Sebungkus Nasi Uduk dan Segelas Cappucino

Posted in Curhat, Kuliner
Dalam hidup saya, ada banyak nikmat Tuhan yang selalu saya anggap sebagai kompensasi-Nya atas kondisi keluarga saya yang tidak-kaya-namun-sangat-saya-banggakan itu. Dan di antara nikmat-Nya, saya paling suka nikmat yang menyangkut perut. Tidak ada yang lebih ajaib dibanding ketika memakan duren atau menikmati jamur. Akan tetapi, tadi pagi saya menyadari bahwa saya sangat merindukan makanan-minuman yang saya konsumsi di setiap hari kerja: Nasi Uduk dan Cappucino. Dan saya tersadar bahwa mereka seistimewa duren dan jamur, meski dalam konteks yang berbeda.


Nasi Uduk Yahud

aromanya, legitnya, bihunnya, sambelnya…

Nasi Uduk

Di antara makanan jenis nasi-nasian yang biasa saya santap, tidak ada yang bisa mengalahkan keistimewaan nasi uduk. Tanpa perlu menambahkan lauk-pauk di atasnya, saya pasti melahapnya dengan kejam.


Cukup nasi uduk yang masih mengepul, ditaburi bawang goreng kecoklatan, disiram dengan kuah kehitaman, ditambah kentang dan bihun sebagai pengganti laukan, dan tentu yang terpenting diakhiri sambel kacang yang pedas. Ah… rasanya saya tidak akan pernah bosan untuk melahapnya tiap pagi (mmm) .


Cappucino Panas

Secangkir Cappucino

Awal Mei lalu, saya berkenalan dengan kopi sachet Torabika Cappucino ketika kantor pindah gedung dari Thamrin ke Sudirman. Biasanya untuk kopi kemasan, saya akan memilih Indocafe Coffemix atau Nescafe. Akan tetapi, kemasan chocolate granule yang dibuat terpisah dalam kemasan Torabika membuat saya tertarik untuk membelinya. Dan setelah mencobanya sesaat setelah makan siang, WOW.. Saya suka!… hmm lebih tepatnya I love it. Rasanya pas dengan lidah saya. As you who may know me, I’m a cappucinoholic.


Pagi ini saya hanya ingin mengucapkan matur nuwun udah menemani hari-hari saya kepada keduanya.


Trivia: apakah saya perlu mensyaratkan calon istri saya harus bisa membuat nasi uduk yang rasanya menyaingi nasi uduk khas Gondangdia itu? (okok)

Sumber gambar (1), (2)

Kokologi, Game Psikologi Penggali Potensi

Posted in Psikologi
Seberapa enjoy anda mengikuti tes psikologi untuk mengetahui personal diri sendiri seperti TPA, Jung Test, atau Personality Test? Saya cukup yakin mayoritas jawabannya adalah kurang menikmati tes-tes tersebut dikarenakan merasa tes-tes tersebut cukup memeras otak dan tingkat kefokusan kita. Atas dasar pemikiran ini seorang ahli psikologi, Profesor Isamu Saito membuat Kokologi yang bertujuan untuk mengenal kepribadian seseorang melalui serangkaian permainan.


Kokologi yang Menyenangkan
KokologyKokologi berasal dari gabungan bahasa Jepang (kokoro yang berarti pikiran, semangat, perasaan) dan bahasa Yunani (logia yang berarti ilmu). Dapat diartikan Kokologi adalah seri permainan psikologi untuk menyingkap emosi dan sifat tingkah laku seseorang. Fokus utama Kokologi adalah menganalisis psikis terdalam seseorang dengan menggabungkan dua teori psikologi kenamaan, Freud dan Jung. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam Kokologi biasanya mengharuskan kita untuk mengkhayal, berfantasi.


