Spirit Muhammad

Posted in Curhat, Opini, Review

#pengakuan tahun ini adalah Ramadan terburuk saya. Saya malu.

Itu bunyi twit saya dua hari lalu, a self-assesment. Saya memang merasa terlalu banyak melewatkan tarawih, terlalu sering meninggalkan tadarus, dan terlalu mudah mengulur waktu salat tahun ini. Ini yang terburuk.

Anyway, akhir-akhir ini saya memang serasa masuk ke dalam lorong pencarian: tentang self-acknowledgement, tentang tujuan hidup, dan yang sedikit lebih berat: tentang filosofi beragama. Sebuah pertanyaan klasik: apa sebenarnya tujuan saya hidup di dunia? Oke, saya tahu jawaban populernya adalah menjadi khalifah bagi semesta. Akan tetapi, cabang pertanyaannya adalah apakah sama makna kekhalifahan bagi saya dan kamu? Saya dan tetangga saya? atau bahkan yang terdekat, saya dan saudara kandung saya? Buat saya seharusnya tidak sama. Setiap manusia diciptakan unik dan seharusnya dari keunikan ini kita menyadari di situlah posisi kekhalifahan yang dimaksud. Kita tidak mesti menjadi Obama untuk memercayai kita bisa mengubah dunia atau menjadi Madam Theresa untuk menyentuh hati terdalam manusia. Kita hanya perlu menjadi kita, the truly ourselves. Dan pertanyaan yang berkecamuk sekarang adalah sudahkah saya mengenal siapa saya sebenarnya? Ini yang masih saya cari.

Baca selengkapnya

Meet the Idol

Posted in Curhat
Apa yang biasa kamu lakukan ketika akhirnya mimpi untuk bertemu idolamu tercapai? Histeris menubruk dan memeluknya? Menceracau dengan ratusan pertanyaan? Curhat bagaimana hidupmu berubah karena idolamu? Atau semuanya?

Saya ingin berbagi sedikit cerita tentang pengalaman saya bertemu tiga idola saya. Secara pribadi, sebenarnya saya bukan orang yang terobsesi harus bertemu dan mengobrol panjang lebar dengan orang-orang yang menginspirasi saya. Akan tetapi, kalau kesempatan itu datang, kenapa tidak?

Kuncoro Wastuwibowo
idola1Salah satu blogger berpengaruh Indonesia yang tampak sangat hidup di tulisan-tulisannya, but similar with other geeks, berpenampilan kalem-kalem saja di dunia nyata. Catatan-catatan beliau di blog pribadinya menjadi konsumsi wajib sejak tahun 2002 saat saya membutuhkan referensi layer-layer jaringan telekomunikasi. Uraian yang jelas dan tidak bertele-tele menjadikan saya dengan senang hati mem-bookmark blognya sejak saat itu.

Setelah 6 tahun mengikuti perkembangan blognya, kesempatan untuk mengobrol dengannya terjadi saat itu mas Kun berkantor di salah satu BUMN di kawasan medan merdeka pada tahun 2008. Awal berpapasan dengannya di lobi gedung saat itu tidak ada yang dapat saya lakukan, tiba-tiba mulut saya terasa terkunci. Begitupun di waktu-waktu berikutnya ketika tak sengaja bertemu di ruang tunggu lift atau di lobi. I just couldn’t say any words.

Kesempatan berikutnya datang saat Pesta Blogger 2009 yang heboh itu. Di sela-sela mengikuti acara, saya melihat wajah seorang perempuan yang nampak familiar akibat aktivitas blogwalking saya, Enggar, yang ternyata ada mas Kun di sampingnya. Mereka berdua nampak sangat asyik berdiskusi. Hingga saat pesta usai dan foto bareng deBlogger di karpet merah terekam, saya bertemu dengan Enggar di masjid. Karena keakraban yang baru terbina dalam aktivitas blogwalking lah akhirnya saya berani untuk menegurnya. Dan untungnya saat itu ia mengenali saya. Tidak lama berbincang dengan perempuan cerdas ini, kembali ada mas Kun di sana (don’t ask me why). Seperti kejadian-kejadian sebelumnya, saya tetap speechless untuk berkenalan dan memilih untuk mengambil wudhu saat itu (doh) .

