Hari senin (21 Juni) kemarin, saya ikut menghadiri diskusi panel teknologi seluler next generation, Long Term Evolution (LTE) dari Telkomsel. Diskusi sekaligus demo teknologi ini dihadiri oleh pemain-pemain lama di bidang seluler (Nokia Siemens Network, Huawei, dan Ericcson), praktisi telekomunikasi, akademisi, dan surprisingly cukup banyak blogger diundang sebagai representasi pengguna internet di Indonesia. Baca selengkapnya
Author Archives: dhodie
Intro
Posted in MusikAndai aku bisa
Memutar kembali
Waktu yang tlah berjalan
Tuk kembali bersama, di dirimu slamanya
Lagu lama. Dari seorang maestro penyanyi Indonesia. Tapi saya suka lagunya, suka banget malah. Bukan, bukan karena video klipnya dibintangi Titi Kamal yang saat itu baru kerasa banget cantiknya (catatan: berarti sekarang udah enggak lagi hihi). Atau karena lirik yang menyatu dengan lagunya. Tetapi saya terkesan dengan intro lagu ini. Coba dengarkan awalan lagu ini ketika alm. Chrisye bernyanyi. Menurut saya: megang banget. Baca selengkapnya
Puncak miladeBlogger
Posted in Event, Komunitas, Kopdar
Tahun lalu, Enda Nasution mengawal acara talkshow dan Adhitia Sofyan menghibur dengan tembang-tembang akustik. Tahun ini? Dijamin lebih menarik dan inspiratif karena semakin banyak lagi elemen masyarakat yang kami rangkul untuk memeriahkan acara.
Tahun lalu, kita stay di salah satu kafe hip kota Depok dengan elegansi venue yang membuat semua peserta betah menikmati acara. Tahun ini? Kami akan membawa peserta berkeliling Depok mengunjungi beberapa landmark kota sebelum kita berkumpul di rumah rakyat, Balaikota Depok.
Tahun lalu, teman-teman pelajar mendapat kesempatan mengikuti lomba menulis blog yang juara favoritnya dimenangi oleh pelajar SMAN 2 Depok, Aldo Moses. Tahun ini? Tidak hanya satu atau dua, kami akan adakan 5 lomba seperti live tweet contest, lomba blog dan photoblog, bahkan akan ada launching Lomba Blog berhadiah total Rp.22.500.000 yang diadakan oleh pemerintah kota Depok sendiri.
Jadi adakah alasan teman-teman blogger untuk tidak mengikuti acara puncak ulang tahun deBlogger ke-1 tanggal 29 Mei 2010 besok? Tidak ada!
Daftarkan diri kamu untuk mengikuti tour Depok dan puncak miladeBlogger sekarang! Gratis!
Informasi terkait:
- Portal miladeBlogger
- Rangkaian acara miladeBlogger
- Lomba blog dan photoblog Depok Cinta Ilmu
Ini Indonesia
Posted in HistoriTerkait asal-usul sebuah nama, iseng saya melontarkan pertanyaan kepada sepuluh teman saya tentang nama bangsa kita, Indonesia. Pertanyaannya seperti ini:
Tau asal kata “Indonesia” itu dari mana? dan siapa yang menggagasnya?
Berikut ini jawaban yang diberikan oleh sahabat-sahabat saya:
Pernah denger tentang ini, tapi lupa sekarang (aktivis mahasiswa)
Klo muncul kata indonesia itu sudah dari awal dijajah belanda, tetapi tidak resmi. Seinget saya bung tomo atau bung hatta sudah makai koq di tahun 1924 (finansial advisor)
Indonesia dari kata hindia, kepulauan di samudra Hindia. Penggagasnya nggak tau, mungkin orang Belanda (HRD)
Dari kelompok mahasiwa Indonesia di Belanda yang membuat sebuah majalah yang judulnya Indonesia. Asalnya hindia dan austronesia, jadi digabung jadi Indonesia. Majalah itu sempat dibredel oleh Pemerintah Belanda, tapi terus jadi cikal bakal perjuangan untuk memerdekakan Indonesia (pegawai BUMN)
Gak tau, bang (mahasiswa)
India dan nesos atau Indu. Penggagasnya orang Inggris (web designer)
Saya nggak tau, orang kalo pelajaran Kewarganegaraan saya suka ngantuk (staf IT)
Pastinya nama indo itu bukan karangan orang Indonesia, tapi orang Inggris (mahasiswa S2)
Enggak tau, malu saya (programmer, entrepreneur)
Kalo tidak salah berasal dari bahasa sanskerta, penggagasnya saya nggak tau (engineer)
Ternyata saya dan banyak teman lain tidak tau pasti sejarah penyematan nama Indonesia. Lantas jika kelak kita berlibur ke luar negeri dan ada orang asing yang menanyakan, malukah kita? Atau jika dirasa mimpi itu terlalu jauh, jika kita punya anak dan ia menanyakan hal yang sama, risihkah kita? Jujur, saya risih dan malu.
