Selasa lalu, saya mendapat email dari staf Direktorat Aplikasi Telematika, Departemen Komunikasi dan Informatika, untuk mengikuti Forum Diskusi Peningkatan Kuantitas dan Kualitas Konten Lokal pada tanggal 21 Januari 2010. Di sini, saya diundang sebagai wakil komunitas blogger Depok bersama praktisi konten lokal seperti perwakilan media online (Kompas, Detik, Vivanews, Okezone, Kapanlagi), praktisi/asosiasi (IMOCA, Indonesia Mobile and Online Content Association; MIKTI, Masyarakat Industri Kreatif TIK Indonesia dan asosiasi lain), onliner konten lokal (Politikana, Ngerumpi, Bicara Film, FreSh), dan tentu saja perwakilan blogger (Blogfam, Anging Mammiri, Cahandong, deBlogger, Be-Blog, Kopdar Jakarta, anakUI).
Konten Lokal
Konten lokal itu sendiri merupakan aplikasi atau fitur yang dikreasikan anak bangsa agar konsumsi pengguna telematika di Indonesia tidak melulu berbasis luar negeri. Jika kita mengenal berbagai social media seperti Facebook, Twitter (mikroblog), atau WordPress dan Blogspot (blog) sebagai konten asing yang sering digunakan; konten lokal yang saat ini dikembangkan seperti film animasi lokal, fitur berita di handphone, citizen journalism yang digalakkan oleh komunitas blogger, atau komunitas berbasis interest seperti ngerumpi, bicara film, atau politikana.
Gelaran Diskusi
Diskusi yang diadakan di Ruang Operasional Depkominfo di bilangan Medan Merdeka Barat ini menampilkan Kepala Badan Informasi Publik, Freddy Tulung sebagai perwakilan pemerintah. Diskusi dibuka dengan penjelasan tentang maksud dan tujuan diadakannya diskusi ini, yaitu kick off kerjasama pemerintah dengan stake holder ICT Indonesia. Pak Freddy kemudian menjelaskan program Desa Berdering—salah satu program 100 hari Menkominfo, Tifatul Sembiring. Keinginannya adalah ketika desa-desa tersebut sudah punya internet (desa pinter), konten sebagai ujung tombak informasi yang diakses masyarakat mampu dimanfaatkan oleh praktisi konten Indonesia semaksimal mungkin.
Setelah uraian panjang lebar yang disampaikan mantan Dirjen Sarana Komunikasi dan Diseminasi Informasi (SKDI) ini, diskusi bergerak ke floor. Pemerintah mendengarkan gambaran usaha yang telah dilakukan oleh praktisi konten lokal, berikut hambatan yang dialami. Ivan Lanin (Wikimedia Indonesia) menggambarkan masih banyaknya orang Indonesia yang tidak pintar menulis, Donny BU (detik) mengungkapkan bahwa minat masyarakat kita pun akan turut berperan dalam pengembangan konten lokal, kemudian usulan virtual governance untuk memvalidasi akun-akun yang bertebaran di dunia online sempat disampaikan peserta diskusi.
Sementara itu, perwakilan komunitas blogger kampus, Ilman Akbar (anakUI) mengemukakan diperlukannya peningkatan penghargaan atas kreasi pengguna internet seperti Internet Sehat Awards untuk blogger. Suara komunitas berbasis daerah kali ini diwakili oleh Aris Heru Utomo yang menggambarkan perjuangan blogger dalam mengenalkan blog sebagai media komunikasi grass root dengan pemerintah daerah di Bekasi.
Meski jawaban-jawaban yang diberikan oleh perwakilan Depkominfo belum menyentuh substansi permasalahan, kita perlu mengapresiasi kick off ini. Setidaknya pemerintah mendapat gambaran secara menyeluruh permasalahan yang dialami oleh seluruh peserta diskusi. Hal terpenting dari poin diskusi kemarin ada di poin terakhir, di mana apakah feedback yang sudah/akan dilaporkan ini ada tindak lanjutnya oleh Depkominfo atau tidak. Mari kita buktikan bersama-sama.