Adhitia Sofyan
Adhitia Sofyan and me
Saya menyukai karya sosok indie singer satu ini sejak mendengar single pertamanya, Adelaide Sky mengisi musik film Kambing Jantan: The Movie. Setelah mendownload satu album Quite Down gratis dari blognya, saya berpendapat Adhitia Sofyan memiliki potensi menjadi salah satu alternatif penyanyi asyik di antara serbuan band menye-menye di dunia musik Indonesia. Musik Adhitia sederhana, didominasi gitar akustik, tetapi ada taste internasional. Jadilah saat Adelaide Sky menjadi hits di Indonesia, saya berharap bisa berkenalan dengan beliau.

Pertemuan saya dengannya terjadi saat deBlogger melaunching komunitasnya tanggal 31 mei 2009. Kami meminta beliau perform di acara ini yang ternyata sukses mendapat apresiasi penonton. Adhitia sendiri datang satu jam sebelumnya dengan wardrobe sederhana seperti tampak di beberapa rekaman Youtube-nya. Pengalaman bertemu salah satu musisi idola saya ini memperbaiki catatan sebelumnya karena saya beberapa kali dapat memulai percakapan dengannya. Meski setelah satu jam berlalu, penggal-penggal obrolan masih terasa kurang greget. Nampak Adhitia pun bukan pribadi yang easy to get in touch dengan orang yang baru dikenalnya, jadi sebuah pertemuan yang tetap berkesan bagi saya (worship) .

Bayu Gawtama
Me and Bayu Gawtama
Aktivis sosial satu ini saya kenal sejak saya pertama kali mengenal dunia blog di tahun 2003. Waktu itu, saya bahkan sempat mem-bookmark akun blogspot-nya untuk membaca pengalaman hidupnya. Tulisan-tulisannya sederhana namun berenergi: tentang bagaimana ia sangat mencintai ibunya, tentang bagaimana pengalamannya di kereta api dan puluhan tulisan lainnya yang masih tersimpan rapi di akun blognya. Selain di blogspot, saya juga mengikuti tulisan-tulisan bang Gaw, panggilan akrabnya, di rubrik Oase Iman, Eramuslim. Ketika akhirnya tiba-tiba dirinya berhenti ngeblog sejak 18 November 2008 tanpa alasan yang jelas, saya benar-benar merasa kehilangan.

Pertemuan saya dengan bang Gaw akhirnya terlaksana sabtu lalu di kediamannya di Taman Melati, Sawangan sebagai salah satu agenda miladeBlogger. Kunjungan ini bertujuan untuk mendapat berbagai sudut pandang pembangunan kota Depok dari kaca mata tokoh-tokohnya. Saya yang biasanya sangat canggung untuk mengobrol dengan idola saya terbantu dengan teman-teman yang mendampingi: Syarif Furqon, Istiana Sari, dan Aksa Bass. Pribadi bang Gaw yang mudah akrab dengan orang lain pun menjadikan wawancara berubah menjadi obrolan penuh keakraban. Ia lancar menceritakan pengalaman bekerjanya di Eramuslim sampai menjadi Programme Director di sebuah lembaga sosial, Aksi Cepat Tanggap. Tanggapannya tentang kota Depok sendiri masih mempertanyakan mau dibawa ke mana kota ini ke depannya. Sayang waktu yang tersedia hanya dua jam padahal banyak pencerahan yang kami dapatkan dari pengalaman hidupnya sejauh ini. Tapi saya yakin, kami akan bertemu lagi.

Masih ada beberapa tokoh lain yang menginspirasi kehidupan saya. Salah satunya adalah penggagas CareerCoach, Rene Suhardono, yang tiba-tiba menjadi salah satu orang terpenting dalam perjalanan karir saya. Apa dan bagaimana dengan Rene, tunggu di postingan berikutnya.

Bagaimana pengalamanmu bertemu idolamu?

Menuntaskan Petualangan Yang Tertunda

Posted in Curhat, Petualangan
DhodieDua puluh tahun yang lalu, saya bersama teman-teman sekampung pernah memiliki tempat-tempat bermain yang begitu mengesankan di bilangan perkampungan Bekasi. Sawah-sawah yang mengelilingi kampung kami biasa dijadikan tempat memancing ikan, nguseup, atau membuat rumah-rumahan berbahan jerami ketika musim panen tiba. Sedangkan kali yang menyisir sisi kampung kami jadikan tempat mandi setelah lelah bermain di sore hari. Di kali ini pula, pertama kalinya saya belajar berenang. Sebagai perenang pemula, teman-teman memaksa saya memakan udang hidup-hidup agar bisa langsung berenang. Alasannya jelas bahwa udang malang itu akan menggerakkan otot-otot saya dari dalam tubuh (doh) . Terlepas dari alasan absurd itu, pada kenyataannya saya tidak langsung tenggelam ketika pertama kali mencebur ke kali. Saya hanya menggerak-gerakkan tubuh saya mengikuti gaya berenang yang sering saya lihat di TV, dan ternyata berhasil. Coincidence? You bet! (LOL)