Ini Indonesia
Nama resmi negeri ini sampai merdeka di tahun 1945 memang Hindia Belanda. Got the reason? Asia tenggara saat itu dinamai Hindia Belakang oleh bangsa Eropa dan Belanda lah yang beruntung menghisap kekayaan negeri kita. Bagaimana akhirnya nama Indonesia tersemat menggantikan nama Hindia Belanda lah yang jarang terpublish di buku-buku sejarah sekolah.
Mundur ke belakang di tahun 1847, dua orang etnologis, James Richardson Logan dan George Samuel Earl menulis majalah ilmiah tahunan (Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia, JIAEA) tentang kepulauan india dan asia timur. Pada tahun keempatnya, Earl mengusulkan untuk memberi nama yang berbeda untuk kepulauan Hindia karena sering terjadi kerancuan dengan penyebutan India yang lain (volume IV, hal.71):
“… the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians”
Earl memilih nama Malayunesian untuk kepulauan India ini, sementara Logan di majalah yang sama mengambil nama Indunesian dan mengubah vokal u menjadi o dengan alasan mempermudah pengucapannya (volume IV, hal 254):
Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago.
Sejak saat itu lah nama Indonesia mulai terdengar di bidang geografi dan etnologi.
Pada tahun 1884, Adolf Bastian mulai memopulerkan istilah indonesia di kalangan sarjana Belanda. Konsistensi penggunaan nama indonesia yang ditunjukkan dalam bukunya menimbulkan kesan bahwa ia lah yang menciptakan nama indonesia. Padahal sebenarnya ia mengambilnya dari Logan. Orang Indonesia pertama yang menggunakan nama Indonesia adalah Suwardi Surjaningrat (Ki Hajar Dewantara) yang dibuang ke Belanda tahun 1913. Ia mendirikan sebuah biro pers, Indonesische Pers-bureau. Dan sejak saat itu, banyak pahlawan pergerakan Indonesia menggunakan nama Indonesia sebagai nama partai atau nama pergerakannya. Peresmian nama Indonesia sebagai nama tanah air, bangsa, dan bahasa negeri ini dikumandangkan di Kerapatan Pemoeda-pemoedi Indonesia pada tahun 1928, yang terkenal dengan Sumpah Pemuda.
Semoga mulai sekarang kita tidak akan menjawab “tidak tau” asal nama negeri yang kita cintai sepenuh hati ini. Ini indonesia kita.
Meet the Idol
Posted in CurhatApa yang biasa kamu lakukan ketika akhirnya mimpi untuk bertemu idolamu tercapai? Histeris menubruk dan memeluknya? Menceracau dengan ratusan pertanyaan? Curhat bagaimana hidupmu berubah karena idolamu? Atau semuanya?
Saya ingin berbagi sedikit cerita tentang pengalaman saya bertemu tiga idola saya. Secara pribadi, sebenarnya saya bukan orang yang terobsesi harus bertemu dan mengobrol panjang lebar dengan orang-orang yang menginspirasi saya. Akan tetapi, kalau kesempatan itu datang, kenapa tidak?
Kuncoro Wastuwibowo
Salah satu blogger berpengaruh Indonesia yang tampak sangat hidup di tulisan-tulisannya, but similar with other geeks, berpenampilan kalem-kalem saja di dunia nyata. Catatan-catatan beliau di blog pribadinya menjadi konsumsi wajib sejak tahun 2002 saat saya membutuhkan referensi layer-layer jaringan telekomunikasi. Uraian yang jelas dan tidak bertele-tele menjadikan saya dengan senang hati mem-bookmark blognya sejak saat itu.
Setelah 6 tahun mengikuti perkembangan blognya, kesempatan untuk mengobrol dengannya terjadi saat itu mas Kun berkantor di salah satu BUMN di kawasan medan merdeka pada tahun 2008. Awal berpapasan dengannya di lobi gedung saat itu tidak ada yang dapat saya lakukan, tiba-tiba mulut saya terasa terkunci. Begitupun di waktu-waktu berikutnya ketika tak sengaja bertemu di ruang tunggu lift atau di lobi. I just couldn’t say any words.
Kesempatan berikutnya datang saat Pesta Blogger 2009 yang heboh itu. Di sela-sela mengikuti acara, saya melihat wajah seorang perempuan yang nampak familiar akibat aktivitas blogwalking saya, Enggar, yang ternyata ada mas Kun di sampingnya. Mereka berdua nampak sangat asyik berdiskusi. Hingga saat pesta usai dan foto bareng deBlogger di karpet merah terekam, saya bertemu dengan Enggar di masjid. Karena keakraban yang baru terbina dalam aktivitas blogwalking lah akhirnya saya berani untuk menegurnya. Dan untungnya saat itu ia mengenali saya. Tidak lama berbincang dengan perempuan cerdas ini, kembali ada mas Kun di sana (don’t ask me why). Seperti kejadian-kejadian sebelumnya, saya tetap speechless untuk berkenalan dan memilih untuk mengambil wudhu saat itu
.
