18 August 2009
Semangat Harmoni Dieng
Ditulis oleh dhodie dalam: Petualangan .
Paket Lengkap
Dataran tinggi yang terletak 2,096 meter di atas permukaan laut ini ini merentang tepat di tengah-tengah nadi pulau Jawa: 500 km dari Ujung Kulon dan Selat Bali. Sebagaimana wisata vulkanis lainnya Dieng pun memiliki kesan dingin, sunyi, dan magis. Perjalanan untuk menikmati serangkaian objek wisata dimulai tepat satu jam ketika kaki-kaki kami mencapai penginapan di sabtu sore. Penat yang dirasakan seketika hilang ketika badan-badan lusuh ini dibasuh air dingin Dieng. Mempertimbangkan bahwa waktu yang dimiliki hanya tiga jam, akhirnya guide lokal di sana mengajak kami ke tiga tempat: Telaga Warna, jajaran gua Semar, Jaran, dan Sumur, dan diakhiri kawah paling indah di Dieng, Sikidang.
Sementara itu di hari kedua, sisa-sisa objek wisata terlengkapi dengan mengunjungi kompleks candi Arjuna, Gatotkaca, dan Bima; Sedangkan tempat non-candi yang kami kunjungi adalah Kawah Sileri, Telaga Pengilon, dan Sumur Jalatunda.
Memperhatikan objek wisata yang ditawarkan oleh Dieng, saya melihat keunggulannya terletak di paket wisata yang lengkap. Rangkaian telaga, gua, candi, sumur, kawah, sampai perkebunan khas pegunungan disajikan lengkap dengan landskap yang indah. Menurut saya, Dieng merupakan perpaduan eloknya liku perbukitan Puncak, magisnya Prambanan, dinginnya udara Garut, dan indahnya mentari terbit Bromo.
Mentari Terbit Sikunir
Tanpa memperoleh foto-foto sunrise di Bukit Sikunir, perjalanan ke Dieng tidaklah terasa lengkap. Itulah sebabnya kami begitu bersemangat mengejar mentari tersebut ketika jarum jam dinding mendentang di angka empat. Bersama dua puluhan orang yang ingin menjadi saksi keindahan sunrise di Dieng, langkah kaki pun tetap ditegakkan meski dingin mencucuk tulang. Meski rute pendakian membuat kami semua terengah-engah, kami pun memperoleh foto-foto yang indah dan magis di sana.
Pendakian kecil di Gunung Sikunir banyak memberikan saya suntikan semangat. Bahwa momen di atas sana, ingin saya ulangi di bukit dan gunung-gunung yang lain di Indonesia. Tantangan itu ada di sana dan hanya keinginan kuat dari kita yang mampu menaklukkannya.
Semangat Harmoni Dieng
Toleransi menghasilkan Harmoni
Harmoni melahirkan kebahagiaan
Kutipan harmoni dicetuskan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik ketika ia meresmikan Museum Kaliasa tahun lalu. Museum ini menyajikan perjalanan agama Hindu di Dieng lengkap dengan rekaman historikal semasa Dinasti Syailendra dalam waktu delapan menit. Mengambil latar musik Titi Kolo Mongso (Sujiwo Tedjo), rekaman ini justru lebih khidmat dinikmati ketimbang rekaman yang disajikan di Dieng Plateau Theatre. Mungkin karena yang terakhir lebih bercerita dari aspek ilmiah ketimbang historisnya.
Mengamati kehidupan di Dieng mengingatkan saya akan kebesaran negara ini. Meski sampai sekarang dataran ini dipercaya sebagai tempat bersemayamnya dewa-dewa kepercayaan agama Hindu, saat ini mayoritas penduduk Dieng justru muslim. Harmoni yang manis sekali ketika mereka yang muslim berusaha menjaga dan melestarikan kebudayaan agama lain.
Hikmah Perjalanan
Perayaan hari kemerdekaan tahun ini banyak memberikan saya semangat untuk berbhakti kepada negeri ini. Dan Dieng mengajarkan saya harmoni, bahwa perbedaan akan lestari ada di mana pun untuk mengingatkan manusia akan ketidaksempurnaannya.
Oleh-oleh foto Di Dieng:



58 Opini so far...
Novi Muharrami berkomentar:
18 August 2009 at 14:19.
yesss, foto-foto ke-3, 4, 5 … taken by: NOVI MUHARRAMI !!!!
Novi Muharrami menanggapi:
August 18th, 2009 at 14:20
@Novi Muharrami,
kamsutnya, 3 (tiga), 6 (enam), 7 (tujuh) foto2nya … hahahaha
soriii
- Inget! Foto by NOVI MUHARRAMI –> tdk segan untuk mengulang
By Galih berkomentar:
18 August 2009 at 14:32.
wah….wah alhamdulillah akhrnya rencana pertama om terlaksana
wah ternyata keren juga ya om d sana… Subhanallah.. moga² aq juga bisa menikmati panorama dan harmoni di dieng… amin..amin..
