15 February 2010
Harmoni Alam di Baduy Dalam
Ditulis oleh dhodie dalam: Petualangan .
Ada satu momen ketika bersama teman memutuskan untuk berpetualang ke Baduy, saya tidak menunjukkan antusiasme yang sama seperti beberapa petualangan sebelumnya. Hal ini mungkin dikarenakan saya dilahirkan di dataran tinggi Garut yang rumah-rumah penduduknya masih banyak yang mirip dengan suku Baduy—rumah panggung. Oleh karena itu, ketika rencana tersebut dieksekusi minggu kemarin, perlengkapan yang saya bawa pun cenderung seadanya dengan niat yang nothing to lose.Awalnya kami akan menggunakan angkutan umum untuk mencapai Baduy: naik kereta api jurusan Kota-Rangkasbitung dan dilanjutkan dengan naik elf ke Ciboleger. Akan tetapi, beruntung seorang teman menawarkan diri untuk menggunakan kendaraan pribadinya. Perjalanan berangkatnya sendiri sangat lah lancar serta komunikasi di antara kami berenam seolah menemui chemistry yang tepat—padahal masing-masing personil ada yang baru kenal on the spot.
Satu hal yang membuat perjalanan ke luar Jakarta selalu menyenangkan adalah kami bisa melihat langit-langit terbentang sangat luas dan indah tanpa terhalang gedung atau bangunan apa pun. Hal itu pula yang kami dapatkan ketika kami menjejakkan kaki di alun-alun Rangkasbitung.

Selepas bersih-bersih sejenak di Masjid Raya Rangkasbitung, kami melanjutkan perjalanan ke arah Ciboleger. Kondisi jalan yang dilalui masih cukup baik meski beberapa lubang sempat menghambat perjalanan. Tepat pukul 12.30, kami tiba di terminal Ciboleger yang merupakan terminal terakhir untuk masuk ke pemukiman suku ini. Langkah kaki pun langsung diarahkan menuju rumah Pak Agus yang akan menjadi pendamping perjalanan kami. Beliau adalah kuncen Baduy yang dikenal hampir semua penduduk Baduy—luar ataupun dalam. Dalam penjelasannya, saat itu suku Baduy baru saja menyelesaikan Kawalu, puasa 3 bulan berturut-turut, yang tidak memperkenankan tamu masuk ke Baduy Dalam. Oleh karena itu, Pak Agus menyarankan untuk memulai perjalanan ke sana agak sore. Waktu yang tersedia pun kami gunakan untuk bersih-bersih, mengisi perut, solat, dan tak lupa bercengkrama dengan anak-anak.
Pada waktu yang ditentukan, kami pun siap menaklukkan perjalanan berjarak 14km dengan berjalan kaki. Kontur tanah yang dilalui adalah bukit-bukit kecil berketinggian sekitar 250m di atas permukaan laut. Modal perjalanan menaklukkan bukit Sikunir dan Cilember memberi kekuatan ekstra untuk menikmati pendakian bukit-bukit ini. Sepanjang perjalanan, kami mengamati kegiatan sehari-hari yang dilakukan para ibu: menenun dan menumbuk padi. Sangat khas pedesaan. Saya sangat menikmati berada di tengah penduduk yang bisa berharmoni dengan alam seperti ini.

Tanda kami akan masuk ke Baduy Dalam adalah jembatan bambu kedua yang melintas sungai. Mulai dari jembatan ini, kami mesti memasukkan kamera dan hape yang biasa kami jadikan alat dokumentasi. Hal ini dikarenakan dilarang oleh peraturan dan adat istiadat mereka, dan kami sendiri memang tidak tertarik untuk membandel. Selain khawatir melanggar adat, kami ingin sebuah petualangan yang total: jika ada aturan mematikan kamera, ya matikan. Buat saya pribadi, totalitas perjalanan seperti ini sangat mengesankan. Awal trek yang mesti mendaki tebing-tebing yang curam merupakan trek tersulit dalam perjalanan kali ini. Butuh waktu beberapa kali untuk beristirahat sebelum kaki-kaki kami sampai di jalan yang mendatar. Tepat setelah itu, gelap menyelimuti Baduy Dalam.
Melankolia Baduy Dalam
Berjalan di kegelapan hutan yang hening menimbulkan perasaan yang berbeda buat saya pribadi. Mungkin ini maksud dari kebesaran Tuhan yang sebenarnya. Dan melankolia ini pun berlanjut ketika kami memutuskan untuk berhenti sejenak di rumah seorang penduduk. Kami membeli tiga buah durian karena lapar dan haus yang mulai melanda. Menyesap satu per satu buah surga diselingi obrolan di teras rumah menimbulkan keharuan tersendiri. Saya benar-benar terpukau bagaimana mereka bisa tinggal di tempat yang jauh dari keramaian seperti ini: sunyi, gelap, dan hanya diterangi lampu yang sangat minim.