Adhitia Sofyan

Saya menyukai karya sosok indie singer satu ini sejak mendengar single pertamanya, Adelaide Sky mengisi musik film Kambing Jantan: The Movie. Setelah mendownload satu album Quite Down gratis dari blognya, saya berpendapat Adhitia Sofyan memiliki potensi menjadi salah satu alternatif penyanyi asyik di antara serbuan band menye-menye di dunia musik Indonesia. Musik Adhitia sederhana, didominasi gitar akustik, tetapi ada taste internasional. Jadilah saat Adelaide Sky menjadi hits di Indonesia, saya berharap bisa berkenalan dengan beliau.
Pertemuan saya dengannya terjadi saat deBlogger melaunching komunitasnya tanggal 31 mei 2009. Kami meminta beliau perform di acara ini yang ternyata sukses mendapat apresiasi penonton. Adhitia sendiri datang satu jam sebelumnya dengan wardrobe sederhana seperti tampak di beberapa rekaman Youtube-nya. Pengalaman bertemu salah satu musisi idola saya ini memperbaiki catatan sebelumnya karena saya beberapa kali dapat memulai percakapan dengannya. Meski setelah satu jam berlalu, penggal-penggal obrolan masih terasa kurang greget. Nampak Adhitia pun bukan pribadi yang easy to get in touch dengan orang yang baru dikenalnya, jadi sebuah pertemuan yang tetap berkesan bagi saya
.
Bayu Gawtama

Aktivis sosial satu ini saya kenal sejak saya pertama kali mengenal dunia blog di tahun 2003. Waktu itu, saya bahkan sempat mem-bookmark akun blogspot-nya untuk membaca pengalaman hidupnya. Tulisan-tulisannya sederhana namun berenergi: tentang bagaimana ia sangat mencintai ibunya, tentang bagaimana pengalamannya di kereta api dan puluhan tulisan lainnya yang masih tersimpan rapi di akun blognya. Selain di blogspot, saya juga mengikuti tulisan-tulisan bang Gaw, panggilan akrabnya, di rubrik Oase Iman, Eramuslim. Ketika akhirnya tiba-tiba dirinya berhenti ngeblog sejak 18 November 2008 tanpa alasan yang jelas, saya benar-benar merasa kehilangan.
Pertemuan saya dengan bang Gaw akhirnya terlaksana sabtu lalu di kediamannya di Taman Melati, Sawangan sebagai salah satu agenda miladeBlogger. Kunjungan ini bertujuan untuk mendapat berbagai sudut pandang pembangunan kota Depok dari kaca mata tokoh-tokohnya. Saya yang biasanya sangat canggung untuk mengobrol dengan idola saya terbantu dengan teman-teman yang mendampingi: Syarif Furqon, Istiana Sari, dan Aksa Bass. Pribadi bang Gaw yang mudah akrab dengan orang lain pun menjadikan wawancara berubah menjadi obrolan penuh keakraban. Ia lancar menceritakan pengalaman bekerjanya di Eramuslim sampai menjadi Programme Director di sebuah lembaga sosial, Aksi Cepat Tanggap. Tanggapannya tentang kota Depok sendiri masih mempertanyakan mau dibawa ke mana kota ini ke depannya. Sayang waktu yang tersedia hanya dua jam padahal banyak pencerahan yang kami dapatkan dari pengalaman hidupnya sejauh ini. Tapi saya yakin, kami akan bertemu lagi.
Masih ada beberapa tokoh lain yang menginspirasi kehidupan saya. Salah satunya adalah penggagas CareerCoach, Rene Suhardono, yang tiba-tiba menjadi salah satu orang terpenting dalam perjalanan karir saya. Apa dan bagaimana dengan Rene, tunggu di postingan berikutnya.
Bagaimana pengalamanmu bertemu idolamu?
Benang Merah Buku, Multiply, dan Internet Sehat
Posted in ProfilSejuta Buku Untuk Anak Indonesia
Gerakan ini lahir dari keprihatinan masih banyaknya anak-anak yang kurang beruntung mendapatkan akses membaca di Bekasi. Sebenarnya, gerakan pengumpulan buku seperti ini bukan gerakan baru di ranah daring. Tercatat gerakan 1000 buku dan bloggers for bangsari adalah dua dari sekian gerakan yang pernah digagas. Akan tetapi pengkhususan kata anak dan Indonesia yang dipilih menciptakan energi tersendiri untuk bisa diterima luas.
