2 December 2009
Pantai-pantai Perawan di Garut Selatan
Ditulis oleh dhodie dalam: Petualangan .

Berawal dari keinginan untuk doing something extraordinary ketimbang hanya weekend di rumah, akhirnya gua menyambangi belahan lain kota kelahiran gua sendiri, Garut Selatan tanggal 27-29 November kemarin. Perjalanan kali ini bisa dibilang sangat spontan karena baru direncanakan jam 13.00 dan tau-tau jam 19.30 udah siap berangkat. Spontanitas perencanaan kayak gini sebenernya seru juga soalnya kalau bisa berhasil akan sangat menyenangkan dan kalau tidak, nothin to lose. Meski gua tetap lebih milih ada perencanaan matang.
Mencoba mengontak Dienger yang ternyata semuanya sibuk (Novi dan Amri kena jadwal masuk kerja, Aris yang habis sakit, dan Ian lagi di rumah saudaranya), gua pun mengalihkan tawaran ke teman-teman lain. Akhirnya terkumpullah Ratu dari Bekasi, Aci dari Cibubur, dan Belgaman dari Bandung. Mutual connection-nya ada di gua: kenal Ratu di be-blog, dan kenal Aci dan Belgaman di plurk dan blog. Mendapat teman baru selalu menyenangkan, kan?
Thawaf Bis di Rambutan
Sebenernya rencana ini hampir-hampir gagal karena Aci yang susah mendapat izin dari nyonya besar (baca: ibunya) dan Belgaman yang ada tugas negara (baca: keluarganya). Sampai jam 17.30, akhirnya kabar baik itu datang dari Aci. Gua pun langsung sms Ratu untuk mulai packing. Titik pertemuan ditetapkan di terminal Kp.Rambutan jam 19.00. Sebagai ibu guru teladan, Aci datang tepat waktu, gua telat setengah jam, dan Ratu 45 menitan. Di perjalanan menuju terminal, gua mendapat kabar baik lain dari Belgaman karna akhirnya bisa join sama kita. Setelah makan malam sekaligus pertemuan pertama Aci dan Ratu, kami pun memutuskan naik bis tujuan Garut yang tersedia, Saluyu.
Mengetahui ada 17 backpacker yang akan ke Garut juga, bisa sedikit melegakan kami karena bis yang kami naiki ini masih kosong melompong sampai jam 20.15. Padahal sudah confirm ke Belgaman ancer-anceran jam berangkat dari Jakarta jam 20.00. Kelegaan itu tetap tinggal harapan ketika akhirnya bis berangkat dari terminal. Hal ini dikarenakan bis berputar-putar di jalur Pasar Rebo-Jalan Baru-Rambutan sampai 3x untuk memenuhi kuota penumpang. Jengkel rasanya mengetahui bahwa bis baru berangkat jam 21.50.
Jakarta – Bandung - Garut
Janjian ketemu sama preman Cicaheum, Belgaman di pintu tol keluar Cileunyi, jam 22.00-23.00, akhirnya baru bener-bener ketemu jam 24.00 teng karena keterlambatan pemberangkatan ini. Sebenernya, bis melaju cukup kencang karna beberapa kali gua merasa terbang di jalan tol Padalarang. Dan itu terbukti ketika jalur Cileunyi-Garut ditempuh kurang dari satu jam. Tau-tau jam 00.45 kita sudah sampai di Tarogong aja. Menggunakan delman malem-malem dan gua merenungkan niat jadi tukang delman dengan duduk di depan, kami menuju kediaman Bunda Okky untuk beristirahat. Karena sudah diceritakan Aci kita adalah blogger-blogger bukan seleb tapi eksis, bincang-bincang pun tidak jauh dari blog dan komunitasnya.
Menuju Pantai Santolo
Keesokan harinya, kami langsung berkemas begitu bangun tidur karena perjalanan panjang yang akan ditempuh. Photo session pertama akhirnya dimulai di depan warnet Bunda Okky.

Sekeluarnya dari sana, kami pun sarapan terlebih dahulu di dekat alun-alun Tarogong. Tentu tidak lupa foto-foto ala pahlawannya.

