Ketika membaca postingan teman-teman blogger tentang keprihatinan memudarnya nilai-nilai jati diri Indonesia sebagai sebuah bangsa, tiba-tiba saya dibekap rasa cemburu yang sangat. Saya iri bagaimana
Pak Sawali,
Mba Ajeng,
Mas Itempoeti, dan blogger-blogger lain berusaha `think something` menyumbangkan ide dan pemikiran sesuai dengan bidang yang mereka geluti. Sampai di satu momen, saya berjanji dalam hati bahwa saya pun ingin menyumbang satu tulisan sebagai bentuk keprihatinan bersama.
Mengembalikan Jati Diri Bangsa

Meski saya belum tertarik mengikuti secara langsung
kontes SEO-nya, saya mensupport spirit yang digemakan oleh kontes ini di tengah carut-marutnya kehidupan kita sebagai bangsa yang pernah dianggap `akan berkembang besar`. Dan menemukan
deBlogger sebagai wadah saya dan teman-teman blogger Depok untuk `do something`, saya berpikir inilah yang bisa kami tawarkan:
membumikan kembali semangat berbagi masyarakat Indonesia. Dan sebagai langkah awal, 19 anggota
deBlogger mengadakan bakti sosial di Panti Wreda
Yayasan Usaha Mulia yang berlokasi di Jl. Rapi no.20, Pondok Petir, Sawangan Depok pada tanggal 5 September. Rangkaian kegiatan ini dikoordinasi oleh
Mirma Yudha Firdausi.
Berbagi Cinta di Panti Wreda

Panti yang mengurusi 18 kakek dan nenek ini terletak cukup jauh dari pusat kota
Depok. Pengurus panti yang telah kami informasikan kedatangan kami di sore hari menempatkan kakek-nenek tersebut di aula panti. Di awal acara, mereka seperti terpana melihat keramaian yang kami hadirkan di sana. Kegugupan mereka pun mulai mencair ketika Mas Eka bersama Nira melantunkan salah satu lagu populer
Ebiet G.Ade,
Titip Rindu Buat Ayah. Lagu yang masih menjadi favorit saya untuk mendermakan sujud hormat kepada ayah saya (selain
Kenangan Bersama Ayah-nya
Suara Persaudaraan).
Memasuki lagu-lagu lawas seperti
Sepanjang Jalan Kenangan atau
Sepasang Mata Bola beberapa kakek dan nenek mulai menunjukkan ingatan mereka terhadap lagu-lagu itu. Bahkan
Oma Lastri yang berusia lebih dari 80 tahun dengan fasih dan merdunya menyanyikan lagu
Jembatan Merah. Sungguh mengharukan ketika saya bertanya dalam hati kapan terakhir mereka bisa bernyanyi dan menari bersama sebebas ini.
Jika kawan bertanya-tanya adakah hal-hal tak terduga yang dilakukan oleh mereka, jawabannya tentu ada. Ada
Opa Jenggot dan
Oma Lastri yang mengaku musuh bebuyutan tapi duduk berdempetan dan terlihat tak terpisahkan (denial

),
Oma Amoy yang di awal hanya merengut tapi tiba-tiba menceracau dan bernyanyi dalam bahasa Cina, atau
seorang Opa yang tiba-tiba mengajak seluruh anggota
deBlogger menyanyikan lagu
Rayuan Pulau Kelapa meski acara sudah ditutup. Ah mereka masih hebat-hebat, kawan!
Setelah acara kunjungan selesai, seluruh anggota
deBlogger pun beriringan pulang menuju markasnya di
KedaiQu. Di sini kami pun bertemu dengan beberapa
deBlogger lain untuk mengadakan acara buka puasa bersama.
Kebersamaan ala deBlogger
Mencermati bahwa
deBlogger memiliki seorang anggota yang terbiasa untuk mendokumentasikan acara pernikahan,
Ramadoni, kami pun mendaulatnya untuk membingkai seluruh frame acara ke dalam format video. Mengusung semangat kebersamaan sebagai sebuah
keluarga besar, video berukuran 27MB ini pun digunakan dalam postingan
seluruh anggota deBlogger dengan tajuk
deBlogger Berbagi di Bulan Suci secara serentak pada hari
Selasa, 8 September jam 22.00:
Bagaimana kawan, tertarik untuk ikut berbagi bersama opa dan oma di tempat lain? Atau berbagi sembako untuk tukang becak di pinggiran Jalan Nusantara? Atau membantu anak usia sekolah yang berprestasi namun tidak mampu untuk membiayai sekolahnya? Jangan ragu untuk bergabung bersama kami, Keluarga Besar Blogger Depok.