<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Dhodie Weblog</title>
	<atom:link href="http://dhodie.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dhodie.com</link>
	<description>.:sedikit informasi tapi berarti, Itu lebih baik:.</description>
	<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 02:35:55 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1-RC1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Misterimu</title>
		<link>http://dhodie.com/2010/02/23/misterimu/</link>
		<comments>http://dhodie.com/2010/02/23/misterimu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 02:21:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dhodie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<category><![CDATA[misteri]]></category>

		<category><![CDATA[tanjung barat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dhodie.com/?p=1002</guid>
		<description><![CDATA[






















Jika dia mengutusmu agar aku patuh pada-Nya
Aku akan ikhlas menurutnya
Terlalu lama jejak ini tersesat di rimba tak berarah
Biarkanlah ia sejenak mendarat
Jika dia mewujudmu agar aku tunduk pada-Nya
Aku akan patuh mengikutnya
Terlalu berat langkah ini terjebak di jalan tak berpangkal
Izinkanlah ia sejenak istirahat
Hanya satu misteri yang ingin kuungkap
Apakah kamu hadir untuk mengakhiri penantian?
Tanjung Barat, 21-02-10
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://dhodie.com/wp-content/uploads/2010/02/misterimu.jpg" alt="Misterimu" title="Misterimu" width="542" height="432" class="aligncenter size-full wp-image-1003" /><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
Jika dia mengutusmu agar aku patuh pada-Nya<br />
Aku akan ikhlas menurutnya<br />
Terlalu lama jejak ini tersesat di rimba tak berarah<br />
Biarkanlah ia sejenak mendarat</p>
<p>Jika dia mewujudmu agar aku tunduk pada-Nya<br />
Aku akan patuh mengikutnya<br />
Terlalu berat langkah ini terjebak di jalan tak berpangkal<br />
Izinkanlah ia sejenak istirahat</p>
<p>Hanya satu misteri yang ingin kuungkap<br />
Apakah kamu hadir untuk mengakhiri penantian?</p>
<p><strong>Tanjung Barat, 21-02-10</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dhodie.com/2010/02/23/misterimu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Potret Superman Ibukota</title>
		<link>http://dhodie.com/2010/02/18/potret-superman-ibukota/</link>
		<comments>http://dhodie.com/2010/02/18/potret-superman-ibukota/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2010 07:02:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dhodie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Photoblog]]></category>

		<category><![CDATA[ibukota]]></category>

		<category><![CDATA[superman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dhodie.com/?p=984</guid>
		<description><![CDATA[

Jika ada yang masih mengeluh bagaimana tidak adilnya pekerjaan yang dijalani, bertanyalah pada mereka. Mereka bahkan mungkin tidak memiliki pilihan lain ketimbang harus mencengkeram kaki kuat-kuat agar tidak terpeleset, memaksimalkan kontraksi mata agar tidak buram, atau memegang erat tali yang berseliweran agar tidak terjatuh. Salah satu potret superman ibukota.

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: justify;">
<img src="http://dhodie.com/wp-content/uploads/2010/02/23-1.jpg" alt="Superman" title="Superman" width="559" height="424" class="alignleft size-full wp-image-983" /><br />
Jika ada yang masih mengeluh bagaimana tidak adilnya pekerjaan yang dijalani, bertanyalah pada mereka. Mereka bahkan mungkin tidak memiliki pilihan lain ketimbang harus mencengkeram kaki kuat-kuat agar tidak terpeleset, memaksimalkan kontraksi mata agar tidak buram, atau memegang erat tali yang berseliweran agar tidak terjatuh. Salah satu potret superman ibukota.
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dhodie.com/2010/02/18/potret-superman-ibukota/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Harmoni Alam di Baduy Dalam</title>
		<link>http://dhodie.com/2010/02/15/harmoni-alam-di-baduy-dalam/</link>
		<comments>http://dhodie.com/2010/02/15/harmoni-alam-di-baduy-dalam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2010 02:45:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dhodie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Petualangan]]></category>

		<category><![CDATA[baduy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dhodie.com/?p=966</guid>
		<description><![CDATA[Ada satu momen ketika bersama teman memutuskan untuk berpetualang ke Baduy, saya tidak menunjukkan antusiasme yang sama seperti beberapa petualangan sebelumnya. Hal ini mungkin dikarenakan saya dilahirkan di dataran tinggi Garut yang rumah-rumah penduduknya masih banyak yang mirip dengan suku Baduy—rumah panggung. Oleh karena itu, ketika rencana tersebut dieksekusi minggu kemarin, perlengkapan yang saya bawa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: justify;"><img src="http://dhodie.com/wp-content/uploads/2010/02/empat.jpg" alt="Suku Baduy" title="Suku Baduy" width="100" height="150" class="alignleft size-full wp-image-970" />Ada satu momen ketika bersama teman memutuskan untuk berpetualang ke <strong>Baduy</strong>, saya tidak menunjukkan antusiasme yang sama seperti beberapa petualangan sebelumnya. Hal ini mungkin dikarenakan saya dilahirkan di dataran tinggi Garut yang rumah-rumah penduduknya masih banyak yang mirip dengan suku Baduy—<em>rumah panggung</em>. Oleh karena itu, ketika rencana tersebut dieksekusi minggu kemarin, perlengkapan yang saya bawa pun cenderung seadanya dengan niat yang <em>nothing to lose</em>.<br />
</br><br />
Awalnya kami akan menggunakan angkutan umum untuk mencapai Baduy: naik kereta api jurusan <strong>Kota-Rangkasbitung</strong> dan dilanjutkan dengan naik elf ke <strong>Ciboleger</strong>. Akan tetapi, beruntung seorang teman menawarkan diri untuk menggunakan kendaraan pribadinya. Perjalanan berangkatnya sendiri sangat lah lancar serta komunikasi di antara kami berenam seolah menemui <em>chemistry </em>yang tepat—padahal masing-masing personil ada yang baru kenal <em>on the spot</em>.<br />
</br><br />
Satu hal yang membuat perjalanan ke luar Jakarta selalu menyenangkan adalah kami bisa melihat langit-langit terbentang sangat luas dan indah tanpa terhalang gedung atau bangunan apa pun. Hal itu pula yang kami dapatkan ketika kami menjejakkan kaki di alun-alun Rangkasbitung.<br />
<img src="http://dhodie.com/wp-content/uploads/2010/02/satu.jpg" alt="Bright Sky" title="Bright Sky" width="526" height="394" class="aligncenter size-full wp-image-967" /><br />
Selepas bersih-bersih sejenak di Masjid Raya Rangkasbitung, kami melanjutkan perjalanan ke arah Ciboleger. Kondisi jalan yang dilalui masih cukup baik meski beberapa lubang sempat menghambat perjalanan. Tepat pukul 12.30, kami tiba di terminal Ciboleger yang merupakan terminal terakhir untuk masuk ke pemukiman suku ini. Langkah kaki pun langsung diarahkan menuju rumah <strong>Pak Agus</strong> yang akan menjadi pendamping perjalanan kami. Beliau adalah kuncen Baduy yang dikenal hampir semua penduduk Baduy—luar ataupun dalam. Dalam penjelasannya, saat itu suku Baduy baru saja menyelesaikan <strong>Kawalu</strong>, puasa 3 bulan berturut-turut, yang tidak memperkenankan tamu masuk ke <strong>Baduy Dalam</strong>. Oleh karena itu, Pak Agus menyarankan untuk memulai perjalanan ke sana agak sore. Waktu yang tersedia pun kami gunakan untuk bersih-bersih, mengisi perut, solat, dan tak lupa bercengkrama dengan anak-anak.<br />
</br><br />
Pada waktu yang ditentukan, kami pun siap menaklukkan perjalanan berjarak 14km dengan berjalan kaki. Kontur tanah yang dilalui adalah bukit-bukit kecil berketinggian sekitar 250m di atas permukaan laut. Modal perjalanan menaklukkan bukit <strong>Sikunir</strong> dan <strong>Cilember</strong> memberi kekuatan ekstra untuk menikmati pendakian bukit-bukit ini. Sepanjang perjalanan, kami mengamati kegiatan sehari-hari yang dilakukan para ibu: <em>menenun </em>dan <em>menumbuk padi</em>. Sangat khas pedesaan. Saya sangat menikmati berada di tengah penduduk yang bisa berharmoni dengan alam seperti ini.<br />
<img src="http://dhodie.com/wp-content/uploads/2010/02/dua.jpg" alt="Baduy Luar" title="Baduy Luar" width="523" height="392" class="aligncenter size-full wp-image-968" /><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
Tanda kami akan masuk ke Baduy Dalam adalah jembatan bambu kedua yang melintas sungai. Mulai dari jembatan ini, kami mesti memasukkan kamera dan hape yang biasa kami jadikan alat dokumentasi. Hal ini dikarenakan dilarang oleh peraturan dan adat istiadat mereka, dan kami sendiri memang tidak tertarik untuk membandel. Selain khawatir melanggar adat, kami ingin sebuah petualangan yang total: jika ada aturan mematikan kamera, ya matikan. Buat saya pribadi, totalitas perjalanan seperti ini sangat mengesankan. Awal trek yang mesti mendaki tebing-tebing yang curam merupakan trek tersulit dalam perjalanan kali ini. Butuh waktu beberapa kali untuk beristirahat sebelum kaki-kaki kami sampai di jalan yang mendatar. Tepat setelah itu, gelap menyelimuti Baduy Dalam.<br />
</br><br />
<strong>Melankolia Baduy Dalam</strong><br />
Berjalan di kegelapan hutan yang hening menimbulkan perasaan yang berbeda buat saya pribadi. Mungkin ini maksud dari kebesaran Tuhan yang sebenarnya. Dan melankolia ini pun berlanjut ketika kami memutuskan untuk berhenti sejenak di rumah seorang penduduk. Kami membeli tiga buah durian karena lapar dan haus yang mulai melanda. Menyesap satu per satu <em>buah surga</em> diselingi obrolan di teras rumah menimbulkan keharuan tersendiri. Saya benar-benar terpukau bagaimana mereka bisa tinggal di tempat yang jauh dari keramaian seperti ini: <em>sunyi</em>, <em>gelap</em>, dan <em>hanya diterangi lampu yang sangat minim</em>.<br />
</br><br />
Setelah dirasa cukup bekal dengan makan durian dan minum air putih khas Baduy, kami pun melanjutkan perjalanan. Waktu yang diperlukan tidak terlalu lama untuk sampai di satu dari tiga desa Baduy Dalam, <strong>Cibeo</strong>. Pak Agus membawa kami ke rumah Pak Jasrif untuk bermalam. Setelah melepas lelah sejenak dan berwudhu di sungai, kami menyantap makan malam yang dihidangkan tuan rumah. Sambil mengobrol dengan wakil <strong>pu’un</strong> (kepala suku), kami pun lahap menghabiskan sarden dan mie instan yang dimasak. Entah karena lapar yang melanda atau masakan yang terlampau enak, satu porsi besar itu pun tandas seketika. Setelah dirasakan perut tidak keroncongan lagi, kami meminta izin untuk beristirahat.<br />
</br><br />
Sekitar jam empat pagi, beberapa dari kami terbangun. Tiga teman saya pun memilih keluar rumah untuk mengobrol sambil menikmati tiga <em>bintang jatuh </em>yang tersaji di langit. Saat itu, saya sendiri masih berkemul sarung karena dingin yang cukup menggigit. Ketika teman-teman saya solat, sebagian dari kami pun beranjak ke sungai untuk berwudhu. Tepat setelah semua solat, kami bersitatap dengan pu’un yang semalam tidak dapat hadir. Selepas semua personil berhadapan satu per satu, kami sarapan di luar rumah.<br />
</br><br />
Menikmati udara yang bersih di tengah-tengah perumahan Baduy Dalam tentu saja sebuah pengalaman berharga yang tidak bisa dibeli. <strong><em>Kami belajar tentang kesederhanaan hidup, kecintaan terhadap alam, dan ketaatan suku ini terhadap budaya leluhur</em></strong>.<br />
</br><br />
Perjalanan pulang pun berjalan cukup lancar meski treknya cenderung lebih berat dibanding keberangkatan. Sempat mengunjungi danau selepas keluar dari perbatasan Baduy Dalam, kami mengakhiri petualangan kali ini dengan <strong>memoar kesederhanaan hidup</strong> masyarakat Baduy yang sangat mengesankan. Akan kami ingat dan hayati.<br />
</br><br />
Terima kasih untuk <em>Amri, Aby, Icha, Ika, </em>dan <em>Joe </em>untuk perjalanan kali ini. <strong>It’s indeed great adventure</strong>.<br />
<img src="http://dhodie.com/wp-content/uploads/2010/02/tiga.jpg" alt="Personnel" title="Personnel" width="524" height="378" class="aligncenter size-full wp-image-969" /><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dhodie.com/2010/02/15/harmoni-alam-di-baduy-dalam/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ekstase Efek Rumah Kaca</title>
		<link>http://dhodie.com/2010/02/05/ekstase-efek-rumah-kaca/</link>
		<comments>http://dhodie.com/2010/02/05/ekstase-efek-rumah-kaca/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Feb 2010 02:21:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dhodie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Interest]]></category>