Mingle
Secuplik mingle yang dilakukan oleh perwakilan blogger setelah diskusi berlangsung:

[ki-ka]: Dhodie (deBlogger), Ratu (be-Blog), Ilman Akbar (anakUI), Mas Amril (Anging Mammiri), Tikabanget (Dagdigdug), Simbok Venus (Ngerumpi), Chic (Kopdar Jakarta). Gambar diambil oleh Pak Eko (Blogger Cikarang).
Konten Lokal
Konten lokal itu sendiri merupakan aplikasi atau fitur yang dikreasikan anak bangsa agar konsumsi pengguna telematika di Indonesia tidak melulu berbasis luar negeri. Jika kita mengenal berbagai social media seperti Facebook, Twitter (mikroblog), atau WordPress dan Blogspot (blog) sebagai konten asing yang sering digunakan; konten lokal yang saat ini dikembangkan seperti film animasi lokal, fitur berita di handphone, citizen journalism yang digalakkan oleh komunitas blogger, atau komunitas berbasis interest seperti ngerumpi, bicara film, atau politikana.
Gelaran Diskusi
Diskusi yang diadakan di Ruang Operasional Depkominfo di bilangan Medan Merdeka Barat ini menampilkan Kepala Badan Informasi Publik, Freddy Tulung sebagai perwakilan pemerintah. Diskusi dibuka dengan penjelasan tentang maksud dan tujuan diadakannya diskusi ini, yaitu kick off kerjasama pemerintah dengan stake holder ICT Indonesia. Pak Freddy kemudian menjelaskan program Desa Berdering—salah satu program 100 hari Menkominfo, Tifatul Sembiring. Keinginannya adalah ketika desa-desa tersebut sudah punya internet (desa pinter), konten sebagai ujung tombak informasi yang diakses masyarakat mampu dimanfaatkan oleh praktisi konten Indonesia semaksimal mungkin.Setelah uraian panjang lebar yang disampaikan mantan Dirjen Sarana Komunikasi dan Diseminasi Informasi (SKDI) ini, diskusi bergerak ke floor. Pemerintah mendengarkan gambaran usaha yang telah dilakukan oleh praktisi konten lokal, berikut hambatan yang dialami. Ivan Lanin (Wikimedia Indonesia) menggambarkan masih banyaknya orang Indonesia yang tidak pintar menulis, Donny BU (detik) mengungkapkan bahwa minat masyarakat kita pun akan turut berperan dalam pengembangan konten lokal, kemudian usulan virtual governance untuk memvalidasi akun-akun yang bertebaran di dunia online sempat disampaikan peserta diskusi.
Sementara itu, perwakilan komunitas blogger kampus, Ilman Akbar (anakUI) mengemukakan diperlukannya peningkatan penghargaan atas kreasi pengguna internet seperti Internet Sehat Awards untuk blogger. Suara komunitas berbasis daerah kali ini diwakili oleh Aris Heru Utomo yang menggambarkan perjuangan blogger dalam mengenalkan blog sebagai media komunikasi grass root dengan pemerintah daerah di Bekasi.
Meski jawaban-jawaban yang diberikan oleh perwakilan Depkominfo belum menyentuh substansi permasalahan, kita perlu mengapresiasi kick off ini. Setidaknya pemerintah mendapat gambaran secara menyeluruh permasalahan yang dialami oleh seluruh peserta diskusi. Hal terpenting dari poin diskusi kemarin ada di poin terakhir, di mana apakah feedback yang sudah/akan dilaporkan ini ada tindak lanjutnya oleh Depkominfo atau tidak. Mari kita buktikan bersama-sama.
Mingle
Secuplik mingle yang dilakukan oleh perwakilan blogger setelah diskusi berlangsung:

[ki-ka]: Dhodie (deBlogger), Ratu (be-Blog), Ilman Akbar (anakUI), Mas Amril (Anging Mammiri), Tikabanget (Dagdigdug), Simbok Venus (Ngerumpi), Chic (Kopdar Jakarta). Gambar diambil oleh Pak Eko (Blogger Cikarang).
yang penting pesen dulu pertamaxnya….