Saat ini pun, beberapa komunitas blogger daerah di Indonesia memiliki keprihatinan yang sama. Sebut saja gerakan Hibah Sejuta Buku yang digagas komunitas blogger Pekanbaru (Bertuah) dan SoloSinau oleh komunitas blogger Solo (Bengawan). Saya berpikir jika ini dapat dijadikan gerakan setiap komunitas yang ada di Indonesia, it’s gonna be a massive movement!
Beberapa aksi nyata yang telah dilakukan oleh SeBUAI antara lain mendistribusikan sumbangan buku untuk anak-anak di pinggiran kali Bekasi dan berbaur bersama kelompok pengamen jalanan. Kabar terakhir, mereka telah membuka Perpustakaan Anak Jalanan di Gedung Joeang 45, Bekasi. Info lebih lanjut dapat diikuti di situs resmi dan fans page SeBUAI.
Helping Hands Project
Dengan moto every little help counts, komunitas independen ini percaya bahwa satu perbuatan kecil oleh satu individu bila dilakukan secara kolektif akan menghasilkan sesuatu yang besar. Di tahun pertama, HHP berhasil mengumpulkan Rp 17.000.000 dana tunai dan berbagai barang lainnya untuk disumbangkan ke Panti Asuhan Murni Jaya, Cilincing. Oleh Panti Asuhan, sumbangan ini pun dikelola untuk membuat pemancingan/empang, merenovasi kamar-kamar, dan membayar uang sekolah anak-anak panti tersebut.
Project yang awalnya berasal dari reriungan komunitas multiply Indonesia ini ingin bergerak lebih luas lagi tahun ini. Oleh karena itu mereka akan melaunch situs resmi HHP yang berisi informasi lengkap kegiatan mereka dari awal perencanaan, survey, sampai laporan kegiatan. Adapun target tahun ini adalah memberikan bantuan pengadaan dan perbaikan infrastruktur sekolah di SDN Sukamanah, Desa Cigombong, Bogor dan membantu pembangunan rumah singgah untuk pasien kanker anak di RS Dharmais setelahnya. Informasi lebih lengkap tentang waktu pelaksanaan dan dana yang dibutuhkan dapat dilihat di Multiply HHP.
Follow-Donate Internet Sehat
Berawal dari pemberian penghargaan khusus kepada para blogger, kampanye penggunaan internet secara sehat di Indonesia ini mencoba untuk lebih sosial tahun ini. Dengan menjadi follower Internet Sehat di Twitter, secara tidak langsung kita telah menyumbangkan Rp.100,- untuk kegiatan ini. Satu follower sama dengan Rp. 100,-. Target Internet Sehat adalah mendapatkan 50.000 follower untuk dikonversi menjadi sumbangan Rp. 5.000.000,- dari mitra kerjanya. Rencananya sumbangan ini akan digunakan untuk mendukung kegiatan belajar-mengajar di kawasan Pasar Minggu, Jakarta.
Just follow and you’ll already be involved in this campaign! Saya sudah ikuti twitternya dan ternyata mencerahkan. Selain pernah menjadi lucky follower ke-800, saya mendapat tips-tips berinternet sehat yang diberikan secara rutin.
Jadi benang merah cerita saya hari ini adalah gerakan-gerakan sosial yang bertujuan untuk membantu masyarakat yang kurang beruntung. Saya kenal Adyanti Rahmarina (ketua SeBUAI), Ronn Ramadhan (pengurus HHP) dan pasti mengidolai beberapa blogger senior di Internet Sehat. Mengutip kalimat HHP, Together we can work to achieve something BIG!
They do it, how about us?
Blog, Buku, dan Petualangan
Posted in Blogging
.
Dari obrolan yang dilakukan entah via instant messenger, facebook, dan plurk, saya cukup yakin ia tau siapa saya. Dan tadi pagi, dengan gagah berani saya akhirnya mengirimkan 17 foto perjalanan ngeblog dan berpetualang saya. Dengan sedikit compose-reply antara dia dan saya, header pun jadi dalam waktu tidak lebih dari tiga jam!
Sedikit gambaran bahwa fokus header saya ada di roll film yang merekam kegiatan saya. Diawali dengan potret saat saya mempresentasikan How To Build Blog’s Community di Fakultas Ilmu Komputer UI, diikuti potret saya bersama dua sahabat bertualang saya, Lathiful Amri dan Kristian Ibrahim. Adegan kami bertiga melompat di Bukit Sikunir masih menjadi gaya terbaik versi saya sehingga wajib diikutsertakan dan diikuti potret siluet di Tanah Lot, Ujung Genteng. Potret terakhir adalah salah satu jepretan saya untuk project #365shots, bunga mawar. Sementara itu bintang laut dan daun yang menghias di sampingnya, mengingatkan dua tempat yang selalu suka: pantai dan gunung.
Beralih ke sebelah kanan dan kiri header, menggambarkan kesukaan saya terhadap dunia buku dan sastra. Di sebelah kanan ditempatkan buku pertama yang begitu menggugah saya, The Alchemist karya Paulo Coelho. Dan sebelah kiri sebuah gugahan kalimat yang pernah saya tulis di waktu senggang.
