Nokia N8, Konvergensi Kualitas Dalam Genggaman

Posted in Gadget, Review

Nokia is back!

Itulah kalimat penutup Niklas Savander, Executive Vice President Nokia, saat memperkenalkan smartphone super powerful, Nokia N8 di London (14/9). Pesan ini sengaja ditegaskan olehnya mengingat akhir-akhir ini dominasi Nokia terhadap pangsa pasar handphone cenderung menurun. Hal ini terjadi karena rangsekan Blackberry, iPhone, dan Android ke market handphone konvensional. Kini dengan mengusung sistem operasi terbaru di kelasnya, Nokia mengklaim siap mengambil kembali pangsa pasar tersebut.

Tahun lalu, saya masih ingat saat menantikan peluncuran sebuah produk kamera prosumer terbaru di Jakarta. Setiap hari saya mencari tahu kapan informasi masuknya kamera tersebut di beberapa situs. Bahkan saya sempat meng-indent-nya di salah satu toko kamera di Glodok. Strategi marketing? Bisa jadi. Tetapi penantian sebuah produk yang cukup lama ditunggu kadang-kadang membuat interest calon pembeli melonjak tajam.

Baca selengkapnya

Spirit Muhammad

Posted in Curhat, Opini, Review

#pengakuan tahun ini adalah Ramadan terburuk saya. Saya malu.

Itu bunyi twit saya dua hari lalu, a self-assesment. Saya memang merasa terlalu banyak melewatkan tarawih, terlalu sering meninggalkan tadarus, dan terlalu mudah mengulur waktu salat tahun ini. Ini yang terburuk.

Anyway, akhir-akhir ini saya memang serasa masuk ke dalam lorong pencarian: tentang self-acknowledgement, tentang tujuan hidup, dan yang sedikit lebih berat: tentang filosofi beragama. Sebuah pertanyaan klasik: apa sebenarnya tujuan saya hidup di dunia? Oke, saya tahu jawaban populernya adalah menjadi khalifah bagi semesta. Akan tetapi, cabang pertanyaannya adalah apakah sama makna kekhalifahan bagi saya dan kamu? Saya dan tetangga saya? atau bahkan yang terdekat, saya dan saudara kandung saya? Buat saya seharusnya tidak sama. Setiap manusia diciptakan unik dan seharusnya dari keunikan ini kita menyadari di situlah posisi kekhalifahan yang dimaksud. Kita tidak mesti menjadi Obama untuk memercayai kita bisa mengubah dunia atau menjadi Madam Theresa untuk menyentuh hati terdalam manusia. Kita hanya perlu menjadi kita, the truly ourselves. Dan pertanyaan yang berkecamuk sekarang adalah sudahkah saya mengenal siapa saya sebenarnya? Ini yang masih saya cari.

Baca selengkapnya

Your Job is not Your Career

Posted in Review

Berawal ketika membaca tulisan blog Jerry Aurum, saya memutuskan untuk membeli buku ini impulsively hampir satu bulan yang lalu. Asumsi awal saya, buku ini akan seperti self-developing books lainnya: tebal, teoretis, dan banyak cerita berulang di dalamnya. Akan tetapi, tepat ketika membuka beberapa lembar pertama buku ini, asumsi itu gugur. Di halaman-halaman awal, buku ini seakan tidak peduli dengan pemborosan karena hanya menyertakan satu kalimat untuk menguatkan awal cerita.. THAT’s interesting.

Baca selengkapnya

Avatar, Simply the Best

Posted in Review
Tidak banyak film tahun ini yang meninggalkan kesan baik di mata penonton awam seperti saia. Baik di sini dapat diartikan terkesan dengan segenap aspek filmnya—tema cerita, akting, setting, dan tentu pesan filmnya. Up, Knowing, dan 2012 saia masukkan ke dalam barisan film memuaskan, sedangkan Get Married 2, Sang Pemimpi, dan last but the worst Twilight Saga: New Moon ke barisan sebaliknya.


AvatarAwalnya, saia masih menempatkan Up dan Knowing sebagai film paling berkesan tahun ini sampai Avatar dirilis seminggu yang lalu. Film besutan James Cameron ini melanjutkan kemunculan film terlaris sepanjang masanya, Titanic, dua belas tahun lalu. Berbudget sekitar USD 240 juta, film ini sengaja diendapkan Cameron sampai ia yakin teknologi CGI mampu menerjemahkan fantasi liarnya tentang sebuah planet di rasi bintang Alpha Centauri, Pandora, dengan segenap keindahan di dalamnya.