		<category><![CDATA[Musik]]></category>

		<category><![CDATA[efek rumah kaca]]></category>

		<category><![CDATA[indie pop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dhodie.com/?p=957</guid>
		<description><![CDATA[



Jujur, saya sedang mengagumi karya band indie pop lokal yang satu ini. Selain karena musik alternatifnya cocok di telinga saya, lirik lagu yang mereka tulis terasa sangat kuat melawan mainstream musik Indonesia yang mendayu-dayu. Perhatikan bagaimana interpretasi mereka terhadap surat Al Ashr di Debu-debu Beterbangan, sindiran mereka terhadap budaya konsumtif masyarakat kita di Belanja Terus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: justify;">
<div style="text-align: center;">
<object width="425" height="344"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/z6peu1pEJvA&#038;hl=en_US&#038;fs=1&#038;"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/z6peu1pEJvA&#038;hl=en_US&#038;fs=1&#038;" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"></embed></object>
</div>
<p>Jujur, saya sedang mengagumi karya band <em>indie pop</em> lokal yang satu ini. Selain karena musik alternatifnya cocok di telinga saya, lirik lagu yang mereka tulis terasa sangat kuat melawan <em>mainstream</em> musik Indonesia yang mendayu-dayu. Perhatikan bagaimana interpretasi mereka terhadap surat Al Ashr di <strong>Debu-debu Beterbangan</strong>, sindiran mereka terhadap budaya konsumtif masyarakat kita di <strong>Belanja Terus Sampai Mati</strong>, atau keprihatinan mereka terhadap perilaku <em>free sex</em> di <strong>Kenakalan Remaja di Era Informatika</strong>. </p>
<p>Jujur, sudah cukup lama saya tidak mengikuti perkembangan musik Indonesia. <strong><em>Muak!</em></strong> itu saja. Buat saya, <em>Cholil, Adrian, </em>dan <em>Akbar</em> hadir untuk menyelamatkan telinga kita.</p>
<p>Jujur, setelah era Padi memudar, baru kali ini saya merasakan <em>ekstase</em> yang sama dalam menikmati karya band lokal. </p>
<p>Terus berkarya <strong>Efek Rumah Kaca</strong>!</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dhodie.com/2010/02/05/ekstase-efek-rumah-kaca/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menuntaskan Petualangan Yang Tertunda</title>
		<link>http://dhodie.com/2010/01/27/menuntaskan-petualangan-yang-tertunda/</link>
		<comments>http://dhodie.com/2010/01/27/menuntaskan-petualangan-yang-tertunda/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 02:52:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dhodie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Curhat]]></category>

