Surat Terbuka Bahwa Aku Patah Hati

Aku tak ingat kapan pertama kali aku merasa kamu adalah pilihan hatiku. Entah saat aku dan ayah bertamu ke hunian paman di Matraman, yang aku meronta keras memaksa ayah untuk pulang bersamamu; Atau saat aku dan kakakku mudik dari Bekasi, yang aku bersikeras pergi bersamamu sementara ia memaksa memilih Prima. Hanya alasanku bersamamu, adalah satu dari sekian momen-momen ternyamanku.


Tetapi aku ingat beberapa momen ajaib bersamamu. Saat aku memaksa masuk tapi kamu hanya mampu mencengkeram sebelah kakiku padahal saat itu efek diare sudah melemahkanku–yang hampir membuatku pulang tinggal nama. Atau saat aku menjadi pengagum rahasia perempuan yang setiap hari berdiri dalam radius satu meter tetapi tidak ada satu kata pun yang mampu mencairkan percakapan bisu kami. Tahukah kamu sesuatu, selang beberapa hari setelah aku didera sakit, ia pun tiba-tiba puff… hilang tak berbekas dari pandanganku. Meski aku yakin, dari tatapan kami, rasa kehilangan itu tidak kutanggung sendiri.


Aku pun tak mengerti mengapa aku selalu membelamu ketika mereka menghujat karena alasan ketidakmanusiaanmu. Aku hanya merasa mereka belum sepenuhnya mengenalmu, tentang sensasi kebersamaan yang kamu tawarkan, kesederhanaan yang kamu berikan, dan hikmah keikhlasan yang kamu ajarkan. Jika saja mereka bertahan sedikiiit lebih lama, aku yakin mereka akan berbalik mencintaimu.


Tetapi hari ini aku benar-benar tak mengerti bagaimana cara memaafkan kesalahanmu. Lebih dari lima pemberangkatan bulan ini kedatanganmu dibatalkan, lebih-lebih tak ada ucapan penyesalan secuilpun dari orang-orang yang mengatur jadwalmu. Tahukah kamu sesuatu, subuh tadi aku sengaja terjaga agar tidak melewatkan kedatanganmu, pagi tadi aku berangkat lebih awal agar tidak kehilangan informasi jadwalmu, dan tadi ongkosku pun tak cukup untuk diberikan ke pengendara motor yang mengantarku.


Maaf jika kesetiaan ini pun luruh dengan rekam keterlambatan yang mencorengku
Ikhlaskan jika besok aku akan memilih temanmu yang lebih baru untuk keberangkatanku

Imajimu masih tersimpan rapi di sini

123 thoughts on “Surat Terbuka Bahwa Aku Patah Hati

  1. Hihihi tak kirain tadi berpaling ke wanita lain, eh tahunya berpaling meninggalkan gerbong2 tua.:)
    Tapi kesetiaan emang tak perlu dipertahankan mas untuk sesuatu yg selalu memberikan kekecewaan bagi hati, tak perlu itu :)…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>