Harmoni Alam di Baduy Dalam

Posted in Petualangan
Suku BaduyAda satu momen ketika bersama teman memutuskan untuk berpetualang ke Baduy, saya tidak menunjukkan antusiasme yang sama seperti beberapa petualangan sebelumnya. Hal ini mungkin dikarenakan saya dilahirkan di dataran tinggi Garut yang rumah-rumah penduduknya masih banyak yang mirip dengan suku Baduy—rumah panggung. Oleh karena itu, ketika rencana tersebut dieksekusi minggu kemarin, perlengkapan yang saya bawa pun cenderung seadanya dengan niat yang nothing to lose.


Awalnya kami akan menggunakan angkutan umum untuk mencapai Baduy: naik kereta api jurusan Kota-Rangkasbitung dan dilanjutkan dengan naik elf ke Ciboleger. Akan tetapi, beruntung seorang teman menawarkan diri untuk menggunakan kendaraan pribadinya. Perjalanan berangkatnya sendiri sangat lah lancar serta komunikasi di antara kami berenam seolah menemui chemistry yang tepat—padahal masing-masing personil ada yang baru kenal on the spot.


Satu hal yang membuat perjalanan ke luar Jakarta selalu menyenangkan adalah kami bisa melihat langit-langit terbentang sangat luas dan indah tanpa terhalang gedung atau bangunan apa pun. Hal itu pula yang kami dapatkan ketika kami menjejakkan kaki di alun-alun Rangkasbitung.
Bright Sky
Selepas bersih-bersih sejenak di Masjid Raya Rangkasbitung, kami melanjutkan perjalanan ke arah Ciboleger. Kondisi jalan yang dilalui masih cukup baik meski beberapa lubang sempat menghambat perjalanan. Tepat pukul 12.30, kami tiba di terminal Ciboleger yang merupakan terminal terakhir untuk masuk ke pemukiman suku ini. Langkah kaki pun langsung diarahkan menuju rumah Pak Agus yang akan menjadi pendamping perjalanan kami. Beliau adalah kuncen Baduy yang dikenal hampir semua penduduk Baduy—luar ataupun dalam. Dalam penjelasannya, saat itu suku Baduy baru saja menyelesaikan Kawalu, puasa 3 bulan berturut-turut, yang tidak memperkenankan tamu masuk ke Baduy Dalam. Oleh karena itu, Pak Agus menyarankan untuk memulai perjalanan ke sana agak sore. Waktu yang tersedia pun kami gunakan untuk bersih-bersih, mengisi perut, solat, dan tak lupa bercengkrama dengan anak-anak.


Pada waktu yang ditentukan, kami pun siap menaklukkan perjalanan berjarak 14km dengan berjalan kaki. Kontur tanah yang dilalui adalah bukit-bukit kecil berketinggian sekitar 250m di atas permukaan laut. Modal perjalanan menaklukkan bukit Sikunir dan Cilember memberi kekuatan ekstra untuk menikmati pendakian bukit-bukit ini. Sepanjang perjalanan, kami mengamati kegiatan sehari-hari yang dilakukan para ibu: menenun dan menumbuk padi. Sangat khas pedesaan. Saya sangat menikmati berada di tengah penduduk yang bisa berharmoni dengan alam seperti ini.
Baduy Luar




















Tanda kami akan masuk ke Baduy Dalam adalah jembatan bambu kedua yang melintas sungai. Mulai dari jembatan ini, kami mesti memasukkan kamera dan hape yang biasa kami jadikan alat dokumentasi. Hal ini dikarenakan dilarang oleh peraturan dan adat istiadat mereka, dan kami sendiri memang tidak tertarik untuk membandel. Selain khawatir melanggar adat, kami ingin sebuah petualangan yang total: jika ada aturan mematikan kamera, ya matikan. Buat saya pribadi, totalitas perjalanan seperti ini sangat mengesankan. Awal trek yang mesti mendaki tebing-tebing yang curam merupakan trek tersulit dalam perjalanan kali ini. Butuh waktu beberapa kali untuk beristirahat sebelum kaki-kaki kami sampai di jalan yang mendatar. Tepat setelah itu, gelap menyelimuti Baduy Dalam.


Melankolia Baduy Dalam
Berjalan di kegelapan hutan yang hening menimbulkan perasaan yang berbeda buat saya pribadi. Mungkin ini maksud dari kebesaran Tuhan yang sebenarnya. Dan melankolia ini pun berlanjut ketika kami memutuskan untuk berhenti sejenak di rumah seorang penduduk. Kami membeli tiga buah durian karena lapar dan haus yang mulai melanda. Menyesap satu per satu buah surga diselingi obrolan di teras rumah menimbulkan keharuan tersendiri. Saya benar-benar terpukau bagaimana mereka bisa tinggal di tempat yang jauh dari keramaian seperti ini: sunyi, gelap, dan hanya diterangi lampu yang sangat minim.


Setelah dirasa cukup bekal dengan makan durian dan minum air putih khas Baduy, kami pun melanjutkan perjalanan. Waktu yang diperlukan tidak terlalu lama untuk sampai di satu dari tiga desa Baduy Dalam, Cibeo. Pak Agus membawa kami ke rumah Pak Jasrif untuk bermalam. Setelah melepas lelah sejenak dan berwudhu di sungai, kami menyantap makan malam yang dihidangkan tuan rumah. Sambil mengobrol dengan wakil pu’un (kepala suku), kami pun lahap menghabiskan sarden dan mie instan yang dimasak. Entah karena lapar yang melanda atau masakan yang terlampau enak, satu porsi besar itu pun tandas seketika. Setelah dirasakan perut tidak keroncongan lagi, kami meminta izin untuk beristirahat.


Sekitar jam empat pagi, beberapa dari kami terbangun. Tiga teman saya pun memilih keluar rumah untuk mengobrol sambil menikmati tiga bintang jatuh yang tersaji di langit. Saat itu, saya sendiri masih berkemul sarung karena dingin yang cukup menggigit. Ketika teman-teman saya solat, sebagian dari kami pun beranjak ke sungai untuk berwudhu. Tepat setelah semua solat, kami bersitatap dengan pu’un yang semalam tidak dapat hadir. Selepas semua personil berhadapan satu per satu, kami sarapan di luar rumah.