		<category><![CDATA[Petualangan]]></category>

		<category><![CDATA[bekasi]]></category>

		<category><![CDATA[masa kecil]]></category>

		<category><![CDATA[pantai pakis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dhodie.com/?p=937</guid>
		<description><![CDATA[Dua puluh tahun yang lalu, saya bersama teman-teman sekampung pernah memiliki tempat-tempat bermain yang begitu mengesankan di bilangan perkampungan Bekasi. Sawah-sawah yang mengelilingi kampung kami biasa dijadikan tempat memancing ikan, nguseup, atau membuat rumah-rumahan berbahan jerami ketika musim panen tiba. Sedangkan kali yang menyisir sisi kampung kami jadikan tempat mandi setelah lelah bermain di sore [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: justify;"><img src="http://dhodie.com/wp-content/uploads/2010/01/bekasi3.jpg" alt="Dhodie" title="Dhodie" width="150" height="139" class="aligncenter size-full wp-image-938" />Dua puluh tahun yang lalu, saya bersama teman-teman sekampung pernah memiliki tempat-tempat bermain yang begitu mengesankan di bilangan perkampungan Bekasi. Sawah-sawah yang mengelilingi kampung kami biasa dijadikan tempat memancing ikan, <em>nguseup</em>, atau membuat rumah-rumahan berbahan jerami ketika musim panen tiba. Sedangkan <em>kali</em> yang menyisir sisi kampung kami jadikan tempat mandi setelah lelah bermain di sore hari. Di <em>kali</em> ini pula, pertama kalinya saya belajar berenang. Sebagai perenang pemula, teman-teman memaksa saya memakan <strong>udang hidup-hidup</strong> agar bisa langsung berenang. Alasannya jelas bahwa udang <em>malang</em> itu akan menggerakkan otot-otot saya dari dalam tubuh <img src='http://dhodie.com/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/doh.gif' alt='(doh)' class='wp-smiley' /> . Terlepas dari alasan <em>absurd</em> itu, pada kenyataannya saya tidak langsung tenggelam ketika pertama kali mencebur ke kali. Saya hanya menggerak-gerakkan tubuh saya mengikuti gaya berenang yang sering saya lihat di TV, dan ternyata berhasil. <em>Coincidence? You bet!</em> <img src='http://dhodie.com/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/laugh.gif' alt='(LOL)' class='wp-smiley' /> <br />
</br><br />
Di antara banyak rekam perjalanan di masa kecil saya, ada satu keinginan yang terbersit sewaktu masih duduk di bangku SD, yaitu <strong>petualangan keluar dari wilayah kampung</strong>. Saya dan teman-teman memang biasa mencari ikan di kalenan, mencuri pisang di kebon orang, atau memancing belut di pematang, akan tetapi tempatnya selalu berada di desa kami. Kami ingin lebih!<br />
</br><br />
Sebagaimana layaknya jagoan masa lampau, kami pun berembug untuk menentukan petualangan terakbar versi kami: <strong>Mencapai Laut Bekasi</strong>. Dengan menggunakan peta Bekasi yang tergantung di kelas, kami pun memeragakan layaknya Harun menunjuk Lenggang di film <strong>Laskar Pelangi</strong>. Tentu saja kami begitu bersemangat melihat kampung kami berjarak tak lebih dari beberapa jengkal ke <strong>Muara Gembong</strong> (laut Bekasi). Berbekal keyakinan ini, kami berenam merencanakan untuk menggunakan 4 sepeda ke sana. Alasannya kalau ada yang capek, bisa bergantian membonceng.<br />
</br><br />
<strong>Petualangan 1990</strong><br />
Pada hari yang ditentukan, kami memulai perjalanan pada pukul 9 pagi menggunakan dua patokan jalan: <em>mengikuti jalur angkot 9B sampai di pangkalan</em> dan <em>mengikuti aliran sungai setelahnya</em>. Petuah legendaris yang kami pakai jelas lagu keroncong yang sangat melegenda itu:</p>
<blockquote><p><em><strong>air mengalir sampai jauh, akhirnya ke laut&#8230;</strong></em></p></blockquote>
<p>Dengan mengikuti aliran sungai, lama-lama akan sampai ke laut juga kan (?)<br />
</br><br />
Sebagaimana cerita di setiap awal perjalanan yang selalu menyenangkan, kami pun sering becanda di samping jalan sambil ber-<em>haha hihi</em> mengejek teman kami yang tertinggal jauh di belakang. Kami memasuki perkampungan, melintasi pekuburan cina, sampai mengikuti aliran sungai yang semakin lama semakin membesar dengan penuh suka cita. Sampai akhirnya kami menyadari bahwa jalan yang kami tempuh tidak ada habisnya padahal kaki-kaki kami mulai lelah mengayuh. Di beberapa titik pemberhentian, beberapa teman mulai mengeluh kecapean dan merengek pulang, tetapi pada akhirnya kami tetap melanjutkan perjalanan. Ketika akhirnya kami sampai di pangkalan 9B, kami sangat berharap bisa mencium bau pantai di sana. Meski kenyataannya kami tetap mencium bau khas lumpur-lumpur sawah sementara kaki sudah mulai kram. Sampai matahari terbenam, kami semakin tidak percaya diri untuk dapat sampai di pantai sebelum malam. Di sebuah pematang sawah, kami menghibur diri menghalusinasikan pandangan bahwa di kejauhan sudah terlihat deretan kapal laut. Tepat setelah senyum kami memudar, kami balik kanan.<br />
</br><br />
Jika perjalanan pulang selalu terasa lebih dekat dibanding perginya, kami pun merasakan hal yang sama. Meski kaki-kaki kami sedemikian lelahnya, kami memaksakan mengayuh pedal lebih cepat lagi karena kecemasan kami pulang terlambat. Ancamannya jelas bahwa kami akan dihukum berat. Ketika akhirnya rombongan sampai di depan kampung, kami sangat terkejut mengetahui ibu-ibu kami berdiri dengan gagahnya di bawah gapura kampung. Seakan-akan mereka ingin menerkam anaknya sendiri. Dan sememangnya, petualangan hari itu pun diakhiri dengan omelan ibu-ibu kami sepanjang malam. Selentingan yang beredar sampai seminggu kemudian adalah: </p>
<blockquote><p><em>&#8220;Awas kamu ya main lagi sama Dodi!&#8221;</em> ucap Ibu #1<br />
<em>&#8220;Dodi itu si biang kerok&#8221;</em> fitnah Ibu #2<br />
dst..
</p></blockquote>
<p><em>Sudahlah laut tak dicapai, tubuh kami capai, omelan ibu-ibu itu terasa sangat lebay</em>.<br />
</br><br />
<strong>Petualangan 2010</strong><br />
Kegagalan mencapai laut Bekasi memang tidak menjadi mimpi buruk, meski mencoreng daftar kesuksesan petualangan masa kecil saya. Atas alasan ini pula lah saya memutuskan untuk menuntaskan petualangan yang tertunda itu minggu kemarin. Bersama teman saya, kami berangkat dari Bekasi Cyber Park jam 14.00 menggunakan motor. Waktu tersebut kami pilih untuk mendapatkan <em>timing sunset</em> yang pas di pantainya. Awalnya, saya berinisiatif untuk membeli peta Bekasi tetapi tidak tersedia di toko buku terdekat, sehingga kami pun menggunakan patokan perjalanan yang sama di masa lalu: <em>mengekor 9B dan mendempet aliran sungai</em>.<br />
</br><br />
Dikarenakan mengendarai motor 160cc, perjalanan ke pangkalan 9B tidak sulit untuk dicapai. Tantangan dimulai selepasnya karena banyaknya jalan bercabang sehingga kami pun mesti sering bertanya-tanya kepada penduduk sekitar. Pertanyaannya selalu sama: <em>“Kalo mau ke laut, lewat mana ya?”</em> Dan layaknya orang desa, mereka akan dengan senang hati membantu kami. Jalanan mulai mengalami kerusakan di sana-sini ketika kami memasuki kecamatan terakhir sebelum Muara Gembong. Di sini kami pun semakin bersemangat karena lebar sungai yang semakin membesar menunjukkan laut sudah tidak jauh lagi.<br />
</br><br />
<img src="http://dhodie.com/wp-content/uploads/2010/01/bekasi1.jpg" alt="Muara Gembong" title="Muara Gembong" width="530" height="397" class="aligncenter size-full wp-image-940" /></p>
<p>Ketika akhirnya kami sampai di tugu perbatasan Muara Gembong, dengan semangat 45 kami melajukan motor tanpa bertanya-tanya ke arah pantai mana yang hendak dituju? Kenyataannya satu jam sesudahnya, kami mendapati jalanan dan sungai di samping kami semakin menyempit <img src='http://dhodie.com/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/doh.gif' alt='(doh)' class='wp-smiley' /> . Bukankah sungai seharusnya semakin membesar ketika hendak mencapai laut? Menyadari bahwa kami sudah tersesat, kami bertanya ke penduduk tentang pantai di depan kami. Dan penduduk pun memberitahu bahwa pantai tersebut tidak ada bagus-bagusnya, hanya dibuat dam saja. Balik kanan karena matahari pun semakin terancam tenggelam, kami langsung melesat menuju <strong>Pantai Pakis</strong> yang diketahui satu-satunya wisata terdekat di situ. Dengan menyeberangi sungai dan melintasi beberapa sawah dan tambak, akhirnya kami sampai juga di bibir pantainya tepat ketika azan maghrib berkumandang.<br />
</br><br />
Meski sebenarnya pemandangan pantai ini biasa-biasa saja, tetap saja nilai historis perjalanannya jauh lebih mengesankan saya. Sebuah perasaan luar biasa karena petualangan masa kecil yang tertunda dua puluh tahun itu akhirnya bisa ditaklukkan. <strong>I reach that shore!</strong><br />
<img src="http://dhodie.com/wp-content/uploads/2010/01/pakis.jpg" alt="Pakis" title="Pakis" width="530" height="443" class="aligncenter size-full wp-image-945" /><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dhodie.com/2010/01/27/menuntaskan-petualangan-yang-tertunda/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Forum Diskusi Pengembangan Konten Lokal</title>
		<link>http://dhodie.com/2010/01/22/forum-diskusi-pengembangan-konten-lokal/</link>
		<comments>http://dhodie.com/2010/01/22/forum-diskusi-pengembangan-konten-lokal/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jan 2010 07:49:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dhodie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blogging]]></category>