Sasaran utama mengembangkan Kokologi, menurut Tadahiko Nagao, adalah membuatnya menyenangkan. Dalam buku yang dikarangnya bersama Isamu Saito, Kokology: Game Praktis Menggali Potensi Anda, Ia memberikan tips agar permainan Kokologi menjadi menyenangkan:
  • Katakan hal pertama yang muncul di kepala anda
  • Mainkan bersama orang lain
  • Jangan berusaha mengira-ngira jawaban
  • Jujurlan dengan diri sendiri
  • Jangan membaca lembar jawaban lebih awal
  • Lihatlah reaksi orang lain (termasuk diri sendiri)
  • Tetaplah berpikiran terbuka


Let’s play:
RUMAH IMPIAN
rumahKetika anda jalan-jalan mengitari perumahan, anda melewati jalan yang tidak pernah anda lalui sebelumnya. Di samping jalan, anda melihat sebuah rumah yang menurut anda salah satu rumah impian yang selalu anda inginkan. Sesaat sebelum anda mengagumi rumah itu, anda mengamati bahwa pintu rumah itu setengah terbuka. Mengapa pintu itu terbuka?
1. Rumah itu kemalingan
2. Pemiliknya lupa menguncinya
3. Pemiliknya ada di dalam rumah


BURUNG BIRU
Burung BiruSuatu hari seekor burung berwarna biru masuk ke kamar anda melalui jendela dan terperangkap di dalam. Somehow, anda tertarik untuk memelihara buku ini sehingga anda pun memutuskan untuk memeliharanya. Akan tetapi esok hari anda terkejut karena burung itu berubah warna menjadi kuning! Pun lusa berubah lagi menjadi merah terang, dan di hari ketiga berubah menjadi hitam. Akan berubah menjadi warna apa burung ini ketika anda bangun di hari kelima?

1. Burung tidak berubah warna, tetap hitam
2. Burung berubah kembali menjadi biru
3. Burung berubah menjadi putih
4. Burung berubah menjadi emas


MELUKIS MUG
MugSebuah mug berwarna putih polos diserahkan pada anda bersama kuas berwarna biru untuk diberi pola. Kira-kira pola apakah yang akan anda lukis di mug tersebut?
1. Garis-garis
2. Titik-titik yang menari bersaling-silang
3. Centang
4. Garis-garis yang berombak


LANGIT BIRU
Langit BiruPertama bayangkan diri anda memandang hamparan biru langit yang membuat anda begitu bersemangat. Lalu alihkan mata pikiran anda untuk melihat pemandangan lain. Manakah yang membuat anda merasa paling tenang dan santai?
1. Dataran penuh salju putih
2. Lautan biru
3. Gunung yang hijau
4. Padang yang penuh dengan bunga matahari


MEMBACA MAJALAH
MajalahAnda baru saja membeli majalah mingguan populer dan membawanya pulang untuk dibaca. Bagaimana cara anda membaca isi majalah tersebut?
1. Membaca seluruh majalah secara urut dari awal sampai akhir
2. Langsung membaca artikel yang menarik dan hanya membaca itu
3. Membuka secara acak dan membaca apa saja yang menarik
4. Membaca majalah dengan urutan yang selalu sama

Jika sudah selesai memilih, tulislah jawaban anda di selembar kertas kemudian jika sudah yakin tidak akan mengubahnya, anda bisa mendapatkan penjelasannya di LINK JAWABAN.

Surat Terbuka Bahwa Aku Patah Hati

Posted in Curhat, puisi

Aku tak ingat kapan pertama kali aku merasa kamu adalah pilihan hatiku. Entah saat aku dan ayah bertamu ke hunian paman di Matraman, yang aku meronta keras memaksa ayah untuk pulang bersamamu; Atau saat aku dan kakakku mudik dari Bekasi, yang aku bersikeras pergi bersamamu sementara ia memaksa memilih Prima. Hanya alasanku bersamamu, adalah satu dari sekian momen-momen ternyamanku.


Tetapi aku ingat beberapa momen ajaib bersamamu. Saat aku memaksa masuk tapi kamu hanya mampu mencengkeram sebelah kakiku padahal saat itu efek diare sudah melemahkanku–yang hampir membuatku pulang tinggal nama. Atau saat aku menjadi pengagum rahasia perempuan yang setiap hari berdiri dalam radius satu meter tetapi tidak ada satu kata pun yang mampu mencairkan percakapan bisu kami. Tahukah kamu sesuatu, selang beberapa hari setelah aku didera sakit, ia pun tiba-tiba puff… hilang tak berbekas dari pandanganku. Meski aku yakin, dari tatapan kami, rasa kehilangan itu tidak kutanggung sendiri.


