Spirit Muhammad

Posted in Curhat, Opini, Review

#pengakuan tahun ini adalah Ramadan terburuk saya. Saya malu.

Itu bunyi twit saya dua hari lalu, a self-assesment. Saya memang merasa terlalu banyak melewatkan tarawih, terlalu sering meninggalkan tadarus, dan terlalu mudah mengulur waktu salat tahun ini. Ini yang terburuk.

Anyway, akhir-akhir ini saya memang serasa masuk ke dalam lorong pencarian: tentang self-acknowledgement, tentang tujuan hidup, dan yang sedikit lebih berat: tentang filosofi beragama. Sebuah pertanyaan klasik: apa sebenarnya tujuan saya hidup di dunia? Oke, saya tahu jawaban populernya adalah menjadi khalifah bagi semesta. Akan tetapi, cabang pertanyaannya adalah apakah sama makna kekhalifahan bagi saya dan kamu? Saya dan tetangga saya? atau bahkan yang terdekat, saya dan saudara kandung saya? Buat saya seharusnya tidak sama. Setiap manusia diciptakan unik dan seharusnya dari keunikan ini kita menyadari di situlah posisi kekhalifahan yang dimaksud. Kita tidak mesti menjadi Obama untuk memercayai kita bisa mengubah dunia atau menjadi Madam Theresa untuk menyentuh hati terdalam manusia. Kita hanya perlu menjadi kita, the truly ourselves. Dan pertanyaan yang berkecamuk sekarang adalah sudahkah saya mengenal siapa saya sebenarnya? Ini yang masih saya cari.

Baca selengkapnya

Stasiun Bumi Indosat

Posted in Opini, Photoblog
Menolak Privatisasi
Pagi ini, tiba-tiba teman semasa kuliah saya men-tag sebuah foto saat kami melakukan kegiatan kampus, studi ekskursi (studek) ke Stasiun Bumi Indosat di Jatiluhur tahun 2003. Kunjungan yang cukup mencerahkan mencermati bagaimana salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia ini menyediakan layanannya. Saya masih ingat saat tiba-tiba sebuah satelit parabola sebesar rumah bergerak sangat cepat untuk menangkap sinyal satelit. Simply amazing. Baca selengkapnya

Berhenti Mengeluh

Posted in Karir, Opini
TrustDi tempat kerja saya sekarang, saya cukup sering mendengar nama beberapa ekspatriat yang dikeluhkan oleh beberapa rekan kerja saya karena ucapan, tindakan, atau keputusannya yang dianggap merugikan atau mau menang sendiri. Tidak di pantri, meja kerja, atau sewaktu makan siang, obrolan seringkali tidak jauh dari keluhan how desperate somebody who’s being threated by his/her boss badly. Dan saya cukup yakin, potret yang tidak jauh berbeda terjadi di banyak tempat kerja yang kita geluti. Selalu ada karyawan yang merasa ditindas dan selalu ada atasan yang dinilai kejam.

Jujur saja, sebenarnya saya kurang tertarik untuk terlibat lebih jauh ke dalam jenis percakapan seperti ini. Ada setidaknya dua alasan terkait sikap saya: pertama, saya menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna—pun akan halnya seorang atasan. Yang kedua, kondisi hubungan atasan-bawahan yang dianggap sempurna itu sendiri sebenarnya bisa kita kendalikan sesuai dengan pikiran kita. Saya balikkan pertanyaannya: jika semua sudah seperti apa yang kita inginkan, di mana letak seni adaptasinya? di mana semangat perubahannya? Buat saya, sempurna itu tidak seru, tidak menantang!