Montoq berkomentar:
18 August 2009 at 14:38.
mantab.. taon depan kita persiapkan lebih matang lagi om
Novi Muharrami menanggapi:
August 18th, 2009 at 18:57
@Montoq,
sekali lagi montoq, jikalau tahun depan belum merit juga, ayo! kita taklukkan rencana kita .. ha ha ha
Pradna berkomentar:
18 August 2009 at 15:17.
Dieng memang moyy…
*Berharap ada wisata Blogger Wonosobo 2010*
diazuwi berkomentar:
18 August 2009 at 15:44.
kang dhodie sungguh terlalu….
mima berkomentar:
18 August 2009 at 15:46.
wuaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.. foto2nya bikin mupeng 
menyebalkan sekali ga bisa ikut T_T
bunda_nurul berkomentar:
18 August 2009 at 18:27.
Subhanalloh, salah satu keagungan Illahi ini bila dijaga kelestariannya akan tetap mempesona yang melihatnya
Ask.ruL berkomentar:
18 August 2009 at 20:17.
wuihh, hebat. gimana caaranya bisa tampilin emo plurk ?? ajarin bang . *Coba emot yg ini*
tikapinkhana berkomentar:
19 August 2009 at 09:17.
Senangnya…sayang ga bisa liat langsung tempatnya :(, mungkin lain kali bisa melihat sendiri kecantikan telaga warna itu :)
eskopidantipi berkomentar:
19 August 2009 at 09:52.
mantep mas….
pengen si naek gunung, cuma kayaknya cape ya..
cici silent berkomentar:
19 August 2009 at 13:00.
Subhanallah…. harmoni alam menyatu dengan jiwa… Jadi kepengen kesana….. *kapan yach*
Iman berkomentar:
19 August 2009 at 21:00.
Subhanallah … liputan yang dalem. jadi pingin ke sana tapi nggak bisa. Moga diberi umur untuk sempat menikmatinya juga. Sekarang palingan yang bisa dilakukan ikutan lompat juga deh hehehe
iLLa saja berkomentar:
20 August 2009 at 12:43.
sayang yak, futu2 lompatnya cuman siluet, xixixi….
wuahhh enaknya bisa merayakan kemerdekaan ditempat seperti itu, jadi ingat buku 5 cm :)
morishige berkomentar:
21 August 2009 at 09:03.
mantap bro…
menikmati alam memang selalu meninggalkan kesan yang mendalam…
diri ini jadi lebih melankolis..
ipied berkomentar:
21 August 2009 at 12:49.
wa…… bikin ngiler hehehehe
enanti kalo ke sana lagi aku ikutan ya… kabar-kabari ya… :))
marsudiyanto berkomentar:
25 August 2009 at 08:37.
Pernah ke Dieng juga to…
Wah, enak, muter2 bebas kemana2…
Saya ke Jakarta saja baru sekali, itupun karena rombongan
-tikabanget- berkomentar:
25 August 2009 at 13:32.
sayah blom pernah ke dieng.. :(
eh, betewe, kok form komentarnya lompat lompat begini?
*by safari on mac*
dhodie menanggapi:
August 25th, 2009 at 15:20
Wah senangnya Mba Tika mampir di sini 
Wah Dieng itu wajib dikunjungi, too good to be told.
Sepertinya itu karena postingan yang ini emang panjaaangg (kebanyakan foto), sementara layoutnya ngebatesin batasan panjangnya, jadilah seperti lompat2 *lagi dicari setingan yg tepat*
belgaman berkomentar:
28 August 2009 at 10:28.
nice report :)… Yu kita jalan2 ke Gunung lainnya, tar kalian naik ke puncak, saya jaga basecamp aja *lirik2 angka di timbangan berat badar*
Dhodie Weblog berkomentar:
8 December 2009 at 14:29.
[...] di sempit ruang kereta, atau pun ketika menghabiskan malam-malam nun jauh di sana (Semarang, Dieng, Bandung, Santolo). Dan biasanya saia menulisnya di sebuah mikroblogging. Sekadar untuk berbagi, [...]
Dhodie Weblog berkomentar:
16 December 2009 at 13:38.
[...] setahun ini. Dimulai dengan bergabung di komunitas blogger Depok dan Bekasi, sampai berpetualang ke Dieng, Santolo, dan Curug Cilember. Kalian tau apa poin terbaik yang saia dapatkan dari ngeblog? [...]
Dhodie Weblog berkomentar:
30 December 2009 at 11:27.
[...] untuk mengenal daerah-daerah indah Indonesia. Tahun ini saia berhasil merasakan dinginnya Dataran Tinggi Dieng, indahnya Pantai Santolo, dan serunya Curug Cilember. Bagaimana tahun depan? Gonna be farther, [...]
10 Things I Thank for in 2009 | bloggerbekasi.com berkomentar:
30 December 2009 at 11:54.
[...] untuk mengenal daerah-daerah indah Indonesia. Tahun ini saia berhasil merasakan dinginnya Dataran Tinggi Dieng, indahnya Pantai Santolo, dan serunya Curug Cilember. Bagaimana tahun depan? Gonna be farther, [...]














dhodie menanggapi:
August 21st, 2009 at 13:40
Pasti semakin diingat, semakin bikin ngangenin Mba Ajeng
Balas