Film sci-fi yang mengambil setting di Hawaii ini menceritakan konflik antara perusahaan tambang yang dikelola manusia dengan penduduk asli Pandora, Na’vi, untuk mendapatkan Unobtanium, material bernilai 20 juta dolar per kilo. Avatar sendiri merupakan program hibridisasi manusia-Na’vi agar manusia dapat mempelajari kehidupan Pandora tanpa harus mati karena tidak dapat bernafas di atmosfirnya. Peran sentral film ini adalah Jake Sully, eks marinir cacat yang datang ke Pandora menggantikan saudara kembarnya yang mati terbunuh. Dengan antusiasme tinggi karena ia dapat bergerak bebas di Pandora, Jake dipercaya oleh perusahaan tersebut untuk membujuk Na’vi pindah dari pohon keramat. Alih-alih dapat membujuk, Ia malah jatuh cinta dengan Neytiri dan kehidupan Pandora sehingga dilema terjadi ketika waktu yang ditentukan habis. Dengan menggunakan militer berteknologi mutakhir, perusahaan tersebut membombardir Pandora yang dilawan oleh segenap penduduk aslinya sampai titik darah penghabisan.

They killed their Mother Earth.. now they’re here to kill yours.

Secara cerita, film ini bukanlah film pertama yang mengangkat konflik antara ilmuwan dengan pihak kapitalis; Akan tetapi secara sinematografi film ini yang terbaik yang pernah saia tonton. Absolutely superb! Cameron sangat memperhatikan detail film sehingga penggambaran film ini terasa sangat nyata dan kita seperti diajak menikmati keindahan Pandora secara langsung. Terlebih ketika film memasuki final battle, emosi dan adrenalin penonton diaduk-aduk ke dalam cerita sehingga durasi film selama 162 menit tidak terasa sama sekali. Simply the best!


Buat yang belum menonton film ini, kamu rugi kawan. This is one of the best movies of all time. Dan untuk yang sudah menonton filmnya dalam format non 3D, much better to see it in 3D. I’ll do it next week.

Trivia:

  1. Unobtanium adalah sebutan untuk materi yang mustahil eksis secara fisik, semisal yang digunakan ilmuwan untuk dapat mengebor inti bumi di film The Core.
  2. Meski tahun film tidak pernah disebutkan dalam film, catatan video Jake Sully menyebutkan tahun 2154 sebagai setting film.
  3. Cameron yakin imajinasinya terhadap Pandora dapat difilmkan setelah ia melihat peran Gollum di film Lord of The Ring.

Sang Pemimpi The Movie, Most Awaited Movie 2009

Posted in Review
Official Film PosterApa ekspresi pertamamu ketika akhirnya melihat poster Sang Pemimpi The Movie di samping yang diproduksi Miles Production? Saya sendiri langsung tersenyum lebar melihat hasil pencarian bakat yang dilakukan oleh tim Riri Riza terhadap ketiga tokoh utama di film ini: Ikal, Arai, dan Jimbron. It’s just nice!


Kemarin, berkat sebuah status di mikroblog teman blogger saia, Pinkparis, saya tiba-tiba tersadar bahwa sudah lebih dari setahun film terlaris sepanjang sejarah perfilman Indonesia, Laskar Pelangi dirilis. Sesuai janji Mira waktu itu, ia akan menyelesaikan sekuelnya, Sang Pemimpi The Movie, di akhir tahun depan. Selidik punya selidik, Mira menepati janjinya dan ternyata kemarin adalah tanggal peluncuran poster film bersama trailer berdurasi 2 menit 31 detik.


Masterpiece Tetralogi Laskar Pelangi
Saia termasuk generasi pertama pencinta tetralogi ini. Jika buku Laskar Pelangi saia baca pada medio 2005, Sang Pemimpi saia beli langsung pada tanggal 26 Oktober 2006, tentu saja cetakan pertamanya. Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan buku ini pun termasuk salah satu yang tercepat, 10 jam. Jadi saia mulai membaca selepas maghrib dan selesai ketika adzan subuh berkumandang. Tidak tidur tentu saja karena buku ini terlalu menarik untuk tidak dihabiskan sekali baca.