Thanks a lot Ronn for this marvellous header. I love it!
Berhenti Mengeluh
Posted in Karir, Opini
Di tempat kerja saya sekarang, saya cukup sering mendengar nama beberapa ekspatriat yang dikeluhkan oleh beberapa rekan kerja saya karena ucapan, tindakan, atau keputusannya yang dianggap merugikan atau mau menang sendiri. Tidak di pantri, meja kerja, atau sewaktu makan siang, obrolan seringkali tidak jauh dari keluhan how desperate somebody who’s being threated by his/her boss badly. Dan saya cukup yakin, potret yang tidak jauh berbeda terjadi di banyak tempat kerja yang kita geluti. Selalu ada karyawan yang merasa ditindas dan selalu ada atasan yang dinilai kejam.
Jujur saja, sebenarnya saya kurang tertarik untuk terlibat lebih jauh ke dalam jenis percakapan seperti ini. Ada setidaknya dua alasan terkait sikap saya: pertama, saya menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna—pun akan halnya seorang atasan. Yang kedua, kondisi hubungan atasan-bawahan yang dianggap sempurna itu sendiri sebenarnya bisa kita kendalikan sesuai dengan pikiran kita. Saya balikkan pertanyaannya: jika semua sudah seperti apa yang kita inginkan, di mana letak seni adaptasinya? di mana semangat perubahannya? Buat saya, sempurna itu tidak seru, tidak menantang!
Dalam perjalanan karir saya selama tujuh tahun ini, saya pernah mengecap beberapa profesi yang cukup bertolak belakang satu sama lain: purchasing officer di sebuah multi national company, purchasing supervisor di perusahaan pertambangan, guru lepas di sebuah pondok pesantren, tentor di beberapa bimbingan belajar, dan transmission engineer di perusahaan sekarang. Dari kelima ragam profesi yang digeluti, sudah pasti saya pernah berhadapan dengan kekurangan yang dimiliki oleh atasan saya—dalam sudut pandang saya sebagai bawahan. Ada atasan yang sangat perfeksionis dalam bekerja, ada yang bergaya urakan sehingga sering berteriak-teriak di kantor, ada yang mengedepankan emosi dalam berkomunikasi, ada yang belum memiliki pengalaman sama sekali, dan atasan yang terakhir bahkan tidak disukai satu kantor. Beberapa rekan kerja memprediksi saya akan mengundurkan diri kurang dari tiga bulan di perusahaan sekarang karena gaya atasan saya yang terakhir. Akan tetapi setelah dijalani, semua berjalan baik-baik saja. Saya akhirnya dipercaya untuk mengkoordinasi seluruh pekerjaan engineer lain selama berada di bawah kepemimpinannya.
Apa yang saya lakukan? Tak lebih dari sebuah kata: adaptasi. Kita harus memahami bahwa kita bekerja untuk atasan kita dan secara tidak langsung kita dituntut untuk menyesuaikan gaya kerja kita dengannya. Adalah hal yang konyol jika kita memaksakan gaya yang kita anggap benar sebagai style kerja kita. Terlebih ketika kita memaksakannya di awal kita bekerja untuknya. Ketika tidak ada kesamaan persepsi bagaimana sebuah pekerjaan dilakukan, friksi akan senantiasa timbul antara kita dan atasan kita. Cobalah untuk terlebih dahulu mengikuti gaya bekerjanya sehingga kita mengenal mana yang disukai dan mana yang dibenci olehnya. Untuk ini tidak ada alasan pertama kita mengeluh: atasan tidak mau mengerti kita.
Kalaupun ada beberapa hal terkait pekerjaan yang kita rasa lebih baik untuk dirubah, ada baiknya kita benar-benar membuktikan terlebih dahulu kita bisa perform well. Ketika kita sudah mampu untuk mencapai standar yang ditetapkan atasan, kepercayaan yang tumbuh dapat kita jadikan kekuatan untuk melakukan perubahan tersebut. Dan ketika ini sudah tercipta, kita akan semakin menikmati pekerjaan kita karena tidak hanya bisa perform dengan baik, kita juga merasa being involved. Untuk ini tidak ada alasan kedua kita mengeluh: atasan selalu mau menang sendiri.
Tanpa adaptasi dan kepercayaan, percayalah kita akan seperti berhadapan dengan tembok tak tersentuh. Kita tidak tau lewat sisi mana untuk menaikinya dan tidak punya gambaran ada apa di dalamnya. Alih-alih kita dapat menikmati pekerjaan kita, hubungan kita dengan atasan pun tidak akan terjalin secara maksimal. Walhasil keluhan tidak berkesudahan akan keluar dari mulut kita. Apa nikmatnya bekerja dalam kondisi seperti ini?