@ramadoni, (fish_hit)
@katakataku, lum apdet emotnya
@katakataku, kecolongan ya bos??
@katakataku, emo apa lagi itu
@annosmile, emo nirvana
bukan emo koRn
@ramadoni, itu fotonya si Ilman kagak disebut..
hhmm… sepakat, konten lokal memang harus digalakkan, dan sebagai webhoster (ceilee) saran ane adalah itu harga akses server IIX (server lokal Indonesia), mbok ya diturunkan harganya, jadi makin banyak blog2 berbayar yg milih server IIX ketimbang US… soalnya masih jauh lebih murah sewa server US… gimana mau konten lokal berkembang dengan baik, kalo blog2nya aja servernya masih di luar… trafiknya tetep aja donk ke luar negeri?? CMIIW
@ramadoni

@katakataku
@ramadoni kalau kasus elo ini, konten lokal dari sisi infrastruktur bro. bener banget trafik tetap yang dihitung
@ramadoni, setujuuuuu… mungkin server indo IIX masih terlalu mahal kali gan.. makanya netter jarang yang ngelirik.. disamping itu juga dari segi akses yang belum maksimal.. halah.. ga nyambung.
@ramadoni, ini bro ramadoni yang punya biang web bukan…??
hihihi…sok tau
pertmax………..xx
@katakataku, pertamax udah habis
wah..wah…wah….ane dukung om
Harus dong.. demi Indonesia kita!
Wow, laporannya keren dan paten, Dod. Saya baru mau bikin malam ini. Hehehe..Telat banget ya?
tak ada kata terlambat Mas
Hmm… konten lokal…
Segini aja komennya
program 100 hari pak tif…. tinggal 6 hari lagi dong, sukseskah..????
*kring…kring…kring…* weddewww…… …virtual governance untuk memvalidasi akun-akun… spesifikasinya kek akun apa dan untuk apa/dalam hal apa ? Apa undangan tersebut bukan karena *mitos* permintaan tim kecil dari istana kah?
ah btw eniwei, kalo itu memang untuk perbaikan dan / atau pengarahan kepada pengguna inet di negeri ini ke arah yang lebih baik lagi mari kita dukung dan sukseskan
sepertinya gimana, die?

virtual governance itu mungkin kepengen diintegrasi dengan no ID seperti dulu heboh registrasi nomer HP. complicated dan berlebihan?
semoga demikian
@dhodie, hooh, yg reg-reg id hape ntu. tp akhirnya mah tenggelam juga yah, ato tetep aja masih banyak yg pake id paslu
at last, sama aja
thanks share nya mas ^^
wahhh,disitu ada dhodie…disitu ada queen (ratu ) hehehe,…..
yoi dong, ada saia tentunya
keren Dod laporannya … saya akan menulis dari sisi yang berbeda ach
Ayo pak, ditunggu resumenya
ternyata ada jalan-jalan ya kemarin.
setiap hari saya jalan bro dari stasiun ke kantor
hihihihi.. belum sempet nulis juga.. ah ga mau kalah ama kang dhodie dan mas amril
manteb tulisannya, man
program 100hari yak?
pasti telat, tp lebih baik molor drpd kaga toh :P
iya, pun yang terpenting bukan slogan “100 hari”, “Desa Berdering” dsb, tapi kebermanfaatannya untuk bangsa ini
Sip mas, mudah-mudahan jangan cuma sekedar wacana karena target 100 hari yach:-)
Untuk menjalankan Good Corporate Gorvenance (GCG) hal ini harusnya sudah dilakukan pemerintah sejak lama:-), makanya blogger bekasi menuangkan hal tersebut dalam visi dan misinya seperti itu……
Agar pemerintah dan masyarakat bisa bersinergi untuk bangsa ini!….
Salam
YY
hehe kita buktikan saja langkah kongkrit mereka. Salut deh untuk be-Blog
diversity of content diversity of ownership..
He eh
Salam.
