Menuntaskan Petualangan Yang Tertunda

DhodieDua puluh tahun yang lalu, saya bersama teman-teman sekampung pernah memiliki tempat-tempat bermain yang begitu mengesankan di bilangan perkampungan Bekasi. Sawah-sawah yang mengelilingi kampung kami biasa dijadikan tempat memancing ikan, nguseup, atau membuat rumah-rumahan berbahan jerami ketika musim panen tiba. Sedangkan kali yang menyisir sisi kampung kami jadikan tempat mandi setelah lelah bermain di sore hari. Di kali ini pula, pertama kalinya saya belajar berenang. Sebagai perenang pemula, teman-teman memaksa saya memakan udang hidup-hidup agar bisa langsung berenang. Alasannya jelas bahwa udang malang itu akan menggerakkan otot-otot saya dari dalam tubuh (doh) . Terlepas dari alasan absurd itu, pada kenyataannya saya tidak langsung tenggelam ketika pertama kali mencebur ke kali. Saya hanya menggerak-gerakkan tubuh saya mengikuti gaya berenang yang sering saya lihat di TV, dan ternyata berhasil. Coincidence? You bet! (LOL)


Di antara banyak rekam perjalanan di masa kecil saya, ada satu keinginan yang terbersit sewaktu masih duduk di bangku SD, yaitu petualangan keluar dari wilayah kampung. Saya dan teman-teman memang biasa mencari ikan di kalenan, mencuri pisang di kebon orang, atau memancing belut di pematang, akan tetapi tempatnya selalu berada di desa kami. Kami ingin lebih!


Sebagaimana layaknya jagoan masa lampau, kami pun berembug untuk menentukan petualangan terakbar versi kami: Mencapai Laut Bekasi. Dengan menggunakan peta Bekasi yang tergantung di kelas, kami pun memeragakan layaknya Harun menunjuk Lenggang di film Laskar Pelangi. Tentu saja kami begitu bersemangat melihat kampung kami berjarak tak lebih dari beberapa jengkal ke Muara Gembong (laut Bekasi). Berbekal keyakinan ini, kami berenam merencanakan untuk menggunakan 4 sepeda ke sana. Alasannya kalau ada yang capek, bisa bergantian membonceng.


Petualangan 1990
Pada hari yang ditentukan, kami memulai perjalanan pada pukul 9 pagi menggunakan dua patokan jalan: mengikuti jalur angkot 9B sampai di pangkalan dan mengikuti aliran sungai setelahnya. Petuah legendaris yang kami pakai jelas lagu keroncong yang sangat melegenda itu:

air mengalir sampai jauh, akhirnya ke laut…

Dengan mengikuti aliran sungai, lama-lama akan sampai ke laut juga kan (?)


Sebagaimana cerita di setiap awal perjalanan yang selalu menyenangkan, kami pun sering becanda di samping jalan sambil ber-haha hihi mengejek teman kami yang tertinggal jauh di belakang. Kami memasuki perkampungan, melintasi pekuburan cina, sampai mengikuti aliran sungai yang semakin lama semakin membesar dengan penuh suka cita. Sampai akhirnya kami menyadari bahwa jalan yang kami tempuh tidak ada habisnya padahal kaki-kaki kami mulai lelah mengayuh. Di beberapa titik pemberhentian, beberapa teman mulai mengeluh kecapean dan merengek pulang, tetapi pada akhirnya kami tetap melanjutkan perjalanan. Ketika akhirnya kami sampai di pangkalan 9B, kami sangat berharap bisa mencium bau pantai di sana. Meski kenyataannya kami tetap mencium bau khas lumpur-lumpur sawah sementara kaki sudah mulai kram. Sampai matahari terbenam, kami semakin tidak percaya diri untuk dapat sampai di pantai sebelum malam. Di sebuah pematang sawah, kami menghibur diri menghalusinasikan pandangan bahwa di kejauhan sudah terlihat deretan kapal laut. Tepat setelah senyum kami memudar, kami balik kanan.