		<category><![CDATA[Komunitas]]></category>

		<category><![CDATA[bloger]]></category>

		<category><![CDATA[diskusi]]></category>

		<category><![CDATA[konten lokal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dhodie.com/?p=918</guid>
		<description><![CDATA[Selasa lalu, saya mendapat email dari staf Direktorat Aplikasi Telematika, Departemen Komunikasi dan Informatika, untuk mengikuti Forum Diskusi Peningkatan Kuantitas dan Kualitas Konten Lokal pada tanggal 21 Januari 2010. Di sini, saya diundang sebagai wakil komunitas blogger Depok bersama praktisi konten lokal seperti perwakilan media online (Kompas, Detik, Vivanews, Okezone, Kapanlagi), praktisi/asosiasi (IMOCA, Indonesia Mobile [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: justify;">Selasa lalu, saya mendapat email dari staf Direktorat Aplikasi Telematika, <a href="http://www.depkominfo.go.id">Departemen Komunikasi dan Informatika</a>, untuk mengikuti <strong>Forum Diskusi Peningkatan Kuantitas dan Kualitas Konten Lokal</strong> pada tanggal 21 Januari 2010. Di sini, saya diundang sebagai wakil komunitas <a href="http://deblogger.org">blogger Depok</a> bersama praktisi konten lokal seperti perwakilan media <em>online</em> (<a href="http://kompas.com">Kompas</a>, <a href="http://detik.com">Detik</a>, <a href="http://vivanews.com">Vivanews</a>, <a href="http://okezone.com">Okezone</a>, <a href="http://kapanlagi.com">Kapanlagi</a>), praktisi/asosiasi (<strong>IMOCA</strong>, Indonesia Mobile and Online Content Association; <strong>MIKTI</strong>, Masyarakat Industri Kreatif TIK Indonesia dan asosiasi lain), <em>onliner</em> konten lokal (<a href="http://politikana.com">Politikana</a>, <a href="http://ngerumpi.com">Ngerumpi</a>, <a href="http://bicarafilm.com">Bicara Film</a>, <a href="http://freshyourmind.com">FreSh</a>), dan tentu saja perwakilan blogger (<a href="http://www.blogfam.com">Blogfam</a>, <a href="http://angingmammiri.org">Anging Mammiri</a>, <a href="http://cahandong.org">Cahandong</a>, <a href="http://deblogger.org">deBlogger</a>, <a href="http://bloggerbekasi.com">Be-Blog</a>, <a href="http://kopdarjakarta.wordpress.com">Kopdar Jakarta</a>, <a href="http://anakui.com">anakUI</a>).<br />
</br><br />
<strong>Konten Lokal</strong><br />
<em>Konten lokal</em> itu sendiri merupakan aplikasi atau fitur yang dikreasikan anak bangsa agar konsumsi pengguna telematika di Indonesia tidak melulu berbasis luar negeri. Jika kita mengenal berbagai social media seperti Facebook, Twitter (<em>mikroblog</em>), atau Wordpress dan Blogspot (<em>blog</em>) sebagai <em>konten asing</em> yang sering digunakan; <em>konten lokal</em> yang saat ini dikembangkan seperti film animasi lokal, fitur berita di <em>handphone</em>, <em>citizen journalism</em> yang digalakkan oleh komunitas blogger, atau komunitas berbasis <em>interest</em> seperti <a href="http://ngerumpi.com">ngerumpi</a>, <a href="http://bicarafilm.com">bicara film</a>, atau <a href="http://politikana.com">politikana</a>.<br />
</br><br />
<strong>Gelaran Diskusi </strong><br />
<img src="http://dhodie.com/wp-content/uploads/2010/01/fd1.jpg" alt="Freddy Tulung" title="Freddy Tulung" width="140" height="156" class="aligncenter size-full wp-image-919" />Diskusi yang diadakan di Ruang Operasional Depkominfo di bilangan Medan Merdeka Barat ini menampilkan Kepala Badan Informasi Publik, <strong>Freddy Tulung</strong> sebagai perwakilan pemerintah. Diskusi dibuka dengan penjelasan tentang maksud dan tujuan diadakannya diskusi ini, yaitu <em>kick off</em> kerjasama pemerintah dengan <em>stake holder</em> ICT Indonesia. Pak Freddy kemudian menjelaskan program <strong>Desa Berdering</strong>—salah satu program 100 hari Menkominfo, <a href="http://twitter.com/tifsembiring">Tifatul Sembiring</a>. Keinginannya adalah ketika desa-desa tersebut sudah <em>punya internet</em> (desa <em>pinter</em>), konten sebagai ujung tombak informasi yang diakses masyarakat mampu dimanfaatkan oleh praktisi konten Indonesia semaksimal mungkin.<br />
</br><br />
Setelah uraian panjang lebar yang disampaikan mantan Dirjen Sarana Komunikasi dan Diseminasi Informasi (SKDI) ini, diskusi bergerak ke <em>floor</em>. Pemerintah mendengarkan gambaran usaha yang telah dilakukan oleh praktisi konten lokal, berikut hambatan yang dialami. <strong>Ivan Lanin</strong> (<a href="http://www.wikimedia.or.id">Wikimedia Indonesia</a>) menggambarkan masih banyaknya orang Indonesia yang tidak pintar menulis, <strong>Donny BU</strong> (<a href="http://detik.com">detik</a>) mengungkapkan bahwa minat masyarakat kita pun akan turut berperan dalam pengembangan konten lokal, kemudian usulan <em>virtual governance</em> untuk memvalidasi akun-akun yang bertebaran di dunia <em>online</em> sempat disampaikan peserta diskusi.<br />
</br><br />
Sementara itu, perwakilan komunitas blogger kampus, <a href="http://ilmanakbar.dagdigdug.com">Ilman Akbar </a>(<a href="http://anakUI.com">anakUI</a>) mengemukakan  diperlukannya peningkatan penghargaan atas kreasi pengguna internet seperti <a href="http://ictwatch.com/internetsehat/blog-award">Internet Sehat Awards</a> untuk blogger. Suara komunitas berbasis daerah kali ini diwakili oleh <a href="http://arishu.blogspot.com">Aris Heru Utomo</a> yang menggambarkan perjuangan blogger dalam mengenalkan blog sebagai media komunikasi <em>grass root</em> dengan pemerintah daerah di Bekasi.<br />
</br><br />
Meski jawaban-jawaban yang diberikan oleh perwakilan Depkominfo belum menyentuh substansi permasalahan, kita perlu mengapresiasi <em>kick off</em> ini. Setidaknya pemerintah mendapat gambaran secara menyeluruh permasalahan yang dialami oleh seluruh peserta diskusi. Hal terpenting dari poin diskusi kemarin ada di poin terakhir, di mana apakah <em>feedback</em> yang sudah/akan dilaporkan ini ada tindak lanjutnya oleh <strong>Depkominfo</strong> atau tidak. Mari kita buktikan bersama-sama.<br />
</br><br />
<strong>Mingle</strong><br />
Secuplik <em>mingle</em> yang dilakukan oleh perwakilan blogger setelah diskusi berlangsung:<br />
<img src="http://dhodie.com/wp-content/uploads/2010/01/fg2.jpg" alt="Mingle" title="Mingle" width="545" height="341" class="aligncenter size-full wp-image-920" /><br />
<strong>[ki-ka]</strong>: <a href="http://dhodie.com">Dhodie</a> <a href="http://deblogger.org">(deBlogger)</a>, <a href="http://akuratu.blogspot.com">Ratu</a> <a href="http://bloggerbekasi.com">(be-Blog)</a>, <a href="http://ilmanakbar.dagdigdug.com">Ilman Akbar </a><a href="http://anakUI.com">(anakUI)</a>, <a href="http://daengbattala.com">Mas Amril</a> <a href="http://angingmammiri.org">(Anging Mammiri)</a>, <a href="http://tikabanget.com">Tikabanget</a> <a href="http://dagdigdug.com">(Dagdigdug)</a>, <a href="http://venus-to-mars.com">Simbok Venus</a> <a href="http://ngerumpi.com">(Ngerumpi)</a>, <a href="http://simplychi.wordpress.com">Chic</a> <a href="http://kopdarjakarta.wordpress.com">(Kopdar Jakarta)</a>. Gambar diambil oleh <a href="http://eshape.wordpress.com/">Pak Eko</a> <a href="http://www.bloggercikarang.com/">(Blogger Cikarang)</a>.
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dhodie.com/2010/01/22/forum-diskusi-pengembangan-konten-lokal/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Eksplorasi G11 dalam Project 365 Shots</title>
		<link>http://dhodie.com/2010/01/19/eksplorasi-g11-dalam-project-365-shot/</link>
		<comments>http://dhodie.com/2010/01/19/eksplorasi-g11-dalam-project-365-shot/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jan 2010 06:09:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dhodie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Photoblog]]></category>

		<category><![CDATA[Project]]></category>

		<category><![CDATA[project 365shots]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dhodie.com/?p=894</guid>
		<description><![CDATA[Ketika mendapat bonus kerja tahunan terakhir, saya sempat berbincang dengan seorang photoblogger tentang kamera serius pertama yang ingin saya beli. Diskusi pun sempat saya lakukan dengan teman-teman untuk mengetahui pendapat mereka tentang agama kamera yang mereka anut. Sampai akhirnya pilihan jatuh pada Canon Powershot G11.