Di antara banyak rekam perjalanan di masa kecil saya, ada satu keinginan yang terbersit sewaktu masih duduk di bangku SD, yaitu petualangan keluar dari wilayah kampung. Saya dan teman-teman memang biasa mencari ikan di kalenan, mencuri pisang di kebon orang, atau memancing belut di pematang, akan tetapi tempatnya selalu berada di desa kami. Kami ingin lebih!


Sebagaimana layaknya jagoan masa lampau, kami pun berembug untuk menentukan petualangan terakbar versi kami: Mencapai Laut Bekasi. Dengan menggunakan peta Bekasi yang tergantung di kelas, kami pun memeragakan layaknya Harun menunjuk Lenggang di film Laskar Pelangi. Tentu saja kami begitu bersemangat melihat kampung kami berjarak tak lebih dari beberapa jengkal ke Muara Gembong (laut Bekasi). Berbekal keyakinan ini, kami berenam merencanakan untuk menggunakan 4 sepeda ke sana. Alasannya kalau ada yang capek, bisa bergantian membonceng.


Petualangan 1990
Pada hari yang ditentukan, kami memulai perjalanan pada pukul 9 pagi menggunakan dua patokan jalan: mengikuti jalur angkot 9B sampai di pangkalan dan mengikuti aliran sungai setelahnya. Petuah legendaris yang kami pakai jelas lagu keroncong yang sangat melegenda itu:

air mengalir sampai jauh, akhirnya ke laut…

Dengan mengikuti aliran sungai, lama-lama akan sampai ke laut juga kan (?)


Sebagaimana cerita di setiap awal perjalanan yang selalu menyenangkan, kami pun sering becanda di samping jalan sambil ber-haha hihi mengejek teman kami yang tertinggal jauh di belakang. Kami memasuki perkampungan, melintasi pekuburan cina, sampai mengikuti aliran sungai yang semakin lama semakin membesar dengan penuh suka cita. Sampai akhirnya kami menyadari bahwa jalan yang kami tempuh tidak ada habisnya padahal kaki-kaki kami mulai lelah mengayuh. Di beberapa titik pemberhentian, beberapa teman mulai mengeluh kecapean dan merengek pulang, tetapi pada akhirnya kami tetap melanjutkan perjalanan. Ketika akhirnya kami sampai di pangkalan 9B, kami sangat berharap bisa mencium bau pantai di sana. Meski kenyataannya kami tetap mencium bau khas lumpur-lumpur sawah sementara kaki sudah mulai kram. Sampai matahari terbenam, kami semakin tidak percaya diri untuk dapat sampai di pantai sebelum malam. Di sebuah pematang sawah, kami menghibur diri menghalusinasikan pandangan bahwa di kejauhan sudah terlihat deretan kapal laut. Tepat setelah senyum kami memudar, kami balik kanan.


Jika perjalanan pulang selalu terasa lebih dekat dibanding perginya, kami pun merasakan hal yang sama. Meski kaki-kaki kami sedemikian lelahnya, kami memaksakan mengayuh pedal lebih cepat lagi karena kecemasan kami pulang terlambat. Ancamannya jelas bahwa kami akan dihukum berat. Ketika akhirnya rombongan sampai di depan kampung, kami sangat terkejut mengetahui ibu-ibu kami berdiri dengan gagahnya di bawah gapura kampung. Seakan-akan mereka ingin menerkam anaknya sendiri. Dan sememangnya, petualangan hari itu pun diakhiri dengan omelan ibu-ibu kami sepanjang malam. Selentingan yang beredar sampai seminggu kemudian adalah:

“Awas kamu ya main lagi sama Dodi!” ucap Ibu #1
“Dodi itu si biang kerok” fitnah Ibu #2
dst..

Sudahlah laut tak dicapai, tubuh kami capai, omelan ibu-ibu itu terasa sangat lebay.