Menikmati udara yang bersih di tengah-tengah perumahan Baduy Dalam tentu saja sebuah pengalaman berharga yang tidak bisa dibeli. Kami belajar tentang kesederhanaan hidup, kecintaan terhadap alam, dan ketaatan suku ini terhadap budaya leluhur.


Perjalanan pulang pun berjalan cukup lancar meski treknya cenderung lebih berat dibanding keberangkatan. Sempat mengunjungi danau selepas keluar dari perbatasan Baduy Dalam, kami mengakhiri petualangan kali ini dengan memoar kesederhanaan hidup masyarakat Baduy yang sangat mengesankan. Akan kami ingat dan hayati.


Terima kasih untuk Amri, Aby, Icha, Ika, dan Joe untuk perjalanan kali ini. It’s indeed great adventure.
Personnel



















Menuntaskan Petualangan Yang Tertunda

Posted in Curhat, Petualangan
DhodieDua puluh tahun yang lalu, saya bersama teman-teman sekampung pernah memiliki tempat-tempat bermain yang begitu mengesankan di bilangan perkampungan Bekasi. Sawah-sawah yang mengelilingi kampung kami biasa dijadikan tempat memancing ikan, nguseup, atau membuat rumah-rumahan berbahan jerami ketika musim panen tiba. Sedangkan kali yang menyisir sisi kampung kami jadikan tempat mandi setelah lelah bermain di sore hari. Di kali ini pula, pertama kalinya saya belajar berenang. Sebagai perenang pemula, teman-teman memaksa saya memakan udang hidup-hidup agar bisa langsung berenang. Alasannya jelas bahwa udang malang itu akan menggerakkan otot-otot saya dari dalam tubuh (doh) . Terlepas dari alasan absurd itu, pada kenyataannya saya tidak langsung tenggelam ketika pertama kali mencebur ke kali. Saya hanya menggerak-gerakkan tubuh saya mengikuti gaya berenang yang sering saya lihat di TV, dan ternyata berhasil. Coincidence? You bet! (LOL)


Di antara banyak rekam perjalanan di masa kecil saya, ada satu keinginan yang terbersit sewaktu masih duduk di bangku SD, yaitu petualangan keluar dari wilayah kampung. Saya dan teman-teman memang biasa mencari ikan di kalenan, mencuri pisang di kebon orang, atau memancing belut di pematang, akan tetapi tempatnya selalu berada di desa kami. Kami ingin lebih!


Sebagaimana layaknya jagoan masa lampau, kami pun berembug untuk menentukan petualangan terakbar versi kami: Mencapai Laut Bekasi. Dengan menggunakan peta Bekasi yang tergantung di kelas, kami pun memeragakan layaknya Harun menunjuk Lenggang di film Laskar Pelangi. Tentu saja kami begitu bersemangat melihat kampung kami berjarak tak lebih dari beberapa jengkal ke Muara Gembong (laut Bekasi). Berbekal keyakinan ini, kami berenam merencanakan untuk menggunakan 4 sepeda ke sana. Alasannya kalau ada yang capek, bisa bergantian membonceng.


Petualangan 1990
Pada hari yang ditentukan, kami memulai perjalanan pada pukul 9 pagi menggunakan dua patokan jalan: mengikuti jalur angkot 9B sampai di pangkalan dan mengikuti aliran sungai setelahnya. Petuah legendaris yang kami pakai jelas lagu keroncong yang sangat melegenda itu:

air mengalir sampai jauh, akhirnya ke laut…

Dengan mengikuti aliran sungai, lama-lama akan sampai ke laut juga kan (?)


Sebagaimana cerita di setiap awal perjalanan yang selalu menyenangkan, kami pun sering becanda di samping jalan sambil ber-haha hihi mengejek teman kami yang tertinggal jauh di belakang. Kami memasuki perkampungan, melintasi pekuburan cina, sampai mengikuti aliran sungai yang semakin lama semakin membesar dengan penuh suka cita. Sampai akhirnya kami menyadari bahwa jalan yang kami tempuh tidak ada habisnya padahal kaki-kaki kami mulai lelah mengayuh. Di beberapa titik pemberhentian, beberapa teman mulai mengeluh kecapean dan merengek pulang, tetapi pada akhirnya kami tetap melanjutkan perjalanan. Ketika akhirnya kami sampai di pangkalan 9B, kami sangat berharap bisa mencium bau pantai di sana. Meski kenyataannya kami tetap mencium bau khas lumpur-lumpur sawah sementara kaki sudah mulai kram. Sampai matahari terbenam, kami semakin tidak percaya diri untuk dapat sampai di pantai sebelum malam. Di sebuah pematang sawah, kami menghibur diri menghalusinasikan pandangan bahwa di kejauhan sudah terlihat deretan kapal laut. Tepat setelah senyum kami memudar, kami balik kanan.


Jika perjalanan pulang selalu terasa lebih dekat dibanding perginya, kami pun merasakan hal yang sama. Meski kaki-kaki kami sedemikian lelahnya, kami memaksakan mengayuh pedal lebih cepat lagi karena kecemasan kami pulang terlambat. Ancamannya jelas bahwa kami akan dihukum berat. Ketika akhirnya rombongan sampai di depan kampung, kami sangat terkejut mengetahui ibu-ibu kami berdiri dengan gagahnya di bawah gapura kampung. Seakan-akan mereka ingin menerkam anaknya sendiri. Dan sememangnya, petualangan hari itu pun diakhiri dengan omelan ibu-ibu kami sepanjang malam. Selentingan yang beredar sampai seminggu kemudian adalah:

“Awas kamu ya main lagi sama Dodi!” ucap Ibu #1
“Dodi itu si biang kerok” fitnah Ibu #2
dst..

Sudahlah laut tak dicapai, tubuh kami capai, omelan ibu-ibu itu terasa sangat lebay.