Di antara keempat novel Tetralogi Andrea Hirata, saia menilai masterpiece-nya justru terletak di buku Sang Pemimpi. Belajar dari kekurangan Laskar Pelangi, Andrea mulai lebih teratur memainkan alur cerita, membumikan gaya bahasa hiperbolis, dan menipiskan jumlah halaman buku menjadi 292 halaman. So all the packages he used were perfect!


Banyak kejadian mengharukan yang dirasakan ketika membaca buku ini. Saat ketika si Simpai Keramat dijemput Ikal dan ayahnya, ketika Ikal dihardik dan diberi wejangan oleh Pak Mustar, dan yang paling saia suka ketika ayah Ikal tetap bangga tak terperi mengambil raport mereka berdua meski saat itu Ikal mempermalukan ayahnya dengan rangking yang turun drastis dari rangking 3 ke 75. Ah tak perlu lah kuceritakan semua di sini kawan, baiknya kau cari lah tuh toko buku dan baca sendiri ceritanya :-P


Andrea sendiri mempersembahkan buku ini kepada ayahnya, Seman Said Harun, yang telah memberikan keleluasaan lebih kepadanya untuk bersekolah.


Produksi Film
The castingFilm Sang Pemimpi sendiri berlatar di Manggar, Tanjung Pandan, Jakarta, dan Bogor. Menghabiskan dana 11 milyar, film ini diharapkan mengikuti kesuksesan kakaknya yang mampu menarik lebih dari empat juta penonton di akhir tahun 2008. Film ini tetap digawangi oleh duo ikal yang lain, Riri Riza (sutradara) dan Mira Lesmana (produser).


Jika di Laskar Pelangi, duo artis Cut Mini dan Tora Sudiro mengisi cerita, maka di Sang Pemimpi justru didominasi duo penyanyi, Nugie si Burung Gereja (Pak Baila) dan Nazril Ilham (Arai dewasa). Nama terakhir adalah nama asli vokalis band papan atas Indonesia, Ariel Peterpan. Alasan Mira menggunakan nama asli Ariel ketimbang nama panggungnya adalah karena di sini Ariel bertindak sebagai pelakon, bukan penyanyi.


Ketiga pemeran utama yang akan mendominasi cerita film ini diperankan oleh pemuda asli Belitong, Vikri Setiawan (Ikal), Rendy Ahmad (Arai), dan Azwir Fitrianto (Jimbron). Sementara Ikal kecil dan Ikal dewasa masih akan diperankan pemeran yang sama di Laskar Pelangi, Zulfani dan aktor watak Lukman Sardi.


Ekspektasi Berbatas
Jujur, saia tidak mengikuti perkembangan film ini seperti yang saia lakukan untuk Laskar Pelangi The Movie. Alasan utamanya adalah saia tidak ingin berpengharapan terlalu muluk film ini akan mentransformasikan bayangan-bayangan liar yang ada di benak saia terhadap bukunya. Jadi proses pencarian trio Vikri, Rendy, Azwir untuk pemeran utama film, cerita proses shooting yang menyenangkan dari Mira, dan Ariel Peterpan yang lulus casting saia ikuti seadanya.


Jangan sebut saia tidak cinta atau apa, tetapi saia mengharapkan sebuah kejutan indah dari Riri dan Mira untuk visualisasi film ini. Apakah saia akan menonton tiga kali seperti yang saia lakukan di film Laskar Pelangi? Kita lihat saja nanti.


Trailer Sang Pemimpi The Movie
Untuk menghubungkan Sang Pemimpi dengan film pendahulunya, Riri masih akan sekilas Ikal kecil dalam ceritanya (yang tidak dilakukan Andrea di bukunya). Melihat peran-peran yang dipilih oleh sang sutradara, film ini saya kira lebih dekat dengan bukunya ketimbang film pendahulunya. Simak trailer film yang juga sudah diunggah di Youtube:



Film Pembuka JiFFest 2009
Film ini akan diputar secara terbatas sebagai film pembuka di Jakarta International Film Festival (JiFFest) pada tanggal 4 Desember 2009. Catatan prestasi yang membanggakan karena ini adalah film Indonesia pertama yang menjadi pembuka di festival berumur sepuluh tahun ini. Sementara itu, tanggal 17 Desember 2009 film ini akan ditayangkan serentak di bioskop-bioskop. Informasi lebih lanjut tentang seluk beluk film ini dapat diikuti di Page Facebook-nya.


