Minggu lalu, atlet-atlet bulutangkis Indonesia kembali gagal merengkuh gelar All England untuk tahun ke-7 berturut-turut. Mungkin semakin banyak masyarakat kita yang tidak peduli terhadap kemunduran prestasi atlet-atlet kita di berbagai cabang olahraga–bulutangkis salah satunya. Lebih senang menyimak berita sampah selebritis? atau lebih sibuk menonton drama politik di DPR? Padahal sejak tahun 1959, lagu Indonesia Raya kerap terdengar di berbagai belahan dunia karena prestasi cabang olahraga yang satu ini.
Singelar Semakin Terkapar
Bukan cerita baru jika Indonesia yang pernah melahirkan maestro bulutangkis dunia saat ini seperti kehilangan touch menciptakan bibit pemain baru. Sebutlah singelar terakhir yang menjadi juara: Heriyanto Arbi di tahun 1994. Sekarang, mari kita hitung sudah berapa lama kita tidak menjuarai tunggal putra: 16 tahun! Kita memang masih punya Taufik Hidayat yang pernah menjuarai Olimpiade dan Kejuaraan Dunia, tetapi usia yang menggerogotinya menipiskan asa untuk mengakhiri paceklik gelar. Dua kali ia melangkah ke final, dua kali pula ia terpuruk. Padahal saya masih ingat Indonesia begitu ditakuti saat memiliki limpahan singelar macam dua Rudi Hartono, Liem Swie King, Icuk Sugiarto, Joko Suprianto, Ardi Bernandus Wiranata, Hermawan Susanto sampai Alan Budi Kusuma.
Jauh lebih memprihatinkan jika kita mengulas tunggal putri. Sejak Susi Susanti pensiun dan Mia Audina pindah kewarganegaraan, praktis tidak ada pemain kita yang mampu berbicara banyak di turnamen ini. Kali terakhir kita juara saat Susi berhasil mengandaskan musuh bebuyutannya, Ye Zhaoying di tahun 1994. Setelah itu? Pemain kita megap-megap diberondong Cina yang seakan tidak pernah habis memproduksi pemain putri.
Ganda Mengelus Dada
Indonesia terkenal memiliki ganda putra yang solid baik untuk bermain menyerang dan bertahan. Sebut saja Tjun Tjun/Johan Wahjudi, Christian Hadinata/Ade Chandra, sampai pasangan peraih medali emas Olimpiade Atlanta 1996, Rexy Mainaky/Ricky Subagja. Praktis sektor ini yang paling stabil melahirkan bibit-bibit baru yang kerap memiliki prestasi internasional. Tony Gunawan, Candra Wijaya, Sigit Budiarto, Halim Heryanto adalah beberapa pemain yang beberapa kali bertukar pasangan tetapi tetap mampu meraih prestasi yang mumpuni. Prestasi terakhir dicetak Markis Kido/Hendra Setiawan yang meraih medali emas Olimpiade Beijing 2008.
Sementara itu, ganda putri setali tiga uang dengan tunggal putri. Praktis sejak Verawaty/Imelda Wigoeno menjuarai turnamen ini tahun 1979, gelar ganda putri bergantian dijuarai pasangan China dan Korea Selatan.
Lain lagi cerita di di sektor ganda campuran. Meski permainan Nova/Lilyana cukup konsisten hingga saat ini, saya melihat usia Nova yang sudah gaek akan menjadi hambatan tersendiri ketika berhadapan dengan permainan speed and power ganda-ganda China. Dan itu terbukti kala mereka dikalahkan oleh pasangan muda China, Zhang Nan/Zhao Yunlei di final All England 2010.
Perhatian Pemerintah
Kalau lah kita boleh bermimpi, pemerintah kita mencontoh program pembibitan atlet-atlet bulutangkis di China. Jangan hanya menunggu bibit-bibit unggul semacam Susi, Taufik, atau Rexy akan muncul dengan sendirinya. Akan tetapi, berikan anggaran besar untuk pengembangan cabang olahraga ini dalam jangka panjang.
Jika saja pemerintah berinisiatif menjadikan cabang olahraga ini sebagai olahraga wajib di sekolah-sekolah misalnya, bukan tidak mungkin akan lebih banyak terjaring bibit-bibit itu. Secara alamiah, anak-anak Indonesia memiliki bakat besar untuk berprestasi di kancah internasional melalui bulutangkis. Tergelitikkah kita dengan film King? ah saya lupa bahwa itu cuma sebuah film.
Implementasi tidak pernah lebih mudah dari berharap; tetapi tanpa inisiasi untuk berubah, harapan itu hanya bagai menggantang asap. Semoga pemerintah tidak terlena dengan masalah-masalah dalam negeri sehingga pengembangan olahraga paling prestisius di Indonesia ini mandeg. Saya tidak ingin melihat bulutangkis Indonesia semakin tenggelam untuk kemudian dilupakan generasi kita selanjutnya.