Senang membaca tulisan mas Dhodie. Akan lebih senang lagi kalau disebut bahwa yang motret kelompok narsis itu adalah diriku yang hina ini [simak lagu Oma Irama setetes air hina].
lupa Om
.. sudah ditambahkan koq sekarang
nice angle… *perasaan lu kaga nyatet deh pas acara, sibuk ngambil angle2 candid?!*
btw, kok cuma 2 poto yang dipajang?
hahaha ngeliat gw mencet-mencet hape? Itu sebenernya gw lagi buat note diskusi di aplikasi mobile-nya
Dua foto cukup *lho KB kalii*
Pingback: Pengembangan Konten Lokal « Kehangatan Blog Eshape
lanjutkaaaannnnnn!!!!
semangat bener
Enak yah, disana blogger2′x bisa berkembang dengan informasi yang ada…
Nah di Jayapura, boro2 deh, ckckckckkc….
Pengen deh ikutan diskusi seperti itu…
hehehe… sering-sering komunikasi aja bro dengan blogger seluruh Indonesia. setidaknya bisa keep in touch virtually
Wacana bagus banyak bertebaran kayaknya di pertemuan kemarin itu ya, tinggal menunggu follow up dan realisasinya (goodluck).
Kayaknya menkominfo kita ini lumayan agresif ya
Kita dukung aja
ah dulu pun Muh Nuh diharapkan bisa melakukan langkah yang spektakuler, tapi akhirnya memble karena banyak langkah2nya terlalu lamban. Jangan terlalu berharap dulu
sebaiknya acara-acara seperti itu harus di tingkatkan…,
dipersering mungkin mas
kang dhodie, numpang nyolong fotonya buat ditaro di blog saya yaa
mangga, man
saya juga mau turut meramaikan dunia perinternetan… terutama di bidang kuliner…
selamat meramaikan
saya rasa menulis bukan kepintaran tapi merupakan keahlian yg dapat dilatih…
untuk mengalirkan tulisannya agar enak dibaca, kita memang butuh latihan. Media blog salah satu yang paling menyenangkan
aneh…
disaat mereka diskusi dan menggalakkan konten lokal, tatapi dan jangan-jangan setelah keluar ruangan diskusi job review menumpuk.. dan akhirnya tetep deh konten luar yang ditulis :mrgreen: ;) pissss bung
curcol yaa
Mau konten lokal atau luar yang penting andal dan murah. Salam gretong
Kapan perhatian sama bangsa sendiri?
wahhh
mau donkkk kapan2 diundang jugaaa
hehehe kontak langsung Depkominfo-nya bro
Tetep semangat yah Dhod menjadi Blogger yang Rendah Hati hehehe jadi inget Priyadi deh LOL
amiin.. Insya Allah.
weiiiisss
saluth kk, LANJUTKAN!!
tp btw, saia kok gak pernah dapet PERTAMAXXX yah di blognya kk
telat sih, makanya gerak cepat dong
tapi ga ada makan siangnya, kaan… (muka tak percaya)
tambah lagi hambatan internet di desa, adalah sedikit mengalihkan perhatian masyarakat yang baru seneng-senengnya kenal internet, dari fesbuk ke blog.
makan siang?
Itu dia bro.. masih mending fesbuk, lah kalo nyarinya yang esek-esek lebih parah kan?
pembahasan konten lokal masih ngambang ya bro..
ditunggu kelanjutannya
sangat ngambang.. coba perhatiin komen dari Kang Itempoeti di bawah bro. Oiya, mungkin karena ini baru kick off juga ya. Kita liat saja nanti
aaaaaa….saya belum nuliiiiiiissss….
Yang disebut desa pinter itu adalah desa yang minimal sudah memiliki 1 komputer di wilayahnya. Jadi ada akses internet yang keluar-masuk desa ini. Karena infrastruktur yang digunakan menggunakan saluran telepon, maka program Desa Pinter ini dilakukan setelah tahapan sebelumnya, yaitu Desa Berdering.
