Sebungkus Nasi Uduk dan Segelas Cappucino

Posted in Curhat, Kuliner
Dalam hidup saya, ada banyak nikmat Tuhan yang selalu saya anggap sebagai kompensasi-Nya atas kondisi keluarga saya yang tidak-kaya-namun-sangat-saya-banggakan itu. Dan di antara nikmat-Nya, saya paling suka nikmat yang menyangkut perut. Tidak ada yang lebih ajaib dibanding ketika memakan duren atau menikmati jamur. Akan tetapi, tadi pagi saya menyadari bahwa saya sangat merindukan makanan-minuman yang saya konsumsi di setiap hari kerja: Nasi Uduk dan Cappucino. Dan saya tersadar bahwa mereka seistimewa duren dan jamur, meski dalam konteks yang berbeda.


Nasi Uduk Yahud

aromanya, legitnya, bihunnya, sambelnya…

Nasi Uduk

Di antara makanan jenis nasi-nasian yang biasa saya santap, tidak ada yang bisa mengalahkan keistimewaan nasi uduk. Tanpa perlu menambahkan lauk-pauk di atasnya, saya pasti melahapnya dengan kejam.


Cukup nasi uduk yang masih mengepul, ditaburi bawang goreng kecoklatan, disiram dengan kuah kehitaman, ditambah kentang dan bihun sebagai pengganti laukan, dan tentu yang terpenting diakhiri sambel kacang yang pedas. Ah… rasanya saya tidak akan pernah bosan untuk melahapnya tiap pagi (mmm) .


Cappucino Panas

Secangkir Cappucino

Awal Mei lalu, saya berkenalan dengan kopi sachet Torabika Cappucino ketika kantor pindah gedung dari Thamrin ke Sudirman. Biasanya untuk kopi kemasan, saya akan memilih Indocafe Coffemix atau Nescafe. Akan tetapi, kemasan chocolate granule yang dibuat terpisah dalam kemasan Torabika membuat saya tertarik untuk membelinya. Dan setelah mencobanya sesaat setelah makan siang, WOW.. Saya suka!… hmm lebih tepatnya I love it. Rasanya pas dengan lidah saya. As you who may know me, I’m a cappucinoholic.


Pagi ini saya hanya ingin mengucapkan matur nuwun udah menemani hari-hari saya kepada keduanya.


Trivia: apakah saya perlu mensyaratkan calon istri saya harus bisa membuat nasi uduk yang rasanya menyaingi nasi uduk khas Gondangdia itu? (okok)

Sumber gambar (1), (2)