Petualangan 2010
Kegagalan mencapai laut Bekasi memang tidak menjadi mimpi buruk, meski mencoreng daftar kesuksesan petualangan masa kecil saya. Atas alasan ini pula lah saya memutuskan untuk menuntaskan petualangan yang tertunda itu minggu kemarin. Bersama teman saya, kami berangkat dari Bekasi Cyber Park jam 14.00 menggunakan motor. Waktu tersebut kami pilih untuk mendapatkan timing sunset yang pas di pantainya. Awalnya, saya berinisiatif untuk membeli peta Bekasi tetapi tidak tersedia di toko buku terdekat, sehingga kami pun menggunakan patokan perjalanan yang sama di masa lalu: mengekor 9B dan mendempet aliran sungai.


Dikarenakan mengendarai motor 160cc, perjalanan ke pangkalan 9B tidak sulit untuk dicapai. Tantangan dimulai selepasnya karena banyaknya jalan bercabang sehingga kami pun mesti sering bertanya-tanya kepada penduduk sekitar. Pertanyaannya selalu sama: “Kalo mau ke laut, lewat mana ya?” Dan layaknya orang desa, mereka akan dengan senang hati membantu kami. Jalanan mulai mengalami kerusakan di sana-sini ketika kami memasuki kecamatan terakhir sebelum Muara Gembong. Di sini kami pun semakin bersemangat karena lebar sungai yang semakin membesar menunjukkan laut sudah tidak jauh lagi.


Muara Gembong

Ketika akhirnya kami sampai di tugu perbatasan Muara Gembong, dengan semangat 45 kami melajukan motor tanpa bertanya-tanya ke arah pantai mana yang hendak dituju? Kenyataannya satu jam sesudahnya, kami mendapati jalanan dan sungai di samping kami semakin menyempit (doh) . Bukankah sungai seharusnya semakin membesar ketika hendak mencapai laut? Menyadari bahwa kami sudah tersesat, kami bertanya ke penduduk tentang pantai di depan kami. Dan penduduk pun memberitahu bahwa pantai tersebut tidak ada bagus-bagusnya, hanya dibuat dam saja. Balik kanan karena matahari pun semakin terancam tenggelam, kami langsung melesat menuju Pantai Pakis yang diketahui satu-satunya wisata terdekat di situ. Dengan menyeberangi sungai dan melintasi beberapa sawah dan tambak, akhirnya kami sampai juga di bibir pantainya tepat ketika azan maghrib berkumandang.


Meski sebenarnya pemandangan pantai ini biasa-biasa saja, tetap saja nilai historis perjalanannya jauh lebih mengesankan saya. Sebuah perasaan luar biasa karena petualangan masa kecil yang tertunda dua puluh tahun itu akhirnya bisa ditaklukkan. I reach that shore!
Pakis









































Pesona Ujung Genteng

Posted in Petualangan
Ketika langit tak memberi mentari terbit yang megah,
Bumi menggantinya dengan air terjun yang indah.

Ketika pantai tak memberi siluet matahari tenggelam,
Pasir menggantinya dengan tukik dan penyu yang rupawan.

Dan ketika ombak tak memberi debur air yang menggelegar,
Laut menggantinya dengan perahu yang membelah gelombang.

(Ujung Genteng, 2010)

Tepat sebulan setelah berpetualang menyaksikan indahnya pantai-pantai di Garut Selatan, saia berhasil mengeksplorasi titik lain pantai selatan Jawa Barat, Ujung Genteng pada tanggal 1-3 Januari. Bersama delapan petualang lain, kami memilih untuk menikmati perjalanan ala backpacker. Tidak ada satupun di antara kami yang mengenal seluruh teman-teman lain sebelumnya—di sini letak seni sekaligus tantangan sebuah rombongan backpacker.

Memilih Jumat pagi sebagai hari keberangkatan, para petualang datang tepat waktu di titik pertemuan yang telah disepakati, Jalan Baru-Rambutan. Tepat jam 9.05 semua terkumpul: Dodi, Aga, Novi (Depok), Amri, Icha, Kiki (Jakarta), Ratu (Bekasi), Lalas (Bogor), dan Hidayat (Cikarang). Jalan Baru disepakati sebagai titik pertemuan mempertimbangkan kami bisa naik bis yang sudah terisi penumpang. Akan tetapi setelah 30 menit menunggu, dua bis yang lewat selalu overload. Akhirnya kami memutuskan untuk naik bis dari Terminal Kp.Rambutan. Tak perlu menunggu lama, bis jurusan Sukabumi melaju mulus di jalan tol Jagorawi—sempat tersendat sekeluar tol Ciawi. Setiba di Terminal Sukabumi, kami memutuskan untuk mengisi perut yang keroncongan di warung dekat terminal. Tak bisa berlama-lama makan, setelah selesai kami langsung memutuskan untuk men-charter sebuah angkot jurusan Terminal Lembur Situ karena bis/elf menuju Surade ngetem di sana.

Rute Lembur Situ-Surade sebenarnya mirip dengan Garut-Santolo dengan perbedaan rute pertama melewati bukit-bukit kecil ketimbang naik-turun gunung. Jalanan yang tidak mulus mengakibatkan beberapa rekan yang berada di samping jendela (Aga dan Icha) sering terantuk besi dan kaca jendela. Membutuhkan waktu lebih dari empat jam untuk mencapai Terminal Surade, dan beruntungnya Elf yang kami tumpangi bersedia mengantar sampai ke Amanda Ratu. Waktu saat itu sudah menunjukkan lewat maghrib. Setelah check in dan menaruh tas, para lelaki memutuskan untuk menjajal kolam renang yang disediakan. Berenang beberapa kali balikan, lumayan membuat saia terengah-engah karena saia lupa kapan terakhir kali berenang. Tidak lama setelahnya, kami pun balik ke penginapan, mendapatkan kamar mandi yang masih dikuasai para perempuan :-D . Akhirnya setelah semua mendapat giliran mandi, kami memutuskan untuk langsung beristirahat mengingat padatnya itinerary esok hari.