Catatan: Bukan berarti saya tidak pernah mengeluh terhadap pekerjaan, tetapi saya lebih memilih untuk menikmati setiap prosesnya. Dimarahi atau dikomplain atasan kita saya anggap sebagai adaptasi keinginannya untuk diikuti, untuk dimengerti. Follow first, prove, then change it!
Potret Buram Bulutangkis Indonesia
Posted in Opini
Minggu lalu, atlet-atlet bulutangkis Indonesia kembali gagal merengkuh gelar All England untuk tahun ke-7 berturut-turut. Mungkin semakin banyak masyarakat kita yang tidak peduli terhadap kemunduran prestasi atlet-atlet kita di berbagai cabang olahraga–bulutangkis salah satunya. Lebih senang menyimak berita sampah selebritis? atau lebih sibuk menonton drama politik di DPR? Padahal sejak tahun 1959, lagu Indonesia Raya kerap terdengar di berbagai belahan dunia karena prestasi cabang olahraga yang satu ini.
Singelar Semakin Terkapar
Bukan cerita baru jika Indonesia yang pernah melahirkan maestro bulutangkis dunia saat ini seperti kehilangan touch menciptakan bibit pemain baru. Sebutlah singelar terakhir yang menjadi juara: Heriyanto Arbi di tahun 1994. Sekarang, mari kita hitung sudah berapa lama kita tidak menjuarai tunggal putra: 16 tahun! Kita memang masih punya Taufik Hidayat yang pernah menjuarai Olimpiade dan Kejuaraan Dunia, tetapi usia yang menggerogotinya menipiskan asa untuk mengakhiri paceklik gelar. Dua kali ia melangkah ke final, dua kali pula ia terpuruk. Padahal saya masih ingat Indonesia begitu ditakuti saat memiliki limpahan singelar macam dua Rudi Hartono, Liem Swie King, Icuk Sugiarto, Joko Suprianto, Ardi Bernandus Wiranata, Hermawan Susanto sampai Alan Budi Kusuma.
Jauh lebih memprihatinkan jika kita mengulas tunggal putri. Sejak Susi Susanti pensiun dan Mia Audina pindah kewarganegaraan, praktis tidak ada pemain kita yang mampu berbicara banyak di turnamen ini. Kali terakhir kita juara saat Susi berhasil mengandaskan musuh bebuyutannya, Ye Zhaoying di tahun 1994. Setelah itu? Pemain kita megap-megap diberondong Cina yang seakan tidak pernah habis memproduksi pemain putri.
Ganda Mengelus Dada
Indonesia terkenal memiliki ganda putra yang solid baik untuk bermain menyerang dan bertahan. Sebut saja Tjun Tjun/Johan Wahjudi, Christian Hadinata/Ade Chandra, sampai pasangan peraih medali emas Olimpiade Atlanta 1996, Rexy Mainaky/Ricky Subagja. Praktis sektor ini yang paling stabil melahirkan bibit-bibit baru yang kerap memiliki prestasi internasional. Tony Gunawan, Candra Wijaya, Sigit Budiarto, Halim Heryanto adalah beberapa pemain yang beberapa kali bertukar pasangan tetapi tetap mampu meraih prestasi yang mumpuni. Prestasi terakhir dicetak Markis Kido/Hendra Setiawan yang meraih medali emas Olimpiade Beijing 2008.
Sementara itu, ganda putri setali tiga uang dengan tunggal putri. Praktis sejak Verawaty/Imelda Wigoeno menjuarai turnamen ini tahun 1979, gelar ganda putri bergantian dijuarai pasangan China dan Korea Selatan.
Lain lagi cerita di di sektor ganda campuran. Meski permainan Nova/Lilyana cukup konsisten hingga saat ini, saya melihat usia Nova yang sudah gaek akan menjadi hambatan tersendiri ketika berhadapan dengan permainan speed and power ganda-ganda China. Dan itu terbukti kala mereka dikalahkan oleh pasangan muda China, Zhang Nan/Zhao Yunlei di final All England 2010.
Perhatian Pemerintah
Kalau lah kita boleh bermimpi, pemerintah kita mencontoh program pembibitan atlet-atlet bulutangkis di China. Jangan hanya menunggu bibit-bibit unggul semacam Susi, Taufik, atau Rexy akan muncul dengan sendirinya. Akan tetapi, berikan anggaran besar untuk pengembangan cabang olahraga ini dalam jangka panjang.
Jika saja pemerintah berinisiatif menjadikan cabang olahraga ini sebagai olahraga wajib di sekolah-sekolah misalnya, bukan tidak mungkin akan lebih banyak terjaring bibit-bibit itu. Secara alamiah, anak-anak Indonesia memiliki bakat besar untuk berprestasi di kancah internasional melalui bulutangkis. Tergelitikkah kita dengan film King? ah saya lupa bahwa itu cuma sebuah film.