Petualangan 2010
Kegagalan mencapai laut Bekasi memang tidak menjadi mimpi buruk, meski mencoreng daftar kesuksesan petualangan masa kecil saya. Atas alasan ini pula lah saya memutuskan untuk menuntaskan petualangan yang tertunda itu minggu kemarin. Bersama teman saya, kami berangkat dari Bekasi Cyber Park jam 14.00 menggunakan motor. Waktu tersebut kami pilih untuk mendapatkan timing sunset yang pas di pantainya. Awalnya, saya berinisiatif untuk membeli peta Bekasi tetapi tidak tersedia di toko buku terdekat, sehingga kami pun menggunakan patokan perjalanan yang sama di masa lalu: mengekor 9B dan mendempet aliran sungai.


Dikarenakan mengendarai motor 160cc, perjalanan ke pangkalan 9B tidak sulit untuk dicapai. Tantangan dimulai selepasnya karena banyaknya jalan bercabang sehingga kami pun mesti sering bertanya-tanya kepada penduduk sekitar. Pertanyaannya selalu sama: “Kalo mau ke laut, lewat mana ya?” Dan layaknya orang desa, mereka akan dengan senang hati membantu kami. Jalanan mulai mengalami kerusakan di sana-sini ketika kami memasuki kecamatan terakhir sebelum Muara Gembong. Di sini kami pun semakin bersemangat karena lebar sungai yang semakin membesar menunjukkan laut sudah tidak jauh lagi.


Muara Gembong

Ketika akhirnya kami sampai di tugu perbatasan Muara Gembong, dengan semangat 45 kami melajukan motor tanpa bertanya-tanya ke arah pantai mana yang hendak dituju? Kenyataannya satu jam sesudahnya, kami mendapati jalanan dan sungai di samping kami semakin menyempit (doh) . Bukankah sungai seharusnya semakin membesar ketika hendak mencapai laut? Menyadari bahwa kami sudah tersesat, kami bertanya ke penduduk tentang pantai di depan kami. Dan penduduk pun memberitahu bahwa pantai tersebut tidak ada bagus-bagusnya, hanya dibuat dam saja. Balik kanan karena matahari pun semakin terancam tenggelam, kami langsung melesat menuju Pantai Pakis yang diketahui satu-satunya wisata terdekat di situ. Dengan menyeberangi sungai dan melintasi beberapa sawah dan tambak, akhirnya kami sampai juga di bibir pantainya tepat ketika azan maghrib berkumandang.


Meski sebenarnya pemandangan pantai ini biasa-biasa saja, tetap saja nilai historis perjalanannya jauh lebih mengesankan saya. Sebuah perasaan luar biasa karena petualangan masa kecil yang tertunda dua puluh tahun itu akhirnya bisa ditaklukkan. I reach that shore!
Pakis









































Setahun Bersama Plurk

Posted in Curhat, Komunitas
PlurkDalam perjalanan saia di dunia online sejauh ini, Plurk menempati posisi yang istimewa dibandingkan social network lainnya. Plurk memberikan ruang yang sama kepada tiap-tiap orang berinteraksi sehingga kita merasa dihargai keberadaannya. Dan dibandingkan dengan Twitter yang cenderung dingin atau Facebook yang terlalu kaya fitur, tawaran kesederhanaan Plurk ditambah emoticon khas Plurk menjadikannya social network yang cukup setia dinikmati kalangan onliner.

Masa Pendekatan
Membuat akun Plurk pada tanggal 21 November ’08, lingkaran awal saia berkisar teman-teman kerja di Surabaya, Makasar, dan Banjarmasin. Merasa bahwa lingkarannya terlalu terbatas, di bulan Desember saia memutuskan untuk membuka keran komunikasi dengan semua plurker yang sudah eksis. It feels wow! Ternyata menjalin silaturahmi di dunia online tidak kalah hangat dengan di offline. Berkat plurk, saia bisa berkenalan dengan blogger-onliner yang memanfaatkan Plurk sebagai media promosi atau personal branding mereka.

Masa Bulan Madu
Saia menyebutnya masa bulan madu karena di masa-masa ini saia begitu menikmati menit-menit kegiatan ngeplurk saia. Yang paling menyenangkan tentu saja kopi darat (kopdar). Episode Plangi, Burger and Grill Depok, Warung Desa, Bumbu Desa, Pasar Festival, Pejaten Village, Lapangan Tembak Senayan, Bogor, Bandung, dan yang terakhir di Mbah Jingkrak, Blok M merupakan rangkaian kopi darat yang pernah saia ikuti.

