BBC, Komunitas Blogger Bekasi

Posted in Blogging, Komunitas

UPDATE INFO:
Mendasari BBC sudah digunakan oleh stasiun penyiaran di Inggris, dan juga oleh beberapa komunitas blogger lain di Indonesia, akhirnya pengurus komunitas ini memutuskan untuk mengganti nama komunitasnya menjadi Be Blog yang merupakan akronim Bekasi Blogger dan ajakan untuk ngeblog. Terima kasih untuk konfirmasi balik pengurus Be Blog: Mas Yul, Mas Irfan, dan Pak Aris Heru.

Blogger BekasiAkhirnya akronim Jabodetabek di dunia blogging Indonesia terlengkapi juga. Setelah munculnya komunitas-komunitas BHI dan Bloggerjakarta (Jakarta), Blogor (Bogor), deBlogger (Depok), dan Benteng (Tangerang), Bekasi pun melakukan pre-launching komunitas blogger mereka pada tanggal 17 Agustus kemarin. Dengan mengambil nama Bekasi Blogger dot Com (BBC), komunitas ini diharapkan mampu menangkap aspirasi blogger-blogger yang memiliki keterikatan dengan kota ini. Saat ini, pengurus BBC sedang giat-giatnya mensosialisasikan komunitas ini ke dunia blogging Indonesia dengan motonya: Menembus Tapal Batas.


BBC dan Kompasiana
Meski komunitas bloggernya berusia paling muda di antara kota-kota penyangga Jakarta lainnya, fondasi BBC tidak bisa dibilang main-main. Jajaran pengurusnya terdiri dari blogger-blogger senior yang malang melintang di dunia blogging seperti Pak Amril Taufiq Gobel yang blognya baru-baru ini memenangkan perhargaan Internet Sehat, Mas Yulyanto yang aktif di Asian Blogging Network atau Mas Rawi yang aktif di komunitas Tangan Di Atas (TDA). Tercatat pengurus paling muda adalah Puty Karina, mahasiswi tingkat 3 Teknik Geologi ITB. Adapun Ketua BBC, Aris Heru Utomo, aktif berkarir di Deplu dan Kompasiana. Diversifikasi latar belakang yang menjanjikan sinergi komunitas yang mantap.


Salah satu kelebihan BBC dibanding komunitas lainnya adalah dukungan penuh dari salah satu citizen journalism berskala nasional, Kompasiana. Hal ini dikarenakan beberapa pengurusnya, termasuk Kang Pepih Nugraha (jurnalis senior Kompas.com), aktif mengisi tulisan-tulisan di sana. Dengan jangkauan nasional yang dicakupnya, diharapkan gaung BBC bisa dikenal oleh komunitas-komunitas blogger lain di Indonesia.


Rencana Launching
Pre Launching BBC


























Sebagaimana komunitas blogger lain di Indonesia, BBC pun berharap dapat menjalin kerjasama dengan pemerintah setempat. Diharapkan sinergi yang baik antara masyarakat yang salah satunya diwakili oleh blogger dengan pemerintah selaku pengelola kota Bekasi dapat terjalin ke depannya. Saat ini pengurus BBC pun gencar mensosialisasikan komunitas ini ke pemkot setempat. Keinginan pengurus acara grand launching BBC bisa dihadiri dan diresmikan oleh walikota Bekasi, H.Mochtar Mohamad. Nantikan saja tanggal peresmian komunitas ini di portal bloggerbekasi.


Sinergi BBC dan deBlogger
deBlogger | Komunitas Blogger DepokSetelah ikut berhuru-hara di portal mereka, saya mencermati ada fenomena menarik dari komunitas ini dengan komunitas blogger yang saya aktif di dalamnya, deBlogger. Jika di deBlogger hampir semua pengurus yang aktif adalah dari kalangan blogger-blogger muda, maka di BBC didominasi oleh blogger-blogger senior. Selaku anggota di dunia komunitas yang sedang menggeliat ini, saya berharap dapat menjadi interface untuk sinergi yang baik antarkomunitas: saling mensupport dan saling mempengaruhi guna mewujudkan harapan bahwa blog menjadi salah satu media komunikasi alternatif yang dapat diandalkan dalam pembangunan di kota masing-masing.


