Avatar, Simply the Best

Tidak banyak film tahun ini yang meninggalkan kesan baik di mata penonton awam seperti saia. Baik di sini dapat diartikan terkesan dengan segenap aspek filmnya—tema cerita, akting, setting, dan tentu pesan filmnya. Up, Knowing, dan 2012 saia masukkan ke dalam barisan film memuaskan, sedangkan Get Married 2, Sang Pemimpi, dan last but the worst Twilight Saga: New Moon ke barisan sebaliknya.


AvatarAwalnya, saia masih menempatkan Up dan Knowing sebagai film paling berkesan tahun ini sampai Avatar dirilis seminggu yang lalu. Film besutan James Cameron ini melanjutkan kemunculan film terlaris sepanjang masanya, Titanic, dua belas tahun lalu. Berbudget sekitar USD 240 juta, film ini sengaja diendapkan Cameron sampai ia yakin teknologi CGI mampu menerjemahkan fantasi liarnya tentang sebuah planet di rasi bintang Alpha Centauri, Pandora, dengan segenap keindahan di dalamnya.


Film sci-fi yang mengambil setting di Hawaii ini menceritakan konflik antara perusahaan tambang yang dikelola manusia dengan penduduk asli Pandora, Na’vi, untuk mendapatkan Unobtanium, material bernilai 20 juta dolar per kilo. Avatar sendiri merupakan program hibridisasi manusia-Na’vi agar manusia dapat mempelajari kehidupan Pandora tanpa harus mati karena tidak dapat bernafas di atmosfirnya. Peran sentral film ini adalah Jake Sully, eks marinir cacat yang datang ke Pandora menggantikan saudara kembarnya yang mati terbunuh. Dengan antusiasme tinggi karena ia dapat bergerak bebas di Pandora, Jake dipercaya oleh perusahaan tersebut untuk membujuk Na’vi pindah dari pohon keramat. Alih-alih dapat membujuk, Ia malah jatuh cinta dengan Neytiri dan kehidupan Pandora sehingga dilema terjadi ketika waktu yang ditentukan habis. Dengan menggunakan militer berteknologi mutakhir, perusahaan tersebut membombardir Pandora yang dilawan oleh segenap penduduk aslinya sampai titik darah penghabisan.

They killed their Mother Earth.. now they’re here to kill yours.

Secara cerita, film ini bukanlah film pertama yang mengangkat konflik antara ilmuwan dengan pihak kapitalis; Akan tetapi secara sinematografi film ini yang terbaik yang pernah saia tonton. Absolutely superb! Cameron sangat memperhatikan detail film sehingga penggambaran film ini terasa sangat nyata dan kita seperti diajak menikmati keindahan Pandora secara langsung. Terlebih ketika film memasuki final battle, emosi dan adrenalin penonton diaduk-aduk ke dalam cerita sehingga durasi film selama 162 menit tidak terasa sama sekali. Simply the best!


Buat yang belum menonton film ini, kamu rugi kawan. This is one of the best movies of all time. Dan untuk yang sudah menonton filmnya dalam format non 3D, much better to see it in 3D. I’ll do it next week.

Trivia:

  1. Unobtanium adalah sebutan untuk materi yang mustahil eksis secara fisik, semisal yang digunakan ilmuwan untuk dapat mengebor inti bumi di film The Core.
  2. Meski tahun film tidak pernah disebutkan dalam film, catatan video Jake Sully menyebutkan tahun 2154 sebagai setting film.
  3. Cameron yakin imajinasinya terhadap Pandora dapat difilmkan setelah ia melihat peran Gollum di film Lord of The Ring.

135 thoughts on “Avatar, Simply the Best

  1. Sempat mengira kalo Avatar ini adalah si Aang the Last Air Bender :-D

    tapi emang bener, imajinasi dan fantasi si pembuat film bisa dieksekusi dengan sangat luar biasa (meski kurasa ide visualisasinya banyak mengambil dari visualisasi game Warcraft) :-))

  2. wah bener2 ga rugi bayar mahal buat nonton Avatar! merinding abis saking kerennya, disini tiketnya bisa mpe 150rb 3D-nya,,hiks2 mahal bo, tapi berhubung punya kartu pelajar bisa dapet diskon 20yuan,,hehe,,gimana di Indonesia? Tapi saya juga masih pingin nonton lagi sebenarnya,,kl ada duitnya tapi,,hehe..Dahsyat abis pokoknya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>