Sunrise di Tanah Lot, Amanda Ratu
Selepas bangun tidur, kami memutuskan untuk langsung menuju Tanah Lot-nya Ujung Genteng yang masih berlokasi di dalam kawasan penginapan. Tujuan kami ke Tanah Lot tak lain untuk mendapatkan prosesi terbitnya matahari yang terletak di seberang sungai. Entah memang sunrise-nya memang begitu saja atau langit yang sedang enggan mendukung, hasil foto landscape yang didapatkan terasa tidak optimal. Beruntung Amri yang punya banyak pengalaman jalan-jalan berhasil mengabadikan siluet-siluet kami di bawah langit yang sangat megah.
Tanah Lot


Tiga Air Terjun Cikaso
Kue-kue yang dijajakan pedagang di depan penginapan langsung kami beli mengingat ketidakpuasan kami terhadap layanan makanan yang disediakan penginapan. Selepas foto-foto di depan villa, kami langsung check out dari Amanda Ratu. Berjalan cukup jauh ke depan pintu gerbang penginapan, kami mencegat angkot yang kebetulan lewat. Setelah melalui proses negosiasi yang alot akhirnya diputuskan untuk men-charter angkot tersebut sebagai angkutan kami sepanjang hari itu.

Tidak berapa lama, kami sampai di pinggiran sungai berjarak 300 meter-an sebelum Curug Cikaso. Sesampainya di sana, kami sibuk terpesona dengan tiga air terjun bervolume sangat besar karena hujan semalam. Kombinasi warna natural dari hijaunya pepohonan, putihnya air terjun, dan birunya langit menghasilkan gambar yang sangat bagus. Akan tetapi kami tidak bisa bebas memotret karena uap air yang dicipratkan dikhawatirkan mengganggu lensa kamera. Secara keseluruhan, air terjun ini sangat indah untuk dieksplorasi jika berkunjung ke Ujung Genteng.
Cikaso

Air Terjun Cigangsa
Melanjutkan perjalanan ke Curug Cigangsa yang masih berada di wilayah Surade, kami harus melewati pematang sawah dan menyebrangi sungai yang saat itu berarus cukup deras. Derasnya arus air mengakibatkan beberapa rekan terpeleset dan Novi mesti merelakan sandal gunungnya hanyut terbawa arus sungai. Berbeda dengan air terjun yang umumnya dinikmati dari bawah, Curug Cigangsa dapat dinikmati dari dua arah—atas dan bawah. kami bisa sepuasnya menikmati pemandangan dari bibir atas air terjun setelah berjuang melewati beberapa titik arus sungai. Rasanya sensasional!
Cigangsa

Merambah Lorong Gua Gunung Sungging
Setelah puas dengan dua curug yang ditawarkan, kami bergegas menuju Gunung Sungging untuk mencoba keberanian kami memasuki gua alami di bawahnya. Bentuk gunung yang terlihat miring dari atas lah yang menyebabkan gunung ini dinamakan demikian. Setelah masuk ke dalam dengan bantuan petromaks dari pemandunya, kami dikejutkan dengan reaksi Kiki yang sangat ketakutan—entah karena apa. Menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, kami memutuskan untuk mengakhiri prosesi merambah gua tersebut setelah sebelumnya berpose bersama di setiap ruang yang kami lalui. Sepanjang perjalanan, saia sering tergoda untuk melihat ke kiri kanan cabang gua yang sebenarnya dilarang oleh pemandu. Sekeluarnya dari gua, kami beristirahat sejenak di saung sang pemandu sembari mendengarkan cerita beliau yang merupakan generasi ketiga penjaga gua.

Pelepasan Tukik di Pangumbahan
Setelah makan siang di warung bakso (kenapa bakso untuk perjalanan seperti ini?), kami langsung meluncur menuju Ujung Genteng. Tujuan kami adalah Pondok Adi, penginapan yang terletak persis di depan pantai Ujung Genteng. Setelah mendrop barang dan beristirahat sejenak, kami langsung mengejar waktu untuk menjadi saksi hidup pelepasan bayi penyu (tukik) bersama puluhan pengunjung lain. Menggunakan ojek, kami menyusur pantai dan semak-semak untuk sampai di Posko Penangkaran Penyu, Pangumbahan. Dikarenakan saat itu waktu terakhir pelepasan, kami yang baru datang langsung diijinkan masuk untuk mengejar para pelepas tukik. Pengalaman tak terlupakan menyaksikan bayi-bayi penyu itu pertama kalinya dilepas, bersentuhan dengan air laut. One of the best part of this journey.
Tukik

Prosesi Penyu Bertelur
Penyu-penyu di kawasan Samudra Hindia menjadikan Pantai Pangumbahan sebagai salah satu destinasi mereka untuk bertelur. Biasanya mereka akan naik ke pantai dan mencari tempat bertelur di atas jam 8-9 malam. Kami yang mendapat giliran SIP 1 (@50 orang per shift) mesti menunggu sampai jam 10 malam. Sembari menunggu, kami pun mengeksplorasi kemampuan kamera di lingkungan yang kurang cahaya, tentu kami jadi tontonan di sini (LOL) .

Setelah petugas mengizinkan rombongan shift 1 menuju pantai, pemandu memberitahukan bahwa kami mendapat kesempatan melihat dua penyu, satu di tengah pantai dan yang lain di semak-semak. Untuk menghindari penyu berbalik ke laut karena terganggu cahaya, pengunjung dilarang menyalakan blitz untuk mengabadikan penyu pertama, dan diperbolehkan untuk penyu kedua. Tepat ketika saia berhasil mengabadikan foto penyu yang sedang bertelur di bawah semak-semak, hujan turun dengan hembusan angin yang cukup kuat. Kami langsung berjalan cepat menuju posko menyudahi petualangan hari itu.
Penyu

Menyisir Pantai, Membelah Ombak Tujuh
Jika Ujung Genteng terkenal dengan pantai berlangit indah, Cipanarikan cocok untuk menikmati matahari terbenam, dan Pangumbahan menawarkan tukik dan penyunya; Ombak Tujuh adalah the final battle for the trip. Mendengarkan cerita-cerita yang berkembang bahwa ini adalah pantai terbaik di sana, kami dihadapkan pada pilihan untuk menggunakan perahu atau berkonvoi motor. Setelah memikirkan keselamatan teman-teman karena beberapa rekan tidak mahir berenang, kami memutuskan untuk menggunakan motor. Setelah mengemas perlengkapan yang dibutuhkan, kami berkonvoi melintasi jalan-jalan licin hasil dari hujan semalam.