Setelah dirasa cukup bekal dengan makan durian dan minum air putih khas Baduy, kami pun melanjutkan perjalanan. Waktu yang diperlukan tidak terlalu lama untuk sampai di satu dari tiga desa Baduy Dalam, Cibeo. Pak Agus membawa kami ke rumah Pak Jasrif untuk bermalam. Setelah melepas lelah sejenak dan berwudhu di sungai, kami menyantap makan malam yang dihidangkan tuan rumah. Sambil mengobrol dengan wakil pu’un (kepala suku), kami pun lahap menghabiskan sarden dan mie instan yang dimasak. Entah karena lapar yang melanda atau masakan yang terlampau enak, satu porsi besar itu pun tandas seketika. Setelah dirasakan perut tidak keroncongan lagi, kami meminta izin untuk beristirahat.
Sekitar jam empat pagi, beberapa dari kami terbangun. Tiga teman saya pun memilih keluar rumah untuk mengobrol sambil menikmati tiga bintang jatuh yang tersaji di langit. Saat itu, saya sendiri masih berkemul sarung karena dingin yang cukup menggigit. Ketika teman-teman saya solat, sebagian dari kami pun beranjak ke sungai untuk berwudhu. Tepat setelah semua solat, kami bersitatap dengan pu’un yang semalam tidak dapat hadir. Selepas semua personil berhadapan satu per satu, kami sarapan di luar rumah.
Menikmati udara yang bersih di tengah-tengah perumahan Baduy Dalam tentu saja sebuah pengalaman berharga yang tidak bisa dibeli. Kami belajar tentang kesederhanaan hidup, kecintaan terhadap alam, dan ketaatan suku ini terhadap budaya leluhur.
Perjalanan pulang pun berjalan cukup lancar meski treknya cenderung lebih berat dibanding keberangkatan. Sempat mengunjungi danau selepas keluar dari perbatasan Baduy Dalam, kami mengakhiri petualangan kali ini dengan memoar kesederhanaan hidup masyarakat Baduy yang sangat mengesankan. Akan kami ingat dan hayati.
Terima kasih untuk Amri, Aby, Icha, Ika, dan Joe untuk perjalanan kali ini. It’s indeed great adventure.

82 Opini so far...
amri berkomentar:
15 February 2010 at 09:49.
Thanks ya juragan.. Nice trip nice semuanya deh.
achie berkomentar:
15 February 2010 at 09:55.
sayang bangeud aku gabisa ikot…pedahal dari dolo pengen banged bertualang ke baduy
jangan pernah bosen ajak aku trip selanjutnya yak dod
iLLa berkomentar:
15 February 2010 at 10:06.
atap rumahnya cantik yak, berundak2 gitu…
sepertinya ini perjalanan yg “kalem” yak
rara berkomentar:
15 February 2010 at 10:41.
ah.. beruntungnya kalian.. bisa berbagi dengan mereka. mencerahkan diri. dihadiahi bintang jatuh pula. membaca ceritanya saja aku terbawa rasa.
bandit™perantau berkomentar:
15 February 2010 at 11:20.
Wooohhh…
sa nature Om…
saya pingin lah kesana suatu saat… nice adventure…
asepsaiba berkomentar:
15 February 2010 at 11:24.
Gagal Pertamaxxx di Blog kerenn..
Lain kali ajak2 dong…
kawanlama95 berkomentar:
15 February 2010 at 11:59.
wah seneng banget ya mas. bisa menikmati perjalanan , alam indonesia yang subur dan keunikan ragam budaya baduy. Sebuah pengalaman menarik. Andai saja aku di dekat situ , sungguh sebuah kebahagiaan
icha berkomentar:
15 February 2010 at 13:10.
dhodie…
kali ini gue spikles..gk mampu berkomentar..but thanks for everything..it’s not about the destination but the journey… next tripppp…..???
Pojok Pradna berkomentar:
15 February 2010 at 14:41.
Sepakat dengan Illa…petualangan yang kalem,
ga ada poto lompat-lompatan diatas atap
Montoq berkomentar:
15 February 2010 at 16:41.
Gini nih.. 
Lagi2 kaga bilang2 neh..
Awas lo kaga gua ajak klo gua kesono
quinie berkomentar:
15 February 2010 at 20:46.
beneran ada mendakinya? pufff… i’m not good at hiking
mofied berkomentar:
15 February 2010 at 21:37.
asyik juga masih bisa berpetualang…jadi inget jaman dulu….lanjut mas…
mandor tempe berkomentar:
15 February 2010 at 22:52.
jalan-jalan tterooosss.
kapan bisanya ngajak saya ? *emang saya diajak ??*
Okkots berkomentar:
16 February 2010 at 05:08.
Geez…. This is the second journey that I envy (ish)…. Yeah I should have been in Badui with you guys rather than doing my travel duty to Solo
Cipu berkomentar:
16 February 2010 at 05:09.
Cuman bisa menatap foto-foto itu dengan senyuman pahit…. GUa kagak ikooooot :(
m harun alrasyid berkomentar:
16 February 2010 at 07:28.
perjalanan yang menyenangkan dod……kapan-kapan kalau waktunya pas saya pengin napak tilas lagi…ajak-ajak ya dod
cici silent berkomentar:
16 February 2010 at 12:11.
Subhanallah… jadi teringat kampung halaman, hiks! :( One day, you all must visit Pagar Alam! Jelajahi alamnya, taklukkan puncak Gunung Dempo-nya!
