punya totalitas untuk berkarya lewat dunia open source, Linux. Awal berkenalan yang konyol di sebuah mikroblog, malah akhirnya mengeratkan persahabatan online kami. Isi blognya banyak bercerita tentang Linux, review, dan yang paling saia suka Obrolan Sore-nya. Entah apakah dia masih berani untuk menelurkan puisi lagi setelah puisi terakhirnya dipuji oleh semua teman-temannya. I know him as a sincere and loyal friend.




4. Achie (23 komentar, Jakarta)
AciBlogger yang tulisan-tulisannya sering nangkring di papan atas rangking Google. Hal ini ditunjang berkat kolaborasinya dengan komunitas blogger Garut, BG. Isi blognya campur-campur, meski sekarang aktif sekali bercerita tentang kegiatan jalan-jalan bersama blogger lainnya. Untuk mengulik kemampuan si ganteng—kamera terbarunya, katanya. I believe she has a bright future to become a fine photographer.


5. Morishige (22 komentar, Jogjakarta)
MorishigeBlogger berjuluk Jejaka Petualang ini memiliki semangat ultra dalam bertualang. Dan itu semua terekam di postingan blognya. Saia percaya jika postingan petualangannya layak untuk dibukukan. Sampai di sini, saia tergelitik untuk bertanya, adakah beda antara jalan-jalan dan berpetualang? Anyway, I know him as a fine adventurer.


6. iLLa (22 komentar, Makasar)
illaBlogger asli Sinjai yang terdampar di kota super panas, Surabaya. Berkenalan berkat sebuah mikroblog, akhirnya silaturahmi dengannya tercipta baik sampai sekarang. Salut untuknya yang selalu membuka ruang diskusi dan pertemanan dengan blogger-blogger lainnya. Di tahun ini pula, ia berani untuk memiliki blog berbayar. I know her as my big fans hihihi.


7. Luvie (18 komentar, Jakarta)
luvieBlogger yang juga penulis di dunia nyata. Dikarenakan profesinya, postingannya pun enak dibaca. Banyak bercerita tentang review makanan atau curhatnya tentang kehidupan. Saia paling ingat tentang postingan seorang gadis yang dipaksa berlari oleh sekitarnya. Is it you, girl? I know her as a well writer.


8. Rita (18 komentar, Jakarta)
ritaBlogger aktif yang memiliki banyak teman di dunia perbloggingan. Isi blognya khas perempuan. Belum sempat mengenal lebih dekat melalui jejaring sosial lainnya, sehingga informasi yang saia dapat pun masih terbatas. Tapi dengan bekal rajinnya ia berkunjung ke blogger lainnya, saia yakin ia akan dikenal sebagai blogwalker sejati.


9. Gajah pesing (17 komentar, Surabaya)
gajahBlogger yang belalai-nya ada di mana-mana. Meski mengaku berdomisili di Surabaya, tetapi dikenal baik di kalangan blogger daerah Timur Tengah sana (baca: Jawa Timur dan Jawa Tengah). Pun ia cukup dikenal di komunitas blogger Garut, Depok, dan Bekasi. I know him as a dedicated blogger.


10. Sawali Tuhusetya (17 komentar, Kendal)
sawaliBegawan blogger yang dikagumi blogger-blogger muda berkat dedikasinya di dunia blogging. Pernah mendapatkan award sebagai Blog Pendidikan Terbaik di ajang Internet Sehat 2009. Ciri khas tulisannya dikemas dengan gaya bertutur seorang guru menyikapi segenap aspek permasalahan hidup. I know him as a humble yet inspiring blogger.


Dan untuk teman-teman blogger yang baru menjadi teman saia dengan bersedia mampir di blog ini, saia berjanji akan menjaga pertemanan kita sepenuh hati. Insya Allah.

74 

About Me

A transmission engineer who loves blogging for its mind sharing reason. A long lasting student who has passion to teach and help unlucky communities. A literature lovers who can ignore the crowd when drew to the interesting poems, history books, or novels. If you have these three keywords: life observer, natural lover, and book worm, we can synch ourselves easily.

Meet me at

Calendar

February 2010
M T W T F S S
« Jan    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Tulisan Terakhir

Kategori

Top Commentator

Networked Blog

Google Friend Connect

Participate on

Blogroll

Blog Stats