Pertanyaan yang mengemuka di benak saya adalah mengapa mengambil nama BBC? Sementara nama ini sudah dipakai oleh beberapa komunitas blogger seperti BBC Bali, BBC Borneo, dan BBC Batam.

Mengubah Strategi Tilawah Ramadhan

Posted in Renungan

Saya masih ingat ketika masih duduk di kelas 6 SD Emak membuat tumpeng spesial untuk musholla kami karena anaknya bisa mengkhatamkan Al Quran untuk pertama kalinya. Satu perayaan kecil-kecilan orang tua untuk anaknya yang masih ada sampai sekarang di sudut-sudut kampung kota Bekasi.

Dan saya masih ingat juga, ketika saya memberikan bimbingan membaca Quran kepada teman saya, Erik, yang usianya terpaut tiga tahun di bawah saya. Saya tak dapat menahan senyum mengingat momen ketika saya membimbingnya mulai dari Iqra 1, menyemangatinya ketika dirinya merasa bebal, dan mengomelinya ketika ia berkali-kali melakukan kesalahan yang sama. Ah taukah akhirnya kawan, itu semua terbayar ketika ia pun berhasil mengkhatamkan Quran satu tahun kemudian.

Berbicara mengenai kebiasaan tilawah di bulan Ramadhan, semangat menggebubu selalu saya lontarkan sesaat setelah tarawih pertama usai. Membuka mushaf dari awal, saya langsung tancap gas menyelesaikan surat terpanjang, Al Baqarah. Untuk kemudian ketika diri ini disibukkan dengan belajar atau bekerja, kecepatan yang tadinya dalam status gas pol pun perlahan menurun dan menurun sampai di ujung Ramadhan. Meski akhirnya bibir ini tersenyum lebar ketika lembar mushaf menyentuh ayat ‘Amma yatasaa aluun. Tahukah kawan, ketika kita mencapai juz 30 ini rasanya seperti habis ikut lari marathon atau naik gunung. Plong terasa ketika lidah ini membaca surat An Naas.

Kemana Larinya Semangat Ramadhan?
Somehow, sering saya merenung mengapa dalam tahun-tahun terakhir ini kegiatan tilawah mulai saya tinggalkan sesaat ketika ramadhan usai. Mushaf memang masih dibuka ketika saya menyempatkan diri membacanya, atau ketika tiba-tiba merasa diri ini jauh dari Dia. Saya bertanya-tanya mengapa spirit perjuangan mengkhatamkan Quran di bulan Ramadhan tidak membekas sama sekali di 11 bulan berikutnya? What might be wrong?

Setidaknya ada dua hal yang bisa saya tarik mengapa kebiasaan membaca tilawah saya itu tidak berbekas (tentu berdasarkan pengalaman pribadi saya):
1. Saya tidak melengkapi mushaf dengan terjemahan, alhasil meski cara membacanya benar, saya tidak mampu menangkap refleksi isi Quran itu sendiri.
2. Saya terlalu fokus untuk mengejar target khatam Al Quran, tapi tidak ada proses menghafal dan memahami Quran secara perlahan.

Fokus di Juz 30
Dengan pertimbangan ingin mendapatkan hikmah ramadhan yang lebih baik lagi, akhirnya untuk ramadhan kali ini saya memutuskan membatasi tilawah saya hanya Juz 30 saja. Yep, tidak ada surat lain. Harapan saya adalah:
- Agar dengan mengulang-ulang membaca surat dan ayat yang sama, Photographic memory yang saya miliki dapat menangkap lebih baik rangkaian surat tersebut menjadi hafalan.
- Mulai menargetkan diri ini untuk menghafal setidaknya surat-surat pendek, malu hati jika hafalan surat saya sekarang masih sama saja dengan hafalan waktu SMA dulu.

Dengan mengulang-ulang juz ini dalam frekuensi yang cukup sering, saya berharap bahwa ini adalah langkah awal untuk menghafal kalam-Nya. Itu saja harapan sederhana saya untuk Ramadhan kali ini.

Sumber gambar diambil dari sini.