Aku pun tak mengerti mengapa aku selalu membelamu ketika mereka menghujat karena alasan ketidakmanusiaanmu. Aku hanya merasa mereka belum sepenuhnya mengenalmu, tentang sensasi kebersamaan yang kamu tawarkan, kesederhanaan yang kamu berikan, dan hikmah keikhlasan yang kamu ajarkan. Jika saja mereka bertahan sedikiiit lebih lama, aku yakin mereka akan berbalik mencintaimu.


Tetapi hari ini aku benar-benar tak mengerti bagaimana cara memaafkan kesalahanmu. Lebih dari lima pemberangkatan bulan ini kedatanganmu dibatalkan, lebih-lebih tak ada ucapan penyesalan secuilpun dari orang-orang yang mengatur jadwalmu. Tahukah kamu sesuatu, subuh tadi aku sengaja terjaga agar tidak melewatkan kedatanganmu, pagi tadi aku berangkat lebih awal agar tidak kehilangan informasi jadwalmu, dan tadi ongkosku pun tak cukup untuk diberikan ke pengendara motor yang mengantarku.


Maaf jika kesetiaan ini pun luruh dengan rekam keterlambatan yang mencorengku
Ikhlaskan jika besok aku akan memilih temanmu yang lebih baru untuk keberangkatanku

Imajimu masih tersimpan rapi di sini

deBlogger Berbagi di Bulan Suci

Posted in Komunitas, Kopdar
Ketika membaca postingan teman-teman blogger tentang keprihatinan memudarnya nilai-nilai jati diri Indonesia sebagai sebuah bangsa, tiba-tiba saya dibekap rasa cemburu yang sangat. Saya iri bagaimana Pak Sawali, Mba Ajeng, Mas Itempoeti, dan blogger-blogger lain berusaha `think something` menyumbangkan ide dan pemikiran sesuai dengan bidang yang mereka geluti. Sampai di satu momen, saya berjanji dalam hati bahwa saya pun ingin menyumbang satu tulisan sebagai bentuk keprihatinan bersama.


Mengembalikan Jati Diri Bangsa
Kembalikan Jati Diri BangsaMeski saya belum tertarik mengikuti secara langsung kontes SEO-nya, saya mensupport spirit yang digemakan oleh kontes ini di tengah carut-marutnya kehidupan kita sebagai bangsa yang pernah dianggap `akan berkembang besar`. Dan menemukan deBlogger sebagai wadah saya dan teman-teman blogger Depok untuk `do something`, saya berpikir inilah yang bisa kami tawarkan: membumikan kembali semangat berbagi masyarakat Indonesia. Dan sebagai langkah awal, 19 anggota deBlogger mengadakan bakti sosial di Panti Wreda Yayasan Usaha Mulia yang berlokasi di Jl. Rapi no.20, Pondok Petir, Sawangan Depok pada tanggal 5 September. Rangkaian kegiatan ini dikoordinasi oleh Mirma Yudha Firdausi.


Berbagi Cinta di Panti Wreda
Berbagi CintaPanti yang mengurusi 18 kakek dan nenek ini terletak cukup jauh dari pusat kota Depok. Pengurus panti yang telah kami informasikan kedatangan kami di sore hari menempatkan kakek-nenek tersebut di aula panti. Di awal acara, mereka seperti terpana melihat keramaian yang kami hadirkan di sana. Kegugupan mereka pun mulai mencair ketika Mas Eka bersama Nira melantunkan salah satu lagu populer Ebiet G.Ade, Titip Rindu Buat Ayah. Lagu yang masih menjadi favorit saya untuk mendermakan sujud hormat kepada ayah saya (selain Kenangan Bersama Ayah-nya Suara Persaudaraan).


Memasuki lagu-lagu lawas seperti Sepanjang Jalan Kenangan atau Sepasang Mata Bola beberapa kakek dan nenek mulai menunjukkan ingatan mereka terhadap lagu-lagu itu. Bahkan Oma Lastri yang berusia lebih dari 80 tahun dengan fasih dan merdunya menyanyikan lagu Jembatan Merah. Sungguh mengharukan ketika saya bertanya dalam hati kapan terakhir mereka bisa bernyanyi dan menari bersama sebebas ini.


