Misterimu

Posted in puisi

Misterimu












































Jika dia mengutusmu agar aku patuh pada-Nya
Aku akan ikhlas menurutnya
Terlalu lama jejak ini tersesat di rimba tak berarah
Biarkanlah ia sejenak mendarat

Jika dia mewujudmu agar aku tunduk pada-Nya
Aku akan patuh mengikutnya
Terlalu berat langkah ini terjebak di jalan tak berpangkal
Izinkanlah ia sejenak istirahat

Hanya satu misteri yang ingin kuungkap
Apakah kamu hadir untuk mengakhiri penantian?

Tanjung Barat, 21-02-10

Mumpung Masih Muda

Posted in Petualangan, puisi

Curug Cilember
























Mumpung masih muda
Tak perlu susun seribu rencana
Lakukan apa yang melintas di kepala
Ingatlah waktu hanya sekilas fana

Mumpung masih muda
Tak harus pias dengan perihnya cobaan
Taklukkan semua dalam kobar pendewasaan
Pikirlah hidup layaknya sebuah pertarungan

Mumpung masih muda
Tak usah gentar dengan sejuta tantangan
Persiapkan semangat pantang mundur petualang
Yakinlah perjalanan adalah permenungan

(Curug Cilember, 2009)

Terima kasih kepada Amri, Novi, Aris, Kristian, Aci, Adit, Ratu, Cipu, dan Esti yang telah menjadi teman perjalanan saia sepanjang tahun ini. Happy to say those was the best journeys in my life so far.

Surat Terbuka Bahwa Aku Patah Hati

Posted in Curhat, puisi

Aku tak ingat kapan pertama kali aku merasa kamu adalah pilihan hatiku. Entah saat aku dan ayah bertamu ke hunian paman di Matraman, yang aku meronta keras memaksa ayah untuk pulang bersamamu; Atau saat aku dan kakakku mudik dari Bekasi, yang aku bersikeras pergi bersamamu sementara ia memaksa memilih Prima. Hanya alasanku bersamamu, adalah satu dari sekian momen-momen ternyamanku.


Tetapi aku ingat beberapa momen ajaib bersamamu. Saat aku memaksa masuk tapi kamu hanya mampu mencengkeram sebelah kakiku padahal saat itu efek diare sudah melemahkanku–yang hampir membuatku pulang tinggal nama. Atau saat aku menjadi pengagum rahasia perempuan yang setiap hari berdiri dalam radius satu meter tetapi tidak ada satu kata pun yang mampu mencairkan percakapan bisu kami. Tahukah kamu sesuatu, selang beberapa hari setelah aku didera sakit, ia pun tiba-tiba puff… hilang tak berbekas dari pandanganku. Meski aku yakin, dari tatapan kami, rasa kehilangan itu tidak kutanggung sendiri.


Aku pun tak mengerti mengapa aku selalu membelamu ketika mereka menghujat karena alasan ketidakmanusiaanmu. Aku hanya merasa mereka belum sepenuhnya mengenalmu, tentang sensasi kebersamaan yang kamu tawarkan, kesederhanaan yang kamu berikan, dan hikmah keikhlasan yang kamu ajarkan. Jika saja mereka bertahan sedikiiit lebih lama, aku yakin mereka akan berbalik mencintaimu.


Tetapi hari ini aku benar-benar tak mengerti bagaimana cara memaafkan kesalahanmu. Lebih dari lima pemberangkatan bulan ini kedatanganmu dibatalkan, lebih-lebih tak ada ucapan penyesalan secuilpun dari orang-orang yang mengatur jadwalmu. Tahukah kamu sesuatu, subuh tadi aku sengaja terjaga agar tidak melewatkan kedatanganmu, pagi tadi aku berangkat lebih awal agar tidak kehilangan informasi jadwalmu, dan tadi ongkosku pun tak cukup untuk diberikan ke pengendara motor yang mengantarku.


Maaf jika kesetiaan ini pun luruh dengan rekam keterlambatan yang mencorengku
Ikhlaskan jika besok aku akan memilih temanmu yang lebih baru untuk keberangkatanku

Imajimu masih tersimpan rapi di sini

Ramadhan Lalu

Posted in puisi, Renungan

Merenung




















Sepuluh tahun yang lalu
Diri ini merajut mimpi di Jurangmangu
Mengisi jeda hari dengan beragam ilmu
Mengakhiri malam dalam untaian wudhu

Lima tahun yang lalu
Diri ini berkubang dengan penat rasa buruh
Mensiasati kerja sampai dentang jam sepuluh
Menghabiskan hari termangu di samping CPU

Satu hari yang lalu
Diri ini merindu melingkar di majlis ilmu
Menikmati ma’rifat Qur’an sepenuh kalbu
Menghabiskan hari menghafal kumpulan wahyu

Memohon maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan yang dilakukan oleh saia selama ini. Baik yang disengaja atau tidak, tersampaikan atau pun tersimpan rapat, terbetik di niatan atau terucap di lisan.