Alasan saya memilihnya didasarkan keinginan untuk merasai setiap jenis kamera, dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: justify;">Ketika mendapat bonus kerja tahunan terakhir, saya sempat berbincang dengan seorang <em>photoblogger</em> tentang kamera <em>serius</em> pertama yang ingin saya beli. Diskusi pun sempat saya lakukan dengan teman-teman untuk mengetahui pendapat mereka tentang <em>agama</em> kamera yang mereka anut. Sampai akhirnya pilihan jatuh pada <strong>Canon Powershot G11</strong>.<br />
</br><br />
Alasan saya memilihnya didasarkan keinginan untuk <em>merasai</em> setiap jenis kamera, dari yang terendah sampai tertinggi. Setelah pernah mencoba kamera <em>handphone</em> dan <em>saku</em>, tentu pilihan selanjutnya adalah kamera <em>prosumer</em>. Belum tau apa-apa tentang fotografi, koq sudah ingin loncat kelas ke DSLR, <em>begitu bisik suara alam bawah sadar saya</em> <img src='http://dhodie.com/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/laugh.gif' alt='(LOL)' class='wp-smiley' /> . Akhirnya, pada tanggal <strong>27 Oktober 2009</strong>, resmilah G11 menjadi pendamping <em>sementara</em> hidup saya. Tanggal tersebut adalah tanggal peluncuran produk kamera ini di Indonesia.<br />
</br><br />
<strong>Sekilas G11</strong><br />
<img src="http://dhodie.com/wp-content/uploads/2010/01/g11.jpg" alt="G11" title="G11" width="200" height="184" class="aligncenter size-full wp-image-897" />Kamera prosumer <em>high-end</em> ini merupakan penyempurnaan seri sebelumnya, G10, dalam hal upaya mengurangi <em>noise</em> yang terjadi pada hasil foto. Dengan menurunkan resolusi kamera dari 14.7MP ke <strong>10MP</strong>, kamera ini diharapkan memiliki kinerja yang lebih baik karena sensor yang digunakan tetap CCD.<br />
</br><br />
Banyak fitur kamera DSLR yang ditanamkan pada kamera ini. Bahkan beberapa fitur dijadikan tombol-tombol kamera, seperti <em>ISO</em> dan <em>exposure compensation</em> sehingga terasa lebih <em>user-friendly</em> dibanding kamera DSLR. Sementara itu, pilihan <em>live view</em> dengan LCD yang dapat diputar hingga 270 derajat memudahkan pengguna ketika mengambil spot-spot yang sulit dijangkau. Sayangnya, <em>viewfinder</em> yang dimiliki kamera ini hanya menggambarkan <strong>77%</strong> kondisi aktual sebuah objek.<br />
</br><br />
<strong>Nilai lebih</strong> yang saya dapatkan dari kamera ini adalah keringkasan dan kekompakannya dibanding kamera-kamera bermoncong panjang itu (baca: DSLR). Jelas akan memudahkan saya menentengnya ke mana pun. Sementara itu <strong>nilai kurang</strong>nya adalah ketika kamera ini disandingkan dengan DSLR untuk memotret orang, hampir semua pandangan mereka tertuju ke DSLR. <em>Apakah karena kameranya lebih besar dan terlihat lebih rumit?</em> <img src='http://dhodie.com/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/annoyed.gif' alt='(annoyed)' class='wp-smiley' /> <br />
</br><br />
<strong>Project Satu Hari Satu Foto Selama 365 Hari</strong><br />
<img src="http://dhodie.com/wp-content/uploads/2010/01/365shotslogo-300x300.jpg" alt="365shots" title="365shots" width="100" height="100" class="aligncenter size-full wp-image-898" />Jujur saja, saya masih jarang mengulik kemampuan kamera ini karena beberapa alasan. Terutama karena belum memiliki target pribadi seberapa banyak gambar yang harus saya foto atau seberapa banyak fitur yang mesti saya pelajari setiap harinya. Jadi, sampai sekarang masih belum terasah feel-nya. Padahal, <em>a friend of mine said photography is exploration</em>.<br />
</br><br />
Lalu datanglah informasi ini: <strong>Project Satu Hari Satu Foto Selama 365 Hari</strong> yang digaungkan oleh <a href="http://media-ide.bajingloncat.com">Pitra Media Ide</a>. Memang bukan ide orisinil darinya, tetapi saya suka spiritnya. Dengan kewajiban mengunggah satu foto setiap harinya selama setahun, kita ditantang untuk mengatasi segala hambatan ketika menyelami fotografi, seperti rasa malas, <em>moody</em>, atau alasan tidak punya waktu. Jadilah, saya ikut project ini bersama blogger-blogger lainnya yang menyukai fotografi. Sebutlah <a href="http://pinkparis.posterous.com/">pinkparis</a> dan <a href="http://photojurnal.kumaha-aing.com/">belgaman</a>. Bidang-bidang fotografi seperti <em>landscape</em>, <em>candid</em>, model, makro, <em>indoor</em>, <em>night shot</em>, dan arsitektur akan saya coba selami untuk mendapatkan <strong>feel</strong> itu. Sampai sekarang sih, saya paling suka dengan <em>candid</em>. Senang saja mencuri ekspresi orisinil mereka <img src='http://dhodie.com/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/tongue.gif' alt=':-P' class='wp-smiley' /> .<br />
</br><br />
<em>Here’s my account to begin the project:</em> <a href="http://dhodie.tumblr.com">Dhodie in Tumblr</a> (<strong>starts on January 25, 2010</strong>).
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dhodie.com/2010/01/19/eksplorasi-g11-dalam-project-365-shot/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Indonesia Matters, Top 100 Blog Indonesia</title>
		<link>http://dhodie.com/2010/01/11/indonesia-matters-top-100-blog-indonesia/</link>
		<comments>http://dhodie.com/2010/01/11/indonesia-matters-top-100-blog-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 05:40:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dhodie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blogging]]></category>