Dalam perjalanan karir saya selama tujuh tahun ini, saya pernah mengecap beberapa profesi yang cukup bertolak belakang satu sama lain: purchasing officer di sebuah multi national company, purchasing supervisor di perusahaan pertambangan, guru lepas di sebuah pondok pesantren, tentor di beberapa bimbingan belajar, dan transmission engineer di perusahaan sekarang. Dari kelima ragam profesi yang digeluti, sudah pasti saya pernah berhadapan dengan kekurangan yang dimiliki oleh atasan saya—dalam sudut pandang saya sebagai bawahan. Ada atasan yang sangat perfeksionis dalam bekerja, ada yang bergaya urakan sehingga sering berteriak-teriak di kantor, ada yang mengedepankan emosi dalam berkomunikasi, ada yang belum memiliki pengalaman sama sekali, dan atasan yang terakhir bahkan tidak disukai satu kantor. Beberapa rekan kerja memprediksi saya akan mengundurkan diri kurang dari tiga bulan di perusahaan sekarang karena gaya atasan saya yang terakhir. Akan tetapi setelah dijalani, semua berjalan baik-baik saja. Saya akhirnya dipercaya untuk mengkoordinasi seluruh pekerjaan engineer lain selama berada di bawah kepemimpinannya.

Apa yang saya lakukan? Tak lebih dari sebuah kata: adaptasi. Kita harus memahami bahwa kita bekerja untuk atasan kita dan secara tidak langsung kita dituntut untuk menyesuaikan gaya kerja kita dengannya. Adalah hal yang konyol jika kita memaksakan gaya yang kita anggap benar sebagai style kerja kita. Terlebih ketika kita memaksakannya di awal kita bekerja untuknya. Ketika tidak ada kesamaan persepsi bagaimana sebuah pekerjaan dilakukan, friksi akan senantiasa timbul antara kita dan atasan kita. Cobalah untuk terlebih dahulu mengikuti gaya bekerjanya sehingga kita mengenal mana yang disukai dan mana yang dibenci olehnya. Untuk ini tidak ada alasan pertama kita mengeluh: atasan tidak mau mengerti kita.

Kalaupun ada beberapa hal terkait pekerjaan yang kita rasa lebih baik untuk dirubah, ada baiknya kita benar-benar membuktikan terlebih dahulu kita bisa perform well. Ketika kita sudah mampu untuk mencapai standar yang ditetapkan atasan, kepercayaan yang tumbuh dapat kita jadikan kekuatan untuk melakukan perubahan tersebut. Dan ketika ini sudah tercipta, kita akan semakin menikmati pekerjaan kita karena tidak hanya bisa perform dengan baik, kita juga merasa being involved. Untuk ini tidak ada alasan kedua kita mengeluh: atasan selalu mau menang sendiri.

Tanpa adaptasi dan kepercayaan, percayalah kita akan seperti berhadapan dengan tembok tak tersentuh. Kita tidak tau lewat sisi mana untuk menaikinya dan tidak punya gambaran ada apa di dalamnya. Alih-alih kita dapat menikmati pekerjaan kita, hubungan kita dengan atasan pun tidak akan terjalin secara maksimal. Walhasil keluhan tidak berkesudahan akan keluar dari mulut kita. Apa nikmatnya bekerja dalam kondisi seperti ini?

Catatan: Bukan berarti saya tidak pernah mengeluh terhadap pekerjaan, tetapi saya lebih memilih untuk menikmati setiap prosesnya. Dimarahi atau dikomplain atasan kita saya anggap sebagai adaptasi keinginannya untuk diikuti, untuk dimengerti. Follow first, prove, then change it!

Potret Buram Bulutangkis Indonesia

Posted in Opini

Minggu lalu, atlet-atlet bulutangkis Indonesia kembali gagal merengkuh gelar All England untuk tahun ke-7 berturut-turut. Mungkin semakin banyak masyarakat kita yang tidak peduli terhadap kemunduran prestasi atlet-atlet kita di berbagai cabang olahraga–bulutangkis salah satunya. Lebih senang menyimak berita sampah selebritis? atau lebih sibuk menonton drama politik di DPR? Padahal sejak tahun 1959, lagu Indonesia Raya kerap terdengar di berbagai belahan dunia karena prestasi cabang olahraga yang satu ini.