Can I wait to watch till 17 December? Not so sure actually (devil) .


Sumber gambar: flickmagazine, detik.

Menepinya Perahu Kertas

Posted in Review
Saat saya membaca Perahu Kertas hasil unduhan sebuah situs hampir setahun yang lalu (maaf Dee), di akhir bacaan saya tertohok ketika menyadari bahwa dua bab terakhir buku ini tidak diikutsertakan. Entah karena alasan apa. Dan dikarenakan saya pun malas berlangganan versi digitalnya, saya memutuskan untuk menunggu terbitnya buku itu dalam versi cetak. Toh saya berpikir memang semestinya saya membelinya untuk menghargai kerja keras Dee selama penulisannya. Setelah diulur-ulur waktu janji penerbitnya, Perahu Kertas pun rampung menepi pada tanggal 28 Agustus 2009 di toko-toko buku terdekat.


In Love with Kugy
Perahu KertasDi awal membaca buku ini, saya bertanya-tanya dalam hati ini benar karangan Dee? Koq rasanya jauh lebih ringan dibanding saat ia “menjadi” Bodhi di Akar atau Etra di Petir (dua sekuel Supernova). Prosesi membaca pun selesai dalam hitungan jam karna selain bahasanya ringan, ceritanya pun dekat dengan keseharian banyak orang. Tentang perjuangan cinta Kugy dan Keenan. Tentang mereka yang tidak suka dengan keseragaman hidup. Tentang bagaimana mereka menghadapi kejutan demi kejutan dalam `hubungan` mereka.


Saya jatuh cinta dengan Kugy, definitely. Salah satu karakter tokoh perempuan yang saya suka. Bagaimana apa adanya dia dan kecintaannya kepada dunia anak-anak hingga ia memilih mengajar anak-anak tidak mampu di pelosok desa. `Beda`, itu yang saya suka.


55++ Days
Dee menjadikan media blog sebagai sarana untuk menceritakan liku-liku penulisan Perahu Kertas dalam periode Oktober 2007-Maret 2008. Saya terkenang bagaimana ia mencari Head Quarter (baca: tinggal di kos), bernostalgia dengan Rida dan Sita untuk kemudian terjebak di antara Slanker dan Viking, dan bagaimana ketika akhirnya target menyelesaikan penulisan buku yang awalnya 55 hari melar menjadi 60 hari. Saya sangat menikmati cerita-ceritanya itu. Catatan: ia menuliskan semua ceritanya itu dalam blog.


Well, bagi kamu yang agak ilfeel dengan beratnya Supernova, buku ini sangat recommended untuk dibaca. Dijamin refreshing your mind! Buat yang sudah atau sedang baca, bisa share kesan setelah membacanya di sini. Untuk Dee, selamat untuk Perahu Kertas-nya dan saya masih menunggu dengan sabar Partikel-nya.


Sumber pengambilan gambar di sini.

Memilih Autumn Concept sebagai Jubah Blog

Posted in Blogging, Review
Alhamdulillah, akhirnya perjuangan membangun `rumah baru` untuk blog saya selesai juga. Butuh waktu sekitar tiga minggu untuk akhirnya bisa pede mengenalkan rumah baru ini kepada sahabat-sahabat blogger. Terima kasih untuk Mba Ajeng, Om Gajahpesing, dan Amri yang terus menerus mensupport blog ini. Beruntung saia bisa berkenalan baik dengan kalian (worship)


Memilih Autumn Concept
autumnJujur saja, yang tersulit dari kegiatan ngeblog awal dengan domain sendiri itu bukan atur mengatur di cpanelnya, akan tetapi justru memilih tema wordpressnya. Seriously! saya butuh waktu sekitar dua minggu sampai akhirnya memilih Autumn Concept yang dibuat oleh Ed Merritt. Tema ini semula saia temukan di salah satu blog yang menjadi inspirasi saya dengan tulisan-tulisannya: Iman Brotoseno (chairman of Pesta Blogger 2009). Tadinya saia ingin menggunakan tema lain yang mungkin belum pernah digunakan oleh blogger-blogger lain; Akan tetapi, karna kadung suka dengan kesederhanaan tema Autumn Concept, akhirnya pilihan pun tetap tertuju kepada tema ini (dengan beberapa modifikasi warna, dan fotografi).