Menaiki Elf ditemani lagu-lagu Wali yang iramanya gitu-gitu aja :-& , mobil ini ternyata mempunyai virus yang sama dengan Saluyu: virus thawaf. Dikarenakan Garut punya beberapa arah menuju terminalnya, supir menggunakan beberapa jalan untuk kembali ke titik semula. 2? 3? atau 4 kali muter.. ah sudahlah kami sudah terlalu pusing mikirin kejadian thawaf semalam sebelumnya
Elf akhirnya baru benar-benar meninggalkan kota Garut setelah sang kernet mencium ada elf lain di belakangnya.
Actually, perjalanan menuju Santolo itu sendiri sangat mengesankan. Jika saya pernah terkesima dengan pemandangan menuju Dieng dari kota Wonosobo, ternyata Garut bagian selatan pun tak kalah indahnya. Bahkan gua akui pemandangannya ngalahin Dieng. Deretan pegunungan yang diterpa sinar matahari, sementara elf kami diselubungi rintik hujan mengingatkan gua pada Selandia Baru entah darimana gua bisa kepikiran tempat itu. Dan yang paling WAW itu ngeliat lembah yang diapit bukit-bukit dan dibelah sungai berair jernih. Ah tidak ada kata terucap selain, Subhanallah. Indah tak terperi.

Dikarenakan jalannya cukup kecil, berkelok-kelok, dan pastinya jauh tak berujung.. kami semua akhirnya ketiduran. Hingga akhirnya terbangun karena udara panas, tau-tau kami sudah berada di Pameungpeuk, kecamatan terakhir menuju Pantai Santolo. Terima kasih untuk supir elf yang baik hati itu mengantarkan kami hingga ke penginapan begitu mengetahui tujuan kami ke laut.
Menelusur Keindahan Santolo
Pantai Santolo sendiri merupakan belokan pantai di Garut Selatan dengan pemandangan yang indah. Berikut ini citra satelit untuk pantai ini:

Setelah mendrop barang-barang di penginapan, kami langsung memanfaatkan waktu untuk menikmati spot-spot bagus di pantai ini. Untuk menuju pulaunya yang entah kenapa disebut pulau padahal masih bersatu dengan daratan, kami harus naik perahu. Spot penting untuk direkam di pantai ini itu pantai berkarang. Meski ombaknya cukup tinggi, tetap akan buyar sebelum mencapai bibir pantai karena teredam benteng karang di pantainya. Di sinilah kami, para fotografer handal dan modelnya mulai beraksi. O yeah!

Menjelang sore, kami bergerak ke sisi kanan Santolo untuk mengejar sunset. Kami sengaja mengambil tempat yang agak jauh dari keramaian supaya bisa ngelakuin pose-pose aduhai dan ciamik. Akhirnya view yang kami dapatkan awesome selepas 300 meter dari bibir penginapan. Langit saat itu berkolaborasi mendukung kami dengan memberikan warna emas yang luar biasa indah. Oiya, di sini kami pun mulai beraksi menunjukkan bakat yang terpendam terlalu lama : lompat-lompat!

Bermain Sinar di Malam Hari
Setelah kelelahan bermain air sendirian dan baru tau kalau ada kasus orang keseret ombak di pantai ini
, kami beristirahat sejenak di penginapan sebelum mengeksplorasi kemampuan kamera di malam hari. Hasilnya keren kan?

Beranjak balik jam 23.00, kami pun langsung terlelap begitu bertemu bantal karena akan bangun jam 4 pagi untuk mengejar sunrise di Puncak Guha.
Pesona Puncak Guha
Berangkat dari Santolo jam 4.30, kami menggunakan mobil omprengan menuju Ranca Buaya. Dikarenakan jalan yang tak mulus, mobil bergerak pelan ditemani dongeng guide dadakan. Sampai di Puncak Guha sebenarnya agak telat karena warna keemasan sudah berubah jadi kuning. Kami pun langsung merekam pemandangan yang ada. Dan hasilnya sekali lagi tak mengecewakan. It just awesome seperti di Selandia Baru sekali lagi gua gak tau kenapa bisa bandingin sama tempat itu .

Begitu menyadari bahwa tempat ini membentang di antara hamparan rumput nan hijau dan langit biru yang cerah, akhirnya sesi foto loncat pun dilanjutkan. Sampai titik ini kalian udah gak bisa ngiri kan? Terlalu ngiriii… untuk dilupakaaann….


Napak Tilas di Ranca Buaya
Setelah puas foto-foto, mobil bergerak ke arah Ranca Buaya (sekitar 2 km dari Puncak Guha). Gua sebenarnya maksain pergi ke tempat ini karna pengen tau aja alasan Dee gunain tempat ini di salah satu seting novel Perahu Kertas.