Implementasi tidak pernah lebih mudah dari berharap; tetapi tanpa inisiasi untuk berubah, harapan itu hanya bagai menggantang asap. Semoga pemerintah tidak terlena dengan masalah-masalah dalam negeri sehingga pengembangan olahraga paling prestisius di Indonesia ini mandeg. Saya tidak ingin melihat bulutangkis Indonesia semakin tenggelam untuk kemudian dilupakan generasi kita selanjutnya.
30 Fast Facts of Amprokan Blogger 2010
Posted in Blogging, Komunitas, Kopdar, ReportaseTidak mudah rasanya untuk mengulas event Amprokan Blogger 2010 sebagaimana yang pernah saya lakukan untuk Pesta Blogger 2009. Mungkin karena saya bertindak selaku panitia juga sehingga rangkaian acara yang disajikan sepenuhnya saya ketahui. Dan karena saya yakin banyak peserta yang sudah mengulas acara ini, saya akan menilik dari sudut pandang yang berbeda. Berikut adalah 30 fakta yang wajib diketahui tentang Amprokan Blogger 2010:
PERSIAPAN

- Pertama kali pembentukan panitia Amprokan.
18 Januari 2010… imagine how superb we are to make this massive event in less than two months
. - Susunan panitia yang terlibat hingga acara Amprokan terlaksana.
Aris Heru Utomo, Eko Eshape, Amril Taufik Gobel, Wijaya Kusumah, Yulyanto, Anggi Kusumah, Harun Al Rasyid, Komarudin Ibnu Mikam, Masim Sugianto, Raden Ajeng, Irfan ZJ, Rawi Wahyudiono, Ratu Sya, Dodi Mulyana, M. Syaifullah, Puti Karina Puar, Mira Sahid, Irma Susanti, Wisnu Dewobroto, Mila Said, Umi Kamilah, Yulef Dian Bustanudin, dan Ibnu Susilo. - Perihal terdapat dua nama acara: Amprokan Blogger dan Temu Blogger.
Di awal pemilihan nama acara, terjadi dispute untuk menggunakan kata Amprokan yang lebih membumi bekasi dengan kata Temu yang berskala nasional. Melalui diskusi intens yang dilakukan, disepakati menggunakan dua nama tersebut untuk publikasi daring. Sementara itu untuk official event menggunakan nama Amprokan Blogger yang mengedepankan kota penyelenggara acara, Bekasi. - Alasan menggunakan tanggal 6-7 Maret sebagai waktu acara.
Tanggal tersebut berada di pekan terakhir ulang tahun Kota Bekasi ke-13 pada tanggal 10 Maret 2010. - Sponsor yang mendukung acara.
Pemda Bekasi, Telkom Speedy, M2 Bekasi 88.2FM, Kompas, Dagdigdug, Sami kuring, Coklat Mentari, Prakom, Bahasa Please, XL, TOA, Dakta FM, Jengsri dan Rose Heart.
ANJANGSANA
- Tempat-tempat yang didatangi peserta.
Tugu Bina Bangsa di area GOR Bekasi, TPST Sumur Batu dan UKM Boneka di Bantar Gebang, serta Kawasan Jababeka di Cikarang. - Jumlah bis yang digunakan.
Total 5 buah bis dengan pengawalan polisi sepanjang perjalanan. - Komunitas blogger daerah yang hadir.
Bblogger Balikpapan, Be-blog Bekasi, Blogger Cikarang, Bengawan Solo, Bertuah Pekanbaru, Blogger Ngalam Malang, TPC Surabaya, Blogkar Karawang, Kojaker Jakarta, Blogger Warok Ponorogo, Blogor Bogor, deBlogger Depok, Plat M Madura, Bawor Banyumas, Angingmammiri Makassar, Blogger Pontianak, Palanta Padang, Kayubaimbai Banjarmasin, Serayu Wonosobo, Seruit Lampung, dan Wongkito Palembang. - Komunitas non-kedaerahan yang hadir.
Jogloabang Yogyakarta, UIN Jakarta, Malhikdua Surabaya, dan Kompasiana. - Ragam profesi peserta Amprokan.
Analis media, blogpreneur, editor media online, entrepeneur, forex trader, freelance, web programmer, graphic designer, guru, jurnalis, LSM, pegawai swasta, PNS, Mahasiswa/i, operator warnet, pelajar, technopreneur, web master.
SARASEHAN

- Artis yang memeriahkan acara.
Jelly Tobing (the stealer!) dan Iyeth Bustami. - Blogger senior yang menghadiri acara.
Enda Nasution, Iman Brotoseno, Paman Tyo. - Lagu-lagu yang membuat beberapa blogger maju dan berjoget di depan panggung.
Kehidupan-nya God Bless dan tentunya lagu dangdut. - Bintang midnight show yang menjadi pembicara talkshow.
