Paket Lengkap
Dataran tinggi yang terletak 2,096 meter di atas permukaan laut ini ini merentang tepat di tengah-tengah nadi pulau Jawa: 500 km dari Ujung Kulon dan Selat Bali. Sebagaimana wisata vulkanis lainnya Dieng pun memiliki kesan dingin, sunyi, dan magis. Perjalanan untuk menikmati serangkaian objek wisata dimulai tepat satu jam ketika kaki-kaki kami mencapai penginapan di sabtu sore. Penat yang dirasakan seketika hilang ketika badan-badan lusuh ini dibasuh air dingin Dieng. Mempertimbangkan bahwa waktu yang dimiliki hanya tiga jam, akhirnya guide lokal di sana mengajak kami ke tiga tempat: Telaga Warna, jajaran gua Semar, Jaran, dan Sumur, dan diakhiri kawah paling indah di Dieng, Sikidang.
Sementara itu di hari kedua, sisa-sisa objek wisata terlengkapi dengan mengunjungi kompleks candi Arjuna, Gatotkaca, dan Bima; Sedangkan tempat non-candi yang kami kunjungi adalah Kawah Sileri, Telaga Pengilon, dan Sumur Jalatunda.
Memperhatikan objek wisata yang ditawarkan oleh Dieng, saya melihat keunggulannya terletak di paket wisata yang lengkap. Rangkaian telaga, gua, candi, sumur, kawah, sampai perkebunan khas pegunungan disajikan lengkap dengan landskap yang indah. Menurut saya, Dieng merupakan perpaduan eloknya liku perbukitan Puncak, magisnya Prambanan, dinginnya udara Garut, dan indahnya mentari terbit Bromo.
Mentari Terbit Sikunir
Tanpa memperoleh foto-foto sunrise di Bukit Sikunir, perjalanan ke Dieng tidaklah terasa lengkap. Itulah sebabnya kami begitu bersemangat mengejar mentari tersebut ketika jarum jam dinding mendentang di angka empat. Bersama dua puluhan orang yang ingin menjadi saksi keindahan sunrise di Dieng, langkah kaki pun tetap ditegakkan meski dingin mencucuk tulang. Meski rute pendakian membuat kami semua terengah-engah, kami pun memperoleh foto-foto yang indah dan magis di sana.
Pendakian kecil di Gunung Sikunir banyak memberikan saya suntikan semangat. Bahwa momen di atas sana, ingin saya ulangi di bukit dan gunung-gunung yang lain di Indonesia. Tantangan itu ada di sana dan hanya keinginan kuat dari kita yang mampu menaklukkannya.
Semangat Harmoni Dieng
Toleransi menghasilkan Harmoni
Harmoni melahirkan kebahagiaan
Kutipan harmoni dicetuskan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik ketika ia meresmikan Museum Kaliasa tahun lalu. Museum ini menyajikan perjalanan agama Hindu di Dieng lengkap dengan rekaman historikal semasa Dinasti Syailendra dalam waktu delapan menit. Mengambil latar musik Titi Kolo Mongso (Sujiwo Tedjo), rekaman ini justru lebih khidmat dinikmati ketimbang rekaman yang disajikan di Dieng Plateau Theatre. Mungkin karena yang terakhir lebih bercerita dari aspek ilmiah ketimbang historisnya.
Mengamati kehidupan di Dieng mengingatkan saya akan kebesaran negara ini. Meski sampai sekarang dataran ini dipercaya sebagai tempat bersemayamnya dewa-dewa kepercayaan agama Hindu, saat ini mayoritas penduduk Dieng justru muslim. Harmoni yang manis sekali ketika mereka yang muslim berusaha menjaga dan melestarikan kebudayaan agama lain.
Hikmah Perjalanan
Perayaan hari kemerdekaan tahun ini banyak memberikan saya semangat untuk berbhakti kepada negeri ini. Dan Dieng mengajarkan saya harmoni, bahwa perbedaan akan lestari ada di mana pun untuk mengingatkan manusia akan ketidaksempurnaannya.
Oleh-oleh foto Di Dieng:



I love Dieng dan kenangan tentang dia
Pasti semakin diingat, semakin bikin ngangenin Mba Ajeng
@Novi Muharrami,
kamsutnya, 3 (tiga), 6 (enam), 7 (tujuh) foto2nya … hahahaha
soriii
– Inget! Foto by NOVI MUHARRAMI –> tdk segan untuk mengulang
Terbukti bahwa jabatan asisten redaktur Okezone bukan bualan semata hehehe. Nice skill you have
kabitttaaaaaa….!!!!
Sengajaaaaa
wah….wah alhamdulillah akhrnya rencana pertama om terlaksana
wah ternyata keren juga ya om d sana… Subhanallah.. moga² aq juga bisa menikmati panorama dan harmoni di dieng… amin..amin..