Tempatnya sebenarnya cukup oke, tapi karna banyak karang di mana-mana. Hal ini menyebabkan kami tidak leluasa mengeksplor pantainya. Apalagi kami belum sarapan, sehingga energinya pun tinggal sisanya saja. Setelah mendapat spot-spot yang menarik hati , gua akhirnya memilih untuk duduk terdiam di atas pasir ngebayangin jadi Keenan yang tiba-tiba didatengin Kugy di akhir cerita.
Sampai jarum jam menunjuk angka 9, kami bergerak pulang ke penginapan. Perjalanan balik ke Jakarta dalam bayangan kami bisa jadi sangat melelahkan. Dan itu akhirnya terbukti.
Cobaan Elf
Menggunakan mobil omprengan yang sama, akhirnya kami meninggalkan Santolo ketika matahari sudah menyengat dengan teriknya. Mobil berusaha mengejar elf yang lewat tapi karena hari itu minggu dan siang hari, akhirnya kami seperti backpackeran yang nunggu mobil di tengah jalan. Elfnya selalu penuh dan jangan tanya kapasitas maksimum mobil di sini. Kernet akan tetap bilang masih kosong kalau kaki masih bisa dimasukin.
Di sinilah penderitaan di mulai. Gua dan Belgaman dapet paling belakang, sementara Aci dan Ratu di depan. Belgaman meringis karena sepanjang jalan harus sujud dan Aci-Ratu yang umpel-umpelan bareng penumpang di depan. Ketika akhirnya bisa lepas dari perangkap elf selama 4.5 jam, kami menyempatkan diri menyambangi rumah seorang plurker Garut, Lanymeeladh. Dijamu ala keraton dengan makanan lebaran kurban, kami berterima kasih untuk dagingnya, obrolannya, dan molennya sebagai bekal perjalanan menembus Jakarta.

Back to the Real World
Menggunakan bus Karunia Bhakti yang ngetem cukup lama, akhirnya bis benar-benar bergerak jam 22.00. Penderitaan belum berakhir kawan, baru beberapa kilometer bis berangkat, laju kendaraan stuck di tempat selama dua jam. Macetnya edaaasss!! Setelah jam 22.00, kami baru bisa melewati Nagrek dengan lancar. Fyuh.
Menempuh tol Cipularang dengan lapang, gua mutusin untuk nginep di rumah kakak di Bekasi karna takut kemaleman. So bareng Ratu, gua turun di Tol Timur dan langsung mencegat ojek. Lagi-lagi mendapati kejengkelan lain karena dibohongi tukang ojek dengan mbayar 2x lipat pantes itu abang-abang ramaaahh banget selama perjalanan.
Buat gua, perjalanan kali ini sangat berkesan, meski kami masih berbicara di permukaan (belum dari hati-ke-hati seperti pengalaman bareng Dienger), tidak dipungkiri kami menjadi lebih dekat. Tidak ada yang lebih menyenangkan bisa mengenal pribadi-pribadi teman berpetualang seperti mereka. Hail Aci, Belgaman, and Ratu for the trip!