Singelar Semakin Terkapar
Bukan cerita baru jika Indonesia yang pernah melahirkan maestro bulutangkis dunia saat ini seperti kehilangan touch menciptakan bibit pemain baru. Sebutlah singelar terakhir yang menjadi juara: Heriyanto Arbi di tahun 1994. Sekarang, mari kita hitung sudah berapa lama kita tidak menjuarai tunggal putra: 16 tahun! Kita memang masih punya Taufik Hidayat yang pernah menjuarai Olimpiade dan Kejuaraan Dunia, tetapi usia yang menggerogotinya menipiskan asa untuk mengakhiri paceklik gelar. Dua kali ia melangkah ke final, dua kali pula ia terpuruk. Padahal saya masih ingat Indonesia begitu ditakuti saat memiliki limpahan singelar macam dua Rudi Hartono, Liem Swie King, Icuk Sugiarto, Joko Suprianto, Ardi Bernandus Wiranata, Hermawan Susanto sampai Alan Budi Kusuma.

Jauh lebih memprihatinkan jika kita mengulas tunggal putri. Sejak Susi Susanti pensiun dan Mia Audina pindah kewarganegaraan, praktis tidak ada pemain kita yang mampu berbicara banyak di turnamen ini. Kali terakhir kita juara saat Susi berhasil mengandaskan musuh bebuyutannya, Ye Zhaoying di tahun 1994. Setelah itu? Pemain kita megap-megap diberondong Cina yang seakan tidak pernah habis memproduksi pemain putri.

Ganda Mengelus Dada

kindraIndonesia terkenal memiliki ganda putra yang solid baik untuk bermain menyerang dan bertahan. Sebut saja Tjun Tjun/Johan Wahjudi, Christian Hadinata/Ade Chandra, sampai pasangan peraih medali emas Olimpiade Atlanta 1996, Rexy Mainaky/Ricky Subagja. Praktis sektor ini yang paling stabil melahirkan bibit-bibit baru yang kerap memiliki prestasi internasional. Tony Gunawan, Candra Wijaya, Sigit Budiarto, Halim Heryanto adalah beberapa pemain yang beberapa kali bertukar pasangan tetapi tetap mampu meraih prestasi yang mumpuni. Prestasi terakhir dicetak Markis Kido/Hendra Setiawan yang meraih medali emas Olimpiade Beijing 2008.

Sementara itu, ganda putri setali tiga uang dengan tunggal putri. Praktis sejak Verawaty/Imelda Wigoeno menjuarai turnamen ini tahun 1979, gelar ganda putri bergantian dijuarai pasangan China dan Korea Selatan.

Lain lagi cerita di di sektor ganda campuran. Meski permainan Nova/Lilyana cukup konsisten hingga saat ini, saya melihat usia Nova yang sudah gaek akan menjadi hambatan tersendiri ketika berhadapan dengan permainan speed and power ganda-ganda China. Dan itu terbukti kala mereka dikalahkan oleh pasangan muda China, Zhang Nan/Zhao Yunlei di final All England 2010.

Perhatian Pemerintah
Kalau lah kita boleh bermimpi, pemerintah kita mencontoh program pembibitan atlet-atlet bulutangkis di China. Jangan hanya menunggu bibit-bibit unggul semacam Susi, Taufik, atau Rexy akan muncul dengan sendirinya. Akan tetapi, berikan anggaran besar untuk pengembangan cabang olahraga ini dalam jangka panjang.

Jika saja pemerintah berinisiatif menjadikan cabang olahraga ini sebagai olahraga wajib di sekolah-sekolah misalnya, bukan tidak mungkin akan lebih banyak terjaring bibit-bibit itu. Secara alamiah, anak-anak Indonesia memiliki bakat besar untuk berprestasi di kancah internasional melalui bulutangkis. Tergelitikkah kita dengan film King? ah saya lupa bahwa itu cuma sebuah film.

Implementasi tidak pernah lebih mudah dari berharap; tetapi tanpa inisiasi untuk berubah, harapan itu hanya bagai menggantang asap. Semoga pemerintah tidak terlena dengan masalah-masalah dalam negeri sehingga pengembangan olahraga paling prestisius di Indonesia ini mandeg. Saya tidak ingin melihat bulutangkis Indonesia semakin tenggelam untuk kemudian dilupakan generasi kita selanjutnya.