Banget Gal… saya doakan semoga ente bisa ke sana juga
mantab.. taon depan kita persiapkan lebih matang lagi om
@Montoq,
sekali lagi montoq, jikalau tahun depan belum merit juga, ayo! kita taklukkan rencana kita .. ha ha ha
@Novi Muharrami,
yuukkk.. siapa takut
Iya, wajar pengalaman pertama.. tapi no regret at all kan di perjalanan kali ini
Dieng memang moyy…
*Berharap ada wisata Blogger Wonosobo 2010*
@Pradna, sama… aku juga berharap ada Wisata Blogger 2010 di Wonosobo… kalau aku nggak kesana kemarin dulu itu. pastinya belum sempat ketemu sama Linuxer Expert ini…
Aku yo kemaren itu berharap banget ketemu Pradna sama Tyovan. Tapi gak kesampean karna mepet banget acara jalan-jalannya. Kalo sendirian, tak jabanin kopdar kemarin
tunggu postingan gw nanti malem..
Nice posting gan
kang dhodie sungguh terlalu….
Maafiiinnn
wuaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.. foto2nya bikin mupeng
menyebalkan sekali ga bisa ikut T_T
Hehehe beneran bagus foto-fotonya. Apalagi kalo taken by Mima, wah bisa maksimal banget kali yak.
Next trip ikut yak
Subhanalloh, salah satu keagungan Illahi ini bila dijaga kelestariannya akan tetap mempesona yang melihatnya
Iya Bun… Dieng tetap memesona saia setiap kali mengingatnya.. Alhamdulillah ada kesempatan mengunjungi tempat ini
enak banget. jadi iri
Sengaja bikin iri sampean rul.. biar ke sini juga
wuihh, hebat. gimana caaranya bisa tampilin emo plurk ?? ajarin bang . *Coba emot yg ini*
Hehehe ada di blog Cak Dadan tuh rul cara-caranya
Senangnya…sayang ga bisa liat langsung tempatnya :(, mungkin lain kali bisa melihat sendiri kecantikan telaga warna itu :)
Telaga warna akan lebih terasa indah jika dilihat dari atas pegunungan, berdampingan dengan Pengilon.. takjub melihat pesonanya
mantep mas….
pengen si naek gunung, cuma kayaknya cape ya..
Ayo-ayo mas kita backpackeran bareng-bareng hehehe…
Setimpal koq sama sensasi di puncak gunungnya mas
Subhanallah…. harmoni alam menyatu dengan jiwa… Jadi kepengen kesana….. *kapan yach*
Nanti diajak sama calon suami aja ci
Subhanallah … liputan yang dalem. jadi pingin ke sana tapi nggak bisa. Moga diberi umur untuk sempat menikmatinya juga. Sekarang palingan yang bisa dilakukan ikutan lompat juga deh hehehe
Jiah mesti ke sana bro… great adventure
sayang yak, futu2 lompatnya cuman siluet, xixixi….
wuahhh enaknya bisa merayakan kemerdekaan ditempat seperti itu, jadi ingat buku 5 cm :)
Memang terinspirasi sama 5cm..
Ada lengkap tuh foto-fotonya di fesbuk hehe
tulisannya bagus kang..
jadi ingin ke sana juga..
:)
Makasih Len..
Hayo nanti next trip ikutan yak
mantap bro…
menikmati alam memang selalu meninggalkan kesan yang mendalam…
diri ini jadi lebih melankolis..
Boleh melo asal nggak cengeng *bedanya apa ya bro* hehehe..
Yep, alam memang mengajarkan kita untuk grounded dengan hidup kita
wa…… bikin ngiler hehehehe
enanti kalo ke sana lagi aku ikutan ya… kabar-kabari ya… :))
Kalo nanti-nanti, kita trip ke tempat lain pied.. ikutan yak
Suka dengan suasana sunrise 8->
Betul Kang.. energi yang diberikan `mentari terbit` itu magis terasa buat orang-orang yang bisa mengambil hikmah dari keindahannya
Pernah ke Dieng juga to…
Wah, enak, muter2 bebas kemana2…
Saya ke Jakarta saja baru sekali, itupun karena rombongan
Betul Om.. hebat landskapnya.
Baru sekali ya ke Jakarta? Jera atau malah kepengen lagi balik ke Jakarta? hihihi
sayah blom pernah ke dieng.. :(
eh, betewe, kok form komentarnya lompat lompat begini?
*by safari on mac*
Wah senangnya Mba Tika mampir di sini
Wah Dieng itu wajib dikunjungi, too good to be told.
Sepertinya itu karena postingan yang ini emang panjaaangg (kebanyakan foto), sementara layoutnya ngebatesin batasan panjangnya, jadilah seperti lompat2 *lagi dicari setingan yg tepat*
Waaaaaaaaaaaaaaaah .. Jadi pengen ke Dieng !
Hayuk atuh next backpackeran kita jalan
nice report :)… Yu kita jalan2 ke Gunung lainnya, tar kalian naik ke puncak, saya jaga basecamp aja *lirik2 angka di timbangan berat badar*
Jiahaha pamalesan :P
Pingback: Dhodie Weblog
Pingback: Dhodie Weblog
Pingback: Dhodie Weblog
Pingback: 10 Things I Thank for in 2009 | bloggerbekasi.com