Rombongan memasuki perkebunan kelapa setelahnya, sampai akhirnya benar-benar masuk ke dalam hutan! Di sana, motor-motor kami mesti melewati medan yang cukup berat diiringi rintik hujan yang menemani. Dibutuhkan keterampilan mengendarai motor yang baik dari tukang ojek agar motor tidak terpeleset atau terjebak di lumpur-lumpur. Dua sungai di dalam hutan mesti dilewati oleh rombongan sebelum akhirnya kami mencapai bibir pantai. Empat jam mesti kami habiskan mengingat beratnya jalur yang kami lalui. Akan tetapi itu semua terbayar oleh pemandangan Pantai Ombak Tujuh yang masih sangat perawan. Dengan ombak yang menderu-deru, pantas saja jika banyak peselancar asing yang memilih pantai ini sebagai salah satu tempat favorit mereka.
Ombak Tujuh
Selepas jam 13.00 kami dihadapkan pada pilihan untuk menggunakan ojek kembali atau menyewa perahu guna mengejar waktu pulang. Setidaknya butuh waktu 4 jam menggunakan ojek atau 1 ½ jam menggunakan perahu. Dengan menguat-nguatkan hati masing-masing, kami bersepakat untuk menyanggupi tantangan membelah gelombang Ombak Tujuh sebagai jalan pulang. Proses peluncuran perahu melewati gelombang air yang saat itu mencapai tiga meter menciptakan kengerian sendiri. Tambahan lagi waktu itu laut seperti sedang menari di depan kami. Setelah 1 ½ jam berada di atas laut, kami bisa bernafas lega ketika perahu akhirnya merapat ke bibir pantai. What a fantastic experience!

Akhirnya saia ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas petualangan tak terlupakan ke Ujung Genteng. Amri yang telah membuat itinerary sekaligus pengatur gaya foto, Novi (S5 IS) dan Aga (Sony H50) dengan bidikan-bidikan foto yang oke, Icha yang selalu menjadi cewek terdepan di rombongan, Ratu yang bersusah payah mencatat keuangan bersama Lalas, Hidayat yang mampu cair bersama rombongan, dan tak lupa Kiki, yang menciptakan trademark menggemaskan pukul-pukul bedug sebagai pencair suasana. Sebuah petualangan menakjubkan, guys!
Ombak Tujuh

Trivia:

  1. Lebih baik menggunakan jalur Jakarta-Bogor-Surade karena menggunakan bis yang lebih nyaman digunakan ketimbang elf, tetapi harus memperhatikan waktu keberangkatan.
  2. Saia sempat tertinggal dari rombongan di perjalanan pulang acara pelepasan tukik karena motornya mogok, alhasil lumayan bikin bentol-bentol karena digigit nyamuk hutan penangkaran.
  3. Disarankan untuk berkunjung ke sana saat musim kemarau, karena track jalan dan ombak pun lebih bersahabat.

Mumpung Masih Muda

Posted in Petualangan, puisi

Curug Cilember
























Mumpung masih muda
Tak perlu susun seribu rencana
Lakukan apa yang melintas di kepala
Ingatlah waktu hanya sekilas fana

Mumpung masih muda
Tak harus pias dengan perihnya cobaan
Taklukkan semua dalam kobar pendewasaan
Pikirlah hidup layaknya sebuah pertarungan

Mumpung masih muda
Tak usah gentar dengan sejuta tantangan
Persiapkan semangat pantang mundur petualang
Yakinlah perjalanan adalah permenungan

(Curug Cilember, 2009)

Terima kasih kepada Amri, Novi, Aris, Kristian, Aci, Adit, Ratu, Cipu, dan Esti yang telah menjadi teman perjalanan saia sepanjang tahun ini. Happy to say those was the best journeys in my life so far.

Pantai-pantai Perawan di Garut Selatan

Posted in Petualangan
The tripper

















Berawal dari keinginan untuk doing something extraordinary ketimbang hanya weekend di rumah, akhirnya gua menyambangi belahan lain kota kelahiran gua sendiri, Garut Selatan tanggal 27-29 November kemarin. Perjalanan kali ini bisa dibilang sangat spontan karena baru direncanakan jam 13.00 dan tau-tau jam 19.30 udah siap berangkat. Spontanitas perencanaan kayak gini sebenernya seru juga soalnya kalau bisa berhasil akan sangat menyenangkan dan kalau tidak, nothin to lose. Meski gua tetap lebih milih ada perencanaan matang.

Mencoba mengontak Dienger yang ternyata semuanya sibuk (Novi dan Amri kena jadwal masuk kerja, Aris yang habis sakit, dan Ian lagi di rumah saudaranya), gua pun mengalihkan tawaran ke teman-teman lain. Akhirnya terkumpullah Ratu dari Bekasi, Aci dari Cibubur, dan Belgaman dari Bandung. Mutual connection-nya ada di gua: kenal Ratu di be-blog, dan kenal Aci dan Belgaman di plurk dan blog. Mendapat teman baru selalu menyenangkan, kan?

Thawaf Bis di Rambutan
DodiSebenernya rencana ini hampir-hampir gagal karena Aci yang susah mendapat izin dari nyonya besar (baca: ibunya) dan Belgaman yang ada tugas negara (baca: keluarganya). Sampai jam 17.30, akhirnya kabar baik itu datang dari Aci. Gua pun langsung sms Ratu untuk mulai packing. Titik pertemuan ditetapkan di terminal Kp.Rambutan jam 19.00. Sebagai ibu guru teladan, Aci datang tepat waktu, gua telat setengah jam, dan Ratu 45 menitan. Di perjalanan menuju terminal, gua mendapat kabar baik lain dari Belgaman karna akhirnya bisa join sama kita. Setelah makan malam sekaligus pertemuan pertama Aci dan Ratu, kami pun memutuskan naik bis tujuan Garut yang tersedia, Saluyu.


