Ada satu momen ketika bersama teman memutuskan untuk berpetualang ke Baduy, saya tidak menunjukkan antusiasme yang sama seperti beberapa petualangan sebelumnya. Hal ini mungkin dikarenakan saya dilahirkan di dataran tinggi Garut yang rumah-rumah penduduknya masih banyak yang mirip dengan suku Baduy—rumah panggung. Oleh karena itu, ketika rencana tersebut dieksekusi minggu kemarin, perlengkapan yang saya bawa pun cenderung seadanya dengan niat yang nothing to lose.Awalnya kami akan menggunakan angkutan umum untuk mencapai Baduy: naik kereta api jurusan Kota-Rangkasbitung dan dilanjutkan dengan naik elf ke Ciboleger. Akan tetapi, beruntung seorang teman menawarkan diri untuk menggunakan kendaraan pribadinya. Perjalanan berangkatnya sendiri sangat lah lancar serta komunikasi di antara kami berenam seolah menemui chemistry yang tepat—padahal masing-masing personil ada yang baru kenal on the spot.
Satu hal yang membuat perjalanan ke luar Jakarta selalu menyenangkan adalah kami bisa melihat langit-langit terbentang sangat luas dan indah tanpa terhalang gedung atau bangunan apa pun. Hal itu pula yang kami dapatkan ketika kami menjejakkan kaki di alun-alun Rangkasbitung.

Selepas bersih-bersih sejenak di Masjid Raya Rangkasbitung, kami melanjutkan perjalanan ke arah Ciboleger. Kondisi jalan yang dilalui masih cukup baik meski beberapa lubang sempat menghambat perjalanan. Tepat pukul 12.30, kami tiba di terminal Ciboleger yang merupakan terminal terakhir untuk masuk ke pemukiman suku ini. Langkah kaki pun langsung diarahkan menuju rumah Pak Agus yang akan menjadi pendamping perjalanan kami. Beliau adalah kuncen Baduy yang dikenal hampir semua penduduk Baduy—luar ataupun dalam. Dalam penjelasannya, saat itu suku Baduy baru saja menyelesaikan Kawalu, puasa 3 bulan berturut-turut, yang tidak memperkenankan tamu masuk ke Baduy Dalam. Oleh karena itu, Pak Agus menyarankan untuk memulai perjalanan ke sana agak sore. Waktu yang tersedia pun kami gunakan untuk bersih-bersih, mengisi perut, solat, dan tak lupa bercengkrama dengan anak-anak.
Pada waktu yang ditentukan, kami pun siap menaklukkan perjalanan berjarak 14km dengan berjalan kaki. Kontur tanah yang dilalui adalah bukit-bukit kecil berketinggian sekitar 250m di atas permukaan laut. Modal perjalanan menaklukkan bukit Sikunir dan Cilember memberi kekuatan ekstra untuk menikmati pendakian bukit-bukit ini. Sepanjang perjalanan, kami mengamati kegiatan sehari-hari yang dilakukan para ibu: menenun dan menumbuk padi. Sangat khas pedesaan. Saya sangat menikmati berada di tengah penduduk yang bisa berharmoni dengan alam seperti ini.

Tanda kami akan masuk ke Baduy Dalam adalah jembatan bambu kedua yang melintas sungai. Mulai dari jembatan ini, kami mesti memasukkan kamera dan hape yang biasa kami jadikan alat dokumentasi. Hal ini dikarenakan dilarang oleh peraturan dan adat istiadat mereka, dan kami sendiri memang tidak tertarik untuk membandel. Selain khawatir melanggar adat, kami ingin sebuah petualangan yang total: jika ada aturan mematikan kamera, ya matikan. Buat saya pribadi, totalitas perjalanan seperti ini sangat mengesankan. Awal trek yang mesti mendaki tebing-tebing yang curam merupakan trek tersulit dalam perjalanan kali ini. Butuh waktu beberapa kali untuk beristirahat sebelum kaki-kaki kami sampai di jalan yang mendatar. Tepat setelah itu, gelap menyelimuti Baduy Dalam.
Melankolia Baduy Dalam
Berjalan di kegelapan hutan yang hening menimbulkan perasaan yang berbeda buat saya pribadi. Mungkin ini maksud dari kebesaran Tuhan yang sebenarnya. Dan melankolia ini pun berlanjut ketika kami memutuskan untuk berhenti sejenak di rumah seorang penduduk. Kami membeli tiga buah durian karena lapar dan haus yang mulai melanda. Menyesap satu per satu buah surga diselingi obrolan di teras rumah menimbulkan keharuan tersendiri. Saya benar-benar terpukau bagaimana mereka bisa tinggal di tempat yang jauh dari keramaian seperti ini: sunyi, gelap, dan hanya diterangi lampu yang sangat minim.
Setelah dirasa cukup bekal dengan makan durian dan minum air putih khas Baduy, kami pun melanjutkan perjalanan. Waktu yang diperlukan tidak terlalu lama untuk sampai di satu dari tiga desa Baduy Dalam, Cibeo. Pak Agus membawa kami ke rumah Pak Jasrif untuk bermalam. Setelah melepas lelah sejenak dan berwudhu di sungai, kami menyantap makan malam yang dihidangkan tuan rumah. Sambil mengobrol dengan wakil pu’un (kepala suku), kami pun lahap menghabiskan sarden dan mie instan yang dimasak. Entah karena lapar yang melanda atau masakan yang terlampau enak, satu porsi besar itu pun tandas seketika. Setelah dirasakan perut tidak keroncongan lagi, kami meminta izin untuk beristirahat.
Sekitar jam empat pagi, beberapa dari kami terbangun. Tiga teman saya pun memilih keluar rumah untuk mengobrol sambil menikmati tiga bintang jatuh yang tersaji di langit. Saat itu, saya sendiri masih berkemul sarung karena dingin yang cukup menggigit. Ketika teman-teman saya solat, sebagian dari kami pun beranjak ke sungai untuk berwudhu. Tepat setelah semua solat, kami bersitatap dengan pu’un yang semalam tidak dapat hadir. Selepas semua personil berhadapan satu per satu, kami sarapan di luar rumah.
Menikmati udara yang bersih di tengah-tengah perumahan Baduy Dalam tentu saja sebuah pengalaman berharga yang tidak bisa dibeli. Kami belajar tentang kesederhanaan hidup, kecintaan terhadap alam, dan ketaatan suku ini terhadap budaya leluhur.
Perjalanan pulang pun berjalan cukup lancar meski treknya cenderung lebih berat dibanding keberangkatan. Sempat mengunjungi danau selepas keluar dari perbatasan Baduy Dalam, kami mengakhiri petualangan kali ini dengan memoar kesederhanaan hidup masyarakat Baduy yang sangat mengesankan. Akan kami ingat dan hayati.
Terima kasih untuk Amri, Aby, Icha, Ika, dan Joe untuk perjalanan kali ini. It’s indeed great adventure.