Untuk virtual governance, menurut saya pun a lil bit impossible (kalaupun bisa, gunain budget yang super). Wacana ini dikemukakan oleh salah satu peserta rapat mencermati sahih tidaknya Gerakan Satu Juta Facebooker yang akhir-akhir ini berkembang
*good comment*
lokal dan luar ayik2 aja yg penting murah heheh
Kapan perhatian sama bangsa sendiri?
dan jika dicermati lebih dalam lagi ada unsur keterpaksaan nantinya (jika dipaksakan) program 100 hari kerjanya MENKOMINFO sangat baik. Tapi kenapa ga melibatkan perwakilan sekolah-sekolah ya ? hmm..apa hanya untuk kalangan pengguna iNet saja forum ini digelar ?
Sudah dijawab untuk pertanyaan shige yak, riez
sebenernya forum kemarin itu bukan hanya sebagai pengguna, tapi provider konten lokal juga sih.. karena ini pun baru kick off, mari kita lihat langkah selanjutnya *biasanya sih adem ayem*
semoga aja ada tindakan untuk kedepannya bukan hanya obrolan semata
Hmmm…
Bicara masalah konten, dari sudut pandang pengguna pasti yang dilirik adalah (1) fitur (2) kemudahan (3) jaringan. Ini merupakan tantangan bagi pembuat konten lokal untuk mengambil perhatian pengguna lokal untuk bersaing dengan konten luar. kalau itu sudah terjawab, setelah itu tinggal habituasi pengguna terhadap konten lokal itu.
Setelah program “Desa Berdering” (desa-desa tersebut sudah punya internet) bukan hanya konten yang menjadi ujung tombak, tapi bagaimana meng-edukasi masyarakat supaya dapat memfilter informasi dengan cerdas, itu saya rasa yang lebih penting.
Betul, tantangan sekaligus kekhawatiran konten yang diakses pengguna internet berubah menjadi sesuatu yang kontraproduktif terhadap masyarakat kita. Contoh mudah akses pornografi dsb.
Sedikit koreksi bro, Desa Berdering itu desa yang terkoneksi telepon (minimal memiliki 1 SST di desanya), kalau yang punya Internet namanya Desa Pinter
. Kalau untuk ujung tombak, saya kira sama-sama penting, tinggal bagaimana sinergi provider konten lokal dengan asosiasi penyuluhan Internet sehat (misalnya) bareng-bareng mencerahkan penggunaan Internet di Indonesia.
*another good comment*
“Meski jawaban-jawaban yang diberikan oleh perwakilan Depkominfo belum menyentuh substansi permasalahan…”
wajar kalau gak menyentuh substansi… kegiatan-kegiatan yg diselenggarakan oleh pemerintah seperti yg dilakukan oleh Depkominfo biasanya sekedar proyek untuk menghabiskan anggaran.
saya berani bertaruh pasti anggaran untuk penyelenggaraan acara ini 50% nya habis dibagi-bagi antar mereka.
sudah jadi rahasia umum ya, kang? Makanya banyak temen pun agak apatis sama pertemuan seperti ini
saya kok malah terkesan dengan teman dodhie yang berkaca mata, senyumnya mengembang tulus walau agak sedikit lebar hehehe
naksir yaa
dhodie… sorry OOT… — sudah baca bukunya kan? ngga mau ikutan kontes? masih cukup waktu lho… sampe tanggal 30
salam, d.~
halo dee… baru sebagian sih, suka dengan gaya bahasanya (applause).
sedang mikir-mikir nih untuk ikutan. semoga masih bisa
@dhodie,
masih bisa sampai tanggal 30 ini koq… masih cukup waktu… ditunggu ya?
salam, d.~
semoga pemerintah bisa menjembatani dengan segala fasilitasnya untuk kemajuan akses media yang berbasis dalam negeri….
loh komen gw ilang yah
jalan2 ke blog tetangga..kang dhodie yang seorang blogger sejati
walaupun sudah di set untuk datang tapi apa daya ada aja halangannya…. syukur ada mas dodie yang bisa lengkap njelasinnya…
peace man
Salut deh, masih muda tapi udh jago ngeblog dan nulis artikel berbobot…
Saya masih belajar Pak Mirz…. Oiya, blognya yang di Ujungkulon oke juga
keep silaturahim ya