Tak ada yang lebih menyenangkan dibandingkan kopdar, bisa mengenal penampakan plurker dan mencoba mencari chemistry komunikasi yang telah terbangun di dunia online merupakan sesuatu yang selalu membuat saia semangat, somehow.
Kopdar plurker pertama di Plangi.. Gak kenal tapi tetap sayang :-PKopdar Pasar Festival... oh i remembered, it's my birthday party hehe
Kopdar Bandung... Once I'd no destination to go there :-DKopdar Mbah Jingkrak.. Buka Puasa Bersama :-D






















































































































Di masa ini pula, akhirnya saia bisa jalan-jalan ke Dieng bareng Amri, Novi, Aris, dan Kristian. Satu perjalanan yang sangat berkesan yang akan diikuti oleh perjalanan-perjalanan di tempat lainnya.

Masa Rehabilitasi

No plurk is a good plurk–blogger
Plurk itu tempat sampah–blogger

Sepanjang waktu, saia mencoba untuk mematahkan opini ini. Memang tidak ada yang bisa melarang sebuah opini, tetapi saia cukup yakin there’s something good in Plurk. Selain persahabatan, saia mempunyai beberapa teman plurker yang sangat informatif thread-nya. Entah itu informasi berita, postingan blog, atau pun kondisi faktual di tempatnya masing-masing.

Akan tetapi akhir-akhir ini, saia pribadi merasa memang ada benarnya dengan pendapat pertama di atas. Terlalu banyak informasi insignificant yang diberikan di Plurk—demi karma, yang pada akhirnya membuat saia lelah. Jangankan untuk plurkwalking, untuk membacanya saja kadang butuh energi yang tidak sedikit.

Yeah… maybe I’ve reached the saturation point right now.

Tips Ngeplurk
Anyway, saia beruntung bisa menikmati kegiatan ngeplurk sejauh ini. Terbukti sampai sekarang untuk ukuran lokasi di Depok, saia menempati peringkat pertama profile views-nya (siap dipentung):

How to enjoy your plurking? Here’s my tips:
Jangan alay!
Once alay detected, bersiaplah anda untuk diremove as friend atau yang paling beruntung timeline anda tidak akan diikuti. I still don’t understand why they enjoy alayisme. I still don’t!
Rajin plurkwalking
Terutama untuk plurker-plurker baru yang ingin menikmati thread-nya dikomentari orang lain, jangan mojok di thread sendiri. Gak ada asyiknya ngeplurk hanya untuk diri sendiri.
Balas respons
Saia termasuk plurker yang berprinsip untuk menjawab semua respons yang masuk se-insignificant apapun responsnya. Buat saia mereka wajib dihormati, terlepas dari kenal atau tidaknya saia terhadap mereka.
Add and approve friend
Jangan ragu untuk membuka keran komunikasi anda terhadap plurker-plurker baru. Tak ada yang lebih menyenangkan dibanding mendapatkan teman baru di dunia online ini.
Jangan terlalu banyak buat thread
Kalau bukan thread informasi, thread-thread semacam ini menunjukkan ketidakkonsistenan emosi anda.
Kopi darat
Ini yang paling menyenangkan. Anda tidak ingin hanya dikira plurker tanpa raga kan? Tidak ingin thread anda disebut thread hoax kan? Maka kopdar lah. Sepanjang ingatan saia, kopdar plurker biasanya lebih ramai dan rileks dibanding kopdar lainnya. Dan mereka punya kode-kode sendiri seperti: worship, lmao, doh untuk emoticon ini: (worship) , (lmao) , (doh) yang tentunya hanya eksis di dunia plurking.

So do you enjoy your plurking, plurkind?

Keterangan gambar:
(1) Kopdar plurker pertama saia di Plangi – Sheed (2) Kopdar Ultah saia di Pasar Festival – Riky (3) Kopdar Bandung – Wenny (4) Kopdar Bukber Mbah Jingkrak – eskopidantipi

Sebungkus Nasi Uduk dan Segelas Cappucino

Posted in Curhat, Kuliner
Dalam hidup saya, ada banyak nikmat Tuhan yang selalu saya anggap sebagai kompensasi-Nya atas kondisi keluarga saya yang tidak-kaya-namun-sangat-saya-banggakan itu. Dan di antara nikmat-Nya, saya paling suka nikmat yang menyangkut perut. Tidak ada yang lebih ajaib dibanding ketika memakan duren atau menikmati jamur. Akan tetapi, tadi pagi saya menyadari bahwa saya sangat merindukan makanan-minuman yang saya konsumsi di setiap hari kerja: Nasi Uduk dan Cappucino. Dan saya tersadar bahwa mereka seistimewa duren dan jamur, meski dalam konteks yang berbeda.