Catatan:
Total dana yang mesti disiapin Rp.232.000 per orang di luar biaya makan.
Sumber gambar hasil jepretan: Dodi, Aci, Belgaman
133 Opini so far...
mayasari berkomentar:
2 December 2009 at 14:50.
pengen bisa jalan2 lagi kek gitu [inget jaman muda dulu] …
its a very beautiful adventure, Mister… [ngiri juga ih ama kameranya]
belgaman berkomentar:
2 December 2009 at 15:00.
ooo pantes mr dodi mau nalangin dulu biaya sewa mobil *yang gw lupa kmaren byar* (doh). Ternyata punya misi khusus toh, heheheh.
Thx for the trip
Pradna berkomentar:
2 December 2009 at 15:03.
joss tenan!
pemandangannya…
petualangannya…
persahabatannya…
Achie berkomentar:
2 December 2009 at 15:04.
huaaah.,panjang skali postingannya.
aku udah posting juga tuh dod,ntar aku link ke postingan ini yak…
thanx for the lovely trip
aya caritaeun jang anak incu
Montoq berkomentar:
2 December 2009 at 16:31.
Siapin diri buat taon depan 
latihan lompat
latihan nahan laper
Taon depan harus lebih manteb dr taon ini
*andai gua sehat kemaren* Hiks
neng ucrit berkomentar:
2 December 2009 at 18:00.
koq teh lany nya nunduk gitu sih.. ga keliatan.. hehe
Mariska berkomentar:
2 December 2009 at 23:05.
Kalau Mariska sih malah masih benar-benar perawan kak Dodi…
Wandi thok berkomentar:
2 December 2009 at 23:14.
Wah, jan bener-bener bagus mas pantainya. Kapan ya aku bisa ke sana.
Belajar SEO Wordpress berkomentar:
2 December 2009 at 23:33.
mantabs kang, teu ajak2 atuh xixixi, eta c aci asa endut xixi
elia|bintang berkomentar:
3 December 2009 at 00:10.
mengeksplorasi kameranya kenapa harus tulisan blog ya? haha.. seru2! saya juga ga nolak kok kalo diajak.. huehe :P
Mobil Retro berkomentar:
3 December 2009 at 01:34.
Duh…..rasanya seminggu disana tetap ngga cukup yah ?
Tempatnya bagus banget.
bandit™ berkomentar:
3 December 2009 at 07:20.
wahaooooo…..
fotp loncat’ ketemu disini ternyata… hehehehe
amazing Om…
Amazing…
*berharap suatu saat kesana…
quinie berkomentar:
3 December 2009 at 12:31.
owww… lu udah posting toh ternyata..
yaaahh nasib gua hanya sebagai model, sebagian besar poto2 dari kamera kalian semua udah di publish di blog masing2…
gua pake poto apa dong :((
btw, poto yang rangkulan itu emang ga di uplod ya?
gua cariin dari kemaren
dhodie menanggapi:
December 4th, 2009 at 08:23
hehehe masalahe elo gak dateng sih saat transaksi file fotonya, jadinya gak bisa milih sepuasnya 
ayo postinggg
ajengkol berkomentar:
3 December 2009 at 13:22.
Nice trip hehehe wah semoga akhir tahun bisa jalan jalan . . . Yogya Yogya Yogya . . Bali Bali Bali
ramadoni berkomentar:
3 December 2009 at 15:14.
waaawwww… kereeeennnn poto2nya… 
harus ikutan ah kapan-kapan…
muantap gann… poto loncat2nya apalagi… *daritadi perasaan cuma ngomentarin fotonya doank, iihihi*
martha berkomentar:
3 December 2009 at 15:44.
wih, aku baru tau foto yg ada tulisan BLOG itu bukan rekayasa photoshop. gimana caranya sih, kasih tau dong…. :)
membaca liputan perjalanan ini aku jadi kangeeeeeeeeeennn… pengen pulang dan pengen ke puncak guha lagi…
Novi berkomentar:
3 December 2009 at 15:50.
Hahaha, jadi responden ke-20 …. wah, tiada kesan tanpa kehadiranku … seharusnya lebih seru, kalo sekalian merayakan ulang tahunku …
… whew, kangen pantai nih gue, secara sudah setahun tak bobok di atas pasir putih … biar tahu bedanya pantai utara jajaran kepulauan Indonesia dengan yang bagia selatan Indonesia …
Kapan sesi foto2 lagi? tas make up dan kostum gue dah mulai lengkap nih .. jadi tinggal beraksi kok ..
— *siyap dipentung*
dah gue bilang kan, panjang nih komen … foto … mmm, nothing comments lah … better day by day
ari230387 berkomentar:
3 December 2009 at 16:50.
mo meninggalkan jejak seperti yg disuruh sm mas DODI, hehehehe..
btw acara jalan2nya keren bgt y! bisa disuasana yg asri dan indah bgt, jd pengen jg.