Mengetahui ada 17 backpacker yang akan ke Garut juga, bisa sedikit melegakan kami karena bis yang kami naiki ini masih kosong melompong sampai jam 20.15. Padahal sudah confirm ke Belgaman ancer-anceran jam berangkat dari Jakarta jam 20.00. Kelegaan itu tetap tinggal harapan ketika akhirnya bis berangkat dari terminal. Hal ini dikarenakan bis berputar-putar di jalur Pasar Rebo-Jalan Baru-Rambutan sampai 3x untuk memenuhi kuota penumpang. Jengkel rasanya mengetahui bahwa bis baru berangkat jam 21.50.

Jakarta – Bandung – Garut
Janjian ketemu sama preman Cicaheum, Belgaman di pintu tol keluar Cileunyi, jam 22.00-23.00, akhirnya baru bener-bener ketemu jam 24.00 teng karena keterlambatan pemberangkatan ini. Sebenernya, bis melaju cukup kencang karna beberapa kali gua merasa terbang di jalan tol Padalarang. Dan itu terbukti ketika jalur Cileunyi-Garut ditempuh kurang dari satu jam. Tau-tau jam 00.45 kita sudah sampai di Tarogong aja. Menggunakan delman malem-malem dan gua merenungkan niat jadi tukang delman dengan duduk di depan, kami menuju kediaman Bunda Okky untuk beristirahat. Karena sudah diceritakan Aci kita adalah blogger-blogger bukan seleb tapi eksis, bincang-bincang pun tidak jauh dari blog dan komunitasnya.

Menuju Pantai Santolo
Keesokan harinya, kami langsung berkemas begitu bangun tidur karena perjalanan panjang yang akan ditempuh. Photo session pertama akhirnya dimulai di depan warnet Bunda Okky.
Bunda Okky
Sekeluarnya dari sana, kami pun sarapan terlebih dahulu di dekat alun-alun Tarogong. Tentu tidak lupa foto-foto ala pahlawannya.
Tarogong




























































Menaiki Elf ditemani lagu-lagu Wali yang iramanya gitu-gitu aja :-& , mobil ini ternyata mempunyai virus yang sama dengan Saluyu: virus thawaf. Dikarenakan Garut punya beberapa arah menuju terminalnya, supir menggunakan beberapa jalan untuk kembali ke titik semula. 2? 3? atau 4 kali muter.. ah sudahlah kami sudah terlalu pusing mikirin kejadian thawaf semalam sebelumnya (lonely) Elf akhirnya baru benar-benar meninggalkan kota Garut setelah sang kernet mencium ada elf lain di belakangnya.

Actually, perjalanan menuju Santolo itu sendiri sangat mengesankan. Jika saya pernah terkesima dengan pemandangan menuju Dieng dari kota Wonosobo, ternyata Garut bagian selatan pun tak kalah indahnya. Bahkan gua akui pemandangannya ngalahin Dieng. Deretan pegunungan yang diterpa sinar matahari, sementara elf kami diselubungi rintik hujan mengingatkan gua pada Selandia Baru entah darimana gua bisa kepikiran tempat itu. Dan yang paling WAW itu ngeliat lembah yang diapit bukit-bukit dan dibelah sungai berair jernih. Ah tidak ada kata terucap selain, Subhanallah. Indah tak terperi.
Melaju to Santolo
Dikarenakan jalannya cukup kecil, berkelok-kelok, dan pastinya jauh tak berujung.. kami semua akhirnya ketiduran. Hingga akhirnya terbangun karena udara panas, tau-tau kami sudah berada di Pameungpeuk, kecamatan terakhir menuju Pantai Santolo. Terima kasih untuk supir elf yang baik hati itu mengantarkan kami hingga ke penginapan begitu mengetahui tujuan kami ke laut.

Menelusur Keindahan Santolo
Pantai Santolo sendiri merupakan belokan pantai di Garut Selatan dengan pemandangan yang indah. Berikut ini citra satelit untuk pantai ini:
Santolo




































Setelah mendrop barang-barang di penginapan, kami langsung memanfaatkan waktu untuk menikmati spot-spot bagus di pantai ini. Untuk menuju pulaunya yang entah kenapa disebut pulau padahal masih bersatu dengan daratan, kami harus naik perahu. Spot penting untuk direkam di pantai ini itu pantai berkarang. Meski ombaknya cukup tinggi, tetap akan buyar sebelum mencapai bibir pantai karena teredam benteng karang di pantainya. Di sinilah kami, para fotografer handal dan modelnya mulai beraksi. O yeah!
Nice
Menjelang sore, kami bergerak ke sisi kanan Santolo untuk mengejar sunset. Kami sengaja mengambil tempat yang agak jauh dari keramaian supaya bisa ngelakuin pose-pose aduhai dan ciamik. Akhirnya view yang kami dapatkan awesome selepas 300 meter dari bibir penginapan. Langit saat itu berkolaborasi mendukung kami dengan memberikan warna emas yang luar biasa indah. Oiya, di sini kami pun mulai beraksi menunjukkan bakat yang terpendam terlalu lama : lompat-lompat!
Lompat!






































Bermain Sinar di Malam Hari
Setelah kelelahan bermain air sendirian dan baru tau kalau ada kasus orang keseret ombak di pantai ini (nottalking) , kami beristirahat sejenak di penginapan sebelum mengeksplorasi kemampuan kamera di malam hari. Hasilnya keren kan?
blog
Beranjak balik jam 23.00, kami pun langsung terlelap begitu bertemu bantal karena akan bangun jam 4 pagi untuk mengejar sunrise di Puncak Guha.