Nasi Uduk Yahud

aromanya, legitnya, bihunnya, sambelnya…

Nasi Uduk

Di antara makanan jenis nasi-nasian yang biasa saya santap, tidak ada yang bisa mengalahkan keistimewaan nasi uduk. Tanpa perlu menambahkan lauk-pauk di atasnya, saya pasti melahapnya dengan kejam.


Cukup nasi uduk yang masih mengepul, ditaburi bawang goreng kecoklatan, disiram dengan kuah kehitaman, ditambah kentang dan bihun sebagai pengganti laukan, dan tentu yang terpenting diakhiri sambel kacang yang pedas. Ah… rasanya saya tidak akan pernah bosan untuk melahapnya tiap pagi (mmm) .


Cappucino Panas

Secangkir Cappucino

Awal Mei lalu, saya berkenalan dengan kopi sachet Torabika Cappucino ketika kantor pindah gedung dari Thamrin ke Sudirman. Biasanya untuk kopi kemasan, saya akan memilih Indocafe Coffemix atau Nescafe. Akan tetapi, kemasan chocolate granule yang dibuat terpisah dalam kemasan Torabika membuat saya tertarik untuk membelinya. Dan setelah mencobanya sesaat setelah makan siang, WOW.. Saya suka!… hmm lebih tepatnya I love it. Rasanya pas dengan lidah saya. As you who may know me, I’m a cappucinoholic.


Pagi ini saya hanya ingin mengucapkan matur nuwun udah menemani hari-hari saya kepada keduanya.


Trivia: apakah saya perlu mensyaratkan calon istri saya harus bisa membuat nasi uduk yang rasanya menyaingi nasi uduk khas Gondangdia itu? (okok)

Sumber gambar (1), (2)

Surat Terbuka Bahwa Aku Patah Hati

Posted in Curhat, puisi

Aku tak ingat kapan pertama kali aku merasa kamu adalah pilihan hatiku. Entah saat aku dan ayah bertamu ke hunian paman di Matraman, yang aku meronta keras memaksa ayah untuk pulang bersamamu; Atau saat aku dan kakakku mudik dari Bekasi, yang aku bersikeras pergi bersamamu sementara ia memaksa memilih Prima. Hanya alasanku bersamamu, adalah satu dari sekian momen-momen ternyamanku.


Tetapi aku ingat beberapa momen ajaib bersamamu. Saat aku memaksa masuk tapi kamu hanya mampu mencengkeram sebelah kakiku padahal saat itu efek diare sudah melemahkanku–yang hampir membuatku pulang tinggal nama. Atau saat aku menjadi pengagum rahasia perempuan yang setiap hari berdiri dalam radius satu meter tetapi tidak ada satu kata pun yang mampu mencairkan percakapan bisu kami. Tahukah kamu sesuatu, selang beberapa hari setelah aku didera sakit, ia pun tiba-tiba puff… hilang tak berbekas dari pandanganku. Meski aku yakin, dari tatapan kami, rasa kehilangan itu tidak kutanggung sendiri.


Aku pun tak mengerti mengapa aku selalu membelamu ketika mereka menghujat karena alasan ketidakmanusiaanmu. Aku hanya merasa mereka belum sepenuhnya mengenalmu, tentang sensasi kebersamaan yang kamu tawarkan, kesederhanaan yang kamu berikan, dan hikmah keikhlasan yang kamu ajarkan. Jika saja mereka bertahan sedikiiit lebih lama, aku yakin mereka akan berbalik mencintaimu.


Tetapi hari ini aku benar-benar tak mengerti bagaimana cara memaafkan kesalahanmu. Lebih dari lima pemberangkatan bulan ini kedatanganmu dibatalkan, lebih-lebih tak ada ucapan penyesalan secuilpun dari orang-orang yang mengatur jadwalmu. Tahukah kamu sesuatu, subuh tadi aku sengaja terjaga agar tidak melewatkan kedatanganmu, pagi tadi aku berangkat lebih awal agar tidak kehilangan informasi jadwalmu, dan tadi ongkosku pun tak cukup untuk diberikan ke pengendara motor yang mengantarku.


Maaf jika kesetiaan ini pun luruh dengan rekam keterlambatan yang mencorengku
Ikhlaskan jika besok aku akan memilih temanmu yang lebih baru untuk keberangkatanku

Imajimu masih tersimpan rapi di sini