Ramadhan Lalu

Posted in puisi, Renungan

Merenung




















Sepuluh tahun yang lalu
Diri ini merajut mimpi di Jurangmangu
Mengisi jeda hari dengan beragam ilmu
Mengakhiri malam dalam untaian wudhu

Lima tahun yang lalu
Diri ini berkubang dengan penat rasa buruh
Mensiasati kerja sampai dentang jam sepuluh
Menghabiskan hari termangu di samping CPU

Satu hari yang lalu
Diri ini merindu melingkar di majlis ilmu
Menikmati ma’rifat Qur’an sepenuh kalbu
Menghabiskan hari menghafal kumpulan wahyu

Memohon maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan yang dilakukan oleh saia selama ini. Baik yang disengaja atau tidak, tersampaikan atau pun tersimpan rapat, terbetik di niatan atau terucap di lisan.

Semangat Harmoni Dieng

Posted in Petualangan
Akhirnya perjalanan menelusuri magis-nya Dataran Tinggi Dieng itu terlaksana juga pada tanggal 14-17 Agustus. Suatu perjalanan yang sangat mengesankan karena pernik cerita yang menyertai bersama Amri, Novi, Kristian, dan Aris. Mulai dari keberangkatan yang menghabiskan hampir tujuh belas jam, miskalkulasi biaya total, sampai cerita peminjaman kamera yang hampir-hampir gagal. Akan tetapi itu semua terbayar ketika langkah kaki menjejak Wonosobo, salah satu kabupaten yang mengurusi Dieng selain Banjarnegara.

Paket Lengkap
Dodi di SikidangDataran tinggi yang terletak 2,096 meter di atas permukaan laut ini ini merentang tepat di tengah-tengah nadi pulau Jawa: 500 km dari Ujung Kulon dan Selat Bali. Sebagaimana wisata vulkanis lainnya Dieng pun memiliki kesan dingin, sunyi, dan magis. Perjalanan untuk menikmati serangkaian objek wisata dimulai tepat satu jam ketika kaki-kaki kami mencapai penginapan di sabtu sore. Penat yang dirasakan seketika hilang ketika badan-badan lusuh ini dibasuh air dingin Dieng. Mempertimbangkan bahwa waktu yang dimiliki hanya tiga jam, akhirnya guide lokal di sana mengajak kami ke tiga tempat: Telaga Warna, jajaran gua Semar, Jaran, dan Sumur, dan diakhiri kawah paling indah di Dieng, Sikidang.

Sementara itu di hari kedua, sisa-sisa objek wisata terlengkapi dengan mengunjungi kompleks candi Arjuna, Gatotkaca, dan Bima; Sedangkan tempat non-candi yang kami kunjungi adalah Kawah Sileri, Telaga Pengilon, dan Sumur Jalatunda.

Memperhatikan objek wisata yang ditawarkan oleh Dieng, saya melihat keunggulannya terletak di paket wisata yang lengkap. Rangkaian telaga, gua, candi, sumur, kawah, sampai perkebunan khas pegunungan disajikan lengkap dengan landskap yang indah. Menurut saya, Dieng merupakan perpaduan eloknya liku perbukitan Puncak, magisnya Prambanan, dinginnya udara Garut, dan indahnya mentari terbit Bromo.

Mentari Terbit Sikunir
Dodi di SikunirTanpa memperoleh foto-foto sunrise di Bukit Sikunir, perjalanan ke Dieng tidaklah terasa lengkap. Itulah sebabnya kami begitu bersemangat mengejar mentari tersebut ketika jarum jam dinding mendentang di angka empat. Bersama dua puluhan orang yang ingin menjadi saksi keindahan sunrise di Dieng, langkah kaki pun tetap ditegakkan meski dingin mencucuk tulang. Meski rute pendakian membuat kami semua terengah-engah, kami pun memperoleh foto-foto yang indah dan magis di sana.

Pendakian kecil di Gunung Sikunir banyak memberikan saya suntikan semangat. Bahwa momen di atas sana, ingin saya ulangi di bukit dan gunung-gunung yang lain di Indonesia. Tantangan itu ada di sana dan hanya keinginan kuat dari kita yang mampu menaklukkannya.

Semangat Harmoni Dieng

Toleransi menghasilkan Harmoni
Harmoni melahirkan kebahagiaan

Kutipan harmoni dicetuskan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik ketika ia meresmikan Museum Kaliasa tahun lalu. Museum ini menyajikan perjalanan agama Hindu di Dieng lengkap dengan rekaman historikal semasa Dinasti Syailendra dalam waktu delapan menit. Mengambil latar musik Titi Kolo Mongso (Sujiwo Tedjo), rekaman ini justru lebih khidmat dinikmati ketimbang rekaman yang disajikan di Dieng Plateau Theatre. Mungkin karena yang terakhir lebih bercerita dari aspek ilmiah ketimbang historisnya.