		<category><![CDATA[Indonesia Matters]]></category>

		<category><![CDATA[Top 100]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dhodie.com/?p=853</guid>
		<description><![CDATA[Pemeringkatan blog-blog yang diestimasi berjumlah 1,2 juta di Indonesia saat ini sedang dimutakhirkan oleh Patung, pengelola Indonesia Matters. Berbeda dengan pemeringkatan sebelumnya yang diprakarsai Mas Priyadi (2005) (semoga beliau nda bersin kala saya menyebut namanya  ) dan Hericz (2006) yang menggunakan acuan peringkat Technorati, Patung menggunakan tujuh buah acuan sebagai dasar pemeringkatan sehingga dirasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: justify;">Pemeringkatan blog-blog yang diestimasi berjumlah <a href="http://www.formspring.me/enda">1,2 juta</a> di Indonesia saat ini sedang dimutakhirkan oleh <a href="http://www.indonesiamatters.com/contact-us/">Patung</a>, pengelola <a href="http://blogs.indonesiamatters.com/">Indonesia Matters</a>. Berbeda dengan pemeringkatan sebelumnya yang diprakarsai <a href="http://priyadi.net">Mas Priyadi</a> <a href="http://priyadi.net/archives/2005/10/13/top-100-blog-indonesia-atau-kira-kira-seperti-itu/">(2005)</a> (<em>semoga beliau nda bersin kala saya menyebut namanya</em> <img src='http://dhodie.com/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/laugh.gif' alt='(LOL)' class='wp-smiley' /> ) dan <a href="http://hericz.net/">Hericz</a> <a href="http://hericz.net/peringkat/">(2006)</a> yang menggunakan acuan peringkat <a href="http://technorati.com">Technorati</a>, <strong>Patung</strong> menggunakan tujuh buah acuan sebagai dasar pemeringkatan sehingga dirasa lebih <em>eligible</em> menggambarkan perpetaan blogger di tanah air. </p>
<p><strong>Top 100 Blog Indonesia tahun 2007:</strong><br />
<img src="http://dhodie.com/wp-content/uploads/2010/01/blogrank.jpg" alt="2007" title="2007" width="450" height="261" class="aligncenter size-full wp-image-857" /><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
<strong>Top 100 Blog Indonesia tahun 2008:</strong><br />
<img src="http://dhodie.com/wp-content/uploads/2010/01/art100.jpg" alt="2008" title="2008" width="450" height="403" class="aligncenter size-full wp-image-859" /><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
</br><br />
<strong>Tujuh Acuan Peringkat di Indonesia Matters </strong>
<ol>
<li><a href="http://www.mypagerank.net/">Page Rank</a>, pemeringkatan Google tentang seberapa penting <em>page</em> sebuah blog di internet. Hal ini dilakukan dengan menghitung kualitas dan jumlah tautan <em>page </em>tersebut di <em>page</em> lain. </li>
<li><a href="http://www.feedburner.com/">RSS Subscribers</a>, jumlah pembaca blog yang berlangganan update postingan blog melalui feedburner.</li>
<li><a href="http://siteexplorer.search.yahoo.com/">Yahoo! Backlinks</a>, jumlah total tautan sebuah blog di site lain di dunia internet.</li>
<li><a href="http://backtweets.com/">Backtweet</a>, jumlah <em>bookmark</em> sebuah blog yang di-<em>tweet</em> di Twitter.</li>
<li><a href="http://delicious.com/">Social Bookmarks</a>, jumlah <em>bookmark</em> sebuah blog di Del.icio.us.</li>
<li><a href="http://www.postrank.com/">Engagement Score</a>, tingkatan rata-rata interaksi penulis dan pembaca di postingan blog. Terutama menghitung banyak komentar  di setiap postingan. Akan tetapi, juga memperhitungkan seberapa banyak postingan tersebut di-<em>mention</em> di <em>social media</em>.</li>
<li><a href="http://alexa.com">Traffic Rank</a>, pemeringkatan Alexa terhadap jumlah pengunjung yang datang ke sebuah blog dalam tiga bulan terakhir.</li>
</ol>
<p><strong>Batasan di Indonesia Matters</strong><br />
Indonesia Matters sendiri membatasi blog-blog yang dapat mengikuti layanannya. Di antara yang <strong><em>tidak diterima</em></strong> yaitu blog yang berisi unsur <em>pornografi, informasi IT/komputer/gadget, tips blogging, SEO, beasiswa, lowongan kerja, agregator</em>, atau <em>blog yang belum berusia lebih dari 6 bulan</em>. Sementara itu <strong><em>penonaktifan</em></strong> peringkat dilakukan jika sebuah blog tidak diupdate dalam jangka waktu yang lama. </p>
<p><strong>Update Mutakhir, 9 Januari 2010</strong><br />
Untuk perkembangan blog terakhir sendiri, beberapa blogger baru berhasil menembus peringkat atas—selain tentu saja seleb blog yang sudah kita kenal selama ini. <a href="http://dee-idea.blogspot.com">Dee</a> yang semakin sadar pengaruh sebuah blog sebagai media komunikasi selain buku, <a href="http://dianarikasari.blogspot.com/">Diana Rikasari</a> yang begitu ngetop sebagai blog fashion, atau <a href="http://sawali.info">Pak Sawali</a> yang sangat berdedikasi di dunia blogging. Mereka bertiga menduduki tiga peringkat teratas hasil update terakhir, 9 Januari.<br />
<img src="http://dhodie.com/wp-content/uploads/2010/01/im2010.png" alt="2010" title="2010" width="525" height="395" class="aligncenter size-full wp-image-866" /><br />
Memang masih banyak blogger-blogger handal yang belum tercantum di sana, misal <a href="http://kun.co.ro">Mas Kuncoro</a>, <a href="http://harry.sufehmi.com/">Harry Sufehmi</a>, atau Mas <a href="http://priyadi.net">Priyadi</a> sendiri. Pengelola situs ini mesti mampu menjawab pertanyaan  <em>“mengapa blog mereka tidak ada di Top 100?”</em>.</p>
<p><strong>Tentang Blog Ini</strong><br />
<img src="http://dhodie.com/wp-content/uploads/2010/01/dodi-nail.jpg" alt="Blog" title="Blog" width="120" height="90" class="aligncenter size-full wp-image-867" /><a href="http://dhodie.com">Dhodie.com</a> sendiri mengikuti pemeringkatan Indonesia Matter setelah mendapat informasi dari <a href="http://blog.galihsatria.com">Om Galih Satria</a>. Dan secara <em>tidak sopan</em>, untuk update termutakhir, duduk di <strong>peringkat ke-10</strong> [21 (5 Jan), 87 (Des ’09)]. <em>Tidak sopan</em> karena usia blog saya baru <strong>6 bulan</strong>. <em>Tidak sopan</em> karena saya baru membuat <strong>30 postingan</strong>. Dan <em>tidak sopan</em> karena masih banyak blogger idola saya yang berhak menduduki posisi ini <img src='http://dhodie.com/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/worship.gif' alt='(worship)' class='wp-smiley' /> .</p>
<p>Ada sedikit cerita menarik terhadap salah satu acuan perhitungan yang digunakan, <strong>Backtweet</strong>. Awalnya saya berkeyakinan untuk acuan satu ini, blog saya berada di posisi juru kunci (<em>lah wong jumlah tweet saya saja baru 18 buah</em>). Akan tetapi, ada juga tweeps yang me-<em>mention</em> blog saya (<strong>total 10 buah</strong>) di tweetnya, dan setelah ditelaah ada dua tweet yang membuat saya tersenyum. Tweet pertama dari <a href="http://ilmanakbar.dagdigdug.com/">Ilman Akbar</a> menjawab pertanyaan <a href="http://media-ide.bajingloncat.com/">Pitra</a> tentang blog lokal yang sedang dibaca saat ini dan bukan blog populer. Sedangkan tweet kedua dari <a href="http://twitter.com/liapippo">Lia</a> yang berkomentar tentang postingan <strong>Setahun Bersama Plurk</strong> saya. <em>Means a lot to me</em> <img src='http://dhodie.com/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/cozy.gif' alt='(cozy)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>So, sudahkah teman bergabung di <a href="http://blogs.indonesiamatters.com">Indonesia Matters</a>? Tinggal klik di <a href="http://blogs.indonesiamatters.com/blogging/add-2/">sini</a>.</p>
<p>Sumber gambar di <a href="http://ip.sg.or.id/2007/12/">(1)</a>, <a href="http://hericz.net/peringkat/">(2)</a>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dhodie.com/2010/01/11/indonesia-matters-top-100-blog-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pesona Ujung Genteng</title>
		<link>http://dhodie.com/2010/01/07/pesona-ujung-genteng/</link>
		<comments>http://dhodie.com/2010/01/07/pesona-ujung-genteng/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Jan 2010 03:52:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dhodie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Petualangan]]></category>