klo ada jalan2 lagi, ikutan y mas! ok… ok… ok…
RitaSusanti berkomentar:
4 December 2009 at 02:45.
Wah perjalanan yang menyenangkan yah!, semua teman baru kenal lewat dunia maya yah?
ckckckc, hebat bisa mewujudkan sebuah perjlanan dengan rencana yang dadakan, salut!!
quinie berkomentar:
4 December 2009 at 07:33.
pertanyaan ga penting : kenapa disini kata ganti orang pertamanya jadi GUA ya? bukannya biasanya saia?
yusako berkomentar:
4 December 2009 at 08:10.
koq baca inih tulisan rada warm gimana gituh dengan “gua”, meruntuhkan poto hasil jepretan yang bagusnya.. ehh taunya kwini dah nulis di komennya.. yaa.. nice picture! moment nya pas cerah…. :)
dhodie menanggapi:
December 4th, 2009 at 08:28
meruntuhkan poto hasil jepretan. berarti gak cocok pake gua yah
quinie menanggapi:
December 7th, 2009 at 12:50
@dhodie, btw, dari kemaren gua mencerna komennya si yusako ini, tapi kok masih tetep bingung ya?
warm = hangat, bukan berarti lebih bagus? tapi pas liat kalimat selanjutnya kok malahan berbeda maksud?
yang gua tangkep sih juga penggunaan kata ganti gua, tapi kok warm?!
adetruna berkomentar:
4 December 2009 at 08:48.
salam kenal dan minta ijin:D, itu yang seperti iklan axe aku save photonya…inspiring!
jepretan yang tidak sembarangan…sip!
andy berkomentar:
4 December 2009 at 09:18.
wah . . .tempat2nya kayaknya keren ni . . . perlu diagendakan sepertinya . . .
Oemar_kawanlamamuygpernah1kampus berkomentar:
4 December 2009 at 09:42.
wow! that’s a great journey… :)
d'starz berkomentar:
4 December 2009 at 11:56.
poto2nya asli bikin ngiri…..(nottalking)
pengen jalan2 yang seru kek gitu jugahh…
Lex dePraxis berkomentar:
5 December 2009 at 01:22.
Hai sobat, selamat akhir pekan. Hanya memberitahu sudah ada entri terbaru di blog saya, berjudul Racun Pengembangan Diri. Sekedar untuk semakin menambah wawasan saja.
Lex dePraxis
Unlocked!
iLLa berkomentar:
5 December 2009 at 02:15.
penasaran sama tulisan “blog” di gambar itu, caranya bijimana bang?
biayanya gag mahal2 amat yak. kapan2 ke arah timur dunk bang, pesiarnya…
niQue berkomentar:
5 December 2009 at 09:41.
hohoho … sepertinya aku mencium bau2 konspirasi dari perjalanan kemarin xixixixi
menyimpulkan dari tulisan di atas maka mari kita nantikan ada apa dengan pribadi2 yang sudah semakin saling kenal … hahaha
eniwe, beneran bikin ngiri, dan paling ngiri kenapa engga ngajakin ‘pengantin anyar’ inih, takut pada ngiri yah klo kami ikutan? kami b2 juga kan siap lho klo dadakan LOL LOL
ywd … semoga masih ada lain x yak … *sempetin melet sama DEVY yang urung jadi model dadakan mendampingi RATU*
dhodie menanggapi:
December 6th, 2009 at 17:43
Tidak ada konspirasi di saia koq, gak tau yang lain yak 
bener yak waktu itu gak kepikiran ngajakin Ninik dan Azies.. next time yak
morishige berkomentar:
6 December 2009 at 18:23.
oh, itu to rancabuaya yang di perahu kertas. keren juga.
nice report nih bro.
zenteguh berkomentar:
6 December 2009 at 19:41.
hepi wiken mas, asyik banget tuh kayaknya, jadi ngiri abiss…
Cloud berkomentar:
6 December 2009 at 21:58.
waah.. jepretannya bagus..
pernah ke pagaralam.. disana pemandangannya ngga kalah juga.. puncak bogor juga..
dhodie menanggapi:
December 7th, 2009 at 08:06
wah itu asal teman blogger saia, cici silent tuh 
someday, ingin ke sana
cici silent menanggapi:
July 26th, 2010 at 13:15
@dhodie, Hayuk… ke Pagar Alam…
*baru liat komen inih*
Abied berkomentar:
7 December 2009 at 08:41.
Gambarnya mantep eui!
Pake kamera apaan Bang?
Salam kenal …
Treante berkomentar:
7 December 2009 at 11:16.
waduh, komplit bin panjang
tapi keren poto-potonya :)
yang bikin aku penasaran, siapa yang pegang kameranya? ;)
isnuansa berkomentar:
7 December 2009 at 14:20.
Cuma ada satu kata: PENGEN…