Mengamati kehidupan di Dieng mengingatkan saya akan kebesaran negara ini. Meski sampai sekarang dataran ini dipercaya sebagai tempat bersemayamnya dewa-dewa kepercayaan agama Hindu, saat ini mayoritas penduduk Dieng justru muslim. Harmoni yang manis sekali ketika mereka yang muslim berusaha menjaga dan melestarikan kebudayaan agama lain.

Hikmah Perjalanan
Perayaan hari kemerdekaan tahun ini banyak memberikan saya semangat untuk berbhakti kepada negeri ini. Dan Dieng mengajarkan saya harmoni, bahwa perbedaan akan lestari ada di mana pun untuk mengingatkan manusia akan ketidaksempurnaannya.

Oleh-oleh foto Di Dieng:
Lima Sekawan
Lompat terbaik di Telaga Warna
Best Jump

Mimpi di Tiga Atap Tanah Jawa

Posted in Petualangan
Tiga hari lagi, saya bersama beberapa rekan dari komunitas online akan backpacker-an menuju salah satu dataran tinggi terkenal di sentral tanah jawa, Dieng. Terkenal karena di daerah ini pernah terjadi tragedi gas beracun Kawah Sinila yang menewaskan 149 warganya pada tahun 1979. Perjalanan ini buat saya pribadi merupakan sebuah langkah awal untuk mewujudkan mimpi saya beberapa tahun lalu: menggapai atap-atap bumi di pulau Jawa. Awalnya saya berkeinginan untuk menggapai atap-atap tertinggi di masing-masing kawasan: Gunung Ciremai di barat, Merapi atau Slamet di tengah, dan Semeru di belahan timur. Tapi akhirnya pilihan mimpi itu pun dijajarkan dalam rentang waktu tiga tahun ke depan seperti di bawah ini:


Gede - Semeru - Gn Sikunir




















Dataran Tinggi Dieng – Tengah (2009)
Memilih dataran tinggi ini sebagai langkah awal semata-mata didasarkan atas kesiapan teknis. Jika saya tetap memilih Mrapi untuk menggapai atap tengah bumi Jawa, saya pikir cukup berisiko dengan pengalaman mendaki yang belum memadai. Dengan `hanya` mendaki bukit di Gunung Sikunir di kisaran 2.565m dapl, saya rasa akan menjadi bekal yang cukup untuk berekspedisi ke gunung-gunung yang lebih tinggi.


Gunung Gede – Barat (2010)
Gunung Gede merupakan pilihan yang paling didasarkan oleh hati dan pengalaman masa kecil. Hati karena saya lahir, besar, dan mungkin akan menghabiskan hidup saya di belahan barat Jawa. Hati karena saya terinspirasi oleh Gie yang sosoknya banyak memengaruhi semangat dan keberanian pendaki-pendaki gunung. Dan hati karena sejak kecil saya sangat menggemari serial Wiro Sableng, Pendekar Kapak Naga Geni 212, yang bermarkas di gunung ini hahaha.


Mahameru – Timur (2011)
Kemudian pilihan untuk menggapai atap di belahan timur terangkum di sebuah gunung yang terletak di ketinggian 3,676 di atas permukaan laut. Banyak cerita yang terserak, inspirasi yang terbetik, dan hikmah yang dapat diambil dari Raja Gunung di tanah jawa ini. Buat saya, hidup tanpa mencicipi Mahameru, seperti hidup tanpa garam. Ada bingkai yang tidak sempurna untuk mendokumentasikan fragmen-fragmen hidup saya.


Tiga gunung, tiga kawasan, di tiga tahun ke depan. Semoga Sang Kuasa memberikan saya kesempatan untuk dapat mengerti arti penaklukan puncak-puncak gunung: bahwa kita, manusia, adalah mahluk yang teramat lemah untuk mengkufuri nikmat hidup yang Ia berikan setiap harinya.

Sumber pengambilan gambar: 1, 2, dan 3.