Pesona Puncak Guha
Berangkat dari Santolo jam 4.30, kami menggunakan mobil omprengan menuju Ranca Buaya. Dikarenakan jalan yang tak mulus, mobil bergerak pelan ditemani dongeng guide dadakan. Sampai di Puncak Guha sebenarnya agak telat karena warna keemasan sudah berubah jadi kuning. Kami pun langsung merekam pemandangan yang ada. Dan hasilnya sekali lagi tak mengecewakan. It just awesome seperti di Selandia Baru sekali lagi gua gak tau kenapa bisa bandingin sama tempat itu .
Serenade






































Begitu menyadari bahwa tempat ini membentang di antara hamparan rumput nan hijau dan langit biru yang cerah, akhirnya sesi foto loncat pun dilanjutkan. Sampai titik ini kalian udah gak bisa ngiri kan? Terlalu ngiriii… untuk dilupakaaann….
Lompat!
Tebing Expression










































































Napak Tilas di Ranca Buaya
Setelah puas foto-foto, mobil bergerak ke arah Ranca Buaya (sekitar 2 km dari Puncak Guha). Gua sebenarnya maksain pergi ke tempat ini karna pengen tau aja alasan Dee gunain tempat ini di salah satu seting novel Perahu Kertas.
Ranca Buaya
Tempatnya sebenarnya cukup oke, tapi karna banyak karang di mana-mana. Hal ini menyebabkan kami tidak leluasa mengeksplor pantainya. Apalagi kami belum sarapan, sehingga energinya pun tinggal sisanya saja. Setelah mendapat spot-spot yang menarik hati , gua akhirnya memilih untuk duduk terdiam di atas pasir ngebayangin jadi Keenan yang tiba-tiba didatengin Kugy di akhir cerita.

Sampai jarum jam menunjuk angka 9, kami bergerak pulang ke penginapan. Perjalanan balik ke Jakarta dalam bayangan kami bisa jadi sangat melelahkan. Dan itu akhirnya terbukti.

Cobaan Elf
Menggunakan mobil omprengan yang sama, akhirnya kami meninggalkan Santolo ketika matahari sudah menyengat dengan teriknya. Mobil berusaha mengejar elf yang lewat tapi karena hari itu minggu dan siang hari, akhirnya kami seperti backpackeran yang nunggu mobil di tengah jalan. Elfnya selalu penuh dan jangan tanya kapasitas maksimum mobil di sini. Kernet akan tetap bilang masih kosong kalau kaki masih bisa dimasukin.

Di sinilah penderitaan di mulai. Gua dan Belgaman dapet paling belakang, sementara Aci dan Ratu di depan. Belgaman meringis karena sepanjang jalan harus sujud dan Aci-Ratu yang umpel-umpelan bareng penumpang di depan. Ketika akhirnya bisa lepas dari perangkap elf selama 4.5 jam, kami menyempatkan diri menyambangi rumah seorang plurker Garut, Lanymeeladh. Dijamu ala keraton dengan makanan lebaran kurban, kami berterima kasih untuk dagingnya, obrolannya, dan molennya sebagai bekal perjalanan menembus Jakarta.
Lany








































Back to the Real World
Menggunakan bus Karunia Bhakti yang ngetem cukup lama, akhirnya bis benar-benar bergerak jam 22.00. Penderitaan belum berakhir kawan, baru beberapa kilometer bis berangkat, laju kendaraan stuck di tempat selama dua jam. Macetnya edaaasss!! Setelah jam 22.00, kami baru bisa melewati Nagrek dengan lancar. Fyuh.

Menempuh tol Cipularang dengan lapang, gua mutusin untuk nginep di rumah kakak di Bekasi karna takut kemaleman. So bareng Ratu, gua turun di Tol Timur dan langsung mencegat ojek. Lagi-lagi mendapati kejengkelan lain karena dibohongi tukang ojek dengan mbayar 2x lipat pantes itu abang-abang ramaaahh banget selama perjalanan.

Buat gua, perjalanan kali ini sangat berkesan, meski kami masih berbicara di permukaan (belum dari hati-ke-hati seperti pengalaman bareng Dienger), tidak dipungkiri kami menjadi lebih dekat. Tidak ada yang lebih menyenangkan bisa mengenal pribadi-pribadi teman berpetualang seperti mereka. Hail Aci, Belgaman, and Ratu for the trip!
LOVE
Catatan:
Total dana yang mesti disiapin Rp.232.000 per orang di luar biaya makan.
Sumber gambar hasil jepretan: Dodi, Aci, Belgaman

Empat Warna di Cihampelas

Posted in Petualangan, Photoblog
The Titans

On Red

On Green

On blue
























































































































































(1) The Titans in Original (2) Tiket in Red (3) Tiket in Green (4) Five Minutes in Blue. I was quite impressed with Richie, Five Minutes‘s vocalist whose energy reminds me of Armand Gigi and Giring Nidji. The show was held in Cihampelas Walk, Bandung in 7 November 2009 at Star Mild Unity in Harmony concert. Taken the pictures in those multi color lightning was awesome. Note that all the above pictures uploaded here without any editing.

Semangat Harmoni Dieng

Posted in Petualangan
Akhirnya perjalanan menelusuri magis-nya Dataran Tinggi Dieng itu terlaksana juga pada tanggal 14-17 Agustus. Suatu perjalanan yang sangat mengesankan karena pernik cerita yang menyertai bersama Amri, Novi, Kristian, dan Aris. Mulai dari keberangkatan yang menghabiskan hampir tujuh belas jam, miskalkulasi biaya total, sampai cerita peminjaman kamera yang hampir-hampir gagal. Akan tetapi itu semua terbayar ketika langkah kaki menjejak Wonosobo, salah satu kabupaten yang mengurusi Dieng selain Banjarnegara.

Paket Lengkap
Dodi di SikidangDataran tinggi yang terletak 2,096 meter di atas permukaan laut ini ini merentang tepat di tengah-tengah nadi pulau Jawa: 500 km dari Ujung Kulon dan Selat Bali. Sebagaimana wisata vulkanis lainnya Dieng pun memiliki kesan dingin, sunyi, dan magis. Perjalanan untuk menikmati serangkaian objek wisata dimulai tepat satu jam ketika kaki-kaki kami mencapai penginapan di sabtu sore. Penat yang dirasakan seketika hilang ketika badan-badan lusuh ini dibasuh air dingin Dieng. Mempertimbangkan bahwa waktu yang dimiliki hanya tiga jam, akhirnya guide lokal di sana mengajak kami ke tiga tempat: Telaga Warna, jajaran gua Semar, Jaran, dan Sumur, dan diakhiri kawah paling indah di Dieng, Sikidang.

Sementara itu di hari kedua, sisa-sisa objek wisata terlengkapi dengan mengunjungi kompleks candi Arjuna, Gatotkaca, dan Bima; Sedangkan tempat non-candi yang kami kunjungi adalah Kawah Sileri, Telaga Pengilon, dan Sumur Jalatunda.