Jika perjalanan pulang selalu terasa lebih dekat dibanding perginya, kami pun merasakan hal yang sama. Meski kaki-kaki kami sedemikian lelahnya, kami memaksakan mengayuh pedal lebih cepat lagi karena kecemasan kami pulang terlambat. Ancamannya jelas bahwa kami akan dihukum berat. Ketika akhirnya rombongan sampai di depan kampung, kami sangat terkejut mengetahui ibu-ibu kami berdiri dengan gagahnya di bawah gapura kampung. Seakan-akan mereka ingin menerkam anaknya sendiri. Dan sememangnya, petualangan hari itu pun diakhiri dengan omelan ibu-ibu kami sepanjang malam. Selentingan yang beredar sampai seminggu kemudian adalah:

“Awas kamu ya main lagi sama Dodi!” ucap Ibu #1
“Dodi itu si biang kerok” fitnah Ibu #2
dst..

Sudahlah laut tak dicapai, tubuh kami capai, omelan ibu-ibu itu terasa sangat lebay.


Petualangan 2010
Kegagalan mencapai laut Bekasi memang tidak menjadi mimpi buruk, meski mencoreng daftar kesuksesan petualangan masa kecil saya. Atas alasan ini pula lah saya memutuskan untuk menuntaskan petualangan yang tertunda itu minggu kemarin. Bersama teman saya, kami berangkat dari Bekasi Cyber Park jam 14.00 menggunakan motor. Waktu tersebut kami pilih untuk mendapatkan timing sunset yang pas di pantainya. Awalnya, saya berinisiatif untuk membeli peta Bekasi tetapi tidak tersedia di toko buku terdekat, sehingga kami pun menggunakan patokan perjalanan yang sama di masa lalu: mengekor 9B dan mendempet aliran sungai.


Dikarenakan mengendarai motor 160cc, perjalanan ke pangkalan 9B tidak sulit untuk dicapai. Tantangan dimulai selepasnya karena banyaknya jalan bercabang sehingga kami pun mesti sering bertanya-tanya kepada penduduk sekitar. Pertanyaannya selalu sama: “Kalo mau ke laut, lewat mana ya?” Dan layaknya orang desa, mereka akan dengan senang hati membantu kami. Jalanan mulai mengalami kerusakan di sana-sini ketika kami memasuki kecamatan terakhir sebelum Muara Gembong. Di sini kami pun semakin bersemangat karena lebar sungai yang semakin membesar menunjukkan laut sudah tidak jauh lagi.


Muara Gembong

Ketika akhirnya kami sampai di tugu perbatasan Muara Gembong, dengan semangat 45 kami melajukan motor tanpa bertanya-tanya ke arah pantai mana yang hendak dituju? Kenyataannya satu jam sesudahnya, kami mendapati jalanan dan sungai di samping kami semakin menyempit (doh) . Bukankah sungai seharusnya semakin membesar ketika hendak mencapai laut? Menyadari bahwa kami sudah tersesat, kami bertanya ke penduduk tentang pantai di depan kami. Dan penduduk pun memberitahu bahwa pantai tersebut tidak ada bagus-bagusnya, hanya dibuat dam saja. Balik kanan karena matahari pun semakin terancam tenggelam, kami langsung melesat menuju Pantai Pakis yang diketahui satu-satunya wisata terdekat di situ. Dengan menyeberangi sungai dan melintasi beberapa sawah dan tambak, akhirnya kami sampai juga di bibir pantainya tepat ketika azan maghrib berkumandang.


