Ekstase Efek Rumah Kaca

Jujur, saya sedang mengagumi karya band indie pop lokal yang satu ini. Selain karena musik alternatifnya cocok di telinga saya, lirik lagu yang mereka tulis terasa sangat kuat melawan mainstream musik Indonesia yang mendayu-dayu. Perhatikan bagaimana interpretasi mereka terhadap surat Al Ashr di Debu-debu Beterbangan, sindiran mereka terhadap budaya konsumtif masyarakat kita di Belanja Terus Sampai Mati, atau keprihatinan mereka terhadap perilaku free sex di Kenakalan Remaja di Era Informatika.

Jujur, sudah cukup lama saya tidak mengikuti perkembangan musik Indonesia. Muak! itu saja. Buat saya, Cholil, Adrian, dan Akbar hadir untuk menyelamatkan telinga kita.

Jujur, setelah era Padi memudar, baru kali ini saya merasakan ekstase yang sama dalam menikmati karya band lokal.

Terus berkarya Efek Rumah Kaca!

106 thoughts on “Ekstase Efek Rumah Kaca

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>