Semangat Harmoni Dieng

Akhirnya perjalanan menelusuri magis-nya Dataran Tinggi Dieng itu terlaksana juga pada tanggal 14-17 Agustus. Suatu perjalanan yang sangat mengesankan karena pernik cerita yang menyertai bersama Amri, Novi, Kristian, dan Aris. Mulai dari keberangkatan yang menghabiskan hampir tujuh belas jam, miskalkulasi biaya total, sampai cerita peminjaman kamera yang hampir-hampir gagal. Akan tetapi itu semua terbayar ketika langkah kaki menjejak Wonosobo, salah satu kabupaten yang mengurusi Dieng selain Banjarnegara.

Paket Lengkap
Dodi di SikidangDataran tinggi yang terletak 2,096 meter di atas permukaan laut ini ini merentang tepat di tengah-tengah nadi pulau Jawa: 500 km dari Ujung Kulon dan Selat Bali. Sebagaimana wisata vulkanis lainnya Dieng pun memiliki kesan dingin, sunyi, dan magis. Perjalanan untuk menikmati serangkaian objek wisata dimulai tepat satu jam ketika kaki-kaki kami mencapai penginapan di sabtu sore. Penat yang dirasakan seketika hilang ketika badan-badan lusuh ini dibasuh air dingin Dieng. Mempertimbangkan bahwa waktu yang dimiliki hanya tiga jam, akhirnya guide lokal di sana mengajak kami ke tiga tempat: Telaga Warna, jajaran gua Semar, Jaran, dan Sumur, dan diakhiri kawah paling indah di Dieng, Sikidang.

Sementara itu di hari kedua, sisa-sisa objek wisata terlengkapi dengan mengunjungi kompleks candi Arjuna, Gatotkaca, dan Bima; Sedangkan tempat non-candi yang kami kunjungi adalah Kawah Sileri, Telaga Pengilon, dan Sumur Jalatunda.

Memperhatikan objek wisata yang ditawarkan oleh Dieng, saya melihat keunggulannya terletak di paket wisata yang lengkap. Rangkaian telaga, gua, candi, sumur, kawah, sampai perkebunan khas pegunungan disajikan lengkap dengan landskap yang indah. Menurut saya, Dieng merupakan perpaduan eloknya liku perbukitan Puncak, magisnya Prambanan, dinginnya udara Garut, dan indahnya mentari terbit Bromo.

Mentari Terbit Sikunir
Dodi di SikunirTanpa memperoleh foto-foto sunrise di Bukit Sikunir, perjalanan ke Dieng tidaklah terasa lengkap. Itulah sebabnya kami begitu bersemangat mengejar mentari tersebut ketika jarum jam dinding mendentang di angka empat. Bersama dua puluhan orang yang ingin menjadi saksi keindahan sunrise di Dieng, langkah kaki pun tetap ditegakkan meski dingin mencucuk tulang. Meski rute pendakian membuat kami semua terengah-engah, kami pun memperoleh foto-foto yang indah dan magis di sana.

Pendakian kecil di Gunung Sikunir banyak memberikan saya suntikan semangat. Bahwa momen di atas sana, ingin saya ulangi di bukit dan gunung-gunung yang lain di Indonesia. Tantangan itu ada di sana dan hanya keinginan kuat dari kita yang mampu menaklukkannya.

Semangat Harmoni Dieng

Toleransi menghasilkan Harmoni
Harmoni melahirkan kebahagiaan

Kutipan harmoni dicetuskan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik ketika ia meresmikan Museum Kaliasa tahun lalu. Museum ini menyajikan perjalanan agama Hindu di Dieng lengkap dengan rekaman historikal semasa Dinasti Syailendra dalam waktu delapan menit. Mengambil latar musik Titi Kolo Mongso (Sujiwo Tedjo), rekaman ini justru lebih khidmat dinikmati ketimbang rekaman yang disajikan di Dieng Plateau Theatre. Mungkin karena yang terakhir lebih bercerita dari aspek ilmiah ketimbang historisnya.

Mengamati kehidupan di Dieng mengingatkan saya akan kebesaran negara ini. Meski sampai sekarang dataran ini dipercaya sebagai tempat bersemayamnya dewa-dewa kepercayaan agama Hindu, saat ini mayoritas penduduk Dieng justru muslim. Harmoni yang manis sekali ketika mereka yang muslim berusaha menjaga dan melestarikan kebudayaan agama lain.

Hikmah Perjalanan
Perayaan hari kemerdekaan tahun ini banyak memberikan saya semangat untuk berbhakti kepada negeri ini. Dan Dieng mengajarkan saya harmoni, bahwa perbedaan akan lestari ada di mana pun untuk mengingatkan manusia akan ketidaksempurnaannya.

Oleh-oleh foto Di Dieng:
Lima Sekawan
Lompat terbaik di Telaga Warna
Best Jump

58 thoughts on “Semangat Harmoni Dieng

  1. wah….wah alhamdulillah akhrnya rencana pertama om terlaksana (worship) wah ternyata keren juga ya om d sana… Subhanallah.. moga² aq juga bisa menikmati panorama dan harmoni di dieng… amin..amin.. (worship)

      • Aku yo kemaren itu berharap banget ketemu Pradna sama Tyovan. Tapi gak kesampean karna mepet banget acara jalan-jalannya. Kalo sendirian, tak jabanin kopdar kemarin (lonely)

  2. Subhanallah … liputan yang dalem. jadi pingin ke sana tapi nggak bisa. Moga diberi umur untuk sempat menikmatinya juga. Sekarang palingan yang bisa dilakukan ikutan lompat juga deh hehehe

    • Wah senangnya Mba Tika mampir di sini (cozy)
      Wah Dieng itu wajib dikunjungi, too good to be told.

      Sepertinya itu karena postingan yang ini emang panjaaangg (kebanyakan foto), sementara layoutnya ngebatesin batasan panjangnya, jadilah seperti lompat2 *lagi dicari setingan yg tepat* (goodluck)

  3. Pingback: Dhodie Weblog

  4. Pingback: Dhodie Weblog

  5. Pingback: Dhodie Weblog

  6. Pingback: 10 Things I Thank for in 2009 | bloggerbekasi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>