Sidebar
Pemilihan sidebar-sidebar yang diperlukan tentu dimulai dari yang paling standar: calendar, blog sahabat, blog inspirasi, dan affiliations. Calendar digunakan untuk menggantikan secara visual archive tulisan. Sementara itu blog sahabat dan blog inspirasi dimaksudkan untuk memberikan link blog mereka kepada pembaca blog ini: blog sahabat datang dari sahabat-sahabat virtual sewaktu saia blogwalking, plurking, atau pun kegiatan-kegiatan offline seperti kopdar. Affiliations sendiri merupakan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan dunia blogging yang sejauh ini saya ikuti: deBlogger untuk kegiatan saia di Depok, Blogarut untuk di Garut, dan Pesta Blogger untuk kegiatan berkumpulnya semua blogger dari seluruh Indonesia.
Akan tetapi, yang tersulit justru sidebar yang paling sederhana: About Me. Adalah tidak mudah bagi saia untuk mendeskripsikan empat kalimat di bawah ini:

A transmission engineer who loves blogging for its mind sharing reason. A long lasting student who has passion to teach and help unlucky communities. A literature lovers who can ignore the crowd when drew to the interesting poems, history books, or novels. If you have these three keywords: life observer, natural lover, and book worm, we can synch ourselves easily.

Photography
Salah satu yang menarik dari Autumn Concept mungkin penempatan quite a big picture di headernya. Sangat menarik bagi saia untuk mengumpulkan foto-foto kegiatan saia selama ini sehingga tag: membingkai fragmen-fragmen hidup pun bisa tercipta.
Foto ke-1 dan ke-2 memotret dua kegiatan yang pastinya disukai oleh semua orang: berbincang-bincang dan jeprat-jepret. Foto ke-3 dan ke-4 menggambarkan kesukaan saia terhadap kegiatan menulis dan tantangan (gambar bawah menunjukkan saia yang sedang melewati teralis besi di pinggiran di lantai 5 sebuah pertokoan di Pasar Kembang, Surabaya). Foto ke-5 (tengah-tengah) adalah foto ketika saya sedang melakukan kegiatan traffic migration perangkat transmisi di daerah Tandes, Surabaya tepat jam 12 malam. Sementara itu teman-teman saia di tim BTS dan Microwave Engineer ditampilkan di foto ke-6 saat ketika boss saia, Mr.Sin Sung Youl mengadakan farewell party. Saia selalu menyukai laut (meski lebih menyukai gunung), di foto ke-7 itu tampak saia yang sedang menikmati tumpukan batu-batu yang menyerupai ular di Watu Ulo, Jember. Dan foto terakhir adalah foto favorit saia karena di gambar itu saia terlihat lebih gemuk dan ceria (thanks to Lisa atas perjalanan satu bulan mengitari Jawa Timurnya). Akan tetapi foto favorit itu akhirnya dikalahkan oleh foto di About Me – thanks to Riky.

Pemilihan Warna
Dibandingkan dengan menggunakan warna abu-abu yang menjadi default tema atau orange (krem) yang digunakan oleh Mas Iman, saia pribadi memilih warna ‘green tones` sebagai konsep blog saia. Setelah membandingkan ketiga warna tersebut, yang saia dapatkan ketika menggunakan warna hijau adalah kenyamanan. Dan tampaknya saia penyuka warna hijau juga, mengacu pada konsep Color paper di blog terdahulu saia.

Harapan
Tentu banyak harapan agar blog ini tampak lebih hidup, informatif, dan kaya fitur. Toh saia menyadari lumayan sulit buat saia untuk mengatakan `suka` akan sesuatu, dan dengan disain blog seperti ini saia dapat legowo dan senang bahwa saia puas. Semoga :-))

Semoga blog ini bisa memberi warna untuk kehidupan teman-teman semuanya, sekecil apapun tetap berarti besar buat saia. Mari jaga silaturahim kita, kawan (gym)