Pantai-pantai Perawan di Garut Selatan

Posted in Petualangan
The tripper

















Berawal dari keinginan untuk doing something extraordinary ketimbang hanya weekend di rumah, akhirnya gua menyambangi belahan lain kota kelahiran gua sendiri, Garut Selatan tanggal 27-29 November kemarin. Perjalanan kali ini bisa dibilang sangat spontan karena baru direncanakan jam 13.00 dan tau-tau jam 19.30 udah siap berangkat. Spontanitas perencanaan kayak gini sebenernya seru juga soalnya kalau bisa berhasil akan sangat menyenangkan dan kalau tidak, nothin to lose. Meski gua tetap lebih milih ada perencanaan matang.

Mencoba mengontak Dienger yang ternyata semuanya sibuk (Novi dan Amri kena jadwal masuk kerja, Aris yang habis sakit, dan Ian lagi di rumah saudaranya), gua pun mengalihkan tawaran ke teman-teman lain. Akhirnya terkumpullah Ratu dari Bekasi, Aci dari Cibubur, dan Belgaman dari Bandung. Mutual connection-nya ada di gua: kenal Ratu di be-blog, dan kenal Aci dan Belgaman di plurk dan blog. Mendapat teman baru selalu menyenangkan, kan?

Thawaf Bis di Rambutan
DodiSebenernya rencana ini hampir-hampir gagal karena Aci yang susah mendapat izin dari nyonya besar (baca: ibunya) dan Belgaman yang ada tugas negara (baca: keluarganya). Sampai jam 17.30, akhirnya kabar baik itu datang dari Aci. Gua pun langsung sms Ratu untuk mulai packing. Titik pertemuan ditetapkan di terminal Kp.Rambutan jam 19.00. Sebagai ibu guru teladan, Aci datang tepat waktu, gua telat setengah jam, dan Ratu 45 menitan. Di perjalanan menuju terminal, gua mendapat kabar baik lain dari Belgaman karna akhirnya bisa join sama kita. Setelah makan malam sekaligus pertemuan pertama Aci dan Ratu, kami pun memutuskan naik bis tujuan Garut yang tersedia, Saluyu.


Mengetahui ada 17 backpacker yang akan ke Garut juga, bisa sedikit melegakan kami karena bis yang kami naiki ini masih kosong melompong sampai jam 20.15. Padahal sudah confirm ke Belgaman ancer-anceran jam berangkat dari Jakarta jam 20.00. Kelegaan itu tetap tinggal harapan ketika akhirnya bis berangkat dari terminal. Hal ini dikarenakan bis berputar-putar di jalur Pasar Rebo-Jalan Baru-Rambutan sampai 3x untuk memenuhi kuota penumpang. Jengkel rasanya mengetahui bahwa bis baru berangkat jam 21.50.

Jakarta – Bandung – Garut
Janjian ketemu sama preman Cicaheum, Belgaman di pintu tol keluar Cileunyi, jam 22.00-23.00, akhirnya baru bener-bener ketemu jam 24.00 teng karena keterlambatan pemberangkatan ini. Sebenernya, bis melaju cukup kencang karna beberapa kali gua merasa terbang di jalan tol Padalarang. Dan itu terbukti ketika jalur Cileunyi-Garut ditempuh kurang dari satu jam. Tau-tau jam 00.45 kita sudah sampai di Tarogong aja. Menggunakan delman malem-malem dan gua merenungkan niat jadi tukang delman dengan duduk di depan, kami menuju kediaman Bunda Okky untuk beristirahat. Karena sudah diceritakan Aci kita adalah blogger-blogger bukan seleb tapi eksis, bincang-bincang pun tidak jauh dari blog dan komunitasnya.