		<category><![CDATA[cigangsa]]></category>

		<category><![CDATA[cikaso]]></category>

		<category><![CDATA[ombak tujuh]]></category>

		<category><![CDATA[pangumbahan]]></category>

		<category><![CDATA[ujung genteng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dhodie.com/?p=827</guid>
		<description><![CDATA[
Ketika langit tak memberi mentari terbit yang megah,
Bumi menggantinya dengan air terjun yang indah.
Ketika pantai tak memberi siluet matahari tenggelam,
Pasir menggantinya dengan tukik dan penyu yang rupawan.
Dan ketika ombak tak memberi debur air yang menggelegar,
Laut menggantinya dengan perahu yang membelah gelombang.
(Ujung Genteng, 2010)
Tepat sebulan setelah berpetualang menyaksikan indahnya pantai-pantai di Garut Selatan, saia berhasil mengeksplorasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: justify;">
<blockquote>Ketika langit tak memberi mentari terbit yang megah,<br />
Bumi menggantinya dengan air terjun yang indah.</p>
<p>Ketika pantai tak memberi siluet matahari tenggelam,<br />
Pasir menggantinya dengan tukik dan penyu yang rupawan.</p>
<p>Dan ketika ombak tak memberi debur air yang menggelegar,<br />
Laut menggantinya dengan perahu yang membelah gelombang.</p>
<p><strong>(Ujung Genteng, 2010)</strong></p></blockquote>
<p>Tepat sebulan setelah berpetualang menyaksikan indahnya pantai-pantai di Garut Selatan, saia berhasil mengeksplorasi titik lain pantai selatan Jawa Barat, <a href="http://ujung-genteng.info/">Ujung Genteng</a> pada tanggal 1-3 Januari. Bersama delapan petualang lain, kami memilih untuk menikmati perjalanan ala <em>backpacker</em>. Tidak ada satupun di antara kami yang mengenal seluruh teman-teman lain sebelumnya—<em>di  sini letak seni sekaligus tantangan sebuah rombongan backpacker</em>.</p>
<p>Memilih Jumat pagi sebagai hari keberangkatan, para petualang datang tepat waktu di titik pertemuan yang telah disepakati, Jalan Baru-Rambutan. Tepat jam 9.05 semua terkumpul: Dodi, Aga, Novi <em>(Depok)</em>, Amri, Icha, Kiki <em>(Jakarta)</em>, Ratu <em>(Bekasi)</em>, Lalas <em>(Bogor)</em>, dan Hidayat <em>(Cikarang)</em>. Jalan Baru disepakati sebagai titik pertemuan mempertimbangkan kami bisa naik bis yang sudah terisi penumpang. Akan tetapi setelah 30 menit menunggu, dua bis yang lewat selalu <em>overload</em>. Akhirnya kami memutuskan untuk naik bis dari Terminal Kp.Rambutan. Tak perlu menunggu lama, bis jurusan Sukabumi melaju mulus di jalan tol Jagorawi—<em>sempat tersendat sekeluar tol Ciawi</em>. Setiba di Terminal Sukabumi, kami memutuskan untuk mengisi perut yang keroncongan di warung dekat terminal. Tak bisa berlama-lama makan, setelah selesai kami langsung memutuskan untuk men-charter sebuah angkot jurusan Terminal Lembur Situ karena bis/elf menuju Surade ngetem di sana. </p>
<p>Rute <strong>Lembur Situ-Surade</strong> sebenarnya mirip dengan <strong>Garut-Santolo</strong> dengan perbedaan rute pertama melewati bukit-bukit kecil ketimbang naik-turun gunung. Jalanan yang tidak mulus mengakibatkan beberapa rekan yang berada di samping jendela (Aga dan Icha) sering terantuk besi dan kaca jendela. Membutuhkan waktu lebih dari empat jam untuk mencapai Terminal Surade, dan beruntungnya Elf yang kami tumpangi bersedia mengantar sampai ke <a href="http://amandaratu.com">Amanda Ratu</a>. Waktu saat itu sudah menunjukkan lewat maghrib. Setelah check in dan menaruh tas, para lelaki memutuskan untuk menjajal kolam renang yang disediakan. Berenang beberapa kali balikan, lumayan membuat saia terengah-engah karena saia lupa kapan terakhir kali berenang. Tidak lama setelahnya, kami pun balik ke penginapan, mendapatkan kamar mandi yang masih dikuasai para perempuan <img src='http://dhodie.com/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/grin.gif' alt=':-D' class='wp-smiley' /> . Akhirnya setelah semua mendapat giliran mandi, kami memutuskan untuk langsung beristirahat mengingat padatnya <em>itinerary</em> esok hari. </p>
<p><strong>Sunrise di Tanah Lot, Amanda Ratu</strong><br />
Selepas bangun tidur, kami memutuskan untuk langsung menuju Tanah Lot-nya Ujung Genteng yang masih berlokasi di dalam kawasan penginapan. Tujuan kami ke Tanah Lot tak lain untuk mendapatkan prosesi terbitnya matahari yang terletak di seberang sungai. Entah memang <em>sunrise</em>-nya memang begitu saja atau langit yang sedang enggan mendukung, hasil foto <em>landscape</em> yang didapatkan terasa tidak optimal. Beruntung <em>Amri</em> yang punya banyak pengalaman jalan-jalan berhasil mengabadikan siluet-siluet kami di bawah langit yang sangat megah.<br />
<img src="http://dhodie.com/wp-content/uploads/2010/01/bug1.jpg" alt="Tanah Lot" title="Tanah Lot" width="543" height="406" class="aligncenter size-full wp-image-825" /><br />
</br><br />
<strong>Tiga Air Terjun Cikaso</strong><br />
Kue-kue yang dijajakan pedagang di depan penginapan langsung kami beli mengingat ketidakpuasan kami terhadap layanan makanan yang disediakan penginapan. Selepas foto-foto di depan villa, kami langsung <em>check out</em> dari Amanda Ratu. Berjalan cukup jauh ke depan pintu gerbang penginapan, kami mencegat angkot yang kebetulan lewat. Setelah melalui proses negosiasi yang alot akhirnya diputuskan untuk men-<em>charter</em> angkot tersebut sebagai angkutan kami sepanjang hari itu. </p>
<p>Tidak berapa lama, kami sampai di pinggiran sungai berjarak 300 meter-an sebelum Curug Cikaso. Sesampainya di sana, kami sibuk terpesona dengan tiga air terjun bervolume sangat besar karena hujan semalam. Kombinasi warna natural dari <em>hijaunya pepohonan, putihnya air terjun,</em> dan <em>birunya langit</em> menghasilkan gambar yang sangat bagus. Akan tetapi kami tidak bisa bebas memotret karena uap air yang dicipratkan dikhawatirkan mengganggu lensa kamera. Secara keseluruhan, air terjun ini sangat indah untuk dieksplorasi jika berkunjung ke <strong>Ujung Genteng</strong>.<br />
<img src="http://dhodie.com/wp-content/uploads/2010/01/bug2.jpg" alt="Cikaso" title="Cikaso" width="542" height="500" class="aligncenter size-full wp-image-826" /><br />
</br>   </p>
<p><strong>Air Terjun Cigangsa</strong><br />
Melanjutkan perjalanan ke Curug Cigangsa yang masih berada di wilayah Surade, kami harus melewati pematang sawah dan menyebrangi sungai yang saat itu berarus cukup deras. Derasnya arus air mengakibatkan beberapa rekan terpeleset dan <em>Novi</em> mesti merelakan sandal gunungnya hanyut terbawa arus sungai. Berbeda dengan air terjun yang umumnya dinikmati dari bawah, Curug Cigangsa dapat dinikmati dari dua arah—atas dan bawah. kami bisa sepuasnya menikmati pemandangan dari bibir atas air terjun setelah berjuang melewati beberapa titik arus sungai. <em>Rasanya sensasional!</em><br />
<img src="http://dhodie.com/wp-content/uploads/2010/01/bug7.jpg" alt="Cigangsa" title="Cigangsa" width="544" height="408" class="aligncenter size-full wp-image-828" /></p>
<p><strong>Merambah Lorong Gua Gunung Sungging</strong><br />
Setelah puas dengan dua curug yang ditawarkan, kami bergegas menuju Gunung Sungging untuk mencoba keberanian kami memasuki gua alami di bawahnya. Bentuk gunung yang terlihat miring dari atas lah yang menyebabkan gunung ini dinamakan demikian. Setelah masuk ke dalam dengan bantuan petromaks dari pemandunya, kami dikejutkan dengan reaksi <em>Kiki</em> yang sangat ketakutan—<em>entah karena apa</em>. Menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, kami memutuskan untuk mengakhiri prosesi merambah gua tersebut setelah sebelumnya berpose bersama di setiap ruang yang kami lalui. Sepanjang perjalanan, saia sering tergoda untuk melihat ke kiri kanan cabang gua yang sebenarnya dilarang oleh pemandu. Sekeluarnya dari gua, kami beristirahat sejenak di saung sang pemandu sembari mendengarkan cerita beliau yang merupakan generasi ketiga penjaga gua.</p>
<p><strong>Pelepasan Tukik di Pangumbahan</strong><br />
Setelah makan siang di warung bakso <em>(kenapa bakso untuk perjalanan seperti ini?)</em>, kami langsung meluncur menuju Ujung Genteng. Tujuan kami adalah <strong>Pondok Adi</strong>, penginapan yang terletak persis di depan pantai Ujung Genteng. Setelah mendrop barang dan beristirahat sejenak, kami langsung mengejar waktu untuk menjadi saksi hidup pelepasan bayi penyu (tukik) bersama puluhan pengunjung lain. Menggunakan ojek, kami menyusur pantai dan semak-semak untuk sampai di <strong>Posko Penangkaran Penyu, Pangumbahan</strong>. Dikarenakan saat itu waktu terakhir pelepasan, kami yang baru datang langsung diijinkan masuk untuk mengejar para pelepas tukik. Pengalaman tak terlupakan menyaksikan bayi-bayi penyu itu pertama kalinya dilepas, bersentuhan dengan air laut. <em>One of the best part of this journey</em>.<br />
<img src="http://dhodie.com/wp-content/uploads/2010/01/bug4.jpg" alt="Tukik" title="Tukik" width="544" height="408" class="aligncenter size-full wp-image-829" /></p>
<p><strong>Prosesi Penyu Bertelur</strong><br />
Penyu-penyu di kawasan Samudra Hindia menjadikan <strong>Pantai Pangumbahan</strong> sebagai salah satu destinasi mereka untuk bertelur. Biasanya mereka akan naik ke pantai dan mencari tempat bertelur di atas jam 8-9 malam. Kami yang mendapat giliran <strong>SIP 1</strong> (@50 orang per shift) mesti menunggu sampai jam 10 malam. Sembari menunggu, kami pun mengeksplorasi kemampuan kamera di lingkungan yang kurang cahaya, tentu kami jadi tontonan di sini <img src='http://dhodie.com/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/laugh.gif' alt='(LOL)' class='wp-smiley' /> . </p>
<p>Setelah petugas mengizinkan rombongan shift 1 menuju pantai, pemandu memberitahukan bahwa kami mendapat kesempatan melihat dua penyu, satu di tengah pantai dan yang lain di semak-semak. Untuk menghindari penyu berbalik ke laut karena terganggu cahaya, pengunjung dilarang menyalakan <em>blitz</em> untuk mengabadikan penyu pertama, dan diperbolehkan untuk penyu kedua. Tepat ketika saia berhasil mengabadikan foto penyu yang sedang bertelur di bawah semak-semak, hujan turun dengan hembusan angin yang cukup kuat. Kami langsung berjalan cepat menuju posko menyudahi petualangan hari itu.<br />
<img src="http://dhodie.com/wp-content/uploads/2010/01/bug6.jpg" alt="Penyu" title="Penyu" width="543" height="406" class="aligncenter size-full wp-image-831" /></p>
<p><strong>Menyisir Pantai, Membelah Ombak Tujuh</strong><br />
Jika <strong>Ujung Genteng</strong> terkenal dengan pantai berlangit indah, <strong>Cipanarikan</strong> cocok untuk menikmati matahari terbenam, dan <strong>Pangumbahan</strong> menawarkan tukik dan penyunya; <strong>Ombak Tujuh</strong> adalah <em>the final battle for the trip</em>. Mendengarkan cerita-cerita yang berkembang bahwa ini adalah pantai terbaik di sana, kami dihadapkan pada pilihan untuk menggunakan perahu atau berkonvoi motor. Setelah memikirkan keselamatan teman-teman karena beberapa rekan tidak mahir berenang, kami memutuskan untuk menggunakan motor. Setelah mengemas perlengkapan yang dibutuhkan, kami berkonvoi melintasi jalan-jalan licin hasil dari hujan semalam. </p>
<p>Rombongan memasuki perkebunan kelapa setelahnya, sampai akhirnya benar-benar masuk ke dalam hutan! Di sana, motor-motor kami mesti melewati medan yang cukup berat diiringi rintik hujan yang menemani. Dibutuhkan keterampilan mengendarai motor yang baik dari tukang ojek agar motor tidak terpeleset atau terjebak di lumpur-lumpur. Dua sungai di dalam hutan mesti dilewati oleh rombongan sebelum akhirnya kami mencapai bibir pantai. Empat jam mesti kami habiskan mengingat beratnya jalur yang kami lalui. Akan tetapi itu semua terbayar oleh pemandangan <strong>Pantai Ombak Tujuh</strong> yang masih sangat perawan. Dengan ombak yang menderu-deru, pantas saja jika banyak peselancar asing yang memilih pantai ini sebagai salah satu tempat favorit mereka.<br />
<img src="http://dhodie.com/wp-content/uploads/2010/01/bug9.jpg" alt="Ombak Tujuh" title="Ombak Tujuh" width="544" height="408" class="aligncenter size-full wp-image-834" /><br />
Selepas jam 13.00 kami dihadapkan pada pilihan untuk menggunakan ojek kembali atau menyewa perahu guna mengejar waktu pulang. Setidaknya butuh waktu 4 jam menggunakan ojek atau 1 ½ jam menggunakan perahu. Dengan menguat-nguatkan hati masing-masing, kami bersepakat untuk menyanggupi tantangan membelah gelombang Ombak Tujuh sebagai jalan pulang. Proses peluncuran perahu melewati gelombang air yang saat itu mencapai tiga meter menciptakan kengerian sendiri. Tambahan lagi waktu itu laut seperti sedang menari di depan kami. Setelah 1 ½ jam berada di atas laut, kami bisa bernafas lega ketika perahu akhirnya merapat ke  bibir pantai. <em>What a fantastic experience!</em></p>
<p>Akhirnya saia ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas petualangan tak terlupakan ke Ujung Genteng. <em>Amri</em> yang telah membuat itinerary sekaligus pengatur gaya foto, <em>Novi</em> (S5 IS) dan <em>Aga</em> (Sony H50) dengan bidikan-bidikan foto yang oke, <em>Icha</em> yang selalu menjadi cewek terdepan di rombongan, <em>Ratu</em> yang bersusah payah mencatat keuangan bersama <em>Lalas</em>, <em>Hidayat</em> yang mampu cair bersama rombongan, dan tak lupa <em>Kiki</em>, yang menciptakan trademark menggemaskan <em>pukul-pukul bedug</em> sebagai pencair suasana. <strong>Sebuah petualangan menakjubkan, guys!</strong><br />
<img src="http://dhodie.com/wp-content/uploads/2010/01/bug8.jpg" alt="Ombak Tujuh" title="Ombak Tujuh" width="542" height="407" class="aligncenter size-full wp-image-833" /></p>
<p><strong>Trivia:</strong>
<ol>
<li>Lebih baik menggunakan jalur <strong>Jakarta-Bogor-Surade</strong> karena menggunakan bis yang lebih nyaman digunakan ketimbang elf, tetapi harus memperhatikan waktu keberangkatan.</li>
<li>Saia sempat tertinggal dari rombongan di perjalanan pulang acara pelepasan tukik karena motornya mogok, alhasil lumayan bikin bentol-bentol karena digigit nyamuk hutan penangkaran.</li>
<li>Disarankan untuk berkunjung ke sana saat musim kemarau, karena <em>track</em> jalan dan ombak pun lebih bersahabat.</li>
</ol>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dhodie.com/2010/01/07/pesona-ujung-genteng/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>10 Things I Thank for in 2009</title>
		<link>http://dhodie.com/2009/12/30/10-things-i-thank-for-in-2009/</link>
		<comments>http://dhodie.com/2009/12/30/10-things-i-thank-for-in-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Dec 2009 04:27:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dhodie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<category><![CDATA[2009]]></category>

