Mengubah Strategi Tilawah Ramadhan

Saya masih ingat ketika masih duduk di kelas 6 SD Emak membuat tumpeng spesial untuk musholla kami karena anaknya bisa mengkhatamkan Al Quran untuk pertama kalinya. Satu perayaan kecil-kecilan orang tua untuk anaknya yang masih ada sampai sekarang di sudut-sudut kampung kota Bekasi.

Dan saya masih ingat juga, ketika saya memberikan bimbingan membaca Quran kepada teman saya, Erik, yang usianya terpaut tiga tahun di bawah saya. Saya tak dapat menahan senyum mengingat momen ketika saya membimbingnya mulai dari Iqra 1, menyemangatinya ketika dirinya merasa bebal, dan mengomelinya ketika ia berkali-kali melakukan kesalahan yang sama. Ah taukah akhirnya kawan, itu semua terbayar ketika ia pun berhasil mengkhatamkan Quran satu tahun kemudian.

Berbicara mengenai kebiasaan tilawah di bulan Ramadhan, semangat menggebubu selalu saya lontarkan sesaat setelah tarawih pertama usai. Membuka mushaf dari awal, saya langsung tancap gas menyelesaikan surat terpanjang, Al Baqarah. Untuk kemudian ketika diri ini disibukkan dengan belajar atau bekerja, kecepatan yang tadinya dalam status gas pol pun perlahan menurun dan menurun sampai di ujung Ramadhan. Meski akhirnya bibir ini tersenyum lebar ketika lembar mushaf menyentuh ayat ‘Amma yatasaa aluun. Tahukah kawan, ketika kita mencapai juz 30 ini rasanya seperti habis ikut lari marathon atau naik gunung. Plong terasa ketika lidah ini membaca surat An Naas.

Kemana Larinya Semangat Ramadhan?
Somehow, sering saya merenung mengapa dalam tahun-tahun terakhir ini kegiatan tilawah mulai saya tinggalkan sesaat ketika ramadhan usai. Mushaf memang masih dibuka ketika saya menyempatkan diri membacanya, atau ketika tiba-tiba merasa diri ini jauh dari Dia. Saya bertanya-tanya mengapa spirit perjuangan mengkhatamkan Quran di bulan Ramadhan tidak membekas sama sekali di 11 bulan berikutnya? What might be wrong?

Setidaknya ada dua hal yang bisa saya tarik mengapa kebiasaan membaca tilawah saya itu tidak berbekas (tentu berdasarkan pengalaman pribadi saya):
1. Saya tidak melengkapi mushaf dengan terjemahan, alhasil meski cara membacanya benar, saya tidak mampu menangkap refleksi isi Quran itu sendiri.
2. Saya terlalu fokus untuk mengejar target khatam Al Quran, tapi tidak ada proses menghafal dan memahami Quran secara perlahan.

Fokus di Juz 30
Dengan pertimbangan ingin mendapatkan hikmah ramadhan yang lebih baik lagi, akhirnya untuk ramadhan kali ini saya memutuskan membatasi tilawah saya hanya Juz 30 saja. Yep, tidak ada surat lain. Harapan saya adalah:
- Agar dengan mengulang-ulang membaca surat dan ayat yang sama, Photographic memory yang saya miliki dapat menangkap lebih baik rangkaian surat tersebut menjadi hafalan.
- Mulai menargetkan diri ini untuk menghafal setidaknya surat-surat pendek, malu hati jika hafalan surat saya sekarang masih sama saja dengan hafalan waktu SMA dulu.

Dengan mengulang-ulang juz ini dalam frekuensi yang cukup sering, saya berharap bahwa ini adalah langkah awal untuk menghafal kalam-Nya. Itu saja harapan sederhana saya untuk Ramadhan kali ini.

Sumber gambar diambil dari sini.

53 thoughts on “Mengubah Strategi Tilawah Ramadhan

  1. Hmmm…pertanyaan yang sama selalu muncul dalam hati saya, Mengapa di 11 bulan lain Tilawahnya tidak bisa sesemangat bulan Ramadhan??Semangat Om, menghafal akan lebih mudah jka kita mengerti. Tapi sesulit-sulitnya menghafal, lebih sulit lagi mempertahankannya..huff jadi malu pada diri sendiri…

  2. jadi ingat dulu sering menghafalkan beberapa surat karena wajib untuk syarat sebelum wisuda, tapi setelahnya lulus dan ga ada ujian lagi sebagian mulai lupa (doh).
    Semangat Pak kepala suku (gym)

  3. Setuju Bro, sepertinya kita mengalami masalah yang sama, post-ramadhan syndrome… Setelah ramadhan, entah mengapa hasrat membaca Al Qur’an yang menggebu di bulan Ramadhan hilang begitu saja. Kalau pun ngaji , paling baca Yaasin sekali seminggu.

    Thanks for you article, it indeed provides me answers for my post ramadhan syndrome issue. Saat nya mungkin untuk tetap saling mengingatkan setelah Ramadhan… Insya Allah

  4. Terus terang saya sangat tersindir (dalam arti posistif) dengan tulisan ini.
    Terkadang kita hanya semangat pada bulan ramadhan, dan itu pun di awal2 puasa.
    Dan lambat laun menghilang ditelan kemalasan dalam 11 bulan lainnya.