Menuju Pantai Santolo
Keesokan harinya, kami langsung berkemas begitu bangun tidur karena perjalanan panjang yang akan ditempuh. Photo session pertama akhirnya dimulai di depan warnet Bunda Okky.
Bunda Okky
Sekeluarnya dari sana, kami pun sarapan terlebih dahulu di dekat alun-alun Tarogong. Tentu tidak lupa foto-foto ala pahlawannya.
Tarogong




























































Menaiki Elf ditemani lagu-lagu Wali yang iramanya gitu-gitu aja :-& , mobil ini ternyata mempunyai virus yang sama dengan Saluyu: virus thawaf. Dikarenakan Garut punya beberapa arah menuju terminalnya, supir menggunakan beberapa jalan untuk kembali ke titik semula. 2? 3? atau 4 kali muter.. ah sudahlah kami sudah terlalu pusing mikirin kejadian thawaf semalam sebelumnya (lonely) Elf akhirnya baru benar-benar meninggalkan kota Garut setelah sang kernet mencium ada elf lain di belakangnya.

Actually, perjalanan menuju Santolo itu sendiri sangat mengesankan. Jika saya pernah terkesima dengan pemandangan menuju Dieng dari kota Wonosobo, ternyata Garut bagian selatan pun tak kalah indahnya. Bahkan gua akui pemandangannya ngalahin Dieng. Deretan pegunungan yang diterpa sinar matahari, sementara elf kami diselubungi rintik hujan mengingatkan gua pada Selandia Baru entah darimana gua bisa kepikiran tempat itu. Dan yang paling WAW itu ngeliat lembah yang diapit bukit-bukit dan dibelah sungai berair jernih. Ah tidak ada kata terucap selain, Subhanallah. Indah tak terperi.
Melaju to Santolo
Dikarenakan jalannya cukup kecil, berkelok-kelok, dan pastinya jauh tak berujung.. kami semua akhirnya ketiduran. Hingga akhirnya terbangun karena udara panas, tau-tau kami sudah berada di Pameungpeuk, kecamatan terakhir menuju Pantai Santolo. Terima kasih untuk supir elf yang baik hati itu mengantarkan kami hingga ke penginapan begitu mengetahui tujuan kami ke laut.

Menelusur Keindahan Santolo
Pantai Santolo sendiri merupakan belokan pantai di Garut Selatan dengan pemandangan yang indah. Berikut ini citra satelit untuk pantai ini:
Santolo




































Setelah mendrop barang-barang di penginapan, kami langsung memanfaatkan waktu untuk menikmati spot-spot bagus di pantai ini. Untuk menuju pulaunya yang entah kenapa disebut pulau padahal masih bersatu dengan daratan, kami harus naik perahu. Spot penting untuk direkam di pantai ini itu pantai berkarang. Meski ombaknya cukup tinggi, tetap akan buyar sebelum mencapai bibir pantai karena teredam benteng karang di pantainya. Di sinilah kami, para fotografer handal dan modelnya mulai beraksi. O yeah!
Nice
Menjelang sore, kami bergerak ke sisi kanan Santolo untuk mengejar sunset. Kami sengaja mengambil tempat yang agak jauh dari keramaian supaya bisa ngelakuin pose-pose aduhai dan ciamik. Akhirnya view yang kami dapatkan awesome selepas 300 meter dari bibir penginapan. Langit saat itu berkolaborasi mendukung kami dengan memberikan warna emas yang luar biasa indah. Oiya, di sini kami pun mulai beraksi menunjukkan bakat yang terpendam terlalu lama : lompat-lompat!
Lompat!






































Bermain Sinar di Malam Hari
Setelah kelelahan bermain air sendirian dan baru tau kalau ada kasus orang keseret ombak di pantai ini (nottalking) , kami beristirahat sejenak di penginapan sebelum mengeksplorasi kemampuan kamera di malam hari. Hasilnya keren kan?
blog
Beranjak balik jam 23.00, kami pun langsung terlelap begitu bertemu bantal karena akan bangun jam 4 pagi untuk mengejar sunrise di Puncak Guha.