*jd promosi wisata* :p
dhodie menanggapi:
February 18th, 2010 at 09:26
Sudah dibuatkan postingan di blognya belum tentang Pagar Alam dan alamnya?
cici silent menanggapi:
February 18th, 2010 at 09:53
@dhodie, one day I will, as you know…now I’m missing words
zulhaq berkomentar:
16 February 2010 at 16:47.
petualangan yang indah di tempat yang indah bersama sahabat sahabat terindah
pokoknya indah!!!
Achoteuy berkomentar:
17 February 2010 at 17:02.
kereeeeenn.. mantaf bro, petualangannya.. ckckckck.. sip..sip.. lanjut gan..
Achoteuy berkomentar:
17 February 2010 at 17:04.
blog q yang achot.totalh.com udah kaga bisa kepake sob.. dah di suspend.. (maklum blog gratisan ) :( ngerintis baru lagi deh..
indra1082 berkomentar:
18 February 2010 at 09:01.
Saya ingin sekali mengunjungi suku baduy.. kok gak ngajak-ngajak bro.. :mrgreen:
morishige berkomentar:
18 February 2010 at 13:05.
keren, kang.
iya ya.. kok bisa mereka hidup tanpa bersentuhan dgn teknologi modern? saya aja keknya sekarang udah tergantung banget sama yang namanya listrik. mati sejam saja rasanya langit mau runtuh. :mrgreen:
alisyah berkomentar:
18 February 2010 at 14:59.
Di situlah letak keheningan hidup, tinggal di lingkungan sunyi meskipun gelap. dulu waktu anak-anak, jamannya listrik belum nyampe ke kampung, kehidupan di kampung saya juga demikian. Alamnya selalu merindukan.
annosmile berkomentar:
18 February 2010 at 15:31.
petualangan yang menyenangkan..
next trip pengen kesana juga
gajah_pesing berkomentar:
19 February 2010 at 10:06.
jadi ingat pertama kali mendatangi suku Badui, sebagian dari mereka sudah mengenal dan memanfaatkan teknologi namun sebagian ada yang belum, saia belum sempat mengupas tentang hal itu, mengingat waktu yang sangat kurang tepat untuk analisa dan riset
kips berkomentar:
24 February 2010 at 08:35.
Sekarang Dhodie dah bisa pakai baju selain warna hitam jadi bisa berkeliaran 
Teu ngajak2 *siapkeun pentungan*
isnuansa berkomentar:
24 February 2010 at 12:16.
Senangnya mampir di blog ini karena saya bisa cuci mata dengan foto-foto yang menawan.
Adik saya yang sekolah perawat minggu ini juga ke Baduy, nggak sabar ngelihat kameranya. Tapi tentu nggak seprofesional di sini hasilnya.
Oiya, ngiklan juga, week end besok saya ke Pulo Seribu, jadi kalo mo gantian lihat foto jepretan saya, minggu depan maen ke blog saya, hehehe…
Kris berkomentar:
5 March 2010 at 11:58.
Pengalaman dan petualangan yang seru dan menyenangkan bro, beruntung pernah kesana :)
eshape berkomentar:
5 March 2010 at 21:20.
Seingatku aku pernah kirim komentar disini, kok nggak kelihatan ya?
apa karena sedang ngantuk ya?
hehehe…seneng lihat foto yang bagus-bagus
kawalu berkomentar:
2 April 2010 at 03:48.
[...] guardian Says: April 9th, 2008 at 8:14 pm. Dave, I have the same gut-feeling about Heun and …Dhodie WeblogAda satu momen ketika bersama teman memutuskan untuk berpetualang ke Baduy, saya tidak menunjukkan [...]
ika berkomentar:
4 April 2010 at 23:32.
Dear dodie,
Makasih juga buat dodie, joe, icha, amri n aby, walaupun baru kenal tepat pas mau brgkt tp kalian baik bgt hehe..benar2 petualangan yang mengasikan.
Next trip kita lanjutkan explore indonesia.
Salam,
Ika

















Cipu menanggapi:
February 16th, 2010 at 05:10
@amri, amri cepet aja ngambil yang pertamax
Balas
- H - menanggapi:
February 17th, 2010 at 09:23
@Cipu, aku yang KEDUAXXX saja
Balas