Bosen dengan sumpeknya Jakarta….
martha berkomentar:
7 December 2009 at 14:28.
OOT: itu kenapa ya skr banyak yg pake kata “saia”? EYD udh berubah gitu? *serius pengen tau, bukan ngeledek*
btw aku jd penasaran juga, yg mana sih foto yg mirip iklan Axe?
dhodie menanggapi:
December 7th, 2009 at 15:32
Mungkin ketika saya mulai terbuka di ruang blog/mikroblog, saya konsisten menggunakan kata `saia`.. Jadi temen-temen udah nyaman baca kata pengganti yang biasa saya gunakan dengan kata `saia`.. khas (saya pertama kali nemuin ini dari Om Gajahpesing).
Nah kan, saia juga gak ngerti yang mana yang iklan Axe
mandor tempe berkomentar:
7 December 2009 at 15:21.
dudududu jalan-jalan teruss
kapan saya bisa ke sana yaa
asepsaiba berkomentar:
7 December 2009 at 15:45.
Kang Dhodie memang benar2 memanfaatkan masa muda (dan masa lajang? hehe.. piss) -nya dengan baik dan benar… :)
Lani berkomentar:
7 December 2009 at 21:07.
waa.. kapan2 ajak2 atuh mas.. ^_^
pengen jadi backpaker.. tapi selalu ketunda..
hmm..
emang yang paling sering terjadi itu, yang kadang ga kita rencanakan dengan matang sebelumnya..
terimakasih sharingnya.. jadi tambah semangat untuk jadi backpaker.. hehe..
kalo ada rencana lagi.. ajak2 ya mas..
DV berkomentar:
8 December 2009 at 06:50.
Postingan ini bercerita banyak baik lewat gambar maupun kata-kata.
Aku sangat suka pada pantai dan pantai2 di Indonesia sebenarnya termasuk yang paling bagus di dunia.
Semoga keperawanan pantai2 terutama di Garut Selatan tetap terpelihara….
ainee berkomentar:
8 December 2009 at 11:29.
Wheeewwwwwww….(woot)
Bikin mupeng euyyyyyyy,,,, soooo wonderful journey,,,,
*highly recommended 4 the next adventure*
P.S Kugy Keenan in a real world,dunk!
chrizna berkomentar:
8 December 2009 at 11:56.
mantap mas..
saia ada rencana mo ke santolo juga, pertengahan bulan ini insya Allah.
boleh minta rekomendasi penginapan dan bgmn u/ tempat makan disana?
salam kenal dan wassalam.
dhodie menanggapi:
December 16th, 2009 at 14:17
Maaf.. beribu maaf kalau balasnya telat. Akhir-akhir ini saia sering ke luar kantor soalnya.
Untuk penginapan kalau yang di pinggir pantai berkisar antara 150rb-200rb. Kalau agak ke dalam, bisa dapat 100rb.
Untuk tempat makan, bisa mencari di sekitar situ koq. Yah semuanya makanan laut, jadi rada susah kalo mau cari pecel ayam atau tongseng sapi hihihi.. harganya standar
Dhodie Weblog berkomentar:
8 December 2009 at 14:30.
[...] ruang kereta, atau pun ketika menghabiskan malam-malam nun jauh di sana (Semarang, Dieng, Bandung, Santolo). Dan biasanya saia menulisnya di sebuah mikroblogging. Sekadar untuk berbagi, tidak lebih. [...]
betania berkomentar:
9 December 2009 at 08:27.
assalamualaikum kak^^
salam kenal iahh…
saya seneng deh baca postingan ttg pantai ” di Garut…
soalnya saya seneng berpetualang n bakcpacker-an…hehehehe…^^
abis UAS mau jalan” ke sana ajah deh..
mampir iah ke blog saya..^^
ahmed berkomentar:
29 December 2009 at 22:42.
waah nampak seru abang² dan tanteu² rencananya saya sama temen² juga mau ke santolo so kira² ada tips khusus g nih buat perjalanan ntar hohoho..
nanin berkomentar:
20 January 2010 at 11:40.
wahhhhh aq mau kesana ….
minta referensi penginapan dan mobil omprengan yg bisa digunakan dong hehehe
dhika berkomentar:
24 March 2010 at 09:28.
bisa naik bis yg kayak metro mini ga si ke pantai sana?
abdullah21 berkomentar:
30 August 2010 at 05:55.
bner tuh,,,
dsana msh byk pntai yg perawan :) hha
ga bkl nyesel dah
bagus bagus… berpetualang lah sepuas-puasnya sebelum dilarang orang tua 













dhodie menanggapi:
December 4th, 2009 at 08:13
kalau sudah berkeluarga apalagi perempuan agak susah ya mba untuk adventure seperti ini
hihihi iya, kamera memang salah satu faktor penentu kesuksesan juga sih
Balas