Pesona Puncak Guha
Berangkat dari Santolo jam 4.30, kami menggunakan mobil omprengan menuju Ranca Buaya. Dikarenakan jalan yang tak mulus, mobil bergerak pelan ditemani dongeng guide dadakan. Sampai di Puncak Guha sebenarnya agak telat karena warna keemasan sudah berubah jadi kuning. Kami pun langsung merekam pemandangan yang ada. Dan hasilnya sekali lagi tak mengecewakan. It just awesome seperti di Selandia Baru sekali lagi gua gak tau kenapa bisa bandingin sama tempat itu .
Serenade






































Begitu menyadari bahwa tempat ini membentang di antara hamparan rumput nan hijau dan langit biru yang cerah, akhirnya sesi foto loncat pun dilanjutkan. Sampai titik ini kalian udah gak bisa ngiri kan? Terlalu ngiriii… untuk dilupakaaann….
Lompat!
Tebing Expression










































































Napak Tilas di Ranca Buaya
Setelah puas foto-foto, mobil bergerak ke arah Ranca Buaya (sekitar 2 km dari Puncak Guha). Gua sebenarnya maksain pergi ke tempat ini karna pengen tau aja alasan Dee gunain tempat ini di salah satu seting novel Perahu Kertas.
Ranca Buaya
Tempatnya sebenarnya cukup oke, tapi karna banyak karang di mana-mana. Hal ini menyebabkan kami tidak leluasa mengeksplor pantainya. Apalagi kami belum sarapan, sehingga energinya pun tinggal sisanya saja. Setelah mendapat spot-spot yang menarik hati , gua akhirnya memilih untuk duduk terdiam di atas pasir ngebayangin jadi Keenan yang tiba-tiba didatengin Kugy di akhir cerita.

Sampai jarum jam menunjuk angka 9, kami bergerak pulang ke penginapan. Perjalanan balik ke Jakarta dalam bayangan kami bisa jadi sangat melelahkan. Dan itu akhirnya terbukti.

Cobaan Elf
Menggunakan mobil omprengan yang sama, akhirnya kami meninggalkan Santolo ketika matahari sudah menyengat dengan teriknya. Mobil berusaha mengejar elf yang lewat tapi karena hari itu minggu dan siang hari, akhirnya kami seperti backpackeran yang nunggu mobil di tengah jalan. Elfnya selalu penuh dan jangan tanya kapasitas maksimum mobil di sini. Kernet akan tetap bilang masih kosong kalau kaki masih bisa dimasukin.

Di sinilah penderitaan di mulai. Gua dan Belgaman dapet paling belakang, sementara Aci dan Ratu di depan. Belgaman meringis karena sepanjang jalan harus sujud dan Aci-Ratu yang umpel-umpelan bareng penumpang di depan. Ketika akhirnya bisa lepas dari perangkap elf selama 4.5 jam, kami menyempatkan diri menyambangi rumah seorang plurker Garut, Lanymeeladh. Dijamu ala keraton dengan makanan lebaran kurban, kami berterima kasih untuk dagingnya, obrolannya, dan molennya sebagai bekal perjalanan menembus Jakarta.
Lany








































Back to the Real World
Menggunakan bus Karunia Bhakti yang ngetem cukup lama, akhirnya bis benar-benar bergerak jam 22.00. Penderitaan belum berakhir kawan, baru beberapa kilometer bis berangkat, laju kendaraan stuck di tempat selama dua jam. Macetnya edaaasss!! Setelah jam 22.00, kami baru bisa melewati Nagrek dengan lancar. Fyuh.

Menempuh tol Cipularang dengan lapang, gua mutusin untuk nginep di rumah kakak di Bekasi karna takut kemaleman. So bareng Ratu, gua turun di Tol Timur dan langsung mencegat ojek. Lagi-lagi mendapati kejengkelan lain karena dibohongi tukang ojek dengan mbayar 2x lipat pantes itu abang-abang ramaaahh banget selama perjalanan.

Buat gua, perjalanan kali ini sangat berkesan, meski kami masih berbicara di permukaan (belum dari hati-ke-hati seperti pengalaman bareng Dienger), tidak dipungkiri kami menjadi lebih dekat. Tidak ada yang lebih menyenangkan bisa mengenal pribadi-pribadi teman berpetualang seperti mereka. Hail Aci, Belgaman, and Ratu for the trip!
LOVE
Catatan:
Total dana yang mesti disiapin Rp.232.000 per orang di luar biaya makan.
Sumber gambar hasil jepretan: Dodi, Aci, Belgaman