		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dhodie.com/?p=807</guid>
		<description><![CDATA[
Plurk. Untuk teman-teman yang setiap hari bertegur sapa di salah satu mikroblog populer ini tidak usah ditanya bagaimana sayangnya saia sama mahluk satu ini. Meski Facebook ikut-ikutan membuat stream realtime, Twitter tiba-tiba menjadi tren mikroblog baru, Plurk masih menjadi pilihan utama social media saia. Singkat cerita, kalau mau cari saia tinggal tengok akun plurk saia. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://dhodie.com/wp-content/uploads/2009/12/2009.jpg" width="544" height="363" class="size-full wp-image-808" /></p>
<div style="text-align: justify;"><strong>Plurk</strong>. Untuk teman-teman yang setiap hari bertegur sapa di salah satu mikroblog populer ini tidak usah ditanya bagaimana sayangnya saia sama mahluk satu ini. Meski <a href="http://www.facebook.com/dhodie">Facebook</a> ikut-ikutan membuat <em>stream realtime</em>, <a href="http://www.twitter.com/dhodie">Twitter</a> tiba-tiba menjadi tren mikroblog baru, <a href="http://www.plurk.com/dhodie">Plurk</a> masih menjadi pilihan utama social media saia. Singkat cerita, kalau mau cari saia tinggal tengok <a href="http://www.plurk.com/dhodie">akun plurk</a> saia. <em>It’s open, single, and available</em> <img src='http://dhodie.com/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/tongue.gif' alt=':-P' class='wp-smiley' /> <br />
<br />
<strong>deBlogger</strong>. Banyak cerita tentang komunitas satu ini. <em>Sedih, tawa, kesal, gembira</em> pernah saia rasakan di dalamnya. Masih banyak mimpi yang diawangkan, harapan yang digadangkan, dan doa yang dipanjatkan, semoga waktu yang tersisa bisa dimaksimalkan untuk berkontribusi di <a href="http://deblogger.org">komunitas tercinta</a> ini.<br />
<br />
<strong>dhodie.com</strong>. Bertanggal lahir sama dengan ulang tahun saia, <a href="http://dhodie.com">domain pribadi</a> ini menjadi <em>internet log</em> saia bercerita tentang blog dan komunitas, buku dan film, atau hidup dan perjalanan. Biasanya tulisan di blog dibuat dengan <em>passion</em> yang lebih besar karena saia ingin apa yang anda lihat di blog, menggambarkan siapa saia seutuhnya memandang dunia.<br />
<br />
<strong>Status Tetap</strong>. Akhirnya bisa menjadi karyawan tetap setelah dua tahun berstatus kontrak, alhamdulillah. Agak <em>complicated</em> sebenarnya karena bersamaan dengan itu harus kehilangan beberapa teman kerja yang diputus kontraknya atas nama efisiensi perusahaan. <em>But that’s a life. All you have to do is just giving your best performance at work, all paid forward!</em><br />
<br />
<strong>Keluarga</strong>. Setelah beberapa tahun belakangan orang tua tinggal dengan adik pertama saia, tahun ini ayah mendapat tawaran dari mahasiswa setempat untuk menjalankan usaha warung makan di dekat kampus Unpad, Jatinangor. <em>It’s a bless to see smile in their faces again, luv you!</em>.<br />
<br />
<strong>Perjalanan</strong>. Salah satu efek positif Plurk yaitu mendapatkan teman perjalanan yang mengasyikkan untuk mengenal daerah-daerah indah Indonesia. Tahun ini saia berhasil merasakan dinginnya <a href="http://dhodie.com/2009/08/18/semangat-harmoni-dieng/">Dataran Tinggi Dieng</a>, indahnya <a href="http://dhodie.com/2009/12/02/pantai-pantai-perawan-di-garut-selatan/">Pantai Santolo</a>, dan serunya <a href="http://dhodie.com/2009/12/21/mumpung-masih-muda/">Curug Cilember</a>. Bagaimana tahun depan? <em>Gonna be farther, wilder, and more memorable trips</em>.<br />
<br />
<strong>Be-Blog</strong>. <a href="http://bloggerbekasi.com">Komunitas</a> blogger kedua setelah <a href="http://deblogger.org">deBlogger</a> yang saia geluti atas pertimbangan kota inilah yang membentuk karakter remaja saia. Banyak pelajaran yang saia ambil di dalamnya, tentang kehidupan, persahabatan, atau pengembangan kegiatan ngeblog itu sendiri. <em>The reason I join them is to contribute back to my old city as a sincere thank you</em>.<br />
<br />
<strong>Canon G11</strong>. Salah satu <em>gadget</em> yang sangat saia sayang akhir-akhir ini. Sebenarnya sejak dulu ingin memiliki kamera tetapi baru tergerak untuk <em>tos-tosan</em> membelinya tiga bulan yang lalu. Dan ketika akhirnya bisa memotret beberapa foto perjalanan yang <em><strong>lumayan bagus</strong></em>, saia tau alasan kenapa saia mencintai fotografi. <em>Karena cinta tidak perlu berkata-kata bukan?</em> <img src='http://dhodie.com/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/laugh.gif' alt='(LOL)' class='wp-smiley' /> <br />
<br />
<strong>Persahabatan</strong>. <em>This one is the best part. I&#8217;ve met, socialized, and made some friendships with bunch of awesome people. Let me tell you their backgrounds: engineer, IT professional, web programmer, secretary, journalist, activist, UN employee, entrepreneur, social worker, teacher, public servant, designer, writer, full time blogger, and unemployment yet inspirer</em>. <strong>I’m so lucky to know you, friends!</strong></p>
<p><a href="http://dhodie.com/2009/12/30/10-things-i-thank-for-in-2009">So 2009 is The Best Year in My Life. Hugely Blessed!</a> <img src='http://dhodie.com/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/worship.gif' alt='(worship)' class='wp-smiley' /> <br />
<br />
Picture <strong>Me Against The World</strong> taken by <a href="http://aciteritory.com">Aci</a>.
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dhodie.com/2009/12/30/10-things-i-thank-for-in-2009/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