Meski sebenarnya pemandangan pantai ini biasa-biasa saja, tetap saja nilai historis perjalanannya jauh lebih mengesankan saya. Sebuah perasaan luar biasa karena petualangan masa kecil yang tertunda dua puluh tahun itu akhirnya bisa ditaklukkan. I reach that shore!
Pakis









































130 thoughts on “Menuntaskan Petualangan Yang Tertunda

  1. “udang malang itu akan menggerakkan otot-otot saya dari dalam tubuh” (rofl) bwahahaha parah banget

    kalau mau cerita petualangan masa kecil gue, wah panjang banget. Diceritain di serial bolang trans 7 pasti sampai ribuan episode. kekekkeke (blush)

  2. Dari semua episode hidup, kenakalan masa kecil memang selalu indah untuk dikenang. Saya tak bisa menahan tawa saat membaca. “kami sangat terkejut mengetahui ibu-ibu kami berdiri dengan gagahnya di bawah gapura kampung. Seakan-akan mereka ingin menerkam anaknya sendiri.” (lmao)

    Pada intinya, menapaki liku perjalanan hidup dan berpetualang memang akan selalu menakjubkan. (rock)

  3. senangnya akhirnya bisa mencapai keinginan masa kecil .. biarpun pantainya udah dibuat dam-dam tapi pasti buat lu indahnya sama kayak gili trawangan atau pantai2 indah lainnya ya?? (thinking) jadi udang idupnya beneran bikin lu bisa berenang gak dhod?

    • legaa rasanya (haha) .. yep, tetap beda rasanya karena seperti melengkapi puzzle 20 tahun yang lalu :-)) .
      Ya nggak ngerti, buktinya gw makan tuh udang idup2 dan pas nyebur gw gak tenggelem atau kelelep. So? (haha)

  4. Wew… Nice post Gan, mengingatkan saia pada waktiu kecil ga boleh main ke sungai, namun pada akhirnya tetep nyemplung juga. Meski habis itu dimarahi nyokap habis2an… Hahahaha…
    Namanya juga anak-anak *justifikasi diri* hehehe

  5. dodie,….aku terpaku nih memandang panorama dalam frame dodie yang indahhhh bgt ^^
    panorama pantainya yg biruuuu….

    senangnya melakukan petualangan2 seru ya…aku kapan y ???? *_*

  6. Quote
    ————————–
    “Awas kamu ya main lagi sama Dodi!” ucap Ibu #1
    “Dodi itu si biang kerok” fitnah Ibu #2
    dst..
    ————————–
    End Quote

    ibu2 ke 3-5 pasti lebih dahsyat ucapannya (haha)

    Gua kapan diajak lagi neh (bringit)

  7. Pingback: Tweets that mention Dhodie Weblog -- Topsy.com

  8. petualangan yang indah..
    20 tahun yg lalu mungkin sudah berbeda dari sekarang..
    nggak ada foto jaman kecil ya bro :(
    akhirnya bisa juga nyampe sana, pas sunsetnya keren lagi..
    tapi kok jalan yang bercabang-cabang itu nggak ada fotonya seh..
    bikin penasaraan perjalanannya

    • bener banget, sayangnya waktu dulu mah kamera masih analog dan belon kebeli juga (LOL) .
      Iyak, akhiirrnya sampe juga. Hohoho foto-fotonya emang sengaja nggak semuanya diupload biar penasaran (evilsmirk)

  9. sama kayak kepuasaan seseorang sama action figure, dulu dia belum bekerja cuma bisa melihat dari etalase toko. tapi sekarang udah bekerja atau udah mapan dia mampu membeli barang yang dari kecil dia lihat.

  10. menuntaskan misi, walaupun udah terlambat 20 tahun tapi kepuasannya mungkin sama seperti ketika anak kecil dapet mainan baru *analisa gak nyambung*. BTW pic sunsetnya keren juga tuh :)

  11. jauh dari kata pertamax nih (doh)

    hehehe….

    Hmmm… bekasi… jadi inget sesuatu… (banyak suatu sih sebetulnya) ini lah kota dimana saya dibesarkan, menjadi pemuda yang sangat kental dengan dunia entrepreneur, dari kota inilah saya bisa menjadi diri yang sekarang…
    kapan lagi ya bisa menjelajah layaknya masa SD, SMP, dan SMA dulu… hhmmm… jadi terinspirasi mau bikin postingan tentang masa2 konyol dulu waktu SD di Bekasi nih… hihihihihi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>