Memperhatikan objek wisata yang ditawarkan oleh Dieng, saya melihat keunggulannya terletak di paket wisata yang lengkap. Rangkaian telaga, gua, candi, sumur, kawah, sampai perkebunan khas pegunungan disajikan lengkap dengan landskap yang indah. Menurut saya, Dieng merupakan perpaduan eloknya liku perbukitan Puncak, magisnya Prambanan, dinginnya udara Garut, dan indahnya mentari terbit Bromo.

Mentari Terbit Sikunir
Dodi di SikunirTanpa memperoleh foto-foto sunrise di Bukit Sikunir, perjalanan ke Dieng tidaklah terasa lengkap. Itulah sebabnya kami begitu bersemangat mengejar mentari tersebut ketika jarum jam dinding mendentang di angka empat. Bersama dua puluhan orang yang ingin menjadi saksi keindahan sunrise di Dieng, langkah kaki pun tetap ditegakkan meski dingin mencucuk tulang. Meski rute pendakian membuat kami semua terengah-engah, kami pun memperoleh foto-foto yang indah dan magis di sana.

Pendakian kecil di Gunung Sikunir banyak memberikan saya suntikan semangat. Bahwa momen di atas sana, ingin saya ulangi di bukit dan gunung-gunung yang lain di Indonesia. Tantangan itu ada di sana dan hanya keinginan kuat dari kita yang mampu menaklukkannya.

Semangat Harmoni Dieng

Toleransi menghasilkan Harmoni
Harmoni melahirkan kebahagiaan

Kutipan harmoni dicetuskan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik ketika ia meresmikan Museum Kaliasa tahun lalu. Museum ini menyajikan perjalanan agama Hindu di Dieng lengkap dengan rekaman historikal semasa Dinasti Syailendra dalam waktu delapan menit. Mengambil latar musik Titi Kolo Mongso (Sujiwo Tedjo), rekaman ini justru lebih khidmat dinikmati ketimbang rekaman yang disajikan di Dieng Plateau Theatre. Mungkin karena yang terakhir lebih bercerita dari aspek ilmiah ketimbang historisnya.

Mengamati kehidupan di Dieng mengingatkan saya akan kebesaran negara ini. Meski sampai sekarang dataran ini dipercaya sebagai tempat bersemayamnya dewa-dewa kepercayaan agama Hindu, saat ini mayoritas penduduk Dieng justru muslim. Harmoni yang manis sekali ketika mereka yang muslim berusaha menjaga dan melestarikan kebudayaan agama lain.

Hikmah Perjalanan
Perayaan hari kemerdekaan tahun ini banyak memberikan saya semangat untuk berbhakti kepada negeri ini. Dan Dieng mengajarkan saya harmoni, bahwa perbedaan akan lestari ada di mana pun untuk mengingatkan manusia akan ketidaksempurnaannya.

Oleh-oleh foto Di Dieng:
Lima Sekawan
Lompat terbaik di Telaga Warna
Best Jump

Mimpi di Tiga Atap Tanah Jawa

Posted in Petualangan
Tiga hari lagi, saya bersama beberapa rekan dari komunitas online akan backpacker-an menuju salah satu dataran tinggi terkenal di sentral tanah jawa, Dieng. Terkenal karena di daerah ini pernah terjadi tragedi gas beracun Kawah Sinila yang menewaskan 149 warganya pada tahun 1979. Perjalanan ini buat saya pribadi merupakan sebuah langkah awal untuk mewujudkan mimpi saya beberapa tahun lalu: menggapai atap-atap bumi di pulau Jawa. Awalnya saya berkeinginan untuk menggapai atap-atap tertinggi di masing-masing kawasan: Gunung Ciremai di barat, Merapi atau Slamet di tengah, dan Semeru di belahan timur. Tapi akhirnya pilihan mimpi itu pun dijajarkan dalam rentang waktu tiga tahun ke depan seperti di bawah ini:


Gede - Semeru - Gn Sikunir




















Dataran Tinggi Dieng – Tengah (2009)
Memilih dataran tinggi ini sebagai langkah awal semata-mata didasarkan atas kesiapan teknis. Jika saya tetap memilih Mrapi untuk menggapai atap tengah bumi Jawa, saya pikir cukup berisiko dengan pengalaman mendaki yang belum memadai. Dengan `hanya` mendaki bukit di Gunung Sikunir di kisaran 2.565m dapl, saya rasa akan menjadi bekal yang cukup untuk berekspedisi ke gunung-gunung yang lebih tinggi.


Gunung Gede – Barat (2010)
Gunung Gede merupakan pilihan yang paling didasarkan oleh hati dan pengalaman masa kecil. Hati karena saya lahir, besar, dan mungkin akan menghabiskan hidup saya di belahan barat Jawa. Hati karena saya terinspirasi oleh Gie yang sosoknya banyak memengaruhi semangat dan keberanian pendaki-pendaki gunung. Dan hati karena sejak kecil saya sangat menggemari serial Wiro Sableng, Pendekar Kapak Naga Geni 212, yang bermarkas di gunung ini hahaha.


Mahameru – Timur (2011)
Kemudian pilihan untuk menggapai atap di belahan timur terangkum di sebuah gunung yang terletak di ketinggian 3,676 di atas permukaan laut. Banyak cerita yang terserak, inspirasi yang terbetik, dan hikmah yang dapat diambil dari Raja Gunung di tanah jawa ini. Buat saya, hidup tanpa mencicipi Mahameru, seperti hidup tanpa garam. Ada bingkai yang tidak sempurna untuk mendokumentasikan fragmen-fragmen hidup saya.


Tiga gunung, tiga kawasan, di tiga tahun ke depan. Semoga Sang Kuasa memberikan saya kesempatan untuk dapat mengerti arti penaklukan puncak-puncak gunung: bahwa kita, manusia, adalah mahluk yang teramat lemah untuk mengkufuri nikmat hidup yang Ia berikan setiap harinya.

Sumber pengambilan gambar: 1, 2, dan 3.