    Tiap orang memang punya target dan prioritas sendiri2 dalam beribadah,
    Kalau saya selalu lebih terfokus untuk membiasakan bisa mengkhatamkan 30 juz (InsyaAllah) selama ramadhan, karena untuk melatih konsistensi dalam membaca Quran, yah sebagai latihan lah…Semoga harapannya terkabul mas, tetap semangat!!

  5. hohoho.. jadi inget jaman duyu, sayah mulai iqra 1 dari kelas 3 SMA gara2 mo EBTA ngaji….
    xixixi
    tapi sampe sekarang masih ga bisa ngikutin kalo yasinan bareng2 :(

  6. weh.. jadi ingat saya waktu kecil kang, juz 30 hampir tiap hari di hapalkan alhasil sampe kelas 6 SD kurang lebih 80% jus 30 hapal diluar kelapa, eh salah maksudnya kepala.. la sekarang dah ilang sebagian besar . Kalee hanya 20% aja yang masih tersisa

  7. fenomena ttg berkurangnya kegiatan tilawah memang sudah muncul di mana2, mas dhodie. saya sendiri kadang2 sok cari2 alasan, hehe … padahal nyonya selalu mengingatkan saya, tapi alhmadulillah, mesti ndak rutin setiap habis taraweh, saya masih terus berupaya utk tadarus bareng di mushola kampung saya tinggal.

    • Alhamdulillah Pak jika memang masih membiasakan tadarus bareng.. bisa saling menyemangati ketika rasa malas keluar yah..

      Wah beruntung punya nyonya yang selalu mengingatkan (goodluck)

  8. aheuheuheu…………. jadi inget waktu di pesantren duluuuu……
    karena menghapal qur’an ituh wajib…. soalnyah ada talaran….:p….
    atau…. ketauan pas keluar pesantren pake celana ga pake rok…. atau pas hari bahasa ketauan ngomong pake bahasa sunda atau pake bahasa indonesia… pasti hukumannyah hapalan qur’an… heuheu… jadi mengenang….. tapi pas udah keluar jadi ga fokus… walaupun masi inget tapiii banyak lupanyah… ntah karena tidak ada motivasi…. atau apa yha…:p
    tp mudah2an ramadhan kali inih… kita semua bisa meningkatkan kualitas iman dengan mebaca surat cinta ILLAHI RABBI dengan menghapalnyah… memaknainya,,,, terlebih dengan mengamalkannya…Amiieenn…ALLAHUMMA amien….:-)

  9. Apresiasi saya terhadap dirimu dengan niat menghapal juz 30, tapi kenapa hanya fokus membaca pada juz 30…….? untuk menghapal bisa dengan mendengarkan muratal yang berulang-ulang, seperti lagu yang sering kita dengar berulang-ulang lama-lama bisa hapal…jika fokus pada membaca dan tulisannya akan sangat berat dalam menghapal, tapi jika mendegar muratal yang berulang insyaallah akan lebih mudah….untuk membaca bisa ditargetkan setiap ada waktu lowong dari pada diisi hal yang kurang bermanfaat event itu dapat dijadikan sarana walaupun harus mengelola waktu jika sibuk, selamat beribadah kawan….semoga spirit bulan ramadhan bisa membekas di bulan berikutnya…terutama dalam tilawah alQur’an…..amiin, ayo semangat!!!!!!!!

    • Simpel saja, Juz 30 suratnya pendek-pendek jadi mudah dihafal. Lebih baik menghafal yang pendek-pendek dulu dibanding langsung surat yang panjang-panjang kan? ;-)

  10. sebenarnya ga cuma semangat bertilawahnya saja ya tapi juga eumm.. mungkin semangat untuk berbagi, semangat buat berbuat baik dll yang at least jadi lebih terjaga di bulan ramadhan.. (goodluck)

    terima kasih tulisan ini udah menginspirasi saya (gym)

  11. sedikit share (eh banyak ding, maaf). Al-Qur’an adalah sebuah Kitab yang berisi Kalam Ilahi. Membacanya memperoleh pahala apalagi mempelajari isinya. Sebisa mungkin setelah kita lancar membacanya maka mulailah untuk mempelajari isinya. Sungguh kalau kita telah mampu bergaul dengan Al-Qur’an, maka hati kita, fikiran kita, lidah kita, dan seluruh perbuatan kita, akan mencerminkan Al-Qur’an. Di dalam Al-Qur’an Allah SWT telah menjelaskan yang Haq dengan yang Bathil, baik itu secara terang-terangan, maupun dengan permisalan, maupun dengan sindiran, maupun dengan kisah-kisah yang semuanya dikemas dalam sebuah bahasa yang memiliki nilai yang tinggi. Ketika hati kita telah bersentuhan dengan Al-Qur’an maka yakinlah tiada lagi yang paling indah dan paling lezat kecuali bergaul dengan Al-Qur’an. Itulah salah satu mu’zizat dari Al-Qur’an. Semakin dibaca, semakin ingin kita membacanya lagi. Tapi kalau sekali membaca kemudian baru kita baca lagi lalu kita tinggalkan, maka itu berarti Al-Qur’an belum masuk ke dalam hati kita, belum menguasai hati kita.

    Al-Qur’an adalah gerbang untuk mengenal Allah SWT. Itu yang penting.

  12. Ugh, kesindir abis…. :P

    semoga setelah baca ini kita semua jadi makin getol membaca dan memahami Al-Qur’an… dan gak hanya di bulan Ramadhan aja tentunya… Amiin…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>