Suci Lestarini, Penggagas Ladangbuku.com

Posted in Profil, Wirausaha
29 Juli 2009 merupakan salah satu hari bersejarah bagi kehidupan Suci Lestarini, yang akrab dipanggil Leni. Bersejarah karena pada hari itu usahanya untuk mewujudkan sebuah persewaan buku di ranah daring terwujud. Mengambil tempat di aplikasi note facebook, Leni pun memperkenalkan sejarah persewaan buku ini ke ranah daring Indonesia.


Ladangbuku
ladangbukuIde dan konsep tentang bisnis persewaan buku online terbetik dua tahun yang lalu ketika ia sadar bahwa bisnis persewaan buku konvensional yang ia kelola dengan saudaranya di bilangan Cipete berjalan di tempat. Mencermati bahwa bisnis perbukuan di dunia online mulai marak belakangan ini, seperti kutukutubuku, membuka idenya untuk memperkenalkan usahanya ke dunia maya. Bersama-sama dengan Sindayu Annisa, Aprilia Hartami, Toni Dermawan, Big Zaman, dan Famella R, mereka membentuk sebuah tim yang solid bernama Garuda Di Dadaku untuk pengembangan usaha ini. Konsep bisnis persewaan buku online ini pun pernah diajukan dalam Lomba Pekan Ilmiah tingkat Nasional.


Tujuan usaha ini adalah untuk memberikan akses membaca buku yang lebih mudah bagi masyarakat. Dengan menyewa buku, dengan biaya yang lebih murah dibandingkan membeli, diharapkan ke depannya timbul gerakan gemar membaca buku. Sebelum peluncuran bisnis ini ke ranah daring, Leni telah memiliki 100 anggota yang terdiri dari berbagai kalangan seperti istri pak satpam, abege sampai kakek-kakek, eksekutif muda, sampai tukang jualan donat. Leni pun berkomitmen untuk menyediakan buku-buku yang berkualitas dengan tidak memfokuskan genre komik dalam usahanya seperti bisnis persewaan buku lain.


Meski secara ide usaha persewaan buku online diakuinya ide pertama yang ada di Indonesia saat itu, dalam hal kelahirannya ladangbuku didahului oleh usaha sejenis di Surabaya, bookoomoo. Usaha terakhir ini bahkan sudah mulai menyediakan layanan antar jemput buku ke rumah masing-masing se-Surabaya. Hal inilah yang diimpikannya dalam jangka waktu satu tahun ke depan.


Mensupport her role model

Semangat untuk berwirausaha sejak dini dilakukan oleh Leni mempertimbangkan kondisi keuangan keluarganya yang pas-pasan. Ibunya, yang merupakan role model nomer satu dalam hidupnya, merupakan orang tua tunggal yang berhasil menyekolahkan anak-anaknya hingga ke bangku kuliah bermodalkan mesin fotokopi dan pernak-pernik alat tulis kantor. Maka ide untuk menciptakan uang pun mulai ia kembangkan sejak SMP dengan memulai usaha gantungan kunci.

Mimpi untuk Indonesia
leni-malaysiaPerempuan berjilbab yang suka berpikir ini pernah mengikuti program pertukaran pelajar, ASEAN University Network, di University Malaya selama empat bulan. Prosesi bertukar budaya di negeri tetangga menyadarkan Leni bahwa bangsa Indonesia memiliki potensi untuk menjadi bangsa yang besar. Ia berharap bahwa anak muda Indonesia tidak lesu, kreatif, berdaya juang tinggi, dan selalu bersyukur.

Saat ini ia aktif mengikuti program sosial, Indonesia International Workcamp (IIWC) yaitu program untuk membantu masyarakat yang kurang beruntung di pelosok-pelosok. Sementara itu di ranah daring, bersama-sama dengan rekannya ia pun sedang giat membangun situs Indonesia Berprestasi untuk menginformasikan anak-anak muda yang mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional. Harapannya kelak situs ini akan menjadi inspirasi bagi pemuda Indonesia untuk tetap berjuang dan berkarya bagi Indonesia.

Menutup sesi wawancara online, Leni mengutip satu kalimat yang menjadi pemantik semangat dalam hidupnya: “lihatlah langit untuk menggapai mimpi, lihatlah bumi untuk bersyukur atas apa yang telah diberi”. Selamat berjuang untukmu, Len!

Informasi lebih lengkap tentang persewaan buku ini dapat dilihat di situs ladangbuku.