Risa Amrikasari yang mengelola Rose Heart Writers bersama Jane Shalimar yang terlibat di dalamnya. Acara ini dipandu secara ciamik oleh Eko Eshape. - Penanya yang membuat Risa excited dengan kualitas pertanyaannya.
Andy MSE yang bertanya kaitan progres sebuah blog populer dengan kemungkinannya dibukukan.
SEMINAR

- Pembicara dan moderator yang tampil di acara seminar.
Seminar I mengetengahkan Budi Putra, perwakilan Menkominfo, dan Romi Satria Wahono yang dipandu oleh Amril Taufik Gobel. Sementara itu Seminar II menampilkan Nukman Luthfie dan Dwiyanto, perwakilan bupati Sragen, yang dipandu oleh Masim Vavai Sugianto. Pak Romi and Om Nukman definitely stealed the show
- Organisasi sejenis SeBUAI yang digalakkan oleh komunitas blogger lain.
Hibah Sejuta Buku yang dikembangkan oleh Bertuah Pekan Baru dan SoloSinau oleh Bengawan Solo. - Hadiah doorprize yang paling dihindari.
Payung terbang yang salah satunya diraih oleh Ramadoni dari deBlogger. Padahal ia mengaku tidak pernah beruntung mendapatkan hadiah doorprize semacam ini
- Juri yang mengumumkan pemenang lomba.
Paman Tyo dan Budi Putra untuk pengumuman Lomba Menulis dan Wisnu Dewobroto untuk Lomba Foto Aku Cinta Bekasi. - Mars Blogger yang diciptakan spontan MC seminar, Om Ipul.
Blogger tak kenal rintangan
Meski jalan penuh halangan
Kan hilang di dalam hati yang riang
Blogger tak kenal rintangan
SERBA-SERBI
- Juara-juara Lomba Menulis dan Lomba Foto Aku Cinta Bekasi.
Kahar Setyo Cahyono, Lutfi Setiyono, Ika Rahmawati (Lomba Menulis) dan Budi Winarno, Didik Harianto, Tody Maulifa (Lomba Foto). - Anggota deBlogger yang mengikuti acara.
Ferdias Ramadoni, Iman Sulaiman, Hadyan Taris Akbar, Abdul Malik Syadri, Bradley, Rachman. - Jumlah donat KDB, hadiah dari Fajar, yang saya habiskan sewaktu anjangsana.
Tiga buah yang dilahap secara membabi buta karena kelaparan
- Pasangan blogger-onliner yang menghadiri acara.
Tamacrea dan Pinkparis, Gajah Pesing dan Ajengkol. - Beberapa kejadian menarik di luar acara Amprokan yang sempat dilakukan
Car Free Day, Racing tengah malam mencari air mineral untuk peserta bareng Timi-nya Bang Komar, sama obrolan tengah malam bareng kontingen Banyumasan.
IN MY VIEWFINDER

- Pendesain kartu nama saya.
Dengan warna hijau cerah di atas kertas putih, kartu nama blogger saya didisain oleh sahabat saya, Imran Ramadhan. - Foto saya yang sempat menjadi nominasi Lomba Foto Aku Cinta Bekasi.
Dari ketiga foto yang saya kirimkan, City Light justru dikalahkan oleh dua foto yang lain: Menepi di Pantai Pakis (Juara V) dan Di Tepi Kali Bekasi (Juara VI). Ketiga potret tersebut dapat diamati di tautan ini. - Total foto yang berhasil direkam dan yang dipublikasikan.
307 total foto terekam dan terpublish 40 foto di Amprokan Blogger, Album Sudut Lain - Foto yang paling berkesan untuk saya pribadi.
Foto di atas adalah yang paling berkesan (Pradna, Cici, Ratu, Illa, Dodi). Kami adalah lima blogger yang akrab bersilaturahmi satu sama lain yang akhirnya bisa bertemu di acara ini. Saya memberinya judul 5 Blogger, 5 Kota, 5 Rasa, sementara iLLa menyebutnya Party of Five. Ratu menggambarkan definisi lima rasa sebagai berikut (dari kiri ke kanan): lebay, pendiam, berisik, bawel, dan misterius. Sementara saya menggambarkannya: linux-addicted, poem-addicted, kopdar-addicted, plurk-addicted, dan adventure-addicted. - Hal-hal yang membuat saya bete selama acara.
Provokator sok penting di rombongan terakhir anjangsana, musik yang too loud mengisi acara sarasehan, dan backsound lagu-lagu Wali sepanjang acara seminar.
Well, untuk acara kopdar blogger berskala nasional yang di-organized satu komunitas lokal seperti ini, acara ini bisa dibilang sukses. Amprokan Blogger membuka wacana baru silaturahmi antarblogger selain Pesta Blogger. Semakin banyak acara-acara silaturahmi seperti ini rasanya akan membuat dunia blogging Indonesia semakin dinamis. Long Live Blogger Indonesia!