Jika kawan bertanya-tanya adakah hal-hal tak terduga yang dilakukan oleh mereka, jawabannya tentu ada. Ada Opa Jenggot dan Oma Lastri yang mengaku musuh bebuyutan tapi duduk berdempetan dan terlihat tak terpisahkan (denial :-P ), Oma Amoy yang di awal hanya merengut tapi tiba-tiba menceracau dan bernyanyi dalam bahasa Cina, atau seorang Opa yang tiba-tiba mengajak seluruh anggota deBlogger menyanyikan lagu Rayuan Pulau Kelapa meski acara sudah ditutup. Ah mereka masih hebat-hebat, kawan! (rock)


Setelah acara kunjungan selesai, seluruh anggota deBlogger pun beriringan pulang menuju markasnya di KedaiQu. Di sini kami pun bertemu dengan beberapa deBlogger lain untuk mengadakan acara buka puasa bersama.


Kebersamaan ala deBlogger
Mencermati bahwa deBlogger memiliki seorang anggota yang terbiasa untuk mendokumentasikan acara pernikahan, Ramadoni, kami pun mendaulatnya untuk membingkai seluruh frame acara ke dalam format video. Mengusung semangat kebersamaan sebagai sebuah keluarga besar, video berukuran 27MB ini pun digunakan dalam postingan seluruh anggota deBlogger dengan tajuk deBlogger Berbagi di Bulan Suci secara serentak pada hari Selasa, 8 September jam 22.00:



Bagaimana kawan, tertarik untuk ikut berbagi bersama opa dan oma di tempat lain? Atau berbagi sembako untuk tukang becak di pinggiran Jalan Nusantara? Atau membantu anak usia sekolah yang berprestasi namun tidak mampu untuk membiayai sekolahnya? Jangan ragu untuk bergabung bersama kami, Keluarga Besar Blogger Depok.

Menepinya Perahu Kertas

Posted in Review
Saat saya membaca Perahu Kertas hasil unduhan sebuah situs hampir setahun yang lalu (maaf Dee), di akhir bacaan saya tertohok ketika menyadari bahwa dua bab terakhir buku ini tidak diikutsertakan. Entah karena alasan apa. Dan dikarenakan saya pun malas berlangganan versi digitalnya, saya memutuskan untuk menunggu terbitnya buku itu dalam versi cetak. Toh saya berpikir memang semestinya saya membelinya untuk menghargai kerja keras Dee selama penulisannya. Setelah diulur-ulur waktu janji penerbitnya, Perahu Kertas pun rampung menepi pada tanggal 28 Agustus 2009 di toko-toko buku terdekat.


In Love with Kugy
Perahu KertasDi awal membaca buku ini, saya bertanya-tanya dalam hati ini benar karangan Dee? Koq rasanya jauh lebih ringan dibanding saat ia “menjadi” Bodhi di Akar atau Etra di Petir (dua sekuel Supernova). Prosesi membaca pun selesai dalam hitungan jam karna selain bahasanya ringan, ceritanya pun dekat dengan keseharian banyak orang. Tentang perjuangan cinta Kugy dan Keenan. Tentang mereka yang tidak suka dengan keseragaman hidup. Tentang bagaimana mereka menghadapi kejutan demi kejutan dalam `hubungan` mereka.


Saya jatuh cinta dengan Kugy, definitely. Salah satu karakter tokoh perempuan yang saya suka. Bagaimana apa adanya dia dan kecintaannya kepada dunia anak-anak hingga ia memilih mengajar anak-anak tidak mampu di pelosok desa. `Beda`, itu yang saya suka.


55++ Days
Dee menjadikan media blog sebagai sarana untuk menceritakan liku-liku penulisan Perahu Kertas dalam periode Oktober 2007-Maret 2008. Saya terkenang bagaimana ia mencari Head Quarter (baca: tinggal di kos), bernostalgia dengan Rida dan Sita untuk kemudian terjebak di antara Slanker dan Viking, dan bagaimana ketika akhirnya target menyelesaikan penulisan buku yang awalnya 55 hari melar menjadi 60 hari. Saya sangat menikmati cerita-ceritanya itu. Catatan: ia menuliskan semua ceritanya itu dalam blog.


Well, bagi kamu yang agak ilfeel dengan beratnya Supernova, buku ini sangat recommended untuk dibaca. Dijamin refreshing your mind! Buat yang sudah atau sedang baca, bisa share kesan setelah membacanya di sini. Untuk Dee, selamat untuk Perahu Kertas-nya dan saya masih menunggu dengan sabar Partikel-nya